NovelToon NovelToon
Menikahi Adik Ipar Bos

Menikahi Adik Ipar Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dini ratna

Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu

~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.

Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.

BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kakak Senior

Alex berlari dengan cepat tanpa menoleh ke belakang. Lelaki itu tetap memangku Lio sampai tidak sadar jika wanita yang berlari dibelakangnya sudah tidak ada.

"Om, Om, Ati Ecca."

"Aunty Essa ada di belakang Lio."

"Ati ... Ati ... Ecca." Lio terus menunjuk ke belakang. Tubuh Lio yang dipangku tegak dan posisi tubuh menghadap orang-orang dibelakangnya, membuat Lio melihat dengan jelas ketika Essa terjatuh karena dorongan para wartawan. Dan setelah itu Lio tidak lagi melihat aunty kesayangannya.

Sampai di depan gerbang sebuah mobil Mercedes hitam berhenti tepat di depannya. Alex mengenal siapa pemilik benda mewah itu, Darren turun dari mobil berlari ke arahnya dan mengambil alih Lio. Matanya masih celingukkan mencari sosok wartawan yang mengikuti asistennya.

"Lio, sayang kamu sama Papa sini." Darren mengambil alih Lio ke dalam gendongannya.

"Papa Lio takut Papa," rengek bocah itu. Puluhan wartawan membuatnya takut, ditambah mereka mengejar-ngejar histeris.

"Alex, masuklah ke mobilku."

Perintah Darren, Alex mengangguk lalu mengikuti Darren ke dalam mobilnya, sementara Darren ia memberikan Lio lebih dulu kepada Sera, setelah itu memasuki kursi bagian kemudi dengan pintu lain.

"Mas, dimana Essa?"

Pertanyaan Sera, membuat Alex dan juga Darren terkejut. Kenapa mereka baru sadar, Sera begitu cemas karena adiknya tidak ada tapi jika harus keluar dan turun dari mobil itu tidak mungkin karena para wartawan sudah mengelilingi mobil Darren. Hanya saja mereka tidak bisa melihat karena kaca mobil yang sangat gelap.

"Alex, di mana adikku?" cecar Sera kepada Alex. "Kenapa kamu bisa ninggalin Sera, sih."

"Sayang tenang dulu." Darren mulai meredamkan emosi istrinya. Ia menoleh kepada Alex, dan bertanya tentang adik iparnya.

"Alex apa kamu tidak akan membawa Essa? Kamu tidak mengajak Essa pulang?"

"Tuan, kakak ipar ... tadi Essa di belakangku. Ketika wartawan mengejar kami, kami langsung berlari tapi aku tidak tahu kemana Essa pergi."

"Lio kamu melihat Aunty Essa?" tanya Alex, karena Lio sedari tadi memanggil aunty nya.

Lio mengangguk. Sambil menunjuk ke arah wartawan bocah itu berkata, "Aunty dicana jatoh tadi, Lio panggil Om tapi Om ndak belentii."

"Biar aku saja yang cari Essa." Sera, hendak keluar tapi ditahan oleh Darren. Wanita itu selalu saja bertindak gegabah, Sera tidak pernah memikirkan resikonya saat hamil besar.

Seharusnya ibu hamil itu berdiam diri di rumah, bersantai dan berbaring. Tidak seharusnya dia memikirkan masalah ini.

"Sayang, ngapain kamu turun. Ada Alex, biar Alex yang turun. Tapi tidak di sini juga, banyak wartawan di luar."

"Tapi Mas, Essa gimana?"

"Essa pasti jaga diri."

"Aku turun di sini saja kakak ipar."

"Jangan Alex, mereka masih mencarimu. Mereka mengenali wajahmu, walaupun keluar kamu jangan seperti itu."

Darren tetap memikirkan cara bagaimana caranya keluar dengan aman. Darren, memajukan mobilnya ke depan sampai ia menemukan tempat aman, dan sepi. Akhirnya Darren memarkirkan mobilnya di depan toilet umum.

Detik itu juga Alex turun, melangkah mengendap ke dalam toilet. Tidak berselang lama Alex, keluar dengan kemeja panjang, masker hitam dan topi juga kacamata hitam yang menutupi matanya. Dengan mata yang terus memindai sekeliling Alex meninggalkan toilet.

Beruntung Darren selalu membawa baju ganti di dalam mobilnya sehingga ia meminjam kemeja itu untuk Alex, juga topi dan maskernya. Setidaknya wartawan itu tidak akan mengenali Alex.

Di tempat lain, Essa duduk melamun di tengah keramaian. Pandangannya kosong walau disekitarnya ada beberapa wahana menarik yang bisa buat dia tersenyum. Entah, apa yang Essa pikirkan sepertinya Essa masih memikirkan kata-kata Micha.

Dan sekarang dia sedang membayangkan kembali kedua sejoli yang sempat bertukar saliva di depannya. Bayangan Heyra yang mencium Alex masih terbayang.

"Di tempat seperti ini sulit sekali mencari kotak P3K, huh. Lelah sekali."

Oceh seorang pemuda, dia berjongkok di hadapan Essa, menyimpan kotak P3K di sampingnya kaki kirinya. Essa, masih berada dalam bayangannya sehingga tidak menyadari kehadiran Vano.

Ya, pemuda itu adalah Vano. Ketika Essa hampir ditabrak beberapa wartawan, Vano tiba-tiba saja datang yang entah muncul dari mana. Tapi tangannya sigap menarik Essa, walau pada akhirnya harus terjatuh.

Satu lututnya Vano biarkan menyentuh tanah, dan satu lututnya lagi ditekuk, kepalanya mendongak menatap gadis imut di depannya. Sedetik, senyumnya mengembang ketika menyadari tatapan Essa yang begitu kosong.

Vano, membiarkannya melamun untuk beberapa menit. Tangannya sibuk membuka kotak kecil di sampingnya, mengambil sebotol alkohol yang langsung ia siramkan sedikit ke atas luka pada lutut Essa, membuat gadis imut itu sedikit meringis.

"Akh, kau ... apa yang kau lakukan?" tanyanya yang menunduk menatap Vano.

"Menurutmu apa yang aku lakukan?" Vano balik bertanya sambil menatap wajah imut itu. "Aku sedang mengobati lukamu apalagi," sambungnya yang kembali mengoleskan obat merah lalu ditutup dengan plester.

Siapapun hatinya pasti meleleh oleh perhatian Vano, tapi tidak dengan Essa, gadis itu malah curiga yang menganggap Vano punya maksud buruk padanya.

"Jangan so baik padaku. Bilang saja kau mau apa? Aku tidak akan percaya dengan semua kebaikanmu setelah apa yang sudah aku lakukan. Dan aku tahu kak Vano, kamu seperti apa di sekolah. Kamu selalu menginjak harga diri semua siswa, dan kamu terkenal kejam pada orang yang membuatmu kesal."

Essa, berkata sambil menatapnya tajam. Kedua tangan bersedekap di bawah dada.

"Kau tidak mungkin jadi baik setelah tadi kau mencecarku."

Bagaimana Essa bisa percaya, tadi di sekolah dia membuat hidung kakak kelasnya berdarah karena ulahnya. Dan Vano sangat marah tapi sekarang dia tiba-tiba muncul lalu menjadi baik, sungguh sangat aneh bukan.

Vano menyunggingkan senyum. Matanya kembali menatap Essa, netranya menyimpan sesuatu yang tidak Essa tahu.

"Apa kau kuat berjalan? Jika tidak, naiklah ke punggungku aku akan melupakan semuanya dan mengantarkanmu pulang."

Vano, membalikkan badannya, berjongkok memunggungi Essa. Satu kakinya bertekuk lutut, Vano menepuk punggung dengan satu tangannya.

"Naiklah."

"Ck, kamu pikir aku mau. Aku tidak akan pernah ingin berhubungan denganmu, dan aku tidak selemah yang kau kira."

Essa, bangkit dari duduknya berniat untuk melangkah pergi. Tetapi baru saja satu kali bergerak rasa ngilu dan nyeri terasa di lututnya. Perih, satu kata untuk itu , tapi Essa tetap gigih yang berjalan meninggalkan Vano walau harus tertatih-tatih.

"Hey, gadis keras kepala? Kau menolak bantuan dari seorang pria yang sangat diinginkan semua wanita. Kau mengabaikan ku disaat mereka mengejarku?"

Vano mengembuskan nafas kasar, tangannya berkacak pinggang, dengan raut wajah kesal ia menatap kepergian Essa.

Entah, kenapa kali ini hatinya mulai terasa manusiawi, Vano tidak bisa membiarkan Essa pergi sendiri, nalurinya mendorongnya untuk membantu Essa. Pada akhirnya Vano berlari menghampiri gadis itu.

Essa terkejut, matanya terbelalak ketika satu tangannya dirangkul oleh Vano.

"Hey, aku tidak memintamu membantuku. Dan aku tidak butuh bantuan."

"Diamlah, jika kau tidak ingin aku kejam kepadamu."

"Apa! Hey, kakak senior yang sombong, belagu, aku tidak butuh bantuanmu jadi lepaskan tanganmu."

"Jika aku tidak mau?" tanya Vano melirik Essa. Essa terus cemberut yang menatap kesal, tanpa dia tahu seorang pria bermasker hitam berdiam diri di belakangnya sambil memperhatikan.

1
Khoirun Nisa
lanjutkan kakak ceritanya,
Inez Putri
sudah 3hari gak up, kok cm 1 up nya thour..
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.
Inez Putri
semangat thour
panjul man09
uh , cerita yg sama
panjul man09
jangan tumbuhkan rasa suka alex pada essa, tunggulah sampai essa tamat smu ,beri kesempatan essa kuliah dulu.
panjul man09
jangan terlalu banyak konflik seperti cerita di novel lain , alex harus lebih sabar menghadapi essa ,selalu mengalah , walaupun tidak saling cinta ,alex harus memperlihatkan keromatisannya pada essa
Dini_Ra
Jangan lupa komentar like dan Vote 💪🙏
Dini_Ra
Jangan lupa like dan Vote komentarnya🙏
Dini_Ra
Ayo dong like dan komentarnya 🙏
Dini_Ra
Tinggalkan jejak sedikitlah 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!