Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”
Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.
Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Ketika dua kesepian bertemu
Pagi itu Raina sengaja tetap tinggal karena ingin mendengar penjelasan dokter tentang kondisi Julian.
Setelah dokter keluar, kamar itu kembali hening. Raina berdiri di samping ranjang, tapi sedikit menjauh—memberi ruang, meski matanya tidak bisa berhenti melirik Julian diam-diam.
Julian bersandar pelan ke sandaran tempat tidur. Gerakannya masih kaku. Wajahnya tenang… tapi ada sesuatu di tatapannya yang tidak setenang itu.
Raina menelan ludah.
Dua—tiga hari lagi boleh pulang… tapi ke mana? Dia bahkan belum ingat apa pun. Dia masih lemah. Tinggal sendirian? Itu… bahaya, kan?
Ia mencuri pandang lagi. Julian menunduk, memperhatikan jemarinya yang tidak memegang apa pun—seolah sedang memikirkan sesuatu yang ia sendiri tidak bisa jelaskan.
Anehnya, pemandangan itu membuat dada Raina ikut sesak.
Keheningan menegang beberapa detik. Lalu—tanpa sengaja—keduanya bersuara bersamaan.
“Raina—”
“Julian—”
Mereka berhenti.
Raina langsung melirik ke arah jendela, panik kecil. Julian hanya mengangkat alis tipis, seperti menahan senyum kecil yang tidak sempat muncul.
Raina berdeham cepat. “K… kamu perlu sesuatu?”
Julian pelan menggeleng. “Kamu tadi… seperti ingin mengatakan sesuatu.”
“Oh…”
Raina menggugupkan jemarinya sendiri.
“Itu cuma… aku kepikiran sesuatu.”
Julian menunggu. Diam. Tidak memaksa bicara—tapi tatapannya membuat Raina merasa sangat diperhatikan.
“Em… aku cuma mau tanya…”
Raina menggenggam ujung cardigannya lebih erat.
“Kalau kamu… sudah boleh pulang nanti… kamu mau ke mana?”
Julian tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan, seolah bertanya pada dinding.
“Aku tidak tahu,” ujarnya pendek.
Raina menelan ludah. Ia sudah menduga jawabannya itu, tapi tetap saja hati kecilnya mencubit.
“Kalo… kalau kamu belum ada tujuan…”
Ia menghela napas kecil—sangat kecil, tapi terdengar oleh Julian.
“Aku mungkin bisa sedikit membantumu,Cari tempat… atau apa pun yang kamu butuhkan dulu.”
Julian menoleh pelan. Pandangannya tidak tajam, tidak lembut—lebih seperti… mencoba mengerti mengapa seseorang bisa berbuat sejauh itu untuknya.
“Kamu tidak harus,” katanya pelan. “Aku… tidak mau menyusahkanmu terus.”
“Tidak,” Raina cepat menepis. “Maksudku… kamu tidak menyusahkan. Aku cuma… tidak tenang kalau kamu keluar dari sini sendirian.”
Julian menatapnya beberapa detik—diam, tapi berisi.
“Raina.”
“Ya?”
Suaranya nyaris setengah bisikan.
“Kamu… yakin?”
Nada itu rendah, nyaris ragu—sesuatu yang jarang terdengar dari Julian.
Raina mengangguk kecil, tanpa menatap langsung. “Yakin.”
Pipinya memanas. “Aku cuma ingin… memastikan kamu benar-benar baik.”
Diam.
Beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya.
Julian menunduk tipis, ekspresi yang sulit diterjemahkan. “Kalau begitu…” ia menarik napas perlahan, “aku menghargainya.”
Raina mengangguk cepat, terlalu cepat. “hemm...”
Dan keduanya kembali terdiam—tapi tidak canggung.
Lebih seperti dua orang yang sama-sama takut mengambil satu langkah lebih dekat… tapi juga enggan menjauh.
Dering telepon memotong keheningan nyaman di antara mereka.
Raina refleks mengangkat, dan duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang Julian.
Raina: “Halo, Ren? Ada apa?”
Suara Reno terdengar agak ketus seperti biasa, tapi ada nada cemas yang hanya bisa ditangkap oleh seorang kakak.
Reno: “Kak, kamu sibuk banget ya? Kenapa nggak pulang-pulang? Rian nyariin kamu terus.”
Raina tersenyum kecil, tapi tatapannya meredup.
Raina: “iya kakak emang lagi sibuk Ren. Maaf… Kakak belum sempat pulang.”
Reno: “ok aku faham kakak sibuk. Tapi dua bulan lebih, Kak. Kamu pikir rumah cuma tempat transit? nggak usah pedulikan Ayah…. Tapi Rian hampir nanyain tiap malam.”
Raina menelan ludah, rasa bersalah menyengat.
Raina: “Nanti kakak video call Rian, ya? Kamu sendiri gimana? Katanya mau ujian?”
Reno: “ ya gitu deh. Aku belajar sendiri. Ayah nggak nanya apa-apa.”
Nada suaranya turun, hampir seperti anak kecil yang lelah.
Reno: “Kak, kamu pulang kalau sempat, ya? Rumah rasanya… makin aneh.”
Raina memejamkan mata sejenak.
Raina: “Iya, Ren. Kalau semuanya beres, kakak pulang. Janji.”
Reno: “…Oke. Eh, Rian ada di sini, mau ngomong.”
Ada suara langkah kecil terburu-buru, lalu suara bocah 6 tahun muncul — ceria, bening.
Rian: “Kak Raina! Kak Raina! Kapan pulang? Rian mimpi kakak pulang bawa roti besar!”
Raina tertawa kecil meski matanya berkaca.
Raina: “Gantengnya kakak kangen ya. Nanti kakak pulang, ok?”
Rian: “Iya, kangen....banget. Janji ya akan cepat pulang!!”
"Iya janji!"
Terdengar suara tawa, lalu ponsel berpindah lagi ke Reno.
Reno: “Udah. Kak… jaga diri. Jangan terlalu baik sama semua orang.”
Nada Reno rendah, seolah menahan kalimat lanjutan.
Reno: “Aku takut kamu disakitin.”
Raina terdiam.
Raina: “…Kakak baik-baik saja, Ren. Makasih.”
Panggilan berakhir.
---
Setelah telepon tertutup
Raina menarik napas panjang, menyimpan ponselnya.
Julian memperhatikan — tidak menekan, hanya menunggu. Ada kekhawatiran halus di matanya.
Julian: “Keluargamu?”
Raina: “Iya… adik-adikku.”
Julian merasakan sesuatu hangat dan asing di dadanya. Keinginan untuk memahami lebih dalam sosok yang telah merawatnya tanpa pamrih.
“…Kamu terlihat sangat menyayangi mereka.”Ucap Julian
Raina tersenyum tipis, tapi matanya tidak sepenuhnya cerah.
“Kedengarannya menyenangkan.”
Raina mengernyit, bingung. “Menyenangkan?”
Julian menatap langit-langit sebentar lalu kembali ke wajah Raina.
Senyumnya tipis, tapi ada kehampaan kecil yang lewat begitu cepat.
“Punya tempat untuk pulang. Punya orang-orang yang menunggu…”
Ia berhenti, seolah mencari kelanjutan kalimat yang tak bisa ia temukan.
"…Aku tidak pernah merasakan itu, kan? Entahlah. Kenapa rasanya begitu asing?
Kenapa kata “pulang” justru terasa jauh?"Batin Julian.
Julian mengerjap pelan, menahan sesuatu agar tidak terlihat.
Julian: “Aku… tidak tahu apakah aku punya itu.”
Raina terdiam, hatinya mencelos. Ia sadar, Julian tidak sekadar bingung—dia sedang bergulat dengan ruang kosong di dalam kepalanya.
Raina: “Kamu anak tunggal, kan?”
Julian mengangguk pelan, tapi rautnya samar, seperti orang yang tidak yakin apakah itu benar atau hanya terdengar familiar.
Julian: “…Sepertinya begitu.”
Ia menunduk, jemarinya menggenggam selimut.
"Kamu beruntung Raina, di balik kesederhanaanmu dan ketangguhanmu ada seseorang yang bisa di sebut keluarga yang menunggu dan mengkhawatirkanmu" Batin Julian sendu.
Raina memperhatikan perubahan itu pada wajahnya—lembut, tapi menyimpan tekanan yang tidak diketahui.
Raina: “Kamu nggak apa-apa?”
Julian mengangkat wajahnya lagi, lalu menggeleng.
“Kadang… aku merasa seperti sudah menjalani hidup yang melelahkan. Tapi aku bahkan nggak tahu hidup seperti apa itu.”Jawab Julian sendu seolah dia memang sedang lupa segalanya.
Kalimatnya sederhana, tapi menyakitkan.
Bukan keluhan, bukan cerita, hanya pengakuan dari ruang kosong yang dingin.