NovelToon NovelToon
Marwah Yang Ternoda

Marwah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--

"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--

Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.

Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.

Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.

Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17 Sindrom Cauvade

Keheningan merayap turun begitu Bi Jayanti, Hanif, dan Nadia melangkah pergi, meninggalkan dua insan yang kini sama-sama terdiam membisu di bawah atap teras rumah joglo.

Sunyi.

Hanya terdengar embusan napas berat yang saling bersahutan, diiringi suara desau lembut sang bayu yang bertiup pelan.

Dalam diamnya, Sukma tiada henti merapal asma Tuhan-nya. Ia memohon limpahan kekuatan serta kefasihan lisan untuk mengutarakan kemalangan yang telah menimpa hidupnya.

"Sukma... Ummi rindu sekali padamu. Beliau menitipkan salam hangat untukmu," ucap Ustaz Reinan memecah kesunyian, berusaha kembali membangun obrolan yang sempat terjeda beberapa saat lalu.

"Ummi teramat berharap kamu tetap menganggap beliau sebagai ibumu sendiri. Beliau juga sangat berharap, kamu berkenan untuk menerima niat suci yang pernah saya utarakan empat bulan lalu," lanjutnya sembari menatap lurus ke arah bunga mawar putih yang bermekaran di halaman depan.

Sukma meraup pasokan udara dalam-dalam, berusaha sekuat tenaga mengempas rasa sesak yang kian menghimpit rongga dadanya.

"Ustaz... Maaf... Dengan berat hati, saya tidak bisa menerima niat suci Ustaz," tutur Sukma dengan suara yang bergetar hebat. "Saya sungguh tidak pantas menjadi wanita yang dimuliakan oleh sosok lelaki sesaleh Ustaz Reinan. Saya juga tidak pantas menjadi putri dari seorang ibu sebaik Ummi Kulsum."

Sukma menjeda kalimatnya sejenak. Ia membiarkan air matanya luruh bebas melintasi pipi, jatuh membasahi kain jilbab putih yang membalut rikma indahnya.

"Saya... kotor, Ustaz. Kesucian saya sudah ternoda."

Deg!

Rahang Ustaz Reinan seketika mengeras. Kedua belah tangannya mengepal dengan sangat kuat di sisi tubuh. Pengakuan menyakitkan yang baru saja lolos dari bibir Sukma benar-benar menghantam telak dadanya, meremukkan segumpal daging yang bersemayam di dalam sana.

"Kamu pasti tahu, zina... perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah, tapi kenapa kamu melakukannya, Sukma?" tanya Ustaz Reinan dengan nada suara yang bergetar, mati-matian menahan gelombang amarah yang mendadak membakar batinnya.

Sukma menggelengkan kepalanya dengan cepat diiringi isak tangis yang sudah tidak kuasa lagi ditahannya.

"Saya... dinodai, Ustaz. Dia menghancurkan marwah saya tanpa ampun," ujar Sukma terbata-bata sebelum akhirnya kembali tergugu. Bahu dan seluruh tubuhnya berguncang hebat akibat hantaman trauma yang mendadak kembali menyeruak.

"Allah..." Ustaz Reinan berbisik lirih sembari memejamkan kedua matanya erat-erat. Ia kian menguatkan kepalan tangannya, sekuat tenaga menahan bibirnya agar tidak meloloskan kata-kata kotor dan makian kasar yang nyaris meledak.

"Siapa yang sudah tega melakukan hal nista itu kepadamu, Sukma? Katakan kepada saya. Saya sendiri yang akan menyeret lelaki jahanam itu ke penjara!" tuntut Ustaz Reinan, suaranya kian bergetar menahan amarah yang meluap.

Namun, Sukma kembali menggelengkan kepala dalam isaknya. "Tolong... saya mohon jangan seret dia ke penjara, Ustaz. Saya tidak ingin semua orang mengetahui aib ini. Saya tidak ingin mereka menghakimi dan memandang hina diri saya. Saya... saya belum siap menghadapi tatapan-tatapan penuh benci dan mendengar cacian dari mereka."

Sukma menarik napasnya yang terasa putus-putus, menatap nanar ke arah mawar putih di halaman depan dan menyeka wajahnya yang basah.

"Saya sudah ikhlas menerima goresan takdir ini. Saya rida... jika seumur hidup saya harus hidup tanpa pernah mencicipi cinta dari sosok seorang suami."

Ustaz Reinan mengembuskan napas kasar. Ia menatap sendu ke arah wanita malang yang duduk di seberangnya dengan hati yang remuk redam tanpa sisa.

Perlahan, lelaki berparas rupawan itu mengendurkan kepalan tangannya. Kemudian mengalihkan kembali atensinya pada bunga mawar putih yang tengah bergoyang ditiup angin di halaman depan. Tepat di hadapan tatapannya, kelopak dari bunga suci itu patah, lalu luruh dan layu ke tanah. Seolah pasrah pada garis takdir yang telah dikehendaki oleh Ilahi, sama seperti Sukma--wanita yang dicinta.

"Sukma," panggil Ustaz Reinan lirih, suaranya kini terdengar jauh lebih tenang namun sarat akan ketegasan. "Insya Allah, saya akan menuruti permintaanmu untuk tidak menyeret lelaki jahanam yang telah tega menghancurkan marwahmu itu ke jalur hukum. Tapi, tolong, beri tahu saya satu hal... siapa dia? Apa mungkin, dia adalah lelaki yang sempat saya temui di depan gerbang rumahmu beberapa pekan lalu? Lelaki yang berpakaian seperti preman jalanan dan mengendarai sepeda motor sport berwarna biru metalik?"

Sukma seketika membeku di tempat duduknya. Pasokan udara di sekitarnya seolah mendadak lenyap.

Tak salah lagi, ciri-ciri lelaki yang baru saja disebutkan oleh Ustaz Reinan adalah Xavier Narendra Aditama--makhluk keji yang telah tega menodai kesuciannya, menghancurkan marwahnya tanpa sisa, serta mendorong hidupnya jatuh ke dalam lembah nestapa yang teramat dalam.

.

.

Sementara itu, di belahan bumi yang lain, tepatnya di dalam kamar mewah kediaman keluarga Aditama, matahari pagi bersinar tanpa mampu memberikan kehangatan bagi Xavier Narendra Aditama.

Sudah beberapa minggu ini, Xavier merasakan ada sesuatu yang teramat aneh dan berbeda dengan kondisi tubuhnya sendiri. Setiap kali terbangun di pagi hari, ia selalu didera rasa mual yang teramat menyiksa.

Nafsu makannya merosot drastis hingga membuat bobot tubuhnya menyusut, dan yang paling menyebalkan, indra penciumannya mendadak menjadi teramat sensitif terhadap bau-bauan tertentu.

Aroma parfum maskulin bermerek yang selama ini menjadi favoritnya, kini justru tercium bagai aroma busuk yang teramat pekat. Wangi itu selalu sukses membuat isi perutnya teraduk hebat hingga terkuras habis di wastafel kamar mandi.

"Damn!" umpat Xavier kasar.

Dengan napas yang memburu dan sisa rasa mual di kerongkongan, ia melempar botol parfum mahal pemberian sang kekasih tepat ke arah keranjang sampah di sudut kamarnya hingga menimbulkan bunyi dentang yang nyaring.

"Sebenernya... gue ini sakit apa?" monolog Xavier frustrasi.

Ia melangkah mendekat ke arah cermin besar, menatap lurus pada pantulan wajahnya sendiri. Sepasang matanya tampak sayu, wajahnya pucat pasi, dan gurat-gurat kelelahan terpahat begitu jelas di sana. Sosok di dalam cermin itu benar-benar terlihat seperti bukan dirinya yang dikenal sebagai The Unbeatable atau pemimpin geng yang tak terkalahkan.

"Kenapa tiap kali periksa ke rumah sakit, dokter-dokter sialan itu selalu bilang kalau gue nggak kenapa-napa? Shit!" umpatnya lagi sembari mencengkeram pinggiran wastafel dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Ck, apa semua ini gara-gara gue jarang bisa tidur nyenyak?" monolog Xavier, berusaha mencari pembenaran logis atas kondisi fisiknya yang kian melemah. Ia membuang napas kasar, mencoba mengusir rasa pening yang mendadak mendera pelipisnya.

Namun, di balik semua penyangkalan fisik itu, Xavier tahu betul ada satu nama yang menjadi akar dari segala penyakit batinnya. Nama milik seorang wanita yang selama dua bulan ini menghilang bak ditelan bumi.

"Kinan... lo sekarang ada di mana?" rintih Xavier, suaranya pecah diliputi rasa bersalah yang teramat dalam. Tiba-tiba saja ia rindu aroma tubuh wanita malang yang dinodainya itu. "Gue beneran minta maaf... Gue menyesal setengah mati. Gue bahkan bakal rela bersimpuh dan bersujud di kaki lo hari ini juga kalau lo ada di depan gue. Tapi... maaf, Kinan... gue nggak akan pernah bisa kalau harus nikahin lo buat nebus dosa besar yang udah gue lakuin. Gue nggak bisa karena gue nggak mau ngehancurin hidup Gea. Gue nggak mau ngebunuh gadis yang gue cintai."

Pertahanan fisik Xavier akhirnya runtuh. Tubuh tegapnya meluruh perlahan ke lantai. Ia duduk bersandar pada dinding kamarnya yang dingin, menekuk kedua lutut, dan menatap nanar ke arah langit-langit kamar yang sunyi.

Nalurinya sebagai seorang Narendra yang menjunjung tinggi harga diri seolah terus-menerus menuntutnya untuk menebus dosa keji yang telah ia lakukan, dengan cara bertanggung jawab sepenuhnya--tak terkecuali menikahi Sukma untuk mengembalikan marwah wanita itu.

Namun, di sisi lain, sebagai seorang kekasih yang telanjur mengikat janji cinta untuk selalu menjaga setia pada Gea, Xavier terpaksa memilih jalan menjadi seorang lelaki pengecut. Lelaki yang pada akhirnya hanya bisa memohon maaf lewat ritual bersimpuh yang sia-sia di dalam angan.

"God, please help me. What am I supposed to do to face all of this?" (Tuhan, tolong aku. Apa yang harus kulakukan untuk menghadapi semua ini?) rintih Xavier pilu sembari menyugar rambutnya dengan kasar akibat rasa frustrasi yang kian menghimpit dadanya tanpa ampun.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
mom riz
suka ceritanya
Ayuwidia: Terima kasih banyak, Kak 😇🙏🏻
total 1 replies
partini
aamiin bismillah jadi juara
Ayuwidia: Terima kasih banyak, Kak 😍🙏🏻
total 1 replies
Nofi Kahza
Yups! betul. sekrng bukan waktunya mencari siapa yg salah, tapi intropeksi diri.

btw dr awal kamu kan yg salah?
Nofi Kahza
udahlah, Pir. Meski Gea nggak tau juga ujung2nya meninggal. justru Geaitu harus diberi tahu, biar dosamu segera ditebus.😒
Najwa Aini
Gak semuanya salah kamu, Nara. ajal seseorang itu sudah ditetapkan dari zaman azali
partini
ga lah lebih baik Gea tau secara itu perbuatan dosa besar si kafir Gea juga kondisi kesehatan nya udah ga memungkin hidup lama
memperkosa loh ga main" itu
Najwa Aini
Nah ini..kalimat Tara yg aku suka dari sejak bab Ryuga...
Najwa Aini: Iya paham..
total 2 replies
Najwa Aini
Si kakak Partini itu kah..yg selalu nagih dibuatin kisah Xavier ya
Ayuwidia: Bukan, Kak. Kak Erida yg dulu katanya nungguin, tapi belum aku colek. Kak Partini, pembacanya Nyai
total 3 replies
Najwa Aini
Kalau di kisah Rama ada Bi Ijah. Di sini ada Bi jayanti.
The Power of bibi bibi🌹🌹
Ayuwidia: Sungkem buat mereka 😍
total 1 replies
Najwa Aini
Aku yg baca juga pingin ngakak..
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
Ayuwidia: Ada2 gajah 😆
total 1 replies
Najwa Aini
frontal amat
partini
dasar kamu kafir punya pacar pengertian kamu biadab ,,waktu merangkak minta maaf ke Sukma
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier
Ayuwidia: Semoga ya, Kak 😁
total 1 replies
Nofi Kahza
gea soalnya hapal dg karakter Sapir yang batu😒
Ayuwidia: bener banget
total 1 replies
Nofi Kahza
kebiasaan tuman! emosi didahuluin dr pada otak😒
Ayuwidia: Namanya juga Sapir 😃😆
total 1 replies
Nofi Kahza
biasanya ada yng mau terkena musibah, atau ada yang meninggal...tapi tetep takdir itu kembali dg Yang di atas🥹
Nofi Kahza
biasalah.. bawa'an orang ngidam mang gitu. Senggol bacok🤣
Ayuwidia: Gampang Esmoni 😆
total 1 replies
Nofi Kahza
tapi janinmu nggak hina Sukma🥹
Nofi Kahza
baguuusss😏
Nofi Kahza
masih ingusan aja, sok2an mau jadi pembunuh😒
partini
wasiat Gea suruh nikahi Sukma bearti dia tau apa yg di lakukan vier ke Sukma ,,bikin jungkir balik dulu dunia vier Thor baru Sukma lovely doply ❤️ sama sukma
Ayuwidia: Iyes, Kak. Biar dia terpacu berjuang buat ngeluluhin hati Sukma ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!