Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ULANG TAHUN KIRANA
Kirana terbangun beberapa menit sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Langit Jakarta masih berwarna abu-abu pucat di balik tirai kamar, sementara udara pagi terasa sejuk. Selama beberapa detik, ia hanya berbaring diam sambil menatap langit-langit, mengumpulkan kesadaran yang masih mengambang.
Matanya bergeser ke arah layar digital jam di atas nakas.
17 September.
Sudut bibir Kirana terangkat tipis. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Tidak ada perasaan berlebihan yang meledak-ledak di dalam dada. Sejak zaman kuliah dulu, Kirana memang bukan tipe orang yang suka pesta besar atau perayaan yang mewah. Baginya, hari ulang tahun hanyalah sebuah penanda bahwa usianya kini resmi bertambah satu tahun lagi.
Namun belakangan ini, Kirana mulai merasa ada sesuatu yang berubah di dalam rumah ini. Sesuatu yang tidak bisa ia tunjuk dengan jelas, tetapi bisa ia rasakan. Hal itu membuatnya tanpa sadar melirik ke arah sisi ranjang sebelahnya.
Kosong. Danendra sudah tidak ada di sana. Mungkin suaminya sudah turun ke lantai bawah lebih dulu seperti biasa.
Kirana segera menggeleng pelan, menepis pikiran-pikiran yang mendadak muncul di kepalanya. Ia mengingatkan diri sendiri untuk tidak berharap macam-macam hari ini. Lagipula, ia bahkan tidak yakin apakah Danendra mengingat tanggal ulang tahunnya atau tidak.
Seperti biasa, Danendra sudah duduk tenang di ruang makan saat Kirana turun ke lantai bawah. Kemeja abu-abu gelap yang dikenakannya tampak rapi. Sebuah tablet berada di tangan kirinya, sementara secangkir kopi hitam mengepul di samping piring sarapan.
Pria itu mendongak saat mendengar suara langkah kaki Kirana mendekati meja. "Selamat pagi."
"Pagi, Mas," sahut Kirana, menarik kursinya.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik berlalu dalam sunyi. Tidak ada kalimat lanjutan yang meluncur dari bibir suaminya. Danendra kembali memfokuskan pandangan matanya pada layar tablet, menggeser draf berita pagi.
Kirana meraih sepotong roti bakar di depannya, mengolesnya perlahan. Ia mencoba berpikir positif. Mungkin Danendra memang belum sadar dengan tanggal hari ini karena terlalu sibuk dengan urusan kantor.
"Jadwalmu hari ini padat, Mas?" tanya Kirana, pura-pura kasual.
"Hm."
"Sampai malam?"
"Mungkin," jawab Danendra pendek.
"Ooh."
Danendra mengangguk pendek, lalu meletakkan tabletnya sebentar. "Laporan kerja sama museum sudah selesai?"
"Sudah."
"Bagus."
Dulu mereka bisa menghabiskan satu meja makan tanpa percakapan apa pun. Sekarang, kebiasaan-kebiasaan kecil itu mulai muncul dengan sendirinya. Namun, tetap tidak ada kalimat ucapan selamat ulang tahun. Tidak ada kejutan apa pun. Kirana menunduk, menatap piringnya dalam-diam. Harapan kecil yang sempat muncul di hatinya saat bangun tidur tadi perlahan-lahan mengempis tanpa sisa.
Menjelang siang hari, ponsel di atas meja kerja Kirana tidak berhenti bergetar pelan. Rentetan pesan teks dari teman-teman kantor yayasan, beberapa sepupu jauh, hingga keluarga besarnya masuk silih berganti
Ucapan doa terbaik datang bertubi-tubi di layar digital. Kirana membalas pesan-pesan tersebut satu per satu sambil tersenyum tulus. Namun, setiap kali layar ponselnya menyala menampilkan notifikasi baru, ada satu nama yang tanpa sadar selalu ia cari terlebih dahulu.
Danendra.
Namun nama itu sama sekali tidak muncul di sana hingga jam istirahat tiba.
Saat makan siang, ponselnya kembali berdering menampilkan panggilan masuk dari Rani. Begitu Kirana menggeser tombol hijau, suara melengking sahabatnya langsung meledak dari speaker.
"SELAMAT ULANG TAHUN, KAK KIRANA!"
Kirana tertawa renyah, menjauhkan ponselnya beberapa sentimeter dari telinga. "Terima kasih banyak, Rani."
"Dapat hadiah apa saja hari ini?" todong Rani bersemangat.
"Belum ada hadiah apa-apa," jawab Kirana jujur, menyandarkan tubuh ke kursi kerja.
Keheningan singkat terjadi di seberang telepon, sebelum akhirnya suara Rani naik satu oktaf karena terkejut. "Tunggu dulu, Kak. Maksudmu... Pak Danendra belum kasih ucapan atau kado apa-apa?"
Kirana memutar kedua matanya pasrah. "Ya... memang belum."
"Serius, Kak?"
"Iya, Rani. Aku ngapain harus berbohong soal ini?"
"Ini benar-benar tidak masuk akal bagiku," gerutu Rani dari seberang sana.
"Kenapa tidak masuk akal? Hari kan masih siang, Ran."
"Kakak tahu?" desak Rani dengan mata berbinar penasaran.
"Memangnya kenapa sejak kapan?" tanya Kirana defensif.
"Sejak kapan Kakak jadi tahu detail?" ucap Rani pelan. "Karena selama ini yang paling hafal kebiasaan detail Mas Danendra itu biasanya cuma Mbak Siti di dapur. Tapi Kakak juga mulai hafal beliau tidak suka manis." Rani menghela napas panjang terdengar pasrah. "Kakak terlalu baik."
"Kamu terlalu berisik, Ran," kekeh Kirana, memotong kalimat sahabatnya agar pembicaraan itu tidak melebar ke mana-mana.
Obrolan mereka berakhir beberapa menit kemudian. Namun setelah panggilan telepon ditutup, senyuman di wajah Kirana perlahan-lahan memudar sepenuhnya. Ia menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Tetap tidak ada notifikasi pesan masuk dari suaminya.
Sore harinya, Kirana memutuskan untuk pulang ke rumah lebih awal karena pekerjaannya di yayasan sudah selesai. Suasana rumah terasa sangat tenang dan sepi saat ia melangkah masuk. Para asisten rumah tangga sibuk dengan pekerjaan masing-masing di belakang, sementara lampu-lampu ruang keluarga mulai dinyalakan.
Semuanya terlihat sama persis seperti hari-hari biasa. Kirana menghela napas pendek, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa hari ini memang murni hanya hari biasa. Namun, semakin ia mencoba bersikap tidak peduli, semakin ia sadar bahwa ia sedang membohongi hatinya sendiri. Karena kalau ia benar-benar tidak peduli, kenapa tanpa sadar ia terus menunggu kepulangan Danendra?
Malam pun tiba. Jam di ruang tengah sudah menunjukkan pukul delapan malam, lalu merayap cepat menuju pukul sembilan. Danendra belum juga menunjukkan tanda-tanda pulang ke rumah. Kirana duduk bersandar di tempat tidur kamarnya sembari memegang sebuah buku. Ia berusaha fokus membaca, namun usahanya gagal total. Selama hampir sepuluh menit bertahan di sana, sepasang matanya terus berhenti pada baris paragraf yang sama.
Akhirnya, Kirana menutup buku tersebut dengan ketukan pelan di atas pangkuannya. Ia menghela napas panjang, menatap kosong ke arah jendela. "Konyol," gumam Kirana lirih pada dirinya sendiri.
Dulu ia tidak pernah peduli soal hari ulang tahunnya sendiri. Bahkan beberapa tahun terakhir ia sering lupa tanggal ulang tahunnya sendiri. Lalu kenapa sekarang ia harus merasa sekecewa ini? Kenapa sekarang ia harus duduk diam menunggu dan berharap pada seseorang? Pertanyaan-pertanyaan itu justru membuat hatinya semakin kesal pada dirinya sendiri.
Pukul sembilan lewat empat pukul puluh lima menit malam, suara deru mesin mobil yang familier terdengar memasuki halaman utama rumah. Detak jantung Kirana mendadak berdetak sedikit lebih cepat. Ia buru-buru menarik napas dalam-dalam, mengutuk dirinya sendiri di dalam hati. Ia menyuruh batinnya untuk tenang, karena ini murni hanya suaminya yang baru pulang kerja, bukan sebuah hal yang istimewa.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar tidur mereka didorong terbuka perlahan. Danendra melangkah masuk. Pria itu masih mengenakan kemeja kerjanya yang rapi, dan wajahnya masih terlihat lelah setelah seharian bekerja di kantor Adipati Group. Penampilannya masih sama seperti biasanya, dan sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa pria itu sedang membawa kejutan romantis.
Kirana memaksakan seulas senyum tipisnya. "Mas baru pulang?"
"Hm."
"Capek?"
"Sedikit," sahut Danendra pendek. Pria itu melangkah mendekati meja, meletakkan tas kerjanya, lalu mulai membuka kancing manset di pergelangan tangan satu per satu. Semuanya berjalan sangat biasa.
Hati Kirana seketika langsung terasa jatuh dan kosong. Oke, dugaannya terbukti benar. Danendra memang sepenuhnya melupakan hari ulang tahunnya. Kirana kembali menundukkan kepalanya, berpura-pura sibuk merapikan letak buku di pangkuannya untuk menyembunyikan rasa kecewa.
"Lapor..." Suara bariton Danendra tiba-tiba memecah keheningan kamar.
Kirana mendongak, menatap suaminya. Danendra ternyata sudah berdiri tegak di dekat sisi tempat tidur. Tangan kanannya memegang sebuah paper bag cokelat berdesain sederhana tanpa lilitan pita atau hiasan mewah.
"Ini untukmu," ucap Danendra datar, menyodorkan bungkusan tersebut.
Kirana mengerjap pelan, tangannya diam di atas buku. "Untuk aku, Mas?"
"Iya."
"Apa?"
"Buka saja," sahut Danendra lempeng.
Kirana meletakkan novelnya ke samping, lalu menerima paper bag cokelat itu dengan jemari yang menegang kaku. Ukurannya tidak besar. Saat Kirana membuka bagian atasnya, gerakannya mendadak terkunci total.
Sebuah buku novel edisi khusus (limited hardcover edition) dengan sampul keras yang masih terbungkus rapi oleh plastik segel mengilap kini berada di atas pangkuannya. Kirana mengenali judul buku tersebut dalam hitungan detik. Itu adalah novel langka yang sudah ia cari selama berbulan-bulan di berbagai toko buku, dan selalu berakhir dengan jawaban kehabisan stok.
Tangannya membeku di tepi buku itu. Untuk beberapa saat, Kirana hanya menatap sampulnya tanpa berkedip, seolah memastikan bahwa benda di tangannya benar-benar nyata. Kirana perlahan mengangkat kepalanya, menatap wajah Danendra tak percaya.
"Kamu..." tanya Kirana, suaranya nyaris tercekat di tenggorokan. "Kamu dapat buku ini dari mana?"
"Pesan," jawab Danendra, nadanya tetap tenang tanpa beban.
"Tapi ini sudah langka."
"Hm."
"Kamu tahu aku mencarinya?" desak Kirana lagi, menuntut penjelasan dari suaminya.
Danendra tampak menunjukkan ekspresi sedikit bingung dengan pertanyaan istrinya. "Ya."
"Tahu dari mana?"
"Kamu pernah cerita."
Kirana mematung di posisinya. Ia memang pernah menceritakan novel itu secara sekilas. Namun, memori itu sudah terjadi sangat lama, mungkin sekitar tiga atau empat bulan yang lalu. Bahkan ia sendiri pun sudah hampir melupakan obsesinya pada buku tersebut, namun Danendra ternyata mengingat detail ucapannya dengan sangat baik.
"Kamu ingat, Mas?" gumam Kirana pelan.
Danendra menatap mata Kirana lurus. "Aku ingat."
Kirana menatapnya tidak percaya. "Kalau kamu memang ingat, kenapa dari tadi pagi diam saja?" tagih Kirana kesal sekaligus gemas.
Danendra melonggarkan kancing kerah kemejanya dengan gerakan santai. "Aku menunggu barangnya sampai."
"Hah? Maksudnya?"
"Kurirnya terlambat datang tadi sore," jelas Danendra lempeng, wajah tegapnya tetap kaku tanpa riak emosi. "Aku tidak mau mengucapkan selamat ulang tahun tanpa memberikan hadiahnya."
Kamar itu mendadak sunyi. Untuk pertama kalinya sepanjang hari yang melelahkan ini, Kirana benar-benar dibuat kehabisan kata-kata untuk membalas logika suaminya. Lalu tanpa bisa ia tahan lagi, sebuah tawa renyah yang pendek lolos begitu saja dari bibir Kirana.
Ia tertawa bukan karena menganggap ucapan suaminya lucu, melainkan karena rasa lega yang mendadak mencairkan seluruh beban kekosongan di dadanya sejak pagi tadi. Danendra yang melihat perubahan ekspresi istrinya hanya bisa berdiri diam dengan wajah bingung.
"Kenapa tertawa?" tanya Danendra memastikan.
Kirana menyeka sudut matanya yang sedikit geli, menggeleng pelan. "Tidak apa-apa."
"Kamu aneh," simpul Danendra pendek.
"Kamu yang aneh, Mas," balas Kirana, senyum manisnya merekah sempurna menatap wajah suaminya.
Danendra mengangkat sebelah alisnya tipis, tidak setuju dengan pelabelan tersebut, namun pria itu memilih diam dan tidak memperpanjang perdebatan mereka.
Kirana kembali menurunkan pandangan matanya memandangi buku novel edisi khusus di atas pangkuannya. Buku itu sama sekali bukan barang paling mahal yang pernah ia miliki di dalam kamarnya, juga bukan kado paling mewah yang pernah ia terima. Tetapi entah kenapa, bagi hati Kirana malam ini, kado bersampul keras itu terasa berkali-kali lipat jauh lebih berharga daripada benda apa pun di dunia.
Kirana menunduk menatap buku di pangkuannya. Ternyata selama ini Danendra mendengarkan. Bahkan hal-hal yang ia sendiri sudah lupa pernah ucapkan.
"Mas."
"Hm?"
Kirana menatap sepasang mata suaminya lekat-lekat, senyum tulusnya mengembang hangat. "Terima kasih."
Danendra memberikan anggukan pelan sekali sebagai respons penutup. "Sama-sama."
Kirana menatap kembali buku di tangannya. Sudah lama ia tidak merasa sebahagia ini karena sebuah hadiah. Dan yang membuatnya bahagia ternyata bukan bukunya. Melainkan fakta bahwa seseorang mengingatnya. Seseorang yang selama ini ia kira tidak pernah benar-benar memperhatikan.
Kirana menunduk cepat, seolah ingin menyembunyikan senyumnya sendiri. Entah sejak kapan, Danendra mulai mengambil lebih banyak ruang di dalam pikirannya.