NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: RAHASIA DI BALIK RUANG TERAPI

Setelah makan malam yang penuh ketegangan dengan Tuan Lorenzo, villa itu seolah tertidur dalam kelelahan emosional.

Matteo telah pergi satu jam yang lalu, Marcello mengatakan ada "urusan mendesak" di kantor pusat. Memberikan Alesha kesempatan emas yang sudah ia nantikan.

Dengan jantung yang berdegup kencang, Alesha kembali menuruni tangga melingkar itu.

Kali ini, ia tidak membawa senter kecil, ia sudah menghafal letak saklar lampu redup di lorong.

Aroma antiseptik dan besi masih menggantung di udara, namun kali ini ada aroma lain yang tercium, aroma keringat dan usaha yang keras.

Alesha mendorong pintu laboratorium rahasia itu. Ruangan itu tampak sunyi, hanya diterangi oleh lampu indikator dari mesin-mesin medis yang berkedip hijau seperti mata monster yang sedang mengintai.

Ia melangkah masuk lebih dalam, melewati meja-meja yang dipenuhi botol kimia, menuju ke bagian belakang ruangan yang sebelumnya tertutup tirai berat.

Saat ia menyibakkan tirai itu, napasnya tertahan.

Di sana, di tengah ruang yang luas, berdiri sebuah alat mekanis yang menyerupai exoskeleton atau penyangga tubuh robotik.

Alat itu dihubungkan dengan serangkaian beban dan katrol. Namun, yang membuat bulu kuduk Alesha berdiri bukanlah kecanggihan alatnya, melainkan bukti penggunaannya.

Di bawah alat penyangga itu, lantai kayu yang biasanya mengilap kini dipenuhi bekas goresan dalam, bekas sepatu yang dipaksa menapak dengan beban berat.

Alesha mendekat dan menyentuh palang besi pegangan di samping alat itu.

Besinya masih terasa hangat.

"Seseorang sedang berlatih di sini," bisiknya pada keheningan.

"Bukan sekadar terapi saraf... tapi latihan fisik intensif."

Insting detektifnya menuntunnya ke sebuah meja kayu kecil di sudut ruangan.

Meja itu memiliki satu laci yang tidak terkunci sempurna. Sifat sembrono Alesha tidak membiarkannya ragu, ia menarik laci itu hingga terbuka sepenuhnya.

Di dalamnya terdapat catatan medis dalam bahasa Jerman yang sulit ia pahami, namun matanya tertuju pada sebuah map hitam tipis.

Saat ia membukanya, sebuah foto meluncur keluar.

Itu adalah foto Kiara.

Foto itu diambil secara diam-diam dari jarak jauh.

Kiara tampak sedang tertawa di sebuah kafe di Milan, terlihat cantik dan tanpa beban.

Namun, pemandangan itu membuat perut Alesha mulas. Di atas wajah kakaknya, seseorang telah menarik tanda silang besar dengan tinta merah yang tajam, hingga tinta itu merobek permukaan kertas foto tersebut.

Di bawah foto itu, tertulis sebuah tanggal, tanggal yang sama dengan hari kecelakaan Matteo.

Alesha merasakan dingin menjalar ke tulang belakangnya.

Mengapa Matteo, atau siapa pun di rumah ini menyimpan foto Kiara dengan tanda kebencian sehebat itu? Apakah Matteo tahu sesuatu tentang hilangnya Kiara yang tidak diketahui keluarga mereka? Ataukah Kiara adalah bagian dari alasan mengapa Matteo berakhir di kursi roda itu?

Kursi roda itu bukan satu-satunya topeng yang dia pakai.

Kata-kata Luca bergema di kepalanya. Alesha segera menyadari bahwa ia tidak sedang berurusan dengan seorang pria cacat yang malang, melainkan dengan seorang pria yang sedang memupuk dendam sedalam lautan dan melatih tubuhnya untuk menjadi senjata kembali.

Tiba-tiba, deg!

Suara dengung pelan dari mesin-mesin di ruangan itu mati seketika. Lampu indikator hijau yang tadi berkedip kini padam.

Ruangan itu jatuh ke dalam kegelapan total yang mencekam. Alesha membeku, tangannya masih mencengkeram foto Kiara.

Srak... Srak...

Bukan suara motor listrik dari kursi roda. Bukan suara gesekan roda karet di atas lantai batu.

Itu adalah suara langkah kaki.Berat. Tegas. Dan berirama.

Tap. Tap. Tap.

Suara itu datang dari arah pintu masuk, bergema di lorong yang sempit. Setiap langkahnya terdengar penuh tenaga, seolah sang pemilik kaki sedang menapakkan kakinya ke bumi dengan kekuatan yang tak terbantahkan.

Alesha menahan napasnya hingga dadanya terasa sakit.

Ia mencoba merapat ke dinding, namun dalam kegelapan itu, ia kehilangan arah.

Suara langkah kaki itu berhenti tepat di ambang pintu ruangan.

Keheningan yang mengikuti setelahnya terasa jauh lebih menakutkan daripada suara langkah itu sendiri.

Aroma antiseptik di ruangan itu tiba-tiba tersapu oleh aroma yang sangat akrab bagi Alesha.

Aroma kayu cendana, tembakau mahal, dan dinginnya malam Roma.

Aroma Matteo.

Alesha bisa merasakan hawa panas dari tubuh seseorang yang berdiri tepat di belakangnya.

Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa mendengar deru napas yang teratur, napas seorang pria yang baru saja melakukan aktivitas fisik berat, bukan napas seorang pasien yang lemah.

"Sudah kubilang, Alesha," suara itu terdengar sangat rendah, tepat di telinganya.

Suara itu tidak datang dari bawah, dari posisi seseorang yang duduk di kursi roda, melainkan dari atas.

Dari ketinggian seorang pria yang berdiri tegak.

"Keingintahuan bisa membunuhmu di rumah ini."

Sebuah tangan besar, kasar, dan panas mendarat di bahu Alesha, mencengkeramnya dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang.

Alesha ingin berteriak, ingin berontak, namun lidahnya seolah kelu.

Di dalam kegelapan yang pekat itu, Alesha menyadari satu kebenaran yang mengerikan, Suaminya tidak pernah lumpuh.

Atau setidaknya, dia tidak lagi lumpuh. Dan pria itu baru saja menangkapnya sedang memegang bukti kebenciannya pada kakaknya.

"Kau melihatnya, bukan?" Matteo berbisik lagi, kali ini tangannya bergerak perlahan dari bahu Alesha menuju lehernya, jari-jarinya yang kuat menyentuh nadinya yang berdenyut kencang.

"Kau melihat tanda silang itu."

"Matteo... kau bisa berjalan," suara Alesha gemetar, sebuah pengakuan yang akhirnya terlontar.

"Aku bisa melakukan jauh lebih banyak daripada sekadar berjalan, sayangku," desis Matteo.

Tiba-tiba, lampu ruangan menyala kembali dengan satu sentakan listrik yang keras.

Cahayanya menyilaukan mata Alesha selama beberapa detik.

Saat penglihatannya kembali jernih, ia perlahan memutar tubuhnya.

Matteo berdiri di sana. Tanpa kursi roda.

Ia berdiri tegak dengan tinggi hampir 190 sentimeter, menjulang di atas Alesha.

Ia mengenakan kaus hitam ketat yang basah oleh keringat, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang keras dan terlatih.

Matanya yang kelabu tidak lagi tampak dingin dan pasif, matanya berkilat dengan intensitas predator yang baru saja menemukan mangsanya di tempat yang salah.

Matteo menatap foto Kiara yang masih ada di tangan Alesha, lalu kembali menatap mata istrinya.

"Sekarang kau tahu rahasianya," Matteo melangkah maju satu langkah, memaksa Alesha mundur hingga punggungnya menabrak meja medis.

"Pertanyaannya adalah... apakah kau akan menjadi bagian dari rencanaku, atau kau akan berakhir dengan tanda silang yang sama seperti kakakmu?"

Alesha menelan ludah.

Rasa takutnya mulai berganti dengan amarah dan adrenalin yang meledak.

Ia melempar foto Kiara ke dada Matteo.

"Jangan mengancamku dengan kursi roda atau tanpa kursi roda, Matteo!" bentak Alesha, meskipun suaranya masih sedikit serak.

"Jika kau ingin membunuhku, lakukan sekarang. Tapi jangan harap aku akan diam saja melihatmu menjadi monster yang bersembunyi di balik selimut pasien!"

Matteo tertegun sejenak melihat ledakan bar-bar Alesha yang tak terduga di tengah situasi ini.

Ia justru menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang tampak sangat berbahaya sekaligus... mempesona.

Ia mengulurkan tangannya, membelai pipi Alesha dengan punggung jarinya yang masih panas.

"Kau benar-benar tidak punya rasa takut, ya?" gumam Matteo.

"Itulah alasan kenapa aku belum membunuhmu sejak malam pertama kita."

Ia kemudian membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa milimeter dari wajah Alesha.

"Selamat datang di dunia yang sebenarnya, Alesha. Sekarang, permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai."

1
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!