Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Kaleng mereka kembali beradu pelan. Suara logam itu terdengar kecil, tapi cukup untuk menandai akhir dari percakapan yang tanpa mereka sadari lebih dalam dari yang direncanakan.
Nindi meneguk minumannya sekali lagi, lalu meletakkannya di atas meja.
Malam semakin larut. Udara terasa sedikit lebih dingin dari sebelumnya, meski musim panas belum benar-benar pergi. Sonya menguap kecil, menutup mulutnya dengan punggung tangan.
“Aku sudah tidak kuat,” gumamnya. “Kalau dipaksa lanjut, aku bisa ketiduran di sini.”
Nindi tersenyum tipis. “Tidur saja. Aku masih ingin di luar sebentar.”
Sonya mengangguk, lalu berdiri. Langkahnya pelan saat berjalan menuju pintu belakang. Namun sebelum benar-benar masuk, ia sempat berhenti dan menoleh.
“Nindi.”
“Hmm?”
Sonya menatapnya sejenak, seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi kemudian ia hanya tersenyum kecil. “Jangan terlalu lama.”
Nindi mengangguk. “Iya.”
Pintu tertutup pelan. Dan tiba-tiba… suasana berubah. Lebih sunyi. Lebih luas. Lebih terasa.
Nindi duduk sendiri di tepi kolam. Kakinya menjuntai, ujung jari kakinya menyentuh air yang tenang. Riak kecil terbentuk, lalu menghilang perlahan. Ia menatap pantulan cahaya lampu di permukaan air. Pikirannya Kembali tanpa diminta.
Tentang rumah.
Tentang keputusan.
Tentang tiga bulan yang terasa singkat.
Tentang seseorang yang bahkan belum ia kenal, tapi akan ia temui di masa depan.
Nindi menarik napas panjang. Lalu menghembuskannya perlahan.
“Capek, ya…” gumamnya pelan, mengulang kata yang tadi ia ucapkan.
Tanpa sadar, ia ingin melepaskan semuanya. Bukan dengan kata-kata. Tapi dengan diam. Dengan air. Dengan sejenak berhenti menjadi siapa pun.
Nindi berdiri. Ia melepas sandal pelan, lalu meraih ujung kausnya. Ujung celananya. Gerakannya tenang. Tidak terburu-buru. Seolah ini bukan sekadar berenang. Tapi cara untuk menenangkan diri.
Tak lama, ia sudah berada di dalam kolam. Air menyentuh kulitnya. Dingin. Menyegarkan. Ia menutup mata, membiarkan tubuhnya tenggelam sesaat di bawah permukaan.
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Semua suara terasa jauh.
Semua beban terasa lebih ringan.
Untuk beberapa detik ia benar-benar sendiri. Sampai akhirnya …
“Wuih…”
Suara siulan memecah segalanya. Nindi membuka mata dengan cepat. Ia muncul ke permukaan, napasnya sedikit tercekat. Air menetes dari rambutnya saat ia menoleh ke arah suara itu.
Dan di sanalah, Clay … Berdiri santai di balkon rumah sebelah. Dengan satu tangan menopang dagu, tubuhnya sedikit condong ke depan, seperti seseorang yang sejak tadi memang sudah memperhatikan. Seperti, penonton.
“Nikmat juga sepertinya,” ucapnya ringan.
Dunia yang tadi terasa sunyi langsung runtuh. Wajah Nindi memanas seketika.
“Kamu—” suaranya tertahan, antara kaget dan kesal. “Ngapain kamu di sana?!”
Clay tidak menjawab langsung. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
“Menikmati pemandangan?” katanya santai.
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tapi efeknya tidak sederhana. Nindi terdiam sepersekian detik. Lalu sadar. Posisinya.
Air. Pakaian. Dan, sudut pandang Clay.
Gerakannya langsung berubah. Tidak setenang sebelumnya.
“Ini rumahku,” lanjut Clay, masih dengan nada yang sama.
“Aku berdiri di balkonku sendiri.” Ia sedikit mengangkat bahu. “Kalau kamu ada di kolammu, ya kita sama-sama di tempat kita masing-masing, kan?”
Masuk akal. Tapi tetap menyebalkan. Nindi menggertakkan gigi pelan.
“Kamu sengaja, ya?”
Clay tidak menyangkal. Tidak juga membenarkan. Ia hanya diam dengan ekspresi yang justru membuat semuanya terasa lebih jelas.
Nindi mendecih pelan. Dengan cepat ia bergerak menuju pinggir kolam. Air menetes dari rambut dan bahunya saat ia naik. Tangannya langsung meraih bathrobe yang sudah disiapkan, lalu memakainya dengan gerakan cepat. Ia bahkan tidak menoleh. Tapi ia tahu. Clay masih melihat. Masih di sana. Dan entah kenapa itu lebih mengganggu dari yang seharusnya.
“Ganggu banget…” gumamnya pelan.
Dari atas, Clay tetap berdiri. Tidak pergi. Tidak merasa bersalah. Justru terlihat tertarik.
“Kenapa sudah selesai? Padahal kolammu bagus.”
Nindi akhirnya menoleh. Tatapannya tajam. Clay sedang menyindirnya.
“Kalau kamu memang punya mata,” balasnya dingin, “gunakan dengan benar. Bukan untuk hal seperti itu.”
Clay tersenyum tipis. “Hal seperti apa?”
Pertanyaan yang terdengar polos. Tapi jelas bukan. Nindi menahan napas. Lalu membuang muka.
“Lupakan.”
Ia berjalan cepat menuju pintu belakang.
“Rupanya kamu juga punya sisi panik seperti ini.” Nada Clay terdengar ringan, hampir seperti candaan. Tapi ada sesuatu di dalamnya. Yaitu sebuah pengamatan yang terlalu tepat untuk dianggap sekadar iseng.
Nindi berhenti. Tidak langsung menoleh. Dadanya naik turun pelan, menahan emosi yang mulai muncul lagi.
“Aku tidak panik,” balasnya akhirnya, dingin.
Clay tersenyum tipis di balkon. Ia masih berdiri santai, seolah tidak merasa telah mengganggu sama sekali.
“Tapi reaksimu barusan berkata lain,” ucapnya santai.
Nindi akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, jelas tidak senang.
“Kalau kamu memang suka memperhatikan orang lain,” katanya datar, “setidaknya lakukan itu dengan sopan.”
Clay tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya beberapa detik lebih lama dari sebelumnya. Bukan tatapan menghakimi. Bukan juga mengejek. Lebih seperti mengamati sesuatu yang menarik.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Menarik,” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
“Menarik?” ulang Nindi, alisnya mengernyit.
Clay mengangkat bahu sedikit.
“Biasanya orang yang bilang tidak panik, justru paling panik.”
Nindi langsung menghela napas pendek. “Kalau kamu hanya ingin mengganggu, aku tidak punya waktu untuk ini.”
Ia kembali memalingkan wajah dan melangkah masuk ke arah pintu belakang. Langkahnya cepat. Tegas. Seolah ingin menghapus keberadaan Clay dari pikirannya.
Namun di balkon, Clay masih berdiri di tempatnya. Senyumnya tidak hilang. Justru sedikit berbeda sekarang. Lebih pelan. Lebih… tertarik.
“Dia bukan tipe yang mudah dibaca,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
Kalimat itu keluar lebih seperti kesimpulan daripada opini. Biasanya, orang di sekitarnya mudah dibaca. Terutama di kafe. Mereka datang dengan tujuan jelas. Kagum. Mendekat. Atau sekadar mencari perhatian. Semua pola itu, selalu sama.
Tapi Nindi tidak masuk ke pola itu. Tidak kagum. Tidak mencoba menarik perhatian. Tidak juga mundur saat ditekan. Justru melawan, tapi dengan cara yang tenang. Dan itu, Membuatnya sedikit berbeda.
Clay menyipitkan mata sedikit, menatap kolam lagi.
“Kenapa jadi menarik?”
Ia berhenti sejenak, seolah mengoreksi pikirannya sendiri.
“Tidak,” gumamnya pelan.
“Bukan menarik.”
Hening.
Angin malam kembali lewat. Ia memejamkan mata sebentar. Namun justru wajah Nindi yang tadi muncul lagi di pikirannya. Ekspresinya saat membalas. Cara dia menahan emosi tapi tetap berdiri tegak. Cara dia tidak benar-benar kalah, meski jelas situasinya tidak nyaman. Clay membuka mata lagi. Tatapannya kembali datar. Tapi ada sesuatu yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Seperti ada gangguan kecil di sistem yang biasanya rapi.
“Dia cuma orang baru,” katanya pada dirinya sendiri.
Seolah ingin mengunci kesimpulan itu. Tapi entah kenapa, Kalimat itu tidak menutup apa pun. Justru membuka lebih banyak pertanyaan. Clay menatap kosong ke depan beberapa detik. Lalu menghela napas pelan.
“Cuma kebetulan.”
Kali ini ia mengatakannya lebih tegas. Seolah ingin memastikan itu benar.