NovelToon NovelToon
TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 PAK RT

Pembangunan di lahan baru milik Abdul berjalan dengan ritme yang sangat luar biasa cepat. Dalam waktu singkat, struktur tiang-tiang beton untuk rumah tinggal orang tuanya di sisi kiri sudah berdiri dengan gagah.

Sementara di sisi kanan, dinding-dinding batako untuk gedung workshop konveksi modern satu lantai juga sudah mulai disusun tinggi oleh para anak buah Cak Imron. Suara hantaman palu, tawa para pekerja, dan deru truk yang mengantar material menjadi musik harian baru di pinggir jalan utama Gang Seng.

Abdul berdiri di bawah naungan pohon mangga, memperhatikan Jaka dan Rian yang sedang ikut membantu para kuli memindahkan beberapa gulungan kabel instalasi listrik untuk gedung konveksi nanti.

Senyuman puas menghiasi wajah pemuda itu. Segala hal terasa berjalan begitu sempurna sesuai dengan apa yang ia rencanakan.

Namun, ketenangan itu mendadak terusik ketika dari kejauhan tampak sosok pria paruh baya bertubuh agak tambun dengan seragam batik cokelat khas kelurahan berjalan memasuki area proyek.

Pria itu adalah Pak RT. Wajahnya tampak serius, dan di bawah ketiaknya terselip sebuah map dokumen berwarna lambang birokrasi yang tebal.

Melihat kedatangan orang nomor satu di RT tersebut, Cak Imron yang sedang mengawasi adonan semen langsung menurunkan sendok temboknya dan berjalan mendekati Abdul.

"Dul, itu ada Pak RT dateng. Mukanya kok agak sepet gitu ya? Ada masalah kah?" bisik Cak Imron dengan nada khawatir.

Abdul menepuk pundak Cak Imron pelan. "Tenang aja, Cak. Biar aku yang samperin."

Abdul melangkah maju, menyambut kedatangan Pak RT dengan senyuman ramah yang sopan. "Selamat siang, Pak RT. Wah, tumben banget siang-siang begini main ke lokasi proyek saya? Mari Pak, duduk di dalam Tenda dulu biar agak adem."

Pak RT tidak langsung membalas senyuman Abdul. Ia menghentikan langkahnya di tengah halaman, mengedarkan pandangannya ke sekeliling bangunan rumah dan konveksi yang tampak megah tersebut sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.

"Gak usah duduk di dalam tenda, Dul. Saya ke sini cuma bentar kok, ada hal penting yang mau saya sampaikan," ujar Pak RT dengan suara yang sengaja ditegaskan, lalu menarik map dokumen dari bawah ketiaknya dan menyodorkannya ke arah Abdul.

"Ini, ada surat teguran tertulis resmi dari kelurahan buat proyek kamu."

Abdul menerima map tersebut dengan dahi yang berkerut halus. "Surat teguran? Maaf, Pak RT, kalau boleh tahu teguran soal apa ya? Perasaan proyek kami jalan aman-aman aja dari kemarin."

Pak RT berdeham kecil, wajahnya tampak agak sungkan namun ia harus tetap menjalankan tugasnya.

"Gini loh, Dul. Pembangunan rumah sama gedung konveksi kamu ini kan skalanya besar, pakai alat berat dan truk-truk material tiap hari. Masalahnya, sampai hari ini pihak kamu belum menyerahkan berkas izin lingkungan resmi atau IMB (Izin Mendirikan Bangunan) ke meja saya maupun ke kantor kelurahan."

"Loh, kan waktu itu saya sudah bayar biaya permisi dan administrasi awal lewat makelar tanah, Pak?" tanya Abdul mencoba mengingat-ingat proses transaksinya dengan Pak Basuki tempo hari.

"Nah, itu dia salahnya, Dul! Si Basuki itu cuma ngurus akta jual beli tanahnya aja ke notaris, tapi urusan izin lingkungan sama tetangga kanan-kiri dan kelurahan belum dia masukin laporannya," jelas Pak RT sambil menunjuk-nunjuk isi surat di dalam map.

"Ditambah lagi, kemarin ada beberapa warga di bagian dalam gang yang laporan ke saya. Mereka ngeluh soal kebisingan suara paku bumi sama getaran mesin yang bikin kaca rumah mereka agak bergetar pas siang hari. Makanya, lurah terpaksa ngeluarin surat teguran ini demi ketertiban lingkungan."

Cak Imron yang ikut mendengarkan dari belakang langsung menimpali dengan wajah cemas. "Waduh, Pak RT... kalau ada urusan surat begini, proyek kami gak bakal disuruh berhenti total kan? Kasihan anak-anak kuli saya kalau harus libur kerja."

Abdul terdiam sejenak. Ia menyadari bahwa ini adalah murni kelalaian dirinya sendiri. Karena terlalu fokus pada urusan finansial ajaib dari mimpinya dan terlalu bersemangat melihat bentuk fisik bangunan yang cepat jadi, ia sampai melupakan urusan birokrasi dan administrasi lingkungan yang sangat krusial dalam sebuah proyek pembangunan.

Beda hal kalau yang mendirikan bangunan Si Anu, Hmm.

Alih-alih panik atau membela diri secara egois, Abdul langsung melipat map tersebut dengan rapi dan mengangguk paham. Sikapnya tetap tenang dan dewasa.

"Pak RT, pertama-tama saya mau minta maaf yang sebesar-besarnya atas kelalaian saya ini. Saya bener-bener minta maaf karena terlalu awam soal urusan administrasi bangunan besar begini, sampai-sampai bikin repot Pak RT dan pihak kelurahan," ucap Abdul dengan nada suara yang tulus dan penuh rasa hormat.

Pak RT yang semula mengira Abdul bakal protes atau mengelak, langsung melunakkan tatapan matanya.

"Ya... sebenarnya saya tahu kamu anak baik, Dul. Warga sini juga tahu kamu lagi merintis usaha konveksi. Tapi ya yang namanya aturan hukum lingkungan tetep harus ditegakkan, biar gak jadi kecemburuan sosial nanti di tengah warga."

"Benar banget, Pak RT. Saya sangat setuju," sahut Abdul cepat. "Kalau begitu, sore ini juga setelah jam kerja proyek selesai, saya sendiri yang akan datang ke rumah Pak RT dan ke kantor kelurahan buat ngurus seluruh berkas perizinan yang kurang. Soal keluhan warga tentang kebisingan dan kompensasi getaran, saya juga gak bakal lepas tangan, Pak."

Abdul meraba kantongnya, mengeluarkan ponselnya sejenak untuk memeriksa sesuatu, lalu kembali menatap Pak RT. "Pak RT, saya mau titip amanah. Ini ada uang tunai operasional untuk kas sosial RT. Tolong gunain uang ini buat dibagikan sebagai bentuk kompensasi permisi kepada sepuluh kepala keluarga yang rumahnya paling dekat dengan proyek ini. Bilang ke mereka, mohon maaf kalau siang hari jam istirahatnya agak terganggu suara mesin."

Abdul menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu yang cukup tebal ke tangan Pak RT. Selain itu, ia juga menunjuk ke arah tumpukan kardus di sudut gubuk.

"Dan itu, Cak Imron sudah nyiapin bingkisan kopi, gula, sama camilan buat dibagikan ke warga sekitar proyek sore nanti sebagai bentuk permisi dari kami, Pak," tambah Abdul.

Pak RT menatap bungkusan uang di tangannya, lalu beralih menatap bingkisan sembako ringan di sudut gubuk. Rasa kagum dan luluh seketika menggantikan sisa-sisa ketegasan di wajah paruh bayanya.

Jarang sekali ada pengusaha muda yang begitu peka, royal, dan langsung bertanggung jawab penuh tanpa banyak drama ketika ditegur masalah administrasi.

"Ya Allah, Abdul... kamu ini bener-bener luar biasa tanggung jawabnya," ujar Pak RT sambil tersenyum lebar dan menepuk bahu Abdul dengan ramah.

"Kalau kamunya kooperatif dan pengertian begini sama warga, urusan berkas di kelurahan biar saya yang bantu kawal nanti sore. Kamu tinggal bawa KTP sama tanda tangan aja ke rumah saya. Masalah kompensasi dan bingkisan ini, biar saya sendiri yang bagikan ke warga nanti sore biar mereka paham."

"Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak RT. Mohon bimbingannya terus ya," ucap Abdul sambil menjabat tangan Pak RT dengan takzim.

"Sama-sama, Dul. Ya sudah, kalau begitu proyeknya silakan dilanjutin lagi. Saya permisi dulu mau balik ke kelurahan," kata Pak RT yang kini melangkah pergi dari lokasi proyek dengan wajah yang sangat semringah dan puas.

Cak Imron langsung mengembuskan napas lega yang sangat panjang setelah Pak RT menghilang di tikungan jalan.

"Huft... selamet, selamet! Untung kamu langsung sat-set pakai cara halus begitu, Dul. Kalau gak, urusan perizinan begini bisa bikin proyek kita mandek berminggu-minggu di kelurahan."

Abdul hanya tertawa kecil, berjalan kembali ke arah pohon mangga untuk mengambil air minum.

"Urusan legalitas itu nomor satu, Cak. Kita mau cari duit di sini buat jangka panjang, jadi sebisa mungkin jangan sampai ada ganjalan hukum atau bikin tetangga sekitar merasa gak nyaman. Yang penting sekarang administrasi udah aman, yuk kita kejar target pasang atap workshop-nya!"

1
Ahmadi 241215
udah tau nama nya rizki.masih nanya dasar tolol,di cari di kampus nama rizki.kan udah tau wajahnya.klo bikin cerita pakai otak,kalo gak punya otak,ke rumah sakit jiwa aja anjing
irawan muhdi
lanjut Thor
Farhat Syahada
mantapp up truss
BaekTae Byun
buset gw kira ini tentang sistem santai atau sesuai dengan judul ternyata ngga
Arrofy: ini baru awal perjalanan, ikutin terus perjalanan Abdul, akan banyak kejutan di bab2 selanjutnya😍
total 1 replies
Gege
bilang begene biar argo rumah sakit jalan terus.. kalo cepet sembuh rumah sakit kehilangan ATM berjalannya...🤣
Arrofy: hehehe🤣🤣🤣
total 1 replies
Pur Yono
bagus Dull sudah punya uang tetapp baik hati sama teman yang kesulitan👍
Pur Yono
cerdas kamu thor lanjut kembangkan kreatifitasmu
Pur Yono
upterus👍
Pur Yono
author pintar menyesuaikan cerita dengan situasi dan kondisi jaman sekarang upterus💪
Pur Yono
alur ceritanya santai mudah diikuti lanjut👍
Junior Ian
insprative novel 👍👍
Arrofy: terimakasih ya😍
total 1 replies
irawan muhdi
lanjut Thor
Arrofy: di tunggu ya/Chuckle/
total 1 replies
Gege
naaaah novel tema system yang ringan, enak dibaca modelan begene yang bikin hiburan lengkap... Yoo gass thor 10k kata tiap update..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!