NovelToon NovelToon
Magic Knight: Sunder-soul

Magic Knight: Sunder-soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Antagonis
Popularitas:110
Nilai: 5
Nama Author: Arion Saga

Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Malam Berdarah 2 (Bagian 1-Bayangan Kejam)

...."Tidak perlu terlalu panik," ucap Nyx dengan suara datar yang bergema dingin.

"Jika aku memang mau, aku bisa mengambil kepala tuan putri kalian begitu saja sebelum kalian sempat menarik napas. Keberadaan ku di sini adalah bukti bahwa kalian sudah kalah."

Meskipun kata-kata itu terdengar sombong, tak ada satu pun prajurit di sana yang berani membantah.

Tekanan udara di ruangan itu mendadak menjadi sangat berat, mengonfirmasi bahwa apa yang dikatakan Nyx adalah kebenaran yang mutlak.

"Jadi... bagaimana kita akan menyelesaikan ini?" tanya Nyx dingin, matanya yang tajam menatap dari balik topeng.

Namun, rasa takut dan harga diri yang terluka membuat akal sehat Valerica menghilang. Dengan wajah memerah karena murka, ia justru meneriakkan perintah yang sangat bodoh.

la sama sekali tidak memikirkan dampak bahwa pertarungan di ruangan ini bisa membuat nyawa ayahnya-Raja Beast yang tengah sekarat-terkena imbas fatal.

"Apa yang kalian tunggu?! Cepat bunuh pecundang itu!" teriak Valerica histeris sambil menunjuk ke arah Nyx.

"Dia hanya menggertak! Jangan biarkan tikus ini menghina darah kerajaan! Hancurkan dia sekarang juga!"

Mendengar perintah itu, Nyx hanya menghela napas pendek, sebuah tanda bahwa ia tidak akan lagi menahan diri dalam pertunjukan pembantaian ini.

Di dalam kamar yang luas itu, Nyx mulai bergerak. la tidak langsung menyerang; ia melangkah menyamping dengan sangat tenang, setiap pijakannya tidak mengeluarkan suara, seolah-olah ia adalah hantu yang melayang.

Dengan gerakan provokatif yang halus, ia memancing pasukan elit dan sang Komandan untuk menjauh dari ranjang tempat Raja Beast terbaring sekarat.

la tahu, satu hantaman besar di dekat sana bisa menghancurkan nyawa sang Raja.

"Kalian terlihat sangat tegang," suara Nyx bergema dari balik topengnya, dingin dan meremehkan.

"Tidak perlu mengantre. Kalian bisa menyerang ku bersamaan."

Kemarahan meledak di mata sang Komandan.

la adalah Vorg, sang legenda hidup yang naik takhta kepemimpinan bukan karena senjata, melainkan karena sepasang cakarnya yang mampu merobek zirah baja paling tebal sekalipun.

Dengan raungan yang menggetarkan kaca ruangan, Vorg menerjang.

Nyx melesat.

Dalam sekejap mata, ia sudah berada di depan wajah Vorg, belati hitamnya mengarah tepat ke arteri leher sang Komandan.

CLANG!

Suara logam beradu dengan benda keras memekakkan telinga.

Vorg berhasil menangkis belati itu hanya dengan menggunakan cakarnya yang sekeras berlian.

Percikan api tercipta di antara mereka.

Vorg menyeringai, menunjukkan taring-taringnya.

"Terlalu lambat untuk ukuran seorang pembunuh!" geram Vorg.

Namun, Nyx tidak membalas seringai itu. Matanya tetap datar, seolah serangan tadi hanyalah pengalihan.

Saat Vorg bersiap untuk melakukan serangan balasan dengan tangan kirinya, Nyx mendadak menghilang.

Sosoknya memudar menjadi bayangan hitam yang menyebar ke seluruh penjuru ruangan.

Srett! Srett! Srett!

Yang terdengar kemudian hanyalah suara tarikan napas pendek dan gesekan tajam baja yang membelah daging.

Para ksatria elit yang tadi berdiri membentuk pagar betis untuk melindungi Valerica bahkan tidak sempat menarik pedang mereka.

Mereka hanya berdiri mematung selama satu detik, sebelum akhirnya secara bersamaan-kepala dan tangan mereka terlepas dari tubuh, jatuh ke lantai marmer dengan suara yang berat.

Darah menyembur, membasahi gaun mewah Putri Valerica yang kini mematung karena shock.

Dalam satu tarikan napas, sepuluh ksatria elit terbaiknya telah menjadi tumpukan daging tak bernyawa.

Nyx muncul kembali tepat di belakang Vorg, berdiri di tengah genangan darah yang mulai meluas.

Belatinya bersih tanpa setetes darah pun, menunjukkan betapa cepatnya serangan itu hingga darah tidak sempat menempel.

"Tadi kau bilang apa?"

bisik Nyx tepat di telinga Vorg.

"Terlalu lambat? Maaf, aku baru saja membereskan sampah-sampah yang menghalangi pandanganku padamu." Vorg membeku.

Keringat dingin mengucur di dahi sang Komandan.

la sadar, ksatria elitnya bukan dibunuh satu per satu, tapi dibantai secara simultan dalam satu gerakan yang melampaui batas kecepatan mata manusia.

Kini, hanya tersisa ia sendiri melawan sang Bayangan, di depan Putri Valerica yang mulai kehilangan kewarasannya karena ketakutan.

Di dalam kamar Raja, Nyx kembali melesat.

Belati hitamnya menyambar dari berbagai sudut, menciptakan kilatan maut yang mengincar celah zirah Vorg.

Namun, kali ini Vorg tidak lagi hanya bertahan. Menyadari bahwa lawannya adalah bayangan yang mampu merenggut nyawa dalam sekejap, ia menggeram rendah hingga dadanya bergetar.

"GRAAAAAAAARRR!"

Tubuh Vorg membengkak hebat.

Zirah bajanya berderit, menahan otot-otot yang membesar secara tidak wajar. Bulu-bulu kasar tumbuh menembus sela-sela logam, dan matanya berubah menjadi merah darah. la melepaskan Beastification-sisi sejati kekuatan klan Beruang yang meningkatkan kekuatannya hingga tiga kali lipat.

Saat belati Nyx menghantam lengannya, belati itu tidak lagi membelah daging, melainkan terpental seolah menghantam baja padat. 3 Nyx melompat mundur, mendarat dengan ringan di atas bingkai jendela.

Melihat perubahan fisik lawannya yang mengerikan, ia hanya memiringkan kepalanya sedikit.

"Owh... menarik," gumam Nyx dingin.

"Setidaknya kau memberikan hiburan yang layak sebelum kau mati." Sementara itu, di halaman utama, pembantaian masih berlangsung.

Pasukan Beast telah kehilangan harapan; mereka terbantai tanpa mampu memberikan perlawanan berarti di bawah kaki Black Knight.

Di tengah hujan darah tersebut, Liora mendekati Arion yang berdiri tenang.

"Tuan Muda,"

Liora membungkuk, meski wajahnya masih dipenuhi percikan darah dengan ekspresi haus darah yang belum terpuaskan.

"Bau busuk dari ruang bawah tanah itu terlalu menyengat. Izinkan saya pergi ke sana untuk memeriksanya."

Arion hanya memberikan anggukan kecil sebagai izin.

Liora menyeringai lebar dan langsung melesat menuju pintu rahasia di sayap kanan istana. Namun, di kegelapan lorong bawah tanah yang lembap dan berbau besi, seorang pria besar dengan zirah bersisik telah menunggunya.

Garl, salah satu komandan Beast yang bertugas menjaga "aset" berharga di bawah tanah, berdiri dengan tangan bersedekap.

Di belakangnya, jeritan para budak terdengar sayup-sayup.

"Jadi, seekor anjing kecil milik Astra berhasil masuk ke sini?" Garl bergumam, suaranya berat dan bergema di lorong sempit.

"Sayang sekali, lorong ini akan menjadi kuburanmu, Gadis Merah."

Liora tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya menjilat bibirnya, matanya berkilat gila saat melihat mangsa barunya.

Kembali ke luasnya halaman depan istana, satu-satunya penghalang yang tersisa bagi pasukan utama adalah Gorgos.

Dari empat komandan besar, dialah satu-satunya yang turun ke medan terbuka untuk menahan gempuran Black Knight.

Gorgos berdiri seperti gunung di tengah kekacauan, memegang gada raksasa yang dipenuhi duri.

la telah menghempaskan beberapa ksatria Black Knight sebelum akhirnya langkahnya terhenti oleh sosok yang sama besarnya. Hanz melangkah maju, memanggul kapak raksasanya di bahu.

Keduanya saling menatap, dua monster kekuatan yang mendominasi medan perang.

"Kau terlihat cukup kuat untuk menahan satu ayunanku," ucap Hanz dengan tawa rendah yang provokatif.

Gorgos menggeram, menghantamkan gadanya ke tanah hingga marmer halaman itu retak berkeping-keping.

"Aku adalah benteng kerajaan ini! Tak ada manusia yang bisa melaluiku!" Di belakang mereka, Arion terus berjalan perlahan, tidak memedulikan guncangan tanah akibat pertemuan dua kekuatan besar Hanz melangkah maju, memanggul kapak raksasanya di bahu.

Di sisi belakang, suasana di sekitar Arion mendadak terasa dingin dan statis.

Meskipun di depannya Hanz baru saja berhadapan dengan Gorgos-dua raksasa yang masih saling mengukur kekuatan sebelum ledakan serangan pertama-Arion tidak lagi memperhatikan mereka.

Langkah kakinya terhenti sepenuhnya di atas marmer yang retak.

Arion, yang sejak serangan pertama penghancur gerbang belum lagi menyentuh gagang pedangnya, perlahan menolehkan kepalanya sedikit ke samping.

Matanya melirik tajam ke arah kegelapan di belakang barisannya, jauh menembus debu-debu reruntuhan gerbang luar yang masih melayang di udara. la merasakannya.

Bukan sekadar gerombolan prajurit Beast yang kocar-kacir dalam ketakutan, melainkan sebuah getaran energi yang stabil, disiplin, dan sangat asing.

Energi itu memotong keputusasaan di medan perang ini seperti sebilah pedang yang dingin. Sebuah kekuatan yang terasa tak familiar bagi Arion yang sekarang, namun entah mengapa, memicu sisa-sisa insting yang sangat spesifik jauh di lubuk jiwanya.

Tangannya yang tersembunyi di balik jubah hitam bergerak sedikit, jemarinya secara naluriah bergetar pelan, seolah bersiap untuk kembali menghunuskan bilah hitamnya.

"Energi ini... tidak seharusnya ada di sini," batin Arion. di balik kegelapan itu, seorang wanita dengan zirah perak sedang memacu kuda dengan napas tertahan.

la belum tahu bahwa sebentar lagi, sebuah pertemuan yang tak diinginkan akan mengacaukan keheningan batinnya.

Bagi Arion, ini adalah variabel baru yang tidak terduga dalam rencana pembantaiannya malam ini.

Arion menyipitkan mata, menatap jauh ke cakrawala malam di mana deru langkah kaki kuda mulai terdengar ritmis.

"Bala bantuan?" gumamnya lirih, suaranya nyaris hilang ditelan angin malam.

"Ataukah hanya mangsa lain yang datang untuk mengantarkan nyawa?" Tepat saat kalimat itu berakhir, sebuah kilatan perak muncul di kejauhan, menandakan kedatangan pihak yang akan mengubah jalannya malam berdarah tersebut.

Bersambung...

1
Leon 107
ngak tau lagi apa yang mau dibaca...
Leon 107
pertama...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!