NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:972
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merangkai kebohongan

“Makasih ya, Kak, udah mau jemput aku,” ujar Helena begitu melihat Hamka datang ke sekolahnya. Wajahnya berbinar saat laki-laki yang ia sukai itu berdiri di hadapannya.

Berbeda dengan Helena, Hamka justru tampak datar tanpa emosi.

Ponsel Helena tiba-tiba berdering, namun gadis itu tak menghiraukannya dan langsung mematikannya. Hamka yang sedang bersiap menyalakan motor merasa ada yang janggal.

“Kenapa nggak diangkat? Mungkin itu dari kakak lo,” ucapnya.

Helena langsung gelagapan karena dugaan Hamka seratus persen tepat.

“Kak Fariz masih kontrol di rumah sakit.Dia nggak mungkin bisa jemput aku,” katanya, berbohong pada Hamka.

Helena menunduk, jemarinya meremas ujung tas dengan gugup. Ia berharap Hamka tak menangkap keganjilan di suaranya.

Hamka hanya mengangguk singkat. “Oh.”

Tak ada selidik, tak ada tanya lanjutan. Ia mengenakan helmnya, lalu menyerahkan satu helm lain pada Helena.

“Pakai,” ucapnya singkat.

Helena menerimanya dengan senyum kecil yang kembali merekah. Ia segera naik dan duduk di belakang Hamka, menjaga jarak seperti biasa, meski hatinya berdegup tak karuan. Saat motor melaju meninggalkan halaman sekolah, ponsel di dalam tasnya kembali bergetar pelan..nama Kak Fariz muncul di layar, berkali-kali.

Perempuan itu jadi kesal pada wali kelasnya ,karena sebelum Helena menghubungi Hamka,gurunya sudah lebih dulu menghubungi Fariz.

Namun karena ponsel Fariz dalam mode silent ,ia pun baru tahu wali kelas Helena menghubunginya setelah sampai di rumah .

Helena memejamkan mata sejenak, lalu mematikan getaran itu dengan satu sentuhan cepat. Dadanya berdegup tak beraturan.

Tanpa banyak pikir, ia mengalihkan ponselnya ke mode kamera, mengarahkannya diam-diam ke tangannya sendiri yang tengah menggenggam jaket Hamka. Lalu, perlahan—nyaris tak terlihat—kamera itu bergeser ke tangan Hamka yang mantap memegang stang motor.

Cukup satu detik.

Helena segera menurunkan ponselnya dan menyimpannya kembali, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Di depan, Hamka mengendarai motor dengan fokus, pandangannya lurus ke jalan. Namun entah kenapa, ada rasa tak nyaman yang menggelitik dadanya. Sejak tadi, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Helena darinya..bukan karena ia peduli, ia meyakinkan dirinya sendiri, hanya… perasaan asing yang sulit dijelaskan.

Angin sore berhembus pelan.

Di antara deru motor dan jarak yang sengaja dijaga, kebohongan kecil Helena ikut melaju, tanpa ia tahu, akan berujung pada sesuatu yang jauh lebih rumit.

Tak lama kemudian, motor Hamka berhenti di depan rumah Helena. Begitu turun, Helena langsung melepas helm dengan senyum kecil yang masih tertinggal di wajahnya.

Namun senyum itu seketika membeku.

Fariz keluar dari dalam rumah, masih mengenakan kaus rumah, wajahnya tampak sedikit pucat namun jauh lebih sehat dibanding beberapa bulan lalu.

“Lho, Dek… kok kamu malah minta Hamka yang jemput?” ucap Fariz heran. “Padahal tadi kakak udah pulang dari jam sebelas.”

Helena terkejut. Tatapannya refleks melirik ke arah Hamka.

Jantungnya berdegup tak karuan.

Hamka ikut terdiam sesaat. Ada sesuatu yang terasa ganjil, tapi ia menepisnya. Ia tak ingin berpikir macam-macam,yang ia tahu, ia hanya kasihan pada adik sahabatnya itu.

“Gue cabut dulu ya, Riz,” ujar Hamka singkat, sudah bersiap menyalakan motor.

Fariz mengangguk, raut wajahnya berubah tak enak. “Sorry banget ya, kalo adek gue sering ngerepotin lo.”

Hamka menoleh sekilas. Sahabatnya itu memang sudah jauh membaik setelah tragedi tiga bulan lalu, meski masih harus sesekali kontrol ke rumah sakit.

“Gak apa-apa,” jawab Hamka singkat, lalu melajukan motornya meninggalkan halaman rumah.

Helena memandang punggung Hamka yang menjauh hingga menghilang di tikungan.

Setelah itu, Fariz menyusul adiknya yang lebih dulu masuk ke dalam rumah.

“Dek…” panggilnya pelan.

Helena berhenti melangkah, tapi tak menoleh.

“Kamu jangan sering-sering ngerepotin Hamka dong,” ujar Fariz serius. “Kakak jadi nggak enak. Dia udah terlalu baik sama kita.”

Helena mendengus kecil, wajahnya tampak cuek.

“Apaan sih, Kak. Kak Hamka aja nggak keberatan.”

“Tapi kakak yang nggak enak,” balas Fariz. “Udah cukup kamu ngerepotin dia waktu kakak sakit. Padahal dulu kamu nggak harus tinggal di sana. Kamu juga nggak perlu diantar-jemput Ham..”

“Udah ah!” potong Helena tiba-tiba. Suaranya meninggi. “Aku capek.”

Ia langsung bangkit dan berjalan cepat menuju kamarnya, meninggalkan Fariz dengan napas tertahan dan banyak pertanyaan yang tak sempat terucap.

Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Helena menyandarkan tubuhnya. Napasnya masih terasa pendek, dadanya naik turun seolah menyimpan rahasia yang terlalu penuh.

“Maaf, Kak… untuk kali ini aku tak mendengarkanmu,” ucapnya lirih, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri.

Helena bahagia ..bahagia dengan cara yang membuatnya sedikit takut. Karena Hamka tak selalu ada saat ia membutuhkannya, namun justru kehadiran laki-laki itu hari ini terasa begitu berarti. Tatapan iri teman-temannya masih terbayang jelas di kepalanya, saat Hamka menjemputnya di sekolah. Tatapan yang membuat dadanya menghangat, egonya terpuaskan.

Sebenarnya, ia hanya ingin membuktikan pada mereka. Pada teman-temannya yang masih tak percaya bahwa Hamka adalah pacarnya.

Padahal pernyataan itu… bohong.

Namun Helena sudah terlalu jauh untuk mundur. Kebohongan itu mulai ia rangkai sejak Hamka rutin mengantar dan menjemputnya, sejak Fariz terbaring lemah di rumah sakit. Dan saat beberapa temannya masih meragukan hubungannya dengan Hamka, Helena kembali menambah satu kebohongan lain seperti hari ini.

Ia tak benar-benar perlu pulang. Jatuhnya pun tak seberapa. Tapi otaknya bergerak cepat, menyusun siasat. Luka kecil itu ia jadikan alasan, agar Hamka datang menjemputnya ke sekolah.

Helena tersenyum tipis mengingatnya.

Ia masih ingat jelas bagaimana Hamka berjalan menyusuri koridor sekolah dengan jaketnya. Langkahnya tenang, sorot matanya dingin namun tegas. Di mata Helena dan di mata banyak orang, laki-laki itu terlihat begitu keren.

Dan saat itu, Helena tahu… kebohongan kecilnya mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Namun ia terlanjur menyukai laki-laki bernama Hamka .Ia sudah nyaman dengan sikapnya .Selama Hamka tak keberatan ia dikati,maka ia tak akan mundur .

Apalagi ia tahu jika Hamka tak punya kekasih .Meski banyak perempuan yang menyukainya .

Dan hanya satu nama yang selalu membuatnya tak suka ..Naura..teman masa kecilnya sekaligus tetangganya Hamka .

Meski yang terlihat mereka selalu berselisih namun tak jarang ia melihat tatapan Hamka pada Naura terlihat berbeda.

Maaf… Hamka cuma milik gue,” gumamnya pelan.

Tangannya bergerak membuka galeri foto di ponsel. Tatapannya terpaku pada gambar yang baru saja ia ambil,tangannya yang menggenggam jaket Hamka, lalu tangan laki-laki itu di stang motor. Sederhana. Tapi cukup berbahaya.

Dengan sedikit sentuhan editan, Helena menghapus keraguan yang sempat muncul di dadanya. Jemarinya lincah, seolah kebohongan itu sudah terlalu akrab dengannya.

Beberapa detik kemudian, foto itu terpajang di status WhatsApp-nya.

Tentu saja sebelumnya beberapa nomer sudah ia kecualikan,termasuk Hamka dan kakaknya.

Thanks my boy… love u ❤️

Helena menatap layar cukup lama sebelum akhirnya mengunci ponsel. Bibirnya tersenyum tipis..bukan senyum bahagia sepenuhnya, melainkan senyum seseorang yang tahu ia sedang bermain api, namun memilih menikmatinya.

Karena pada titik itu, yang ia inginkan hanya satu:

Hamka terlihat seolah benar-benar miliknya.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!