Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.
Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.
Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.
Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 — LARANGAN YANG DILANGGAR
Waktu telah mati di dalam kamar tanpa jendela itu.
Tidak ada matahari, tidak ada bulan, tidak ada detak jam. Yang ada hanyalah siklus teror yang berulang: Lala yang bertengger di atas lemari sambil bersenandung tembang Jawa, mayat Raka yang mulai membengkak di atas kasur pengantin, dan dingin yang menusuk tulang.
Dingin itu bukan dingin biasa. Itu adalah dingin kematian. Suhu ruangan turun drastis hingga napas Nara dan Dion mengepulkan uap putih tebal setiap kali mereka menghembuskan udara. Dinding-dinding beludru merah yang melapisi kamar itu kini tertutup lapisan embun beku tipis, membuatnya tampak berkilau suram seperti daging beku di dalam freezer.
Nara dan Dion terpojok di sudut ruangan, di celah sempit antara meja rias dan dinding. Mereka duduk meringkuk di lantai, lutut bertemu dada, mencoba mempertahankan sisa panas tubuh yang semakin menipis.
"Nar..." panggil Dion. Suaranya bergetar hebat, giginya beradu kencang tak-tak-tak. "Gue... gue ngantuk banget. Dingin..."
Nara menampar pipi Dion pelan. Tangannya sendiri terasa kebas, nyaris tidak bisa merasakan tekstur kulit wajah Dion.
"Jangan tidur, Yon. Kalau lo tidur, jantung lo berenti. Ini hipotermia," bisik Nara, suaranya serak. Ia memaksakan matanya tetap terbuka, meski kelopak matanya terasa berat seperti diganduli timah.
Di atas lemari, Lala menatap mereka dengan kepala miring. Matanya tidak berkedip. Ia seperti burung hantu yang mengawasi tikus-tikus yang perlahan mati kedinginan.
"Tidur aja, Mas Dion," bujuk Lala. Suaranya bergema lembut, memantul di dinding beku. "Di sini dingin. Tapi di dalem mimpi anget lho. Di sana ada api unggun. Ada selimut kulit."
"Jangan dengerin dia," desis Nara. Ia merapatkan jaket almamaternya—jaket yang ia ambil dari kasur tadi, jaket yang seharusnya menjadi "jubah penobatan"-nya. Ironisnya, jaket terkutuk itu sekarang menjadi satu-satunya benda yang menghalanginya dari beku.
"Nar... gue nggak kuat..." Dion merosot. Kepalanya jatuh ke bahu Nara. Tubuh kurus itu menggigil begitu hebat hingga mengguncang tubuh Nara juga.
Nara merasakan kulit Dion. Es. Dion sudah berada di tahap kritis. Bibirnya biru tua, kuku-kukunya ungu. Jika dibiarkan sepuluh menit lagi, Dion akan menyusul Raka.
Nara menatap sekeliling. Tidak ada kain lain. Tidak ada selimut. Selimut di kasur tertindih mayat Raka yang mulai mengeluarkan cairan tubuh berbau busuk. Nara tidak mungkin mengambilnya.
Pilihan Nara habis.
Insting bertahan hidupnya mengambil alih. Logika moralitas dan norma sosial runtuh di hadapan ancaman kematian biologis.
"Sini," kata Nara kaku.
Ia menarik Dion. Membuka resleting jaket almamaternya sendiri yang besar, lalu menarik tubuh Dion masuk ke dalamnya. Mereka berdua berhimpitan di dalam satu jaket yang sempit.
Dada bertemu dada. Paha bertemu paha.
Aturan Desa Nomor 3: Tidak tidur berdua.
Nara tahu aturan itu. Ia tahu risikonya. Tapi ia lebih takut melihat Dion mati kaku di sebelahnya daripada melanggar pantangan desa.
"Peluk gue, Yon. Bagi panas badan," perintah Nara.
Dion, dalam ketidaksadarannya, menurut secara insting. Ia melingkarkan lengannya ke pinggang Nara, membenamkan wajahnya di ceruk leher Nara yang masih hangat. Kakinya membelit kaki Nara.
Mereka menjadi satu gumpalan manusia yang saling mencari kehangatan.
Detik demi detik berlalu. Panas tubuh mereka terperangkap di dalam jaket, mulai menghangatkan darah yang nyaris beku. Dion berhenti menggigil. Napasnya mulai teratur.
Namun, di ruangan terkutuk itu, kedekatan fisik tidak pernah murni.
Atmosfer kamar itu hidup. Dinding beludru itu seolah bernapas, menyerap energi dari sentuhan kulit mereka. Aroma melati busuk di ruangan itu perlahan berubah menjadi aroma lain—aroma musk yang tajam, aroma keringat, aroma feromon yang kental.
Nara merasakan perubahan pada tubuh Dion.
Jantung Dion yang tadinya lemah, kini berdegup kencang dan keras, menabrak dada Nara. Dan ada sesuatu yang keras menekan perut bagian bawah Nara.
Nara tersentak. Ia ingin mendorong Dion menjauh, tapi tubuhnya sendiri bereaksi lain. Rasa dingin ekstrem yang tadi menyiksanya, kini berubah menjadi gelombang panas yang aneh. Panas itu menjalar dari perut, naik ke dada, lalu ke wajah.
Itu bukan panas demam. Itu birahi.
Entitas desa ini memanipulasi respons fisiologis mereka. Rasa takut (fear) dan gairah (arousal) memiliki jalur syaraf yang mirip di otak. Dan di bawah tekanan ekstrem, batas itu kabur.
"Nar..." bisik Dion. Suaranya bukan lagi suara orang yang kedinginan. Suaranya berat, serak, dan lapar.
Dion mendongak. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Nara. Di balik kacamata retaknya, mata Dion tidak lagi memancarkan ketakutan intelektual. Matanya gelap. Pupilnya membesar menelan iris.
"Anget, Nar..." racau Dion. Tangannya di pinggang Nara meremas kuat, lalu mulai merayap naik ke punggung, masuk ke balik kaos Nara.
Kulit ketemu kulit.
Sensasi listrik menyengat tulang belakang Nara.
"Dion, stop," bisik Nara lemah. Tapi ia tidak mendorong. Tangannya justru mencengkeram rambut Dion, menahannya di sana.
Ada bisikan di telinga Nara. Suara neneknya.
"Nggak apa-apa, Nduk... nikmati. Manusia itu diciptakan berpasangan. Di depan kematian, buat apa munafik? Jadilah liar."
Nara memejamkan mata. Logikanya berteriak SALAH!, tapi tubuhnya berteriak BUTUH!. Ia butuh pelepasan. Ia butuh merasakan sesuatu selain ketakutan. Ia butuh merasa hidup.
Dion mulai mencium leher Nara. Ciumannya kasar, putus asa, bercampur gigitan kecil. Seperti binatang yang menandai wilayah.
Di atas lemari, Lala tertawa.
Tawanya tidak keras. Tawa itu lirih, panjang, dan penuh kemenangan.
"Lanjut..." bisik Lala dari ketinggian. "Bagus... langgar aturannya. Tidur berdua... satu selimut... satu napas."
Lala turun dari lemari. Ia merayap di dinding seperti cicak, turun pelan-pelan tanpa suara, mendekati pasangan yang sedang bergumul dalam keputusasaan itu.
Nara merasakan tangan Dion semakin berani. Kancing kemejanya ditarik paksa hingga lepas satu.
Ting.
Bunyi kancing jatuh ke lantai memecahkan trans Nara.
Nara membuka mata.
Tepat di depan wajahnya, di balik bahu Dion, Nara melihat wajah Lala.
Lala sedang merayap di dinding, wajahnya sejajar dengan wajah Nara. Lala menjilati bibirnya sendiri, matanya menatap aksi mereka dengan voyeurism yang menjijikkan. Lala seolah sedang menonton film porno live.
"Ayo, Mbak Nara," bisik Lala. "Dion udah siap tuh. Wadahnya udah kebuka. Kalau kalian nyatu... energinya meledak. Ibu seneng banget kalau liat anak-anaknya bikin cucu."
Rasa jijik menghantam Nara seperti air es.
Sadar, Nara! Ini bukan cinta. Ini bukan nafsu alami. Ini ritual!
Nara mendorong Dion sekuat tenaga.
"LEPAS!"
Dion terhuyung ke belakang, menabrak kaki meja rias. Ia tampak bingung, napasnya memburu, air liur menetes dari sudut bibirnya. Dia seperti orang mabuk yang baru saja disiram air.
"Gue... gue..." Dion menatap tangannya sendiri, lalu menatap Nara yang berantakan. "Nar, maaf... gue nggak sadar..."
Tapi sudah terlambat.
Aturan sudah dilanggar. Niat sudah terucap lewat tubuh. Sentuhan terlarang sudah terjadi.
Suhu ruangan yang tadi beku, tiba-tiba melonjak naik menjadi panas yang menyengat dalam hitungan detik. Embun beku di dinding beludru mencair, berubah menjadi tetesan air merah.
Dinding kamar itu berdarah.
Dan listrik... energi supranatural di ruangan itu mencapai puncaknya.
ZZZT!
Lilin-lilin yang menyala hijau tiba-tiba mati total.
Gelap gulita.
Lalu, dari arah kasur, terdengar suara.
KREK.
Suara tulang bergeser.
Nara dan Dion membeku. Mereka menoleh perlahan ke arah kasur pengantin.
Dalam kegelapan, mereka bisa melihat siluet tubuh Raka.
Mayat Raka... duduk.
Nara membekap mulutnya. Dion mundur sampai menabrak cermin.
Mayat Raka duduk tegak di pinggir kasur. Kepalanya terkulai lemas ke samping karena lehernya patah, tapi badannya tegak.
Dan kemudian, mayat itu berbicara.
Bukan dengan mulut. Mulut Raka masih menganga kaku. Suara itu berasal dari perutnya yang tadi sempat melahirkan gumpalan rambut. Suara itu bergema, guttural, dan basah.
"Terima kasih..." suara dari perut mayat Raka berkata. "Energinya enak... Dosa kalian manis..."
Lala, yang masih menempel di dinding, melompat turun. Ia berjalan mendekati mayat Raka, lalu berlutut di kakinya seolah menyembah raja.
"Selamat datang, Tuan," kata Lala takzim.
Mayat Raka mengangkat tangannya yang kaku. Jarinya menunjuk ke arah dinding di belakang lemari pakaian.
"Jalan sudah dibuka," kata perut Raka. "Kalian yang melanggar... silakan masuk ke ruang hukuman."
Lemari pakaian kayu jati yang besar dan berat itu tiba-tiba bergeser sendiri.
SREEEEK...
Suara gesekan kayu dengan lantai terdengar menyilukan. Lemari itu bergeser ke samping, memperlihatkan apa yang ada di baliknya.
Ternyata dinding di balik lemari itu bukan tembok.
Itu adalah sebuah lorong.
Lorong tanah yang sempit, gelap, dan menurun curam ke bawah. Akar-akar pohon menembus atap lorong itu. Dan dari dalam lorong itu, terdengar suara gemuruh air yang jauh.
Ini bukan jalan keluar ke desa. Ini jalan menuju perut bumi.
"Itu..." Dion menyalakan korek api dengan tangan gemetar. "Itu jalan ke mana?"
"Ke tempat Bima," jawab Lala, berdiri di samping lorong. Ia menunjuk ke dalam kegelapan. "Ke sumber air. Ke tempat kalian seharusnya berada."
Nara menatap lorong itu. Ia merasakan tarikan yang kuat. Darahnya berdesir. Neneknya... neneknya ada di ujung lorong itu.
"Kita nggak punya pilihan," kata Nara, memungut konde emasnya yang jatuh. "Di sini kita mati sama mayat idup. Di sana... mungkin masih ada jalan."
"Nar, itu lubang kubur!" tolak Dion.
"Lebih baik mati nyari jalan keluar daripada mati diperkosa setan di kamar ini," tegas Nara.
Nara melangkah mendekati lorong.
Saat ia melewati mayat Raka, tangan mayat itu tiba-tiba bergerak cepat, mencengkeram pergelangan tangan Nara.
GRAB!
Nara menjerit tertahan.
Kepala mayat Raka yang patah itu mendongak sedikit. Mata putihnya menatap Nara.
"Hati-hati, Cucu..." bisik perut Raka. "Di bawah sana... nenekmu tidak sendirian. Dia punya banyak teman yang lapar."
Cengkeraman itu lepas. Mayat Raka jatuh kembali ke kasur, menjadi benda mati lagi.
Nara mengusap pergelangan tangannya. Ada bekas lebam hitam berbentuk jari tangan di sana. Tanda restu—atau tanda kutukan—untuk perjalanan ke bawah tanah.
"Ayo, Yon," Nara menatap Dion tajam. "Kita turun."
Dion menatap Lala yang menyeringai, lalu menatap mayat Raka, lalu menatap lorong gelap itu.
"Gue benci KKN," isak Dion, lalu ia mengikuti Nara masuk ke dalam lorong tanah itu.
Begitu mereka berdua masuk, lemari jati itu bergeser menutup kembali dengan cepat.
BLAM!
Mereka terperangkap dalam kegelapan total, di dalam lorong sempit yang berbau tanah basah dan akar purba. Tidak ada jalan kembali. Satu-satunya jalan adalah turun, menuju jantung kegelapan Desa Wanasari yang sesungguhnya.
Dan di atas sana, di dalam kamar, Lala tertawa puas.
"Selamat menikmati rahim Ibu," bisik Lala, lalu ia membaringkan dirinya di samping mayat Raka, memeluk tubuh dingin itu layaknya guling, menunggu giliran berikutnya.