NovelToon NovelToon
Antagonis Milik Sang Duke

Antagonis Milik Sang Duke

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi / Obsesi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rembulan Pagi

Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.

​Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Racun

Kesadaran Luvya terasa mengambang di antara rasa panas yang membakar dan kedinginan yang menusuk tulang. Saat ia membuka mata, ia mendapati dirinya terbaring di ruang perawatan kuil yang serba putih. Di sampingnya, seorang tabib tua sedang memeriksa denyut nadinya dengan kening berkerut dalam. Di sudut ruangan, berdiri Ibu yang tampak cemas dan sang Imam—Bapak—yang memperhatikan dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.

​"Bagaimana keadaannya?" tanya Ibu dengan suara gemetar.

​Tabib itu menghela napas, meletakkan tangan Luvya kembali ke atas ranjang. "Ini bukan demam biasa, Ibu. Gejalanya menunjukkan adanya zat asing yang masuk ke tubuhnya. Anak ini... sepertinya keracunan makanan."

​"Apa?!" Ibu memekik, wajahnya memucat. "Siapa yang berani-berani menaruh racun di lingkungan suci ini? Bagaimana bisa makanan seorang anak kecil terkontaminasi?"

​Suasana mendadak menjadi sangat dingin saat Bapak melangkah maju. Ia meletakkan tangannya di bahu Ibu, namun matanya tetap tertuju pada Luvya yang tampak lemah. "Tenanglah. Kita akan menyelidiki ini secara internal," ucapnya dengan suara berat yang berwibawa. "Namun, aku minta berita ini jangan sampai tersebar. Jangan ada siapapun di kuil ini yang tahu bahwa ada insiden peracunan. Kita tidak ingin menimbulkan kepanikan yang tidak perlu."

​Setelah instruksi tegas itu, mereka semua meninggalkan ruangan, membiarkan Luvya sendirian dalam kesunyian yang mencekam.

​Luvya hanya bisa menatap langit-langit, pikirannya berputar. Siapa yang meracuniku? Di novel, tidak ada kejadian seperti ini...

​Tiba-tiba, pintu ruangan berderit pelan. Seseorang masuk dengan langkah yang sangat ringan, nyaris tanpa suara. Luvya tersentak, mencoba bangkit namun tubuhnya terlalu lemas. Seorang gadis berusia sekitar 19 tahun dengan rambut kecokelatan kusam mendekatinya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, gadis itu mengeluarkan botol kecil dan meneteskan cairan bening ke dalam mulut Luvya.

​Ajaibnya, hanya dalam beberapa menit, rasa mual yang melilit perut Luvya mulai mereda. Rasa panas di kepalanya pun perlahan mendingin.

​"Siapa... kau?" bisik Luvya serak.

​"Namaku Matilda," jawab gadis itu datar, matanya menatap tajam ke arah pintu seolah berjaga-jaga.

​Deg! Jantung Luvya serasa berhenti. Matilda? Ingatannya sebagai Lily langsung terlempar ke bab-bab akhir novel. Matilda seharusnya adalah tangan kanan Luvya saat ia sudah dewasa nanti. Mereka seharusnya bertemu tujuh tahun dari sekarang, saat Luvya berencana membantai sang Imam. Matilda adalah sosok yang ahli dalam ramuan dan racun yang membantu Luvya menghancurkan Sellia.

​Kenapa dia ada di sini sekarang? Kenapa pertemuan ini terjadi terlalu cepat?

​"Maafkan aku," ucap Matilda tiba-tiba, membuyarkan lamunan Luvya. "Aku yang menaruh racun itu di supmu."

​Luvya terbelalak. "Kau... kenapa?"

​"Ibuku dulu adalah seorang ahli obat-obatan terlarang sebelum dia dibuang ke sini, dia mengajariku segalanya. Aku tahu takarannya. Aku memberimu racun yang hanya akan membuatmu demam hebat, tapi tidak akan membunuhmu. Cairan yang tadi kuberikan adalah penawarnya."

​Matilda mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan yang kelam. "Aku terpaksa melakukannya karena aku takut kau akan 'dimangsa' oleh Bapak malam ini."

​Luvya tersentak. "Dimangsa?"

​"Bapak... dia menyukai anak kecil," lanjut Matilda dengan bibir bergetar, namun matanya menyiratkan kebencian yang mendalam. "Aku pernah merasakannya sendiri saat aku masih seusiamu. Dia melakukan hal-hal menjijikkan itu padaku dan aku tidak bisa melawan. Tapi aku menyadari satu hal... dia hanya suka saat tubuh mangsanya terasa segar dan sehat. Saat aku sakit, dia tidak akan menyentuhku. Dia menganggap tubuh yang sakit itu kotor."

​Luvya merasa sekujur tubuhnya meremang. Rasa syok yang luar biasa menghantamnya. Ia ingat visi yang ia lihat di ruang pengakuan tadi. Ternyata, itu bukan sekadar mimpi. Itu adalah kenyataan pahit yang dialami anak-anak di kuil ini.

​"Kau harus tahu ini dari sekarang, Luvya," Matilda mencengkeram tangan Luvya dengan kuat. "Jangan pernah terlihat sehat di depannya. Hindari dia sebisa mungkin. Jika kau butuh cara untuk terlihat sakit tanpa benar-benar mati, datanglah padaku."

​Luvya terdiam seribu bahasa. Alur novelnya benar-benar sudah hancur. Matilda yang ia kenal sebagai penjahat kejam di masa depan, ternyata hanyalah seorang kakak yang berusaha menyelamatkan adiknya dari monster yang sama.

Matilda masih mencengkeram tangan Luvya, matanya yang tadi terlihat sedih kini berubah menjadi sangat serius, hampir terlihat seperti fanatik.

​"Luvya, kau tidak bisa terus-menerus mengandalkan racun buatanku untuk menghindar," bisik Matilda dengan suara yang dalam. "Kau butuh perlindungan yang lebih besar. Kau butuh Tuhan yang benar-benar adil, bukan Tuhan palsu yang disembah di kuil ini."

​Luvya mengerutkan kening, mencoba mengatur napasnya yang masih sedikit berat. "Maksudmu?"

​"Ikutlah denganku nanti malam. Aku akan membawamu ke sebuah pertemuan doa," Matilda mendekatkan wajahnya. "Kami menyembah Zargous. Dia adalah Tuhan yang akan memberikan kekuatan bagi mereka yang terbuang dan membalaskan dendam kita."

​DEG!

​Jantung Luvya berdegup sangat kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Nama itu—Zargous—adalah nama entitas kegelapan yang menjadi inti dari sekte terlarang dalam novel aslinya.

​Loh, ternyata Matilda sudah ikut sekte terlarang itu dari sekarang?! batin Luvya berteriak. Kenapa di novel sama sekali tidak disebutkan jika Matilda sudah bergabung sejak di kuil?

​Otak Lily berputar cepat, mencoba menggali ingatan dari novel yang pernah ia baca. Di dalam buku, pemimpin sekte itu adalah Desmond, dan Luvya dewasa bertindak sebagai kaki tangan utamanya. Ada juga nama Edmun sebagai eksekutor. Namun, selain nama-nama besar itu, sisa pengikutnya tidak pernah dijelaskan secara mendalam. Hanya dianggap sebagai "massa tanpa nama".

​Luvya tersentak dalam kesadarannya. Ia menyadari satu kenyataan pahit, sebuah novel hanya akan menyoroti sang pahlawan dan musuh utamanya. Hal-hal detail seperti siapa saja orang yang membantu di balik layar, atau bagaimana awal mula seseorang terjerumus ke dalam kegelapan, sering kali dilewati begitu saja.

​Benar juga... tidak semua cerita antagonis diberikan porsi untuk dijelaskan, pikir Luvya sambil menatap wajah Matilda yang tampak penuh harap. Banyak lubang dalam cerita yang harus aku isi sendiri. Dan ternyata, Matilda adalah salah satu rahasia yang tidak tertulis di buku itu.

​"Bagaimana, Luvya?" tanya Matilda lagi, menantikan jawaban. "Hanya Zargous yang bisa memberimu kekuatan untuk membunuh monster itu suatu saat nanti."

​Luvya terdiam sejenak. Jika ia menolak, ia mungkin kehilangan satu-satunya sekutu yang ia miliki di sini. Tapi jika ia ikut, ia akan benar-benar melangkah masuk ke dalam sarang serigala yang selama ini ia coba hindari dalam rencana jangka panjangnya.

​"Aku... aku akan ikut," jawab Luvya akhirnya dengan nada yakin.

​Di dalam hatinya, Luvya sudah membulatkan tekad. Ia harus ikut bukan karena ingin menyembah Zargous, tapi karena ia tahu pertemuan sekte itu pasti diadakan di tempat yang sangat tersembunyi.

​Tangga rahasia itu, batin Luvya tajam. Pertemuan doa ini pasti akan membawaku ke ruangan bawah tanah yang kulihat di ingatan Luvya asli.

1
kiu kiu
wowww...lucius mulai tergetar hatinya melihat luvya.hingga ingin berdansa dgnya.apa ini tanda tanda thor...jodoh utk luvya di depan mata.🤭🤭🤭🤭😍😍
aku
siapa??? 🤔
kiu kiu
wow...semakin menarik thor..
kiu kiu
bagus thor..ceritanya semakin menarik.semoga luvya menjadi seorang penyihir jenius...
aku
kenapa gk jujur aja liv, klo duke yg buang kamu. pasti paman dn ponakan itu bakal ngerti, nah jd sekutu dh kalian. bs jd kamu malah dilindungi 😁😁
Rembulan Pagi: sifatnya Luvya memang susah percaya kak, akibat masa lalunya🤭
total 1 replies
kiu kiu
mantap thor...buat semua terkagum dg kepintaran luvya thor.agar nasib luvya tidak hancur.gara gara duke sialan itu.
Rembulan Pagi
Silakan mampir bagi yang suka cerita fantasi bertema kerajaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!