Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Laura sudah berdiri di depan cermin kecil dekat pintu belakang. Ia memastikan rambutnya rapi, tas tergenggam pas di bahu, dan map biru terselip aman di dalam tas. Penampilannya sederhana, profesional tidak mencolok, tapi jelas bukan gaya santai pembantu rumah.
Begitu pintu hendak dibuka, suara langkah kaki terdengar dari arah ruang makan.
“Laura.”
Langkah Laura terhenti. Ia menghela napas pendek, lalu berbalik dengan ekspresi netral. Ratna berdiri beberapa langkah darinya, tangan bersedekap, sorot matanya penuh selidik.
“Mau ke mana pagi-pagi begini?” tanya Ratna datar.
Laura tersenyum tipis.
“Keluar sebentar, Bu Ratna.”
“Keluar ke mana?” Ratna melirik tas dan sepatu tertutup yang dikenakan Laura. “Dan mau ngapain?”
Nada itu bukan sekadar bertanya melainkan menginterogasi.
Laura sudah memperkirakan momen ini. Ia tidak terlihat gugup. Justru ia melangkah satu langkah mendekat, seolah tidak ada yang disembunyikan.
“Saya mau ketemu teman,” jawabnya ringan. “Ada titipan yang harus saya serahkan.”
Ratna menaikkan alis. “Teman?”
“Iya.”
Ratna memandangi Laura dari ujung kepala sampai ujung kaki tanpa sungkan. “Kalau cuma ketemu teman, kenapa berpakaian terlalu formal?”
Laura menunduk sebentar, seolah mempertimbangkan jawabannya, lalu kembali menatap Ratna dengan tenang.
“Karena teman saya anak kantoran,” katanya. “Dan saya harus menyesuaikan penampilan dengan tempat yang akan saya datangi.”
Jawaban itu terdengar wajar. Terlalu wajar.
Ratna terdiam beberapa detik. Ia menimbang-nimbang. Tatapannya kembali mengarah pada tas Laura, seolah berharap menemukan celah.
“Kamu jarang keluar rumah,” ujar Ratna akhirnya. “Tiba-tiba rapi begini, siapa pun pasti curiga.”
Laura tersenyum kecil. “Saya juga manusia, Bu. Sesekali punya urusan pribadi.”
Ratna mendengus pelan. “Jangan macam-macam.”
Laura mengangguk sopan. “Tentu.”
Ia melangkah melewati Ratna tanpa terburu-buru. Ketika pintu hampir tertutup, Ratna masih berdiri di tempat, matanya menyipit, pikirannya bekerja keras.
"Tidak mungkin juga dia ke kantor Pak Haikal," batin Ratna akhirnya. Pembantu mana berani datang ke sana?
Namun rasa tidak enak itu tetap ada.
Tak lama setelah Laura pergi, Ratna sudah berada di kamarnya. Ponselnya menempel di telinga, suaranya dibuat serendah mungkin.
“Nyonya,” katanya, “Laura barusan keluar rumah.”
Suara Amara terdengar dari seberang. “Keluar ke mana?”
“Katanya mau ketemu teman,” jawab Ratna cepat. “Tapi saya curiga, Nyonya. Penampilannya terlalu rapi untuk sekadar bertemu teman.”
“Teman apa?” tanya Amara tajam.
“Katanya anak kantoran,” Ratna menambahkan bumbu pada ceritanya. “Tapi entah kenapa firasat saya tidak enak. Gadis itu terlalu pintar menyusun alasan.”
Di ujung sana, Amara terdiam beberapa saat.
“Kamu yakin dia tidak ke kantor Haikal?” tanya Amara akhirnya.
Ratna ragu sejenak, lalu menjawab, “Seharusnya tidak, Nyonya. Tidak masuk akal. Tapi tetap saja… saya akan terus awasi geraknya.”
“Baik,” ujar Amara dingin. “Jangan lengah. Gadis itu tidak sesederhana yang kita kira.”
Panggilan terputus.
Ratna menurunkan ponsel, menatap pintu dengan rahang mengeras.
"Akan saya ikuti dan kita lihat kemana sebenarnya gadis itu."
Sementara itu, jauh dari rumah itu, Laura duduk di dalam taksi dengan punggung tegak dan wajah tenang. Map biru ada di pangkuannya.
Ia tersenyum tipis sambil menatap keluar jendela.
"Mereka mencurigai aku." pikirnya.
Tapi mereka tetap selangkah di belakang. Dan permainan itu baru saja dimulai.
Ia menghela napas pelan, lalu meraih ponselnya.
Tanpa ragu, Laura menekan nama Haikal.
Panggilan tersambung dengan cepat.
“Pak,” ucap Laura begitu sambungan terbuka.
Suaranya dijaga tetap tenang, meski di baliknya ada ketegangan yang tertahan.
“Saya tidak mungkin mengantarkan berkas itu ke kantor Bapak.”
Di seberang sana, Haikal terdiam sesaat. “Kenapa?”
“Bu Ratna dan Nyonya Amara sudah mencurigai saya,” jawab Laura lugas. “Saya yakin mereka sudah mengirim orang untuk memperhatikan pergerakan saya. Kalau saya muncul di kantor Bapak sekarang, itu hanya akan memperjelas kecurigaan mereka.”
Nada Laura tidak terdengar mengeluh. Ia berbicara seperti seseorang yang sedang menyampaikan analisis risiko.
Haikal bersandar di kursinya, memutar badan menghadap jendela besar ruang kerja. Kota tampak sibuk di bawah sana, sementara pikirannya tertahan pada satu nama.
“Kamu yakin mereka sejauh itu?” tanyanya.
“Saya yakin,” jawab Laura singkat. “Dan saya tidak ingin posisi Bapak ikut terseret.” ucap Laura beralasan.
Hening beberapa detik menyusul. Laura bisa membayangkan Haikal sedang menimbang—antara kehati-hatian dan kebutuhan untuk tetap mengendalikan situasi.
Tak lama kemudian, ponsel Laura berbunyi. Sebuah pesan masuk.
Ia membukanya.
"Saya kirim alamat. Datang ke sana saja.."
Laura mengernyit pelan. “Ke mana, Pak?”
“Restoran,” jawab Haikal melalui sambungan yang kembali aktif. “Ada ruangan private room. Aman. Tidak sembarang orang bisa masuk.”
Laura membaca alamat yang muncul di layar. Sebuah nama restoran kelas atas tempat yang sering disebut dalam lingkaran bisnis elit, bukan tempat makan biasa.
“Di sana hanya orang tertentu yang bisa memesan ruangan privat, bahkan harga perjam untuk ruangan nya saja bisa jutaan diluar menu.” lanjut Haikal. “Saya langganan. Biasanya saya pakai tempat itu untuk meeting dengan klien penting dari luar negeri.”
Laura terdiam sejenak. Ia paham betul arti dari pilihan itu.
Bukan sekadar tempat.
Melainkan kepercayaan.
Belum sempat ia menjawab, sebuah notifikasi baru muncul. Kali ini berupa foto.
Laura membuka gambar itu.
Sebuah kartu akses desainnya sangat mewah dan elegan, dengan nomor khusus tertera di bagian bawah.
“Ini kartu akses ruangan,” kata Haikal. “Tunjukkan nomornya ke penjaga restoran. Mereka akan langsung arahkan kamu.”
Laura menatap foto itu lebih lama dari yang ia sadari.
“Baik, Pak,” ucapnya akhirnya. “Saya ke sana sekarang.”
Panggilan ditutup.
Laura menurunkan ponselnya, menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Hatinya terasa sedikit lebih ringan—bukan karena masalahnya berkurang, melainkan karena ia berhasil memindahkan permainan ke wilayah yang ia inginkan.
Ia menatap sopir lewat kaca spion.
“Pak, ke alamat ini ya.”
Sopir mengangguk. “Siap, Mbak.”
Mobil berbelok ke arah kawasan elit kota.
Sementara itu, di kantor, Haikal masih berdiri di dekat jendela. Tangannya menggenggam ponsel, pikirannya penuh.
Ia tahu restoran itu.
Ia tahu aturannya.
Dan ia tahu, dengan mengundang Laura ke sana, ia sedang membuka pintu yang sebelumnya selalu ia jaga tertutup rapat.
“Kenapa jadi sejauh ini…” gumamnya pelan.
Namun keputusan sudah dibuat.
Di sisi lain kota, Laura menatap pantulan wajahnya di kaca jendela taksi. Sorot matanya tenang—nyaris dingin.
"Mereka boleh mengawasi," batinnya. "Tapi mereka tidak tahu ke mana aku pergi.
Dan itu saja sudah cukup untuk membuatnya selangkah lebih unggul."
Mobil yang ditumpangi Laura berhenti tepat di depan sebuah bangunan berarsitektur modern dengan dominasi kaca gelap dan batu alam. Tidak ada papan nama mencolok hanya logo kecil berwarna emas di dinding, nyaris tak terlihat bagi orang awam.
Laura turun dengan langkah tenang.
Dari luar, restoran itu tampak seperti gedung perkantoran eksklusif. Tidak ramai. Tidak berisik. Namun justru di situlah letak kelasnya. Dua pria bersetelan hitam berdiri di sisi pintu masuk, postur tegap, sorot mata waspada.
Laura melangkah mendekat.
“Selamat pagi, Mbak,” sapa salah satu petugas keamanan dengan nada profesional.
“Ada reservasi?”
Laura mengangguk kecil. “Private room. Atas nama Haikal.”
Petugas itu tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan sedikit, isyarat agar Laura menunggu, sementara petugas lain mendekat dengan sebuah tablet kecil.
“Kartu akses, Mbak.”
Laura mengeluarkan ponselnya, membuka galeri, lalu memperlihatkan foto kartu akses yang dikirim Haikal. Nomor di sudut bawah tampak jelas.
Petugas itu menatap layar ponsel Laura, lalu mencocokkannya dengan data di tabletnya. Wajahnya berubah, bukan terkejut, tapi langsung serius.
“Baik, Mbak,” katanya sopan. “Silakan masuk.”