Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?
===
“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”
“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”
“Masa?”
“Mahameru pantang ingkar janji.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Suka Kamu
Bab 17
Eru menyapa dua pria itu. Yang satu ia kenal sebagai penjaga kosan, satunya entahlah. Sepertinya bukan penjaga kosan juga, dari penampilannya seperti orang berpendidikan dan memiliki value atau kaya. Ditambah bocah yang bersamanya lucu sekali.
“Temennya CInta?”
“Iya bang, teman kerja.”
“Pacarnya bos,” sahut Aceng lalu terkekeh, Eru tersenyum.
“Masih pendekatan ya? Gue kasih saran, nggak usah lama-lama pendekatan langsung tembak aja. Perasaan lo bersambut langsung ajak nikah.” Rama terkekeh setelah memberi saran anti mainstream.
“Eh, busyet. Kebelet kawin itu mah. Oh iya, ini Bos Rama, yang punya kosan,” ungkap Aceng. Rama mengulurkan tangannya disambut oleh Eru.
“Saya Eru, Mahameru.”
“Untuk lo tau, belum pernah ada cowok ngapelin CInta. Paling temen kerjanya itu, siapa namanya gue lupa.”
“Kang Asep.”
“Nah, itu. Kalau libur, Cinta biasa pulang ke Bogor. Kampung keluarganya,” tutur Rama lagi. “Biar lo makin kenal sama tuh cewek. Secara gue udah pengalaman, udah nikah dan anak gue dua. Anggap gue suhu dan lo harus denger saran dari gue. Semua cewek intinya senang dikejar dan diperhatikan, menunjukan keseriusan kita. Nggak usah sok misterius, yang ada lo ditikung cowok lain.”
“Thanks sarannya bang.”
Tidak lama CInta keluar dari kamar, menenteng goody bag dengan isi yang penuh. Mengenakan kaos dilapisi cardigan, celana high waist dan sandal. Sling bag menyilang di bahunya.
“Bye Zurra, aku jalan dulu ya.”
Zurra memeluk kaki Rama karena malu. “Udah sana pergi, kencan ‘kan?”
“Ih, abang sok tahu,” seru Cinta lalu pamit pada Rama dan Aceng. Eru mengangguk pada kedua pria itu. Mengeluarkan helm cadangan dari bagasi, helm yang cocok dipakai untuk perempuan.
“Mau dipakein nggak?”
“Itu bapak-bapak pasti masih ngeliatin, aku pake sendiri.” Eru tersenyum mengambil alih goody bag dan mengaitkan ke motor.
“Laundry mana nih?”
“Yang dekat sini, nanti aku arahin deh.”
***
...Pejuang Tanggal Muda...
Asep : Foto (Umar sedang menguap di resto)
Foto (Abil berjongkok sambil menggaruk kepala, macam orang frustasi)
Foto (Eru tertidur di sofa, agak mangap meski tidak mengurangi tampannya)
Foto (CInta dengan wajah cemberut)
Eru_kerenz : Parah
Abil : Foto sendirinya malah nggak di up, padahal banyak foto dia yang gak jelas
Umar : Sin tinggal, Lo Sep
Asep : 🤣
Cinta_cuantik : Kayaknya aku doang yang menggemaskan meski cemberut
Abil: hoek
Asep : Pengen ngelempar koin, tapi sekarang
Abil : Bony0k dong 😂
Asep : Biar sadar diri
Eru_kerenz : Ia gemesin banget sampe pengen gigit
Asep : Yaelah, ini lagi gombal
Umar : Cepet diterima Ta, takut frustasi
Abil : Kalau udah jadian grup berubah jadi taman bunga
Cinta_Cuantik : Terima apa sih? Nggak ngerti deh, aku kan masih polos
Eru_Kerenz : nanti saya jelasin mbak. Saya suka yang polos
Asep : Mengandung keme-sum4n
Abil : Eru suhu atau cupu nih
Eru_Kerenz : 🤭
“Dih, apa sih maksudnya. Kamu suka yang polos maksudnya yang masih bocah gitu?”
Eru terkekeh lalu mendekat dan berbisik. “Polos itu sama dengan n4ked.”
“Ish, ngaco. Otak kamu kayaknya udah terkontaminasi. Pasti kena doktrin yang aneh-aneh dari Kang Asep sama Mas Abil ya.”
“Nggaklah, naluri lelaki. Mau sarapan apa?” tanya Eru sudah naik ke motor. mereka berada di depan laundry, masih kawasan kampung sawah.
“Hm, aku mau soto mie. Dekat pertigaan ada warung soto lumayan rame, rasanya enak loh.”
Eru menggerakan dagunya meminta Cinta naik ke motor. “Pegangan,” titahnya sambil menoleh.
“Udah.”
“Pegangan ke aku, bukan tali tas kamu.” Meraih tangan CInta dan mengalungkan di perutnya. “Yang kenceng ya, takut jatuh.”
Selesai Cinta sarapan, pasangan itu berpindah ke cafe yang buka sejak pagi dan menyediakan menu breakfast. Agak siang akan diajak ke tempat lain, mall mungkin. Café yang dipilih Eru, agak premium. Terlihat dari suasananya. Ada area outdoor dan smoking area. Di bagian dalam ada meja kursi standar seperti café pada umumnya, Eru memilih ke area lebih dalam. Tiap bagian ada sekat dan sofa yang terlihat nyaman.
Alih-alih duduk terpisah, Eru malah duduk di samping Cinta. Membuka menu dan menanyakan pesanan.
“Aku masih kenyang Ru.”
“Nggak pa-pa. Masa kita nggak mesen, cuma numpang ngobrol doang. Yang ada malah diusir. Mau minum apa?”
“Apa aja terserah. Kayaknya kamu udah biasa ke sini, pasti tahu menu andalan.” Cinta meletakan tasnya di sudut sofa setelah mengeluarkan ponsel. Eru menyebutkan pesanan pada pelayan. Ingin protes karena menu yang disebutkan agak banyak.
“Kamu belum sarapan ya, tadi bilang nggak mau.”
“Sudah, tapi sedikit. Lihat menu jadi pengen ini itu.” Isi kepala Eru agak berisik setelah pertemuan dengan Langit, belum lagi Maminya mengirim pesan masih dengan nasihat ini itu dan belum direspon.
CInta fokus dengan ponselnya, Eru menyandarkan kepala dengan pandangan ke arah ponsel gadis di sampingnya.
“Mbak, aku mau ngomong.”
“Ya ngomonglah, emang aku larang.”
“Dengerin dong, ponselnya taruh dulu,” cetus Eru dengan nada agak merengek.
Cinta tersenyum, ia letakkan ponsel di atas meja lalu merubah duduknya agak menyerong menghadap Eru dan bersedekap.
“Oke, aku dengerin!”
Eru menegakkan tubuhnya, saling pandang dengan gadis itu. “Kita kenal udah berapa lama ya, mbak. Ada setahun nggak?”
Raut wajah Cinta berubah datar, pandangannya melirik sinis dengan mulut berdecak. Saat tangannya siap mengayun untuk menggeplak, Eru sigap langsung meraih tangan itu dan digenggam.
“Ngaco kamu, mana ada setahun. Seminggu.”
“Ah, masa sih. Perasaan kayak udah lama gitu.” Cinta menarik tangannya, tapi digenggam erat oleh Eru.
“Lepas, Ru. Nggak enak dilihat orang.”
“Kalau nggak dilihat orang, berarti enak ya. Denger dulu, aku mau ngomong.”
“Ya udah ngomong, tapi lepasin tangan aku.”
Eru menggeleng. “Takut mbak terkejut terus nampar aku,” ucap Eru. Cinta menghela nafas, pasrah saja tangannya dalam genggaman. Semoga saja tidak kentara kalau dia gugup, berharap detak jantungnya tidak terdengar oleh Eru.
“Mbak, eh CInta. Terserah mau dibilang nggak sopan. KAlau di luar kantor saya mau panggil nama aja,” tutur Eru masih menatap Cinta dan raut wajah serius. “Aku tertarik sama kamu dari hari pertama kita kenal dan sekarang aku yakin kalau aku memang suka kamu, Cinta.”
“Hah?”
cinta terhalang kejadian antara orang tua.😭
semangat Eru,setidaknya kamu jangan cepat menyerah.
jadikan cambukan,Cinta yang jadi korban papi mu maka kewajiban mu melindungi nya..kalau perlu menikahi nya
egoisnya akbar hanya mementingkan ke baikan keluarganya sendiri. tanpa memikirkan orang lain.😤
siap2 reaksi cinta nrma ga ya kenyataan
kamu dah di kasih tau sama mamih kan dan di wanti² tentang gosip tidak enak nah ini maksudnya