Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api yang Menggoda
Malam turun perlahan di arena latihan belakang sekte.
Obor-obor kecil menyala redup, menyisakan cahaya jingga yang bergetar pelan di udara dingin.
Lin Feiyan berdiri sendirian.
Telapak kakinya menapak tanah yang masih hangat oleh bekas latihan siang hari.
Napasnya berat.
Setiap tarikan terasa seperti menarik bara masuk ke paru-parunya.
Api kecil berputar di hadapannya, menyala lalu meredup.
Qi di tubuhnya tidak lagi mengalir mulus, tapi ia tetap memaksa.
Satu gerakan.
Lalu satu lagi.
Tangannya bergetar tipis saat membentuk segel api.
Keringat dingin mengalir di pelipisnya, bercampur dengan panas yang menekan dari dalam dada.
Feiyan menggertakkan gigi.
Sedikit lagi, katanya pada diri sendiri.
Api tiba-tiba melonjak, terlalu tinggi.
Ia tersentak, buru-buru menurunkan aliran Qi, jantungnya berdegup liar.
Di dalam dadanya, ada sensasi samar—panas yang tidak wajar.
Void Crack berdenyut pelan, nyaris tak terasa, tapi cukup untuk membuatnya tidak nyaman.
Ia mengabaikannya.
Ia selalu mengabaikannya.
Feiyan kembali memaksa Qi naik.
Api kembali terbentuk, lebih liar, berwarna lebih pekat dari biasanya.
“Masih berlatih?”
Suara itu datang dari belakang, ringan dan cerah.
Feiyan tersentak, hampir kehilangan kendali atas api.
Ia buru-buru memadamkannya.
Api runtuh menjadi bara kecil di tanah.
Yan Mei melangkah mendekat, langkahnya santai seolah malam ini hanya sekadar berjalan-jalan.
Rambutnya tergerai, memantulkan cahaya obor dengan kilau hangat.
“Kau rajin sekali,” katanya sambil tersenyum.
Nada suaranya manis, nyaris memanjakan.
Feiyan menoleh, sedikit terengah.
“Senior… aku hanya… ingin menyelesaikan satu putaran lagi.”
Yan Mei mendekat tanpa ragu.
Jarak mereka menyempit, auranya langsung terasa.
Hangat.
Menekan.
Ia melirik tubuh Feiyan dari ujung rambut hingga kaki, lalu tertawa kecil.
“Wajahmu pucat. Kau lelah.”
Feiyan menunduk.
“Iya. Tapi tidak apa-apa.”
Yan Mei mengangkat alis, lalu menyentuh bahunya dengan ujung jari.
Sentuhan ringan, tapi membuat Feiyan menegang.
“Kalau tidak apa-apa,” katanya lembut,
“kenapa Qi-mu berantakan seperti itu?”
Feiyan membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Yan Mei tersenyum lebih lebar.
Bukan senyum mengejek—lebih seperti senyum seseorang yang sudah tahu jawabannya.
“Sedikit lagi saja,” katanya.
“Sayang sekali berhenti sekarang.”
Kata-kata itu sederhana.
Namun entah kenapa, Feiyan mengangguk.
Ia berbalik kembali ke arena kecil itu.
Tangannya terangkat, membentuk segel api sekali lagi.
Yan Mei tidak menjauh.
Ia berdiri di samping Feiyan, terlalu dekat.
“Tarik napas,” katanya pelan.
“Jangan ragu.”
Feiyan menarik napas dalam-dalam.
Udara malam terasa panas saat masuk ke dadanya.
Qi bergerak.
Terlalu cepat.
Api menyala lebih besar dari sebelumnya, memutar liar di udara.
Feiyan mengernyit, mencoba menahannya.
“Bagus,” ujar Yan Mei, suaranya lembut.
“Kau hampir sampai.”
Kata hampir itu menancap di kepala Feiyan.
Ia tidak ingin mengecewakan.
Ia mendorong Qi lebih jauh.
Api langsung bereaksi, meledak kecil sebelum kembali menyatu.
Dadanya berdenyut.
Panas. Lalu dingin.
Feiyan mengerang pelan, kakinya sedikit goyah.
Namun Yan Mei tertawa kecil, seolah itu hanya hal sepele.
“Jangan berhenti,” katanya.
“Aku di sini.”
Auranya mengalir lebih dekat, menyelimuti Feiyan.
Hangatnya menenangkan sekaligus menekan.
Api kembali membesar.
Terlalu besar.
Feiyan mulai kehilangan ritme napas.
Pandangan matanya sedikit kabur.
“Senior… aku…”
Suaranya serak.
Yan Mei meraih pergelangan tangannya.
Genggamannya tidak keras, tapi tegas.
“Sedikit lagi,” bisiknya.
“Percayalah padaku.”
Feiyan menelan ludah.
Ia mengangguk lagi.
Qi-nya semakin kacau.
Api bergetar hebat, nyaris tak bisa dikendalikan.
Di dalam dadanya, Void Crack bereaksi.
Denyutnya terasa lebih jelas, panas menyebar perlahan dari pusat jantungnya.
Feiyan terhuyung.
Api mendadak berfluktuasi, menyala lalu meredup tak menentu.
Yan Mei mendekat lebih jauh.
Tubuhnya hampir menyentuh punggung Feiyan.
“Fokus,” katanya lembut.
“Rasakan apinya.”
Feiyan mencoba.
Namun yang ia rasakan bukan hanya api.
Ada tekanan.
Ada kehadiran.
Tangan Yan Mei tetap menggenggam pergelangannya, membimbing arah Qi.
Sentuhan itu membuat tubuh Feiyan semakin tegang.
Api tiba-tiba melonjak tinggi, lalu runtuh.
Bara berhamburan ke tanah.
Feiyan terengah, lututnya hampir menyerah.
Pandangan matanya berputar.
Yan Mei cepat menahannya.
Satu tangan menopang bahunya, yang lain tetap menggenggam tangannya.
“Lihat?” katanya sambil tersenyum.
“Kau sudah sejauh ini.”
Feiyan tidak menjawab.
Napasnya tersengal, dadanya terasa panas dan kosong bersamaan.
Ia berdiri terpaku dalam pegangan Yan Mei.
Lelah. Bingung. Tidak mampu menolak.
Obor-obor berkerlip pelan di sekeliling mereka.
Api latihan telah padam.
Namun di dalam dada Feiyan, sesuatu justru mulai menyala lebih dalam.
Tubuh Feiyan terasa ringan, hampir kosong.
Kakinya tidak lagi menapak dengan pasti.
Api sudah mati.
Namun panasnya masih tertinggal di kulit dan tulang.
Yan Mei tidak segera melepaskannya.
Lengannya menopang Feiyan dengan santai, seolah itu haknya.
“Kau terlalu memaksakan diri,” katanya lembut.
Nada suaranya seperti teguran, tapi matanya berbinar.
Feiyan mencoba berdiri tegak.
Kepalanya masih berdenyut.
“Aku… baik-baik saja,” gumamnya.
Kata-kata itu terdengar rapuh, bahkan di telinganya sendiri.
Yan Mei tersenyum kecil.
“Selalu bilang begitu.”
Ia menggeser posisinya, berdiri tepat di depan Feiyan.
Jarak mereka sangat dekat.
Terlalu dekat.
Aura Yan Mei mengalir pelan, menyelimuti tubuh Feiyan.
Hangat, lembut, menenangkan.
Feiyan menghela napas tanpa sadar.
Ketegangan di bahunya sedikit mengendur.
“Rasakan,” ujar Yan Mei pelan.
“Apinya masih ada.”
Feiyan mengernyit.
Ia memejamkan mata.
Di dalam dadanya, sensasi itu kembali muncul.
Panas yang menusuk, lalu dingin yang menggerogoti.
Void Crack berdenyut.
Lebih kuat dari sebelumnya.
Feiyan tersentak, membuka mata.
“Senior… dadaku—”
Yan Mei mengangkat tangannya, menempelkan telapak ke dada Feiyan.
Tepat di atas jantung.
Sentuhan itu membuat tubuh Feiyan membeku.
Napasnya tertahan.
“Tenang,” bisik Yan Mei.
“Sensasi itu wajar.”
Auranya meresap lebih dalam.
Bukan menekan, tapi membungkus.
Feiyan mencoba menyingkir, tapi tubuhnya tidak patuh.
Otot-ototnya terasa lelah dan berat.
Void Crack bergetar lagi.
Panasnya menyebar perlahan, seperti retakan yang merambat di dalam.
Feiyan menggigit bibir.
Ia tidak mengerti apa yang terjadi.
Yan Mei mencondongkan tubuhnya sedikit.
Wajah mereka kini hanya berjarak napas.
“Kau tahu,” katanya pelan,
“banyak orang akan menyerah di titik ini.”
Feiyan menunduk.
Rasa bersalah muncul tanpa alasan jelas.
“Aku… tidak ingin berhenti,” ujarnya lirih.
“Kalau aku berhenti, rasanya seperti gagal.”
Yan Mei tersenyum puas.
Itu senyum kecil, nyaris tak terlihat.
“Bagus,” katanya.
“Itu berarti kau serius.”
Tangannya bergerak, menyelip di balik punggung Feiyan.
Menariknya lebih dekat.
Feiyan gemetar.
Ia tidak tahu apakah itu karena kelelahan atau sesuatu yang lain.
Api kecil tiba-tiba menyala di antara telapak tangan Yan Mei dan dada Feiyan.
Bukan api latihan.
Api itu berdenyut lembut, mengikuti detak jantung Feiyan.
Panasnya aneh—tidak membakar, tapi menghisap.
Void Crack bereaksi keras.
Retakannya terasa melebar.
Feiyan mengerang pelan.
“A-apa itu…”
“Jangan takut,” kata Yan Mei cepat.
“Aku hanya membantumu menstabilkan.”
Ia berbohong.
Namun Feiyan tidak mampu membedakannya.
Api itu meredup, lalu menghilang.
Tapi sensasinya tertinggal.
Feiyan terhuyung.
Kakinya akhirnya menyerah.
Yan Mei menangkapnya dengan mudah.
Tubuh Feiyan jatuh ke dalam pelukannya.
Sesaat, dunia terasa hening.
Hanya napas mereka yang terdengar.
Feiyan menutup mata.
Ia terlalu lelah untuk melawan.
Yan Mei memeluknya lebih erat.
Dagunya hampir menyentuh bahu Feiyan.
“Kau sudah bekerja keras,” bisiknya.
“Aku bangga padamu.”
Kata-kata itu sederhana.
Namun menancap dalam.
Void Crack berdenyut lagi.
Lebih dalam. Lebih luas.
Feiyan merasakan kekosongan aneh di dadanya.
Seperti sesuatu yang runtuh, meninggalkan ruang kosong yang dingin.
Ia membuka mata.
Pandangan matanya kosong.
“Senior Yan Mei…”
Suaranya hampir tak terdengar.
Yan Mei tersenyum di dekat telinganya.
Senyum yang tidak terlihat oleh Feiyan.
Ia mencondongkan wajahnya.
Napas hangatnya menyentuh kulit Feiyan.
“Aku ingin kau hanya untukku…”
Nada suaranya rendah, intim.
Feiyan membeku.
Jantungnya berdegup keras.
“Selamanya.”
Kata itu menggema di benaknya.
Void Crack berdenyut kuat sebagai jawaban.
Retakan tak kasatmata itu terasa menjalar.
Bukan di tubuh—di dalam dirinya.
Yan Mei perlahan melepaskannya.
Feiyan terduduk di tanah latihan, lemah.
Api sudah padam sepenuhnya.
Arena kembali sunyi.
Feiyan memeluk dadanya.
Panas dan dingin bercampur di dalam.
Ia menatap tanah tanpa fokus.
Tidak menyadari perubahan yang baru saja terjadi.
Yan Mei berdiri di depannya.
Menyembunyikan senyum puas di balik ekspresi lembut.
“Beristirahatlah,” katanya ringan.
“Kita lanjut lain kali.”
Ia berbalik pergi.
Langkahnya tenang, yakin.
Di belakangnya, Lin Feiyan tetap terduduk.
Napasnya masih terengah.
Void Crack terus berdenyut pelan.
Merambat, tak terbendung.
Malam semakin dalam.