NovelToon NovelToon
THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: Husein. R

"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."

​Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.

​Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.

​"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."

​Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belati di Balik Kabut

Makan malam baru saja dimulai. Bu Lastri masih sibuk memotret piring steak-nya dari berbagai sudut—mungkin buat ajang balas dendam di grup WhatsApp arisannya. Nadia sendiri mulai bisa menikmati suasana, meskipun matanya sesekali masih melirik ke arah gue, seolah takut gue bakal menghilang lagi jadi supir kucel.

Tiba-tiba, Baron mendekat ke kursi gue. Dia nggak membungkuk, cuma berdiri tegak dengan mata yang terus mengawasi pintu masuk area VIP.

"Tuan Muda, tamu itu sudah di meja nomor tujuh. Dia bilang hanya ingin minum teh dengan kawan lama," bisik Baron.

Gue naruh pisau dan garpu. Gue liat Nadia. "Nad, bentar ya. Ada temen lama mau menyapa. Kamu lanjut makan aja sama Ibu."

"Siapa Ka? Perlu aku temenin?" Nadia agak cemas.

"Nggak usah, cuma obrolan bapak-bapak soal hobi lama. Bentar kok," gue usap punggung tangannya biar dia tenang.

Gue berdiri, jalan santai pake kaos oblong gue menuju meja di pojok ruangan yang lebih privat. Di sana, duduk seorang pria paruh baya dengan kemeja batik sutra yang sangat rapi. Wajahnya bersih, murah senyum, dan matanya teduh. Kalau orang liat, pasti ngiranya dia cuma dosen atau pengusaha mebel yang sukses.

Tapi gue tau siapa dia. Dia adalah Surya Kencana, kepala operasional Klan Naga Selatan.

"Arka," panggilnya dengan suara lembut yang bikin adem. Dia berdiri, terus meluk gue ala kawan lama. "Lama banget nggak kelihatan. Terakhir kita ketemu, kamu masih suka main layangan di halaman belakang mansion kakekmu, kan?"

Gue duduk di depannya. "Dunia luar lebih seru daripada halaman belakang, Om Surya. Apa kabar?"

"Baik, sangat baik. Apalagi setelah denger ada anak muda yang beli hotel dalam semalam cuma karena istrinya dihina," Surya ketawa kecil sambil menuangkan teh hijau ke cangkir gue. "Luar biasa. Gaya Naga Utara emang nggak pernah berubah. Selalu dramatis."

Gue nyruput tehnya. Hangat, tapi gue tau ada duri di balik rasanya. "Om Surya jauh-jauh dari Selatan bukan cuma buat muji drama saya, kan?"

Surya nyenderin punggungnya ke kursi, wajahnya tetep ramah banget, bener-bener kayak paman yang lagi nasehatin keponakannya. "Yah, namanya juga orang tua, Arka. Suka kangen. Tapi di sisi lain, anak-anak muda di Selatan mulai gelisah. Mereka pikir Naga Utara mau memonopoli proyek jalur laut baru di internasional. Kamu tau kan, anak muda zaman sekarang... sedikit-sedikit mau perang."

Gue senyum tipis. "Saya cuma supir setahun ini Om. Nggak tau soal proyek laut-lautan."

"Hahaha! Supir yang punya Rolls-Royce dan resto bintang lima? Kamu lucu dari dulu," Surya menyesap tehnya lagi. "Gini, Ka. Selatan nggak mau ribut. Kita suka ketenangan. Tapi kalau Utara mulai 'berisik' kayak tadi di hotel, pasar jadi nggak stabil. Saham beberapa mitra kita di Atmaja Group juga ikutan anjlok gara-gara drama kamu sama Reno."

Surya majuin badannya sedikit, suaranya pelan tapi intonasi politiknya kental banget. "Reno itu sebenernya anak nakal, tapi dia 'anak nakal' kami. Kalau kamu mau hancurin dia, ya silakan. Tapi jangan tarik-tarik investasinya. Bisa?"

Gue natep matanya yang ramah. "Om Surya, kalau saya bilang nggak bisa, gimana? Reno udah berani nyentuh istri saya. Di kamus saya, siapa pun yang nyentuh milik saya, hartanya juga jadi milik saya."

Surya diem sebentar, tetep senyum, tapi ada kilatan kecil di matanya yang nunjukin kalau dia bukan orang sembarangan. "Tegas. Persis kakekmu. Tapi inget, Arka... laut di Selatan itu tenang, tapi dalamnya nggak terukur. Jangan sampe kamu berenang terlalu jauh, terus lupa jalan pulang."

Gue ketawa pendek. "Tenang aja, Om. Saya punya Pak Maman. Supir saya itu jago cari jalan tikus."

Surya ikut ketawa, dia berdiri terus nepuk bahu gue. "Seneng ngobrol sama kamu. Salam buat istrimu yang cantik itu. Oh iya, satu hal lagi... Reno mungkin kalah di bisnis, tapi dia tipe orang yang suka main 'belakang'. Jaga-jaga aja, jangan sampe kaos oblong kamu kena noda yang nggak bisa hilang."

Surya jalan keluar dengan langkah yang sangat santai, nyapa pelan para pelayan seolah dia pemilik tempat itu juga.

Gue narik napas panjang. Baron langsung berdiri di samping gue. "Tuan Muda, dia bukan cuma sekadar mampir."

"Gue tau," jawab gue sambil ngeliatin cangkir teh yang masih sisa setengah. "Dia baru aja ngasih peringatan perang dengan cara yang paling sopan. Kabarin Kian, pantau semua pergerakan logistik Naga Selatan. Dan Baron... cari tau apa yang Reno rencanain buat 'main belakang' itu."

Setelah Surya Kencana pergi, suasana di resto mendadak kerasa beda. Meskipun lampu kristal masih bersinar terang, gue ngerasa ada hawa dingin yang nggak wajar mulai merayap di lantai.

Gue balik ke meja. Nadia lagi asyik makan dessert-nya, sementara Bu Lastri udah sibuk ngebungkus sisa makanan ke dalam tasnya—kelakuan yang bikin gue cuma bisa elus dada.

"Udah selesai ngobrolnya, Ka?" tanya Nadia sambil nyuapin sesendok mousse cokelat.

"Udah, cuma kangen-kangenan biasa," jawab gue sambil senyum seolah nggak ada beban. Tapi insting gue udah teriak-teriak.

Tiba-tiba, lampu di area privat kami berkedip sekali. Zapp.

Gue ngelihat ke arah pintu masuk. Baron mendadak berdiri tegap, tangannya masuk ke balik jas. Mata Baron yang biasanya tenang sekarang kelihatan waspada banget. Dia ngasih kode ke gue pake isyarat tangan: Ada yang mendekat, tapi nggak kelihatan.

Di tempat lain, di sebuah ruangan gelap yang pengap di pinggiran kota, Reno Pratama lagi duduk bersila di depan seorang dukun tua yang mukanya hancur sebelah. Di antara mereka, ada foto gue yang ditaruh di atas nampan berisi bunga tujuh rupa dan darah ayam hitam.

"Lakukan sekarang, Mbah," desis Reno, matanya merah penuh dendam. "Bikin dia sujud di kaki gue. Bikin dia gila!"

Si dukun mulai merapalkan mantra dalam bahasa kuno yang suaranya kayak desisan ular. Dia nusuk foto gue tepat di bagian jantung pake jarum karatan.

Kembali ke restoran.

Detik itu juga, dada gue mendadak kerasa sesak. Kayak ada tangan raksasa yang remes jantung gue. Panas banget. Gue berusaha tetep tenang, nggak mau bikin Nadia panik.

"Arka? Kamu kenapa? Muka kamu kok keringetan gitu?" Nadia sadar ada yang nggak beres. Dia naruh sendoknya, mukanya cemas banget.

"Nggak apa-apa, Nad. Cuma... AC-nya tiba-tiba mati ya?" suara gue agak parau.

Gue liat ke arah kaca jendela. Di pantulan kaca, gue nggak cuma liat diri gue. Di belakang gue, ada bayangan hitam besar dengan mata merah yang lagi nyekik leher gue. Ini serangan Santet. Reno beneran main "belakang" sesuai omongan Surya Kencana tadi.

Tapi mereka lupa satu hal. Gue bukan cuma pewaris harta. Gue adalah Naga Utara.

Gue tutup mata gue sebentar. Gue panggil energi panas yang selama ini gue simpan di dasar nadi gue. Aura emas tipis mulai keluar dari pori-pori kulit gue, bikin udara di sekitar meja kami mendadak hangat lagi.

BRUKK!

Di tempat si dukun, nampan berisi bunga itu meledak. Si dukun tua itu terpental ke tembok, mulutnya nyemburin darah segar. Jarum karatannya patah jadi dua.

"Argh! Energinya... dia bukan manusia biasa!" teriak si dukun sambil gemeteran.

Reno kaget setengah mati. "Mbah! Kenapa?! Masa nggak bisa?!"

"Dia punya pelindung langit, Goblok! Lu nyuruh gue bunuh naga pake jarum jahit?!" si dukun langsung kabur lewat pintu belakang, ninggalin Reno sendirian yang cuma bisa melongo ketakutan.

Di restoran, gue buka mata. Seseknya ilang. Gue narik napas lega.

"Ka! Kamu beneran nggak apa-apa?" Nadia megang pipi gue, matanya beneran berkaca-kaca karena takut gue pingsan.

Gue pegang tangan Nadia, gue cium telapak tangannya pelan. "Aku nggak apa-apa, Sayang. Tadi cuma... keselek hawa dingin aja. Yuk, kita pulang. Pak Maman udah nunggu di bawah."

Gue berdiri, tapi kali ini langkah gue makin mantap. Gue lirik Baron, dan dia langsung ngerti. Besok pagi, rumah dukun itu bakal rata sama tanah, dan Reno... dia harus bayar lebih mahal karena udah nyoba main mainan setan sama gue.

Bu Lastri yang dari tadi diem karena kekenyangan akhirnya bersuara, "Tuh kan! Kebanyakan gaya sih lu, makanya mau pingsan. Makanya, jangan halu punya resto mahal kalau fisik masih mental supir!"

Gue cuma ketawa. "Iya, Bu. Makasih diingetin. Ayo pulang, besok pagi saya harus nganter Nadia ke kantor Atmaja Group buat tanda tangan surat pemberhentian Paman Bram."

Nadia senyum puas. "Aku suka rencana itu, Ka."

Kami jalan keluar resto dengan bangga. Tapi di kegelapan parkiran, Kian—si ahli menyamar—muncul dari balik bayangan. Dia megang sebuah jarum emas yang ujungnya hitam.

"Tuan Muda," bisik Kian saat gue lewat di sampingnya. "Serangannya bukan cuma satu. Ada yang nunggu di jalan pulang."

Gue nyengir licik. "Bagus. Udah lama Rolls-Royce ini nggak kena percikan darah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!