Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.
Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Gejala Aneh dan Tekanan Energi
Setelah pos pengamatan selesai didirikan, suasana menjadi lebih teratur namun tetap diliputi kewaspadaan tinggi. Tenda-tenda didirikan mengelilingi pusat lapangan, dengan tempat penyimpanan peralatan dan titik berkumpul di bagian tengah. Di sepanjang pinggiran dataran, dipasang tali penanda dan jimat peringatan yang akan mengeluarkan sinyal jika ada makhluk asing atau perubahan energi yang tidak wajar mendekat. Kapten Valerius membagi jadwal penjagaan dalam empat giliran, sehingga tidak ada saat pun di mana pos ini dibiarkan kosong tanpa pengawasan.
Hari pertama berjalan relatif tenang. Anggota tim bekerja sesuai tugas masing-masing: ada yang mencatat suhu dan kelembapan udara setiap jam, ada yang mengamati pergerakan awan dan kabut, serta ada yang melacak jejak makhluk yang lewat di pinggiran kawasan. Rey dan Sylfia bertugas memantau kondisi energi sekitar menggunakan alat khusus yang disediakan persekutuan, serta mengandalkan kepekaan alami mereka sendiri untuk menangkap hal-hal yang tidak terdeteksi oleh peralatan biasa.
Sore itu, saat matahari mulai condong ke barat dan cahayanya berubah menjadi lebih redup karena terhalang kabut tipis, Rey mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Tekanan yang tadinya hanya samar-samar kini terasa lebih jelas, seolah ada beban ringan yang menekan seluruh tubuhnya. Ia menoleh ke arah Sylfia yang sedang duduk bersila dengan mata terpejam, dan melihat alis gadis itu sedikit berkerut menandakan ia juga merasakan hal yang sama.
“Kau merasakannya juga, bukan?” tanya Rey pelan begitu Sylfia membuka matanya.
Sylfia mengangguk perlahan, suaranya rendah namun tegas. “Ya. Sejak satu jam terakhir, energi di sekitar mulai bergerak lebih cepat dan tidak teratur. Rasanya seperti air yang diputar kencang dalam wadah sempit—semakin lama, tekanannya akan semakin besar dan bisa meluap ke luar.”
Mereka segera melaporkan hal ini kepada Kapten Valerius. Mendengar penjelasan mereka, pemimpin tim itu mengerutkan dahi dan segera memeriksa peralatan pengukur energi yang dipasang di tengah pos. Jarum indikator yang tadinya stabil di angka aman kini bergerak naik turun secara tidak menentu, sesekali melonjak ke batas waspada sebelum turun kembali.
“Memang benar. Selama dua puluh tahun aku menjelajahi berbagai tempat berbahaya, belum pernah melihat pola energi seperti ini,” ujar Valerius dengan nada serius. “Biasanya energi alam bergerak mengikuti siklus siang dan malam, naik saat matahari terbit dan turun saat malam tiba. Tapi di sini, ia justru bergerak melawan pola itu sendiri. Ini benar-benar tidak wajar.”
Malam itu, suasana menjadi jauh lebih dingin dari yang seharusnya. Suhu udara turun drastis meskipun bulan berada di fase terang dan tidak ada angin kencang yang bertiup. Api unggun yang dinyalakan di tengah pos hanya memberikan panas dalam radius sangat terbatas, seolah ada kekuatan tak terlihat yang menyerap kehangatan dan cahayanya. Cahaya lilin dan lentera juga terlihat redup, nyalanya bergerak-gerak seolah terhembus angin meskipun udara terasa tenang.
Selama giliran jaga Rey dan Sylfia, mereka berdiri di ujung pos dengan pandangan tajam menatap ke arah hutan. Kabut yang tadinya hanya berada di kejauhan kini perlahan bergerak mendekat, melayang rendah di atas tanah seperti sungai putih yang mengalir tanpa suara. Bersama dengan kabut itu, datanglah rasa berat di dada dan suara dengungan samar yang hanya bisa didengar oleh telinga yang sangat peka—suara frekuensi rendah yang bergetar mengganggu keseimbangan batin.
“Dengarkan itu… suara apa itu?” bisik Sylfia sambil menutup telinganya sebentar untuk mengurangi gangguan.
“Suara aliran energi yang terdistorsi,” jawab Rey sambil memejamkan matanya sejenak untuk memusatkan kesadaran. “Seperti ada ribuan suara yang dipaksa menyatu menjadi satu nada yang tidak selaras. Ini adalah tanda bahwa inti energi di dalam sana semakin tidak stabil. Jika terus berlanjut, bukan hanya makhluk yang terpengaruh, tapi tanah dan air di sekitarnya pun bisa rusak permanen.”
Tak lama kemudian, dari balik kabut yang semakin dekat, muncul gerakan samar. Sesosok makhluk besar melangkah keluar dengan gerakan lambat namun pasti. Saat mendekat ke batas jangkauan cahaya, terlihat jelas bahwa itu adalah seekor serigala raksasa dengan bulu yang kusam, kulitnya terlihat mengerut seolah kekurangan zat hidup, dan matanya bersinar dengan cahaya ungu gelap yang menakutkan.
Makhluk itu berhenti tepat di ujung kabut, mengangkat kepalanya lalu melolong. Suara lolongannya bukan suara hewan biasa, melainkan campuran antara jeritan dan desisan yang membuat bulu kuduk merinding. Mendengar suara itu, beberapa makhluk lain terlihat bergerak di balik kabut, mulai mendekat secara perlahan.
“Siaga! Ada makhluk yang mendekat!” teriak Rey dengan suara keras namun terkontrol, segera membangunkan anggota tim lain yang sedang beristirahat.
Dalam sekejap, seluruh anggota tim sudah berdiri dengan senjata terhunus dan sihir siap digunakan. Kapten Valerius melangkah ke depan, pedangnya tercabut dan memancarkan cahaya perak samar yang menolak kabut mendekat.
“Jangan menyerang dulu! Lihat gerakan mereka—mereka tidak datang untuk menyerang secara sengaja, mereka hanya dipaksa bergerak mendekat oleh dorongan energi itu!” seru Valerius sambil mengamati gerakan makhluk-makhluk itu.
Rey mengamati dengan cermat. Ia melihat bahwa tubuh makhluk-makhluk itu terguncang hebat, seolah berjuang melawan sesuatu yang mengendalikan mereka dari dalam. Matanya yang bersinar ungu itu bukan tanda keinginan untuk membunuh, melainkan tanda energi asing yang menguasai sistem saraf mereka.
“Biarkan aku mencoba menenangkan mereka sebentar,” kata Rey dengan suara tenang namun meyakinkan. Sebelum ada yang sempat melarang, ia melangkah maju selangkah, menjauh sedikit dari barisan tim.
Ia mengerahkan kekuatan elemen air dan tanah dalam jumlah yang sangat terkendali, memancarkannya secara halus dan lembut, tidak seperti serangan melainkan seperti aliran sungai yang menyejukkan dan akar pohon yang menstabilkan. Cahaya biru dan cokelat samar keluar dari telapak tangannya, menyebar perlahan ke udara dan mencapai tubuh makhluk-makhluk itu.
Begitu energi penenang itu menyentuh mereka, tubuh makhluk-makhluk itu berhenti bergetar. Cahaya ungu di mata mereka perlahan memudar, digantikan pandangan bingung dan takut. Mereka melolong lagi, kali ini dengan nada sedih dan lemah, lalu berbalik arah dan berjalan mundur perlahan kembali ke dalam kabut, seolah baru terbangun dari mimpi buruk.
Seluruh tim terdiam melihat kejadian itu. Mereka melihat bagaimana Rey mampu menenangkan makhluk yang seharusnya sedang marah dan agresif hanya dengan memancarkan energi lembut, tanpa pertarungan atau kekerasan sama sekali.
“Bagaimana kau melakukannya?” tanya Kaelan, salah satu anggota peringkat C lainnya, dengan nada takjub. “Aku pernah menghadapi makhluk yang terpengaruh energi negatif, tapi biasanya mereka tidak bisa dikendalikan kecuali dipukul hingga jatuh pingsan.”
Rey hanya tersenyum tipis dan memberikan alasan yang aman. “Hanya menggunakan sifat dasar energi yang menyeimbangkan. Semua makhluk hidup merespon energi yang harmonis. Selama mereka masih memiliki kesadaran sedikit pun, mereka akan merasakan perbedaannya.”
Kapten Valerius menatap Rey dengan pandangan yang lebih dalam dan penuh perhatian, seolah mulai menyadari bahwa pemuda ini memiliki kelebihan yang jauh melampaui peringkatnya yang tertera. Namun ia tidak bertanya lebih lanjut, hanya mengangguk mengakui kinerjanya.
“Bagus sekali. Tindakan itu tepat dan menghindari pertumpahan darah yang tidak perlu. Tapi ini juga membuktikan bahwa pengaruh energi itu sudah semakin kuat dan mulai menjangkau makhluk hingga ke wilayah ini,” kata Valerius. “Kita harus mengumpulkan data sebanyak mungkin besok siang, lalu mundur ke pos aman lebih awal dari rencana semula. Situasinya berkembang lebih cepat dari yang diperkirakan.”
Malam itu berlanjut dengan suasana yang semakin mencekam. Tekanan energi terus terasa menekan, membuat tidur menjadi tidak nyaman bagi hampir semua orang. Hanya Rey dan Sylfia yang bisa beristirahat dengan cukup, karena mereka memiliki keseimbangan energi dalam tubuh yang lebih kuat dan mampu menahan gangguan dari luar.
Saat fajar mulai menyingsing dan cahaya matahari perlahan menyebar menerobos kabut, Rey menatap ke arah dalam hutan dengan pandangan semakin serius. Ia tahu bahwa apa yang mereka hadapi hanyalah puncak dari gunung es. Masih ada kekuatan yang jauh lebih besar dan berbahaya yang tersembunyi di balik kabut itu, dan perubahan yang terjadi di sana bisa menjadi awal dari bencana yang lebih luas lagi.
“Kita baru melihat sedikit saja gejalanya,” pikir Rey dalam hati. “Masih banyak rahasia yang menunggu untuk dibuka, dan semakin hari, semakin terasa bahwa perjalanan ini akan menguji kekuatan kita sampai batas tertinggi.”
Dengan tekad yang semakin kuat, ia bersiap menyambut hari baru, mengetahui bahwa setiap langkah yang diambilnya kini membawa mereka semakin dekat dengan kebenaran yang telah tersembunyi selama berabad-abad.