NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:27.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18

***

Ruang tengah itu mendadak terasa seperti medan perang yang baru saja usai, menyisakan reruntuhan emosi yang berserakan di antara mainan anak-anak. Laras masih terduduk lemas di lantai, tubuhnya terguncang oleh isak tangis yang begitu menyayat hati. Napasnya tersengal, dadanya naik-turun dengan cepat, seolah paru-parunya tak lagi sanggup menampung udara di ruangan yang mendadak terasa sangat sempit itu.

Bagas tidak memaksakan diri untuk menyentuh Laras. Ia tahu, tangannya yang selama lima tahun ini dianggap Laras sebagai tangan "penguasa" mungkin akan terasa seperti duri jika ia memaksakan pelukan sekarang. Bagas perlahan menurunkan tubuhnya, duduk bersila di depan istrinya dengan kepala tertunduk dalam.

Tetesan air mata jatuh dari pelupuk mata Bagas, membasahi karpet. Untuk pertama kalinya, sang Kepala Desa yang disegani, pria yang selalu tampil tegak dan tak tergoyahkan, menangis di depan istrinya.

"Ras..." suara Bagas pecah, sangat parau dan sarat akan penyesalan. "Mas minta maaf. Mas juga... Mas juga sebenarnya tersesat dalam semua ini. Mas ini anak tunggal, semua beban keluarga ditaruh di pundak Mas sejak kecil. Mas harus jadi sarjana, Mas harus jadi pemimpin desa, Mas harus punya keluarga yang sempurna tanpa cela di depan warga."

Bagas mengusap wajahnya yang basah dengan kasar. "Mas terlalu fokus mengejar angka, mengejar citra, sampai Mas lupa kalau di samping Mas ada manusia. Mas lupa kalau kamu bukan sekadar gelar 'Ibu Kades'. Mas terlalu bebal untuk mengerti bahwa kamu itu Laras, perempuan muda yang punya hati, bukan cuma mesin yang Mas harapkan bisa mengisi kekosongan hidup Mas yang yatim piatu ini."

Laras mendongak dengan wajah sembab, sorot matanya masih penuh dengan kepedihan yang dalam. "Kalau Mas tahu Mas tersesat, kenapa Mas biarkan Laras ikut hilang? Kenapa Mas biarkan Laras hancur sendirian sementara Mas sibuk dipuja-puja warga?"

"Mas pengecut, Ras. Mas takut kalau Mas mengakui kelemahan Mas, Mas bukan lagi pemimpin yang hebat di mata orang-orang. Mas jadikan kepatuhanmu sebagai tameng rasa aman Mas," jawab Bagas jujur, sebuah kejujuran yang terasa sangat pedih karena baru diucapkan setelah semuanya hancur.

Di tengah suasana yang sangat emosional itu, tiba-tiba Laras memegangi perut besarnya dengan kuat. Wajahnya yang tadi merah karena tangis seketika berubah pucat pasi. Ia meringis kencang, giginya bergeletuk menahan sesuatu yang luar biasa menyakitkan.

"Aakhhh... nggghhh... Mas..." rintih Laras tertahan. Tubuhnya melengkung, tangannya mencengkeram karpet hingga kukunya memutih.

"Ras! Kenapa?!" Bagas panik, ia segera merangkak mendekat dan menyangga bahu Laras.

"Sa-sakit... perutku kencang sekali... ahh!" Laras terengah-engah. Stres yang memuncak sejak semalam rupanya memicu kontraksi dini. Kontraksi ini jauh lebih hebat dari biasanya, seolah-olah bayi di dalam rahimnya ikut protes karena badai emosi sang ibu.

Bagas gemetar hebat. Ketakutan paling nyata menghantamnya: ia takut kehilangan keduanya. "Kita ke bidan ya? Mas ambil kunci motor, kita ke Puskesmas!"

"Enggak... ahhh... jangan. Mas... bawa aku ke kamar saja. Aku nggak mau warga lihat aku seperti ini. Jangan bawa aku keluar..." rintih Laras di sela-sela napasnya yang memburu.

Dalam kondisi hancur begini, ia masih memikirkan citra yang selama ini memenjarakannya.

Bagas tidak punya pilihan. Dengan tenaga sisa, ia menggendong Laras dengan sangat hati-hati, membawa tubuh istrinya yang terasa sangat berat karena kehamilan tua itu menuju kamar utama. Ia merebahkan Laras di atas ranjang, menyangga punggungnya dengan tumpukan bantal agar napas Laras lebih lega.

Bagas berlari ke dapur, mengambil air hangat dan handuk kecil. Ia kembali ke kamar, mulai mengompres dahi Laras dan mengoleskan minyak kayu putih ke perut istrinya yang terus mengeras.

"Istighfar, Ras... sabar ya. Mas di sini. Maafin Mas... Mas mohon, jangan begini," Bagas terus membisikkan doa, air matanya tak berhenti mengalir saat melihat Laras berjuang antara nyeri fisik dan luka batin.

Bagas duduk di pinggir ranjang, memijat kaki Laras yang bengkak dengan tangan yang masih gemetar. Ia mencoba menyalurkan ketenangan yang ia sendiri tidak miliki. Hampir satu jam ia merawat Laras dalam diam, hanya suara desis napas Laras dan isak tangis tertahan yang mengisi kamar itu.

Pelan-pelan, kontraksi itu mulai mereda, meski wajah Laras masih tampak sangat letih.

Setelah napas Laras mulai teratur, suasana kembali menjadi kaku. Luka batin itu ternyata tidak sembuh hanya karena Bagas baru saja merawatnya. Begitu rasa sakit fisiknya sedikit berkurang, Laras menatap Bagas dengan pandangan yang dingin.

"Mas... antarkan aku pulang ke rumah orang tuaku. Sekarang," ucap Laras datar.

Bagas tersentak, jantungnya seolah berhenti berdetak. "Apa? Pulang? Ras, dalam keadaan seperti ini?"

"Aku sudah nggak sanggup, Mas. Berada di rumah ini rasanya seperti dikuliti perlahan-lahan. Aku mau pulang. Aku mau jadi Laras saja, bukan Ibu Kades yang harus pura-pura bahagia," suara Laras kembali bergetar.

"Enggak, Laras! Kamu nggak boleh pergi ke mana pun!" Bagas berdiri, suaranya kembali meninggi karena rasa takut kehilangan.

"Anak-anak butuh kamu. Gilang dan Arka... apa kamu tega meninggalkan mereka?"

Laras menatap suaminya dengan sorot mata yang menantang. "Siapa bilang aku meninggalkan mereka? Mereka akan ikut aku, Mas. Mereka anak-anakku."

"Enggak bisa! Kamu itu istri aku!" Bagas berteriak frustrasi, egonya kembali muncul sebagai bentuk pertahanan diri. "Kamu tidak boleh pergi dalam keadaan seperti ini, Laras! Usia kandunganmu delapan bulan, sebentar lagi kamu akan melahirkan. Kamu mau warga desa berpikir apa kalau mereka tahu Ibu Kades kabur dari rumah?"

Laras tertawa getir, tawa yang penuh dengan penghinaan pada dirinya sendiri. "Lihat? Masih soal warga desa. Masih soal apa kata orang. Mas benar-benar egois, Mas!"

Laras berusaha bangkit berdiri meski kakinya masih lemas. "Mas pikir aku ini apa? Tahanan? Mas pikir Mas bisa mengunci aku di sini selamanya hanya karena aku mengandung anak Mas?"

"Laras, aku cuma mau melindungi kamu dan keluarga kita!"

"Melindungi atau memenjarakan, Mas? Mas memaksa aku tinggal bukan karena Mas sayang padaku, tapi karena Mas takut reputasimu hancur! Mas takut nggak ada yang mengurus anak-anak dan kebutuhanmu!" Laras berteriak tepat di depan wajah Bagas.

Bagas terdiam, napasnya memburu. Ia ingin membantah, tapi ia sadar bahwa sebagian kecil dari apa yang dikatakan Laras adalah benar. Ketakutannya akan kehancuran "citra sempurna" itu memang masih ada.

"Aku nggak akan pergi ke mana-mana kalau Mas nggak mau antar. Tapi jangan harap aku akan bicara lagi sama Mas," ucap Laras pedih.

Laras berjalan tertatih menuju pintu kamar. "Mas keluar. Aku mau sendiri."

"Ras, tolong jangan begini..."

"KELUAR, MAS!" teriak Laras histeris.

Bagas terpaksa melangkah keluar dengan bahu merosot. Begitu Bagas keluar, Laras langsung menutup pintu kayu jati yang berat itu.

Klik! Klik!

Suara kunci yang diputar dua kali itu terdengar sangat jelas di telinga Bagas. Ia berdiri mematung di depan pintu kamar, sementara dari dalam, ia bisa mendengar Laras kembali menangis hebat sambil memukuli bantal.

Di ruang tengah, matahari sore mulai tenggelam, membawa bayangan panjang yang memenuhi rumah besar itu. Bagas menyadari satu hal: ia memiliki rumah ini, ia memiliki jabatan, ia memiliki anak-anak, tapi ia tidak lagi memiliki hati wanita di balik pintu yang terkunci itu. Dan yang paling menyakitkan adalah ia tahu bahwa dialah yang membangun penjara itu sendiri.

***

Bersambung....

1
keynara
thor Bu Laras jangan bikin jadi pikiran dn cemburu liat suaminya jalan sama mahasiswi walaupun lagi kerja ntar stres kasian kandungannya 🙏
Lee Mba Young
pantes pak Kades lbih suka ma mahadiswi mereka enak di lihat 😄. per selingkuh itu ya awal nya bgini, si istri gk bisa jaga diri juga. tiap th hamil anak masih kecil kecil semrawut. gk nge Gym atau olah raga biar kenceng otot semua.
mau bgaimanapun lbih enak lihat mahasiswi drpd istri nya yg gk Karu Karu an bentukannya.
Lee Mba Young
Salah sendiri gk KB. anak masih piyik gk di kontrol.
laki juga butuh istri yg menggairah kan.
coba jd wanita modern punya Anak trus KB atur tu jarak pasti gk bgini.
La anakmu yg 3 masih bayi bayi 🤣. gk nge gym pula pa gk kendor tu perut.
keynara
semoga pak kades nggak tergoda perempuan lain kasian Bu Laras lagi hamil besar🙏
Lee Mba Young
pak kades lagi nemenin daun muda 🤣. gk mungkin pak kades gk tergoda. pa lagi saingan nya bu kades yg sibuk hamil anak masih piyik piyik juga ya badan melar semua to. pasti pak kades juga butuh wanita yg menggairah kan. enak di lihat.
Lee Mba Young
pak kades dpt daun muda, km hamil tok gk ngurus badan ya gk bikin gairah.
pak kades lagi kikuk kikuk ma daun muda 🤣. mkne to kb Ora gur metang meteng gk ngurus awak. yo pak kades tampan siapa yg Nolak. pak kades juga butuh sex yg bikin gairah to 😄
Lee Mba Young
Habis lahir an, nnti hamil lagi. pdhl anak masih piyik semua. hrse ngasih contoh kb ke warga nya mlh ngasih contoh produksi bayi. ya anak bnyak gk papa tp jarak lah 5 th sekali. 🤣.
Heresnanaa_: Mohon bisa dibicarakan dengan pak kadesnya ya kak🙏😂😂
total 1 replies
11-08-2011 ulang tahun ku
bundir dan kabur jauh-jauh
Heresnanaa_: kak🥹🥹😂
total 1 replies
Heresnanaa_
okee kak, terimakasih atas sarannya 🙏😂
Lee Mba Young
bu kades gk KB ya,, walah gimana warganya kl niru. punya anak bnyak gk papa sih tp yo di beri jarak. ini kades mlh ngasih contoh warga nya gk bner. nnti kl ada penyuluhan KB gimana. apa masih primitive desa nya mkne gk pada KB hadechh
Heresnanaa_: oke kak, terimakasih atas sarannya 🙏
total 1 replies
Amiera Syaqilla
hi
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 😚🫶
total 1 replies
Aira Zaskia
Senang kalau bagas bisa mengerti laras,saling membantu mengurus rmh tangga,pak kades harus bangga dong baju hasil jahitan istri sendiri
Aira Zaskia
Suka banget sama keluarga ini,akhirnya bagas bisa lebih baik sekarang,selalu membantu laras dalm mengasuh ank maupun pekerjaan rmh tangga,makin hangat keluarga kecil ini
Rini Kartanti
baik sekali
MARWAH HASAN
ceritanya bagus loh
MARWAH HASAN
bagus ceritanya
Sri Jumiati
suami egois tdk memikirkan istrinya yg kelelahan
Lee Mba Young
ini istri kepala desa ne seriusan cm lahiran Dan dirumah saja. gk mimpin rapat PKK, posyandu, pengajian, dll🤣. ibu kepala desaku keren ternyata bisa urus rumah, bisa mengajak ibu ibu rumah tangga punya kegiatan walau kami di desa kecil deket hutan.
Lee Mba Young
Wanita hrs punya ketrampilan mumpung suami dukung. nnti kita gk tau apa yg terjadi apa lagi anakmu banyak kl laki ttp setia yo gk papa kl laki nnti lihat wanita yg lbih Pinter punya ketrampilan trus jatuh Cinta ya wasalam.
ibu kepala desa hrse gk cm lahiran dirumah saja, hrse punya peran PKK, posyandu, trus ngajak ibu ibu kegiatan positive biar desa tambah Maju.
Aira Zaskia
Semangat ras,lanjutkan impian mu,suami mu sudah mendukung & memberikan apa yg km impikan,bahagianya liat bagas sekarang sudah berubah,lebih menghargain istrinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!