NovelToon NovelToon
Halal Tapi Asing

Halal Tapi Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng di Balik Selasar Ndalem

Fajar menyingsing di ufuk timur, membawa semburat warna jingga yang perlahan mengusir pekatnya malam di atas langit Pesantren Al-Anwar. Lantunan ayat suci Al-Qur'an dari speaker masjid dan langkah kaki para santri yang bergegas menuju aula salat Subuh mulai terdengar, memecah kesunyian kompleks pondok.

Di dalam kamar pengantin yang masih menyisakan aroma layu kuncup melati, Humaira sudah terbangun sejak sepertiga malam. Matanya sembap, menyisakan rona merah di sekeliling kelopaknya akibat tangis yang tak kunjung usai hingga menjelang subuh. Ia menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Wajah manis yang biasanya memancarkan binar ceria itu kini tampak begitu lelah dan pias. Namun, didikan abah dan ummahnya telah menanamkan satu hal yang tertanam kuat di kepalanya: seorang wanita harus menjaga muruah dan kehormatan suaminya, apa pun yang terjadi di dalam rumah tangga mereka.

Humaira menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk mengusir sesak yang masih bergelayut di dadanya. Ia segera berwudu, mengenakan mukena putih bersih, dan bersiap melaksanakan salat Subuh. Sebelum takbiratulihram, matanya melirik ke arah sofa di sudut kamar.

Di sana, Gus Arsalan masih terlelap. Tubuh tingginya tampak meringkuk kekecilan di atas sofa panjang itu. Wajah tampannya yang kemarin malam begitu dingin dan kejam saat melontarkan kalimat penolakan, kini terlihat begitu tenang saat tertidur. Sisi rapuh yang selalu ia sembunyikan di balik keangkuhan pergaulan London-nya seolah menguar begitu saja.

Humaira mendekat dengan langkah sangat pelan, nyaris tanpa suara. Ia berlutut di samping sofa, menatap wajah suaminya dari dekat. Hatinya kembali berdenyut perih mengingat ucapan Arsalan beberapa jam yang lalu. 'Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu.' Kalimat itu masih terngiang jelas, menguliti harga dirinya sebagai seorang Ning dan seorang wanita.

"Gus... tangisilah wanita yang Njenengan cintai di London," bisik Humaira teramat lirih, nyaris seperti embusan angin. "Tapi tolong, jangan hukum kulo atas takdir yang tidak pernah kulo minta ini."

Satu titik air mata kembali lolos di sudut mata Humaira, cepat-cepat ia hapus sebelum menyentuh mukenanya. Ia kemudian menyentuh pundak Arsalan perlahan, menggoyangkannya lembut. "Gus... Gus Arsalan, paring azan subuh sampun berkumandang. Mboten kesiangan, Gus."

Arsalan melenguh, sepasang mata elangnya perlahan terbuka. Begitu kesadarannya pulih dan mendapati wajah Humaira yang berbalut mukena berada sangat dekat dengannya, sorot mata dingin itu kembali hadir. Ia langsung terduduk tegak, memijat pangkal hidungnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia segera bangkit, menyambar handuk, dan melangkah masuk ke kamar mandi tanpa sekalipun menatap mata istrinya.

Humaira hanya bisa menghela napas pasrah. Satu pekan ke depan akan menjadi awal dari sandiwara terpanjang dalam hidupnya.

Satu minggu berlalu seperti berjalan di atas hamparan pecahan kaca bagi Humaira. Setiap hari, ia menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan sangat sempurna, tanpa cela. Sebelum Arsalan terbangun, pakaian koko yang sudah disetrika rapi, sarung tenun terbaik, dan wewangian sudah tertata di atas ranjang. Di dapur, Humaira selalu membantu Umi Arsalan memasak, menyiapkan makanan kesukaan suaminya dengan tangannya sendiri.

Arsalan menerima semua pelayanan itu. Ia memakan masakan Humaira, ia memakai pakaian yang disiapkan Humaira, dan ia memberikan uang nafkah lahir dalam jumlah yang sangat lebih dari cukup setiap awal pekan. Namun, semuanya dilakukan dalam keheningan yang mencekam. Di dalam rumah, mereka layaknya dua orang asing yang tidak sengaja menyewa kamar di penginapan yang sama. Tidak ada obrolan, tidak ada candaan, bahkan tidak ada kontak mata yang berlangsung lebih dari tiga detik.

Namun, segalanya akan berubah seratus delapan puluh derajat ketika mereka melangkah keluar dari pintu rumah kayu tersebut.

Pagi itu, komplek pesantren kedatangan kunjungan dari para kiai sepuh dari luar kota. Sesuai agenda, Gus Arsalan dan Ning Humaira harus ikut menyambut dan menemani Abi dan Umi di ndalem utama untuk menemui para tamu.

"Humaira, gandeng tangan suamimu. Pengantin baru kok jalannya jauh-jauhan begitu," goda Umi Khadijah, ibunda Arsalan, saat melihat keduanya berjalan beriringan di selasar menuju ndalem namun menyisakan jarak satu meter.

Mendengar teguran itu, tubuh Humaira menegang. Namun, sebelum ia sempat berbuat apa pun, sebuah tangan yang besar, hangat, dan kekar tiba-tiba menyusup ke sela-sela jarinya. Arsalan menggenggam jemari Humaira dengan sangat erat, lalu menarik tubuh istrinya mendekat hingga bahu mereka bersentuhan.

Humaira mendongak dengan mata membulat terkejut. Di sampingnya, Gus Arsalan sedang tersenyum sangat manis ke arah Uminya. Senyuman yang begitu menawan, yang sanggup membuat santri putri mana pun jatuh hati dalam sekali lihat.

"Mboten, Umi. Ini Arsalan genggam terus, takut Humaira-nya hilang," ucap Arsalan dengan nada suara yang begitu lembut, manja, dan penuh kasih sayang. Pria itu bahkan menoleh ke arah Humaira, menatapnya dengan tatapan mata yang begitu dalam dan teduh, seolah-olah Humaira adalah satu-satunya wanita yang paling ia cintai di dunia ini.

Deg.

Jantung Humaira berpacu gila-gilaan. Sisi "bar-bar" di dalam dirinya mendadak ingin berteriak menuduh pria di sampingnya ini sebagai aktor terbaik yang pernah ada. Bagaimana bisa seorang pria yang malam harinya tidur memunggungi istrinya di sofa dengan rahang mengeras, kini bisa menatapnya seolah ia adalah belahan jiwanya?

Didirono oleh rasa profesionalisme dan rasa hormat pada mertuanya, Humaira terpaksa menyunggingkan senyum termanisnya. Ia membalas genggaman tangan Arsalan, lalu sedikit menyandarkan kepalanya di bahu tegap sang suami. "Enggeh, Umi. Gus Arsalan terlalu protektif," sahut Humaira, mengimbangi permainan sandiwara suaminya.

Umi Khadijah terkekeh pelan, hatinya membuncah bahagia melihat kemesraan anak dan menantunya. "Alhamdulillah, Umi tenang melihat kalian berdua serasi begini. Semoga cepat diberi momongan, ya."

"Amin, Umi. Doakan saja," jawab Arsalan mantap, masih dengan senyum manisnya yang mematikan.

Namun, bagi Humaira, setiap kata "Amin" dan setiap senyuman manis dari Arsalan di depan publik terasa seperti duri yang ditancapkan semakin dalam ke lubuk hatinya. Genggaman tangan ini hangat, namun ia tahu betul bahwa kehangatan ini palsu. Pelukan ini nyaman, namun ini hanyalah sebuah kewajiban untuk menjaga nama baik keluarga kiai. Di hadapan ratusan santri dan kiai sepuh hari itu, mereka berdua tampil sebagai representasi pasangan ideal yang penuh berkah, namun di dalam hati masing-masing, ada badai yang siap menghancurkan segalanya.

1
Nita Kurniawati
kalo unt bahasake diri sendiri lebih tepat boten purun Thor, boten kersa itu unt yg lebih tua 😊
Hatnah Batulicin
preeett,ujung ujungnya cerita nya sihumaira luluh..mau maafin suaminya..semua cerita sama aja 😏
falea sezi
😒 ngapain lu ngemis maaf bukannya cerai bagus lu bisa. kejar tuh pacar lu🤣 anak kiyai g ada adab🤣🤣🤣 sprtnya cerai aja deh Thor najis amat laki munafik jahat😓
falea sezi
lanjut buat cerai thor
falea sezi
moga aja cerai😒 dan ma Reyhan aja biar gigit jari si sialan🤣 sebel liat dia tuh istri yda minta cerai kabulin dan susul belahan hatimu di london🤣 tinggal nunggu emak lu kena serangan jantung aja
falea sezi
cerai aja ning😒 percuma suami g bs move on 😒
Anonim
AGUS AGUS AGUS AGUS
Anonim
GUS GUS ?? AGUS AWOKAWOK AGUS AWOKAWOK
Ariani Sa
Lumayan
Ariani Sa
Luar biasa
Sarinah Quinn
di tunggu lanjutannya yah thor 🙏
Sarinah Quinn
di tunggu lanjutannya thor 🙏🙏
Keysa_Bom
maksudnya gini ya Allah 😭😭 Gus halal di hadapan mua😭 ih gemes aku😭
Keysa_Bom
Zulfa aku padamu 🤣
Keysa_Bom
rasanya sakit 😭 Humairah semangat 💪
Keysa_Bom
Gus..Guss.. awas bucin lo😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!