Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17# Kesepakatan Gila
"Jangan sentuh aku!" seru Ayla sambil menepis kasar tangan Gavin dari pipinya.
"Baiklah. Kalau kau ingin masuk ke kamar kakakku, kau harus menjawab semua pertanyaanku dulu," ujar Gavin seolah-olah Ayla harus lulus seleksi terlebih dahulu sebelum diizinkan melangkah masuk.
"Pertama, tinggi kita hampir sama, jadi jangan bilang aku ini terlalu pendek. Kau hanya lebih tinggi beberapa sentimeter saja. Kedua, usiaku dua puluh tahun. Kalau kau bertanya kenapa aku terlihat kurus dan tidak terawat, sebaiknya kau cari tahu lebih banyak tentang keluarga Gunawan," jawab Ayla dengan wajah datar dan nada tegas.
Gavin tertegun mendengarnya. Ia menatap Ayla dari ujung kaki hingga kepala. Tak disangkanya, wanita itu ternyata lebih berani dari perkiraan, padahal usia mereka terpaut lima tahun. Ayla pun menatap balik dengan pandangan yang terasa menekan.
Memang benar, tinggi badan mereka nyaris sama, dan Gavin hanya sedikit lebih menjulang.
"Tunggu, kau masih terlihat sangat muda. Kalau usiamu baru dua puluh tahun, kenapa keluarga Gunawan rela menikahkanmu dengan kami?" Alih-alih segera mengantar Ayla, Gavin malah melontarkan pertanyaan lagi.
"Heem..."
Suara berat yang tak asing itu tiba-tiba terdengar, membuat Gavin menegang.
Ayla menoleh ke arah sumber suara. Di sana tampak Valen baru saja melangkah keluar dari kamarnya.
"Sudah selesai interogasinya?" tanya Valen datar.
"K-kapan? Aku tidak sedang menginterogasinya," bantah Gavin dengan nada gugup, takut dimarahi kakaknya.
"Pergilah," perintah Valen singkat kepada adiknya.
"Baiklah, aku pergi," jawab Gavin tergesa, lalu berbalik dan melangkah pergi sembari melirik sekilas ke arah Ayla dengan wajah kesal.
"Bawalah kopermu masuk," ucap Valen sambil menatap Ayla.
Baru disadari Ayla, sedari tadi mereka sudah berada tepat di depan kamar Valen. Sayangnya, percakapan menjengkelkan dengan Gavin membuatnya tak menyadarinya. Mungkin saja seluruh pembicaraan tadi sudah terdengar jelas oleh Valen.
Tanpa banyak bicara, Ayla mendorong pintu dan masuk ke dalam. Ruangan itu ternyata jauh lebih luas dan megah dibanding kamar mana pun yang pernah dilihatnya di rumah keluarga Gunawan.
"Kau tidur di sofa," ucap Valen sambil mengikuti dari belakang, lalu menutup pintu kamar.
Ayla menoleh ke arah sofa besar yang terletak di sudut ruangan. Hatinya sedikit lega; tempat itu jauh lebih layak dibanding kamar sempit yang dulu ditempatinya.
"Letakkan barang-barangmu. Aku ingin bicara serius," perintah Valen lagi.
"Baiklah, ini saatnya kita bicara berdua. Aku ingin tahu, setelah menikah, apa saja yang boleh kulakukan di sini? Dan bagaimana caraku mendapatkan kesempatan untuk membangun karirku sendiri?" batin Ayla, pikirannya mulai berkecamuk.
Ayla meletakkan kopernya di sudut ruangan, lalu berjalan menghampiri Valen.
"Duduklah," ajak Valen sambil menunjuk ke arah sofa.
Tanpa banyak tanya, Ayla segera duduk sesuai perintah.
"Apa yang akan dibicarakannya? Kenapa tatapannya terlihat begitu tajam dan serius?" gumam hati Ayla. Jantungnya berdegup kencang. Untuk pertama kalinya, ia merasakan hawa dingin yang menusuk, seolah pria di hadapannya ini adalah sosok yang dingin dan tak terduga.
Namun, sebelum sempat berpikir jernih, pemandangan yang tak pernah ia duga tiba-tiba terlihat di depan matanya.
Apa yang terjadi?
Valen tiba-tiba berdiri dari kursi rodanya, lalu melangkah berjalan menuju lemari besar di sisi ruangan.
"Astaga... Bukankah dia lumpuh?" gumam Ayla terkejut. Ia hampir tak mampu berkata-kata, namun matanya tak bisa berbohong—ia benar-benar terkejut menyaksikan kenyataan di hadapannya.
"Ini surat perjanjian," ucap Valen sambil meletakkan sebuah map berwarna putih di atas meja, tepat di hadapan Ayla.
Namun pikiran Ayla masih terganggu oleh kenyataan bahwa Valen ternyata tidak memiliki cacat fisik seperti yang diketahui banyak orang.
"A-apa ini?" tanya Ayla dengan suara bergetar.
"Perjanjian pernikahan," jawab Valen singkat namun penuh makna.
"Untuk apa dibuat perjanjian?" tanya Ayla lagi.
"Aku sadar kita sama-sama menjalani pernikahan ini karena keterpaksaan. Oleh karena itu, aku ingin membuat kesepakatan yang saling menguntungkan. Ayahku ingin aku segera memiliki keturunan agar garis keturunan keluarga ini terus berlanjut. Tugasmu hanyalah mengandung dan melahirkan anakku. Setelah anak itu lahir, jika kau menginginkan perceraian, aku akan menyetujuinya," jelas Valen panjang lebar.
Ayla terdiam mendengar penjelasannya. Awalnya ia mengira Valen jauh lebih kejam dibanding keluarganya sendiri karena mengajukan usulan yang terdengar tidak wajar. Namun di sisi lain, ia juga tidak memiliki perasaan cinta sedikit pun terhadap Valen. Namun benarkah ia sanggup mengandung, lalu pergi meninggalkan anaknya? Bahkan hubungan suami istri saja tak pernah terbayangkan sebelumnya, apalagi hal yang lebih jauh dari itu.
"Jangan khawatir. Setelah bercerai, kau akan menerima uang sebesar lima puluh miliar dariku. Selama masih menjadi istriku, kau bebas memanfaatkan nama dan kekuasaan keluarga Aditama, termasuk bantuanku, untuk kepentingan pribadi atau bahkan untuk membalas perlakuan keluarga aslimu," tambah Valen, seolah sudah mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan Ayla.
Mendengar tawaran itu, pikiran Ayla mulai mempertimbangkan dengan matang.
"Tawaran ini cukup menguntungkan. Di usia muda seperti ini, jika aku pergi membawa banyak uang dan bisa memanfaatkan nama besar keluarga Aditama untuk membangun masa depan, tentu tidak ada ruginya. Aku hanya perlu melahirkan satu anak, lalu hidup bebas. Ya, ini bukan kesepakatan yang buruk," batinnya.
"Bagaimana? Apakah ada hal lain yang ingin kau tanyakan?" tanya Valen sambil menatapnya dengan tatapan dingin.
"Baiklah, aku setuju. Namun aku membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan situasi ini," jawab Ayla mantap.
"Aku mengerti. Itulah sebabnya aku memintamu tidur di sofa, agar kita berdua bisa saling menyesuaikan diri. Aku memberimu waktu dua minggu. Semakin cepat kau siap, semakin baik," tegas Valen.
"Sialan! Aku kira pria ini benar-benar lumpuh dan memiliki masalah mental, ternyata justru sebaliknya. Dia jauh lebih mengerikan dari yang terlihat. Walaupun tatapannya dingin, ternyata dia pandai berbicara dan memiliki rencana yang jelas," umpat Ayla dalam hati. Tubuhnya merinding mendengar penuturan terakhir Valen.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya