Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18 - Sidang Akhir Valen
Pagi itu, kampus terasa begitu dingin bagi Valen. Biasanya, hari sidang akhir adalah momen yang paling dinanti, namun kini ia menjalaninya dengan hati yang berat. Tidak ada pesan semangat dari Mila, tidak ada senyuman yang biasanya menenangkan kegugupannya. Valen hanya ditemani oleh Keytar-nya yang tersimpan di dalam tas, menjadi saksi bisu perjuangannya selama ini.
Valen tampak melangkah masuk ke ruang sidang dengan hati yang hancur, namun ia ingat kata-kata Oma semalam: "Buktikan kamu bukan sekadar pion!"
Di dalam ruang sidang, Valen dihujani pertanyaan teknis yang sangat tajam. Namun, rasa kecewa dan tekad untuk membuktikan dirinya pada Oma Soimah justru berubah menjadi energi luar biasa. Ia menjawab setiap argumen penguji dengan sangat cerdas dan berwibawa, membuktikan bahwa ia benar-benar menguasai bidangnya tanpa bantuan koneksi ayahnya sedikit pun.
Sementara itu, di koridor lantai empat, Robi berdiri bersandar di pilar. Ia baru saja tiba setelah ditelepon oleh Valen yang memintanya datang. Namun, ada sesuatu yang berbeda di tangan Robi—sebuah kotak kue berwarna putih dengan pita merah muda yang cantik.
Tak lama kemudian, pintu ruang sidang terbuka. Valen keluar dengan wajah lelah namun tampak lega. Dosen penguji mengumumkan bahwa Valen lulus dengan predikat Lulusan Terbaik.
"Selamat, Bro! Lulusan terbaik, nih!" seru Robi sembari menepuk bahu Valen.
Valen tersenyum getir, matanya menyisir koridor berharap ada sosok yang ia rindukan.
"Mila... dia benar-benar nggak datang, Bi?"
Robi menghela napas, lalu menyodorkan kotak kue itu. "Dia nggak datang, Len. Hatinya masih kacau. Tapi tadi pagi-pagi sekali, dia bangun dan masuk ke dapur. Dia bikin ini buat lo. Katanya, ini cake terbaik yang pernah dia buat selama dia belajar di toko. Dia pun di rumah bicara seperlunya aja, belum se-ceria biasanya."
Valen menerima kotak itu dengan tangan sedikit gemetar. Di dalamnya terdapat sebuah Chocolate Ganache yang sangat rapi. Di atasnya tertulis pesan singkat menggunakan cokelat putih:
"Selamat atas gelarnya, Kak Valen. Buktikan pada dunia kalau Kakak berdiri di sini karena kemampuan Kakak sendiri, bukan karena perintah siapapun. Semoga dapat hasil sidang yang baik."
Valen terdiam menatap tulisan itu. Ia tahu, meskipun Mila menjaga jarak untuk menenangkan diri, gadis itu tetap peduli.
Namun, ia juga sadar bahwa "menghilang" adalah cara Mila untuk memproses luka akibat rahasia perjodohan tersebut.
"Bilang sama Mila, Bi... makasih banyak. Kue ini lebih berarti daripada predikat lulusan terbaik yang baru gue dapet," ucap Valen lirih.
Robi tersenyum dan memeluk Valen, pelukan khas laki-laki, "Semangat, Bro, dan sabar dulu ya."
Malam harinya, tidak ada perayaan mewah di rumah Adiwangsa maupun Hardianto. Valen hanya duduk di balkon kamarnya, memetik nada-nada rendah pada Keytar-nya. Ia harus memberikan waktu pada Mila, sembari ia sendiri bersiap untuk "ujian" yang lebih besar: memenangkan kembali hati Mila tanpa embel-embel janji orang tua.
Beberapa minggu pun berlalu, begitu cepat bagi Robi, begitu lama dan menyakitkan bagi Valen.
Hari pernikahan Robi dan April akhirnya tiba. Gedung resepsi didekorasi dengan sangat megah, penuh dengan bunga lili putih sesuai keinginan Oma Soimah. Namun, bagi Mila dan Valen, kemeriahan ini terasa kontras dengan dinginnya hubungan mereka yang sudah dua minggu tidak saling bicara.
Mila tampil sangat cantik dengan kebaya seragam keluarga berwarna sage green. Sejak pagi, ia menyibukkan diri membantu April bersiap, memastikan sahabatnya itu tampil sempurna. Ia sengaja terus bergerak agar pikirannya tidak melayang pada sosok yang pasti akan hadir di pesta ini.
Di sisi lain, Valen datang bersama Papa Fildan dan Mama Aty. Levian menghampiri mereka dan Levian menggandeng tangan Valen. Valen terlihat sangat gagah mengenakan jas yang senada dengan tema pesta, namun sorot matanya terus menyisir ruangan. Begitu ia melihat Mila di kejauhan sedang menuntun Leshia, langkahnya tertahan.
"Bersama Leshia? Sementara Levian bersamaku," gumam Valen.
"Valen, ayo sapa keluarga Hardianto," ajak Papa Fildan pelan.
_______
Ditunggu part selanjutnya ya Guys
Love you All ❤️