Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Denger Semua 08
Klak
Ceklek
Pagi-pagi sekali, Laras sudah keluar dari rumah. Ia mengunci pintu rumahnya dengan rapat. Sejenak dia berhenti, menatap rumah itu setelah memundurkan kakinya sebanyak lima langkah.
Fyuuuuh
Laras membuang nafasnya kasar. Ia mulai merasa tidak nyaman tinggal di rumah itu, karena disitulah semua kenangan tentang Reza berada.
Semakin lama, Laras semakin sesak. Setiap sudut dalam rumah menyimpan cerita tentangnya, Reza dan juga anak yang dikandungnya.
"Aku harus jual rumah ini. Bu Ratna, Pak Hendrik dan semua warga di sini memang baik, tapi aku nggak sanggup untuk terus berada di rumah ini. Kalau aku ingin waras, aku harus meninggalkan rumah ini secepat mungkin,"ucap Laras lirih.
Kali ini Laras akan pergi mencari pekerjaan lagi. Wanita itu sekarang sudah jauh lebih stabil ketimbang sebelum-sebelumnya.
Laras juga tak lagi suka melamun. Jika dia punya waktu senggang maka dia akan mencari lowongan pekerjaan dan beribadah demi kesehatan jiwa dan raganya.
"Anehnya, kenapa waktu itu aku bodoh banget bisa dibodohi sama si sialan Reza. Haah, cinta emang buta," gumamnya lirih.
Laras kembali mengingat bagaimana ketika Reza datang ke kotanya. Sebuah pertemuan tidak sengaja terjadi antara dirinya dan Reza.
Saat itu hari sudah malam, Laras menemukan Reza yang tengah berdiri di sisi mobilnya. Pria itu tampak kesulitan karena mobilnya yang mogok.
Reza yang datang untuk urusan pekerjaan di kota tersebut tentu sedikit kebingungan mencari bengkel karena sudah malam.
"Ada apa, Mas? Apa butuh bantuan?"
Siapa sangka tawaran Laras untuk membantu Reza waktu itu membawanya pada hubungan yang sejauh ini sampai gerbang pernikahan. Tidak ada yang aneh sebelumnya, semua sangat baik dan pernikahan mereka lancar. Ibu dari Reza juga sangat senang bertemu dengannya.
Laras melihat betapa Reza mencintainya. Perlakuan lembut dan manis itu memang sangat melenakan Laras. Meski jarang bertemu Rini, namun Rini kerap sekali menelpon saat ada Reza dan menanyakan kabarnya. Sangat bahagia sekali Laras memiliki suami dan mertua yang baik.
Ia juga dengan senang hati mengikuti Reza ke kota besar ini. Apalagi ayahnya meninggal setelah dua bulan dirinya menikah. Bagi Laras, Reza benar-benar segalanya.
"Haah bodohnya aku. Ternyata semua itu sudah masuk dalam skenarionya. Reza, dia udah punya istri. Dan aku sepenuhnya hanya dijadikan mesin pencetak anak buat dia dan istrinya. Pak, aku jadi kangen sama Bapak. Andai Bapak tahu aku begini, pasti beliau sedih sekali. Maafin aku, Pak."
Tanpa terasa air mata Laras kembali luruh. Dia yang saat ini berjalan kaki dari rumah menuju ke jalan raya seolah memang sedang memikirkan tentang segala hal yang dirasakannya itu.
"Ras, kamu kenapa?"
Eh?
Laras terkejut mendengar suara yang tak asing itu. Suara pria yang kemarin baru ditemuinya lagi, entah mengapa ada di sini sekarang.
"Loh Bang, kok Abang di sini?" tanya Laras, dia dengan cepat menyapu air mata yang membasahi pipi.
"Aku dari kemarin tuh kepikiran sama kamu. Kamu kan sedang cari kerja, coba sini lamaran kamu. Siapa tahu di perusahaan Appa ku sedang butuh karyawan juga yang sesuai dengan lulusan kamu. Seingat aku, kamu juga berkuliah kan dulu?"
Laras menganggukkan kepala. Ia juga memberikan map berwarna coklat yang bersisi lamaran.
Meskipun demikian, dia tetap merasa heran dengan keberadaan Hajoon di sini, dan sudah berapa lama pria itu berjalan di belakangnya.
"Bang, apa Abang udah di belakang aku dari tadi?" pertanyaan Laras menyelidik. Bukan apa-apa, dia hanya malu jika ucapan tentang betapa bodohnya dia di dengar oleh Hajoon.
"Ehm iya udah dari tadi. Maaf nggak langsung manggil kamu. Karena kamu sepertinya lagi sibuk sama pikiran kamu. Jadi, aku mutusin buat diam aja dan ngikutin kamu. Dan maaf, aku nggak sengaja denger semua yang kamu ucapin."
Degh!
Kluk!
Laras seketika itu menundukkan kepalanya. Dadanya berdebar hebat. Rasa malu menguar memenuhi dirinya.
Ya dia sangat malu, karena dirinya yang begitu bodoh.
"Ras, k-kamu nangis lagi? Ma-maafin aku ya, aku benerin nggak bermaksud nguping,"ucap Hajoon dengan sedikit terbata. Dia merasa bingung sekarang melihat air mata Laras yang kembali merembes itu.
"Nggak Bang. Abang nggak perlu minta maaf, bukan salah Abang juga. Aku kayak gini karena perasaanku yang lagi nggak karuan,"ucap Laras. Ia sangat malu sekarang ini karena tiba-tiba kembali menangis di depan orang yang hanya sekedar kenalan.
"Tu-tunggu sini ya. Jangan kemana-mana,"ucap Hajoon. Pria itu berlari dengan cepat entah pergi kemana. Dan Laras, dia tidak menuruti ucapan Hajoon untuk menunggu. Laras memilih kembali berjalan terus ke depan menuju jalan raya. Saat ini ia ingin menyusuri jalan untuk menguapkan semua perasaannya yang tidak karuan.
Bruuum
"Haah, dia tidak nurut. Tapi aku yakin dia belum jauh."
Hajoon menjalankan mobilnya sedikit lebih lambat sambil matanya melihat ke kanan dan ke kiri. Namun Hajoon tidak mendapati keberadaan Laras. Terang saja ia mulai khawatir. Namun Hajoon bernafas lega ketika menemukan sosok Laras. Sesuai dugaannya, bahwa Laras belumlah jauh dari tempat terakhir mereka tadi bersama.
"Ras, ayo masuk,"ucap Hajoon. Dia menepikan mobilnya tapi masih belum turun dari mobil dan hanya membuka pintu samping.
"Nggak usah, Bang. Bang Joon pasti sibuk, aku nggak mau ngrepotin Abang. Aku emang mau jalan-jalan sebentar lagi aja,"sahut Laras.
Tapi Hajoon jelas tidak tinggal diam. Ini adalah kota besar, ia merasa kondisi psikis Laras sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Jika dibiarkan berjalan sendiri, Hajoon khawatir Laras akan jadi sasaran orang jahat.
Ia pun segera turun dari mobil. Dengan mengucapkan maaf, Hajoon menarik tangan Laras dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Kamu dalam situasi yang nggak baik buat jalan-jalan. Maaf kalau aku agak maksa dikit. Sekarang kamu ikut aku saja. Tenangkan dulu pikiran kamu oke?" ucap Hajoon.
Laras tidak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya, menurut.
Bukan berarti Laras mudah sekali dibawa oleh orang. Tapi entah mengapa Laras merasa tenang dengan munculnya Hajoon. Hatinya berkata bahwa Hajoon bukanlah orang yang jahat.
Meski Laras mengenal Hajoon hanya saat pria itu KKN, tapi Laras yakin bahwa Hajoon memiliki kepribadian yang baik.
Mobil melaju pergi, bergerak dari jalan yang tadi ke jalan lainnya. Pagi hari di ibu kota tentunya sangat sibuk sehingga lalu lintas sedikit padat.
Hajoon melirik ke samping, ternyata Laras tidur. Saat ini dia sedikit bingung mau membawa Laras kemana. Tidak mungkin untuk membawa Laras ke perusahaan dengan kondisi seperti ini. Alhasil, Hajoon putar arah. Dia tidak jadi pergi ke kantor dan memilih untuk kembali ke rumah.
Ckiit
"Ras, Laras."
Hajoon mencoba membangunkan Laras ketika sampai di kediaman Brajamusti. Tapi Laras seperti orang pingsan dan tak kunjung bangun meski dia sudah menggoyangkan tubuh wanita itu.
Akhirnya keputusan pun dibuat. Hajoon turun dari mobil terlebih dahulu. Berjalan memutari mobil, membuka pintu samping lalu mengangkat tubuh Laras dan membawanya masuk ke rumah.
"Maaf ya Ras, aku gendong kamu tanpa persetujuan,"ucap Hajoon lirih.
Dia segera lebih cepat untuk masuk ke rumah. Dan apa yang terjadi, tatapan mata nyalang dari kedua orang tuanya tertuju padanya.
"Apa yang kamu lakukin Hajoon Albra Brajamusti?"
Jeeeeeeeeng
TBC