Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.
Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.
Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.
Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.
Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...
Maka pertanyaannya kini adalah...
Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isak Tangis Judika
Setelah itu, pandangannya kembali jatuh pada Judika yang masih terisak-isak memegang tangannya. Hatinya terasa sakit melihat putra bungsunya yang selalu dia lindungi ini terlihat begitu hancur dan rapuh.
"Judika, sayang! Terima kasih sudah menemani ayah selama ini. Terima kasih sudah bertahan. Terima kasih sudah menjadi anak yang kuat. Maafkan ayah ya. Maafkan kalau dulu ayah sering menyakitimu. Sering bersikap buruk padamu. Itu semua karena ayah bodoh, ayah tidak tahu cara mengungkapkan rasa sayang. Ayah sangat menyayangimu, Nak!" Juandra berhenti sejenak. Napasnya mulai memendek.
"Ayah minta satu hal padamu. Jangan benci ibu dan kakakmu lagi ya. Maafkan mereka, sama seperti kau memaafkan ayah. Sayangi mereka, seperti cara kau menyayangi ayah. Mereka juga keluarga, mereka juga orang yang menyayangimu meski caranya salah."
Judika menggeleng cepat..Kepalanya menempel di lengan ayahnya. "Tidak... Ayah tidak salah sedikit pun. Ayah adalah ayah terbaik di dunia... Hiks. Aku menyayangi ayah. Hanya ayah yang aku miliki. Jangan tinggalkan aku, Ayah. Tetaplah di sini, bersama aku. Masalah mereka, aku akan coba, Ayah. Aku janji akan coba asal ayah tetap di sini, jangan pergi."
Juandra tersenyum bangga. Tangannya lembut mengelus rambut putra kesayangannya. "Ayah bangga padamu, sayang. Terima kasih."
BIP... BIP... BIIIIIIIIIIIIIPPPPP...
Suara dari alat pemantau jantung tiba-tiba berubah. Nada panjang yang menusuk telinga langsung terdengar, menandakan sesuatu yang buruk telah terjadi.
"AYAH!!" teriak Judika dan Chandra bersamaan.
"Juandra!" pekik Jovina langsung memegang tangan suaminya dengan erat.
Chandra langsung menekan tombol darurat di samping ranjang. Matanya memerah ketakutan.
"Ayah! Bertahanlah, aku mohon! Aku janji! Aku janji akan melakukan semua yang ayah mau! Aku akan jadi anak yang baik. Aku akan memaafkan semuanya! Jadi bertahanlah, Ayah! Jangan pergi!" teriak Judika sambil mengguncang perlahan tubuh ayahnya. Air matanya menetes membasahi baju pasien.
^^^
Di luar ruangan para sahabatnya Judika dan Chandra juga menangis, memohon dengan sepenuh hati agar Tuhan masih memberikan kesempatan pada lelaki yang mereka cintai itu.
BRAAKK..
Pintu ruangan terbuka lebar. Dokter dan beberapa perawat masuk dengan cepat, membawa peralatan tambahan.
"Semua keluar sekarang! Kami akan berusaha memulihkan detak jantung pasien!" perintah dokter tegas.
Mau tidak mau, mereka semua terpaksa melangkah keluar. Berdiri di depan pintu dengan perasaan hancur yang tidak terlukiskan.
Judika bersandar di dinding. Lututnya lemas sampai dia terduduk. Dia terus merapalkan doa yang dia tahu, memohon pada siapa saja yang mau mendengar.
"Ayah, aku mohon. Aku mohon jangan pergi," lirih Judika berulang kali.
Arjuna langsung mendekat dan memeluk tubuh adiknya erat-erat. Disusul oleh Jericko, Tamma dan yang lainnya. Mereka semua tahu, saat ini satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah memberikan dukungan dan kekuatan.
"Kau harus kuat, Dika. Ayahmu itu laki-laki kuat. Dia pasti bertahan demi kamu," ucap Arjuna lembut sambil mengusap punggung Judika.
"Iya, Dika. Dia tidak akan meninggalkanmu, percayalah," tambah Jericko.
Di sisi lain, Bima menepuk bahu Chandra yang terdiam kaku, tatapannya kosong. "Kau harus kuat, Can. Kau sekarang jadi penopang ibu dan adikmu. Kalau kau runtuh, siapa yang akan menopang mereka?"
"Kak Bima benar, kak Can. Kita semua di sini bersamamu," lanjut Jofan.
"Kami akan selalu ada untuk kalian," kata Kevin dengan nada tulus.
CKLEK..
Suara pintu terbuka kembali. Dokter keluar dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan dengan baik. Semua orang langsung mendekat, terutama Judika dan Chandra yang langsung berdiri.
"Bagaimana, Dok? Bagaimana keadaan ayah kami?!" tanya Chandra tergesa-gesa.
Hening.
Tidak ada jawaban. Hanya gelengan pelan dari dokter itu.
Melihat reaksi itu, sesuatu dalam diri Judika seketika pecah. Dia melangkah cepat. Kemudian menarik kerah baju dokter itu dengan kekuatan yang masih tersisa di tubuhnya, matanya merah padam.
"KAU TIDAK PUNYA TELINGA?! AKU TANYA BAGAIMANA KEADAAN AYAHKU?! KATAKAN SEKARANG JUGA!!" teriak Judika histeris.
Dokter itu menunduk. Suaranya terdengar berat dan penuh rasa bersalah. "Kami... kami minta maaf. Kami sudah melakukan segalanya. Sudah berusaha semampu kemampuan kami. Tapi Tuhan berkehendak lain. Kami gagal... Pasien Juandra Pratama telah meninggal dunia."
DEG..
Tangan Judika perlahan melepaskan cengkeramannya. Tubuhnya mundur selangkah demi selangkah. Kepalanya menggeleng keras, berharap semua ini hanya mimpi buruk.
"Tidak... Tidak mungkin. Ayah janji... Ayah janji akan tetap bersamaku. Dia tidak akan meninggalkanku. Tidak," gumam Judika berulang kali.
Chandra melihat keadaan adiknya yang nyaris gila karena kesedihan, dia langsung mendekat dan menarik tubuh adiknya ke dalam pelukan erat. Membiarkan adiknya memukul dan meronta di dadanya.
"Ikhlaskan ayah, Dika. Ayah sudah bahagia sekarang. Ayah sudah tidak sakit lagi. Izinkan kakak menggantikan posisi ayah. Mulai hari ini, kakak akan menjagamu apapun yang terjadi," bisik Chandra sambil menahan air matanya.
"Juandra, kenapa kau pergi sekarang. Saat aku baru saja memutuskan untuk kembali hidup bersama kalian lagi. Maafkan aku... Maafkan aku yang terlambat sadar," tangis Jovina. Lututnya terasa lemas sampai dia jatuh bersimpuh di lantai.
Melihat keadaan itu, Bima, Jofan dan Kevin langsung mendekat. Mereka membantu menopang tubuh wanita itu.
"Bibi, Ikhlaskan ya. Ini sudah takdir. Bibi masih punya Chandra dan Judika. Mereka butuh Bibi. Jadi jangan hancur seperti ini ya," ucap Bima lembut.
Jovina mengangguk pelan. Lalu perlahan berjalan mendekat ke arah kedua putranya, matanya terfokus pada Judika.
"Judika, putra ibu." panggil Jovina lembut. Tangannya terangkat ingin menyentuh wajah pemuda itu.
Chandra melepaskan pelukannya. Memberi kesempatan ibunya. Namun saat tangan Jovina hampir menyentuh wajahnya putranya. Judika secara reflek mendorong tubuh ibunya dengan sangat kuat. Untung saja Chandra sigap menangkap tubuh ibunya agar tidak jatuh.
"PEMBUNUH!!" teriak Judika, air matanya terus mengalir membuat wajah tampannya terlihat menyedihkan sekaligus menakutkan. "KAU YANG MEMBUNUH AYAHKU! KAU YANG MERAMPAS SEMUA KEBAHAGIAANKU! KEMBALIKAN AYAHKU! KEMBALIKAN DIA!!"
"Dika! Jangan bicara begitu! Dia ibumu!" tegur Yongki yang tidak tahan melihat kondisi Judika.