NovelToon NovelToon
THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

THE LAST SUNRISE

Echoes of Light: Before the Sky Turns Red

Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.

Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.

Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: SINYAL HANTU

Langit Neo-Solara tidak pernah benar-benar gelap. Kubah energi raksasa yang melindungi kota dari radiasi luar selalu memancarkan cahaya buatan—biru cerah di siang hari, ungu lembut dan menenangkan di malam hari. Itu adalah kenyamanan konstan, janji stabilitas yang tak tergoyahkan selama dua puluh tahun terakhir. Warga kota telah belajar untuk tidak lagi melihat ke atas dengan rasa takut, melainkan dengan rasa aman yang palsu. Mereka percaya bahwa sistem itu sempurna. Mereka percaya bahwa kubah itu abadi.

Hingga detik itu.

Bzzzt.

Suara statis pendek, tajam, dan mengiris telinga terdengar serentak di seluruh penjuru kota, seolah-olah alam semesta sendiri baru saja tersandung kabel listriknya. Lampu jalan di Sektor Utama berkedip sekali, lalu mati total selama tiga detik penuh. Di dalam kegelapan yang tiba-tiba dan menakutkan itu, jutaan warga menahan napas. Suara kendaraan hover berhenti mendadak, menyebabkan kemacetan udara yang kacau. Lalu, lampu menyala kembali. Tapi warnanya berubah. Bukan biru atau ungu yang menenangkan, melainkan merah pudar, berdenyut lemah seperti darah encer yang diencerkan dengan air. Cahaya merah itu membuat wajah-wajah orang di jalanan terlihat pucat dan sakit, mengubah kota futuristik yang megah menjadi panggung film horor murah.

Di Markas Delta-7, kekacauan meledak seketika, lebih cepat daripada virus komputer mana pun.

"Komunikasi putus! Saya kehilangan kontak dengan Pos Utara!" teriak seorang operator komunikasi, suaranya pecah karena panik.

"Sistem navigasi drone error! Mereka terbang tanpa arah, menabrak gedung-gedung!"

"Server utama... ada anomali data masuk. Jumlahnya masif. Ini bukan serangan DDoS biasa! Protokol keamanan level 5 jebol dalam hitungan detik!"

Raka, yang sedang membersihkan magnum lasernya di ruang istirahat lantai dua, merasakan getaran aneh merambat melalui sol sepatunya. Bukan gempa bumi. Getaran itu halus, frekuensinya tinggi, seperti dengungan listrik bertegangan tinggi yang merambat langsung melalui tulang dan saraf. Insting prajuritnya, yang telah diasah melalui berbagai misi berbahaya, menjerit keras di kepalanya: Bahaya. Ini bukan serangan fisik. Ini sesuatu yang lebih buruk.

Dia melemparkan kain pembersih senjatanya, berlari menuju Ruang Kontrol Pusat. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena firasat buruk yang mencekam. Saat pintu geser logam terbuka dengan desisan hidrolik, pemandangan di dalamnya membuat darahnya membeku sejenak.

Seluruh layar hologram besar di dinding ruangan, yang biasanya menampilkan peta kota real-time, status misi, dan data cuaca, kini rusak total. Layar-layar itu dipenuhi oleh lautan kode-kode biner yang bergulir cepat, berwarna hijau neon yang menyakitkan mata jika ditatap terlalu lama. Di tengah-tengah lautan angka acak itu, ada pola berulang yang terbentuk secara algoritmik, membentuk siluet-siluet manusia yang sedang menjerit tanpa suara. Siluet-siluet itu tampak seperti sedang ditarik ke dalam kegelapan digital, tangan-tangan mereka terulur seolah meminta tolong.

Dan di tengah ruangan, duduk sendirian di depan konsol terminal utama yang paling canggih, adalah Kai.

Anak jenius itu tampak sangat berbeda dari sosok Kai yang biasa mereka kenal. Biasanya, Kai mengetik dengan gerakan jari yang anggun, hampir seperti seorang pianis virtuoso yang memainkan simfoni kompleks, wajahnya datar, tenang, dan penuh konsentrasi dingin. Tapi kali ini? Jari-jarinya menghantam keyboard mekanis dengan kasar dan brutal, kuku-kukunya seolah ingin memecahkan tombol-tombol plastik itu hingga hancur. Napasnya tersengal-sengal, pendek, cepat, dan dangkal, seperti orang yang baru saja lari maraton. Keringat dingin membasahi rambut hitamnya yang biasanya rapi disisir ke belakang, membuatnya lepek dan menempel di dahi yang pucat pasi.

Tangannya gemetar hebat. Bukan gemetar karena kelelahan otot atau kafein berlebih, tapi gemetar karena teror murni yang mengguncang jiwanya.

"Kai!" panggil Raka, suaranya lantang namun berusaha tetap tenang. Dia mendekat dengan langkah hati-hati, menghindari kabel-kabel berserakan di lantai. "Apa yang terjadi? Apakah ini serangan dari 'The Void'? Apakah mereka berhasil menyusup?"

Kai tidak menoleh. Matanya terpaku pada layar monitor ganda di depannya, pupilnya melebar hingga nyaris menutupi seluruh iris cokelatnya, menciptakan tatapan kosong yang mengerikan. Dia bergumam pada dirinya sendiri, suaranya parau, tercekat, dan terputus-putus.

"Bukan... bukan mereka... pola enkripsinya... ini tanda tangan lama... algoritma kuno... Project Mind..."

Raka berhenti tepat di belakang kursi Kai. Dia melihat kode-kode di layar lebih dekat. Ada baris perintah yang berulang-ulang dengan frekuensi yang mengganggu: RETURN TO SOURCE. RETURN TO VOID. JOIN US. WE ARE WAITING, KAI.

"Project Mind?" Raka mengerutkan kening dalam-dalam. Nama itu terd asing baginya, belum pernah dia dengar dalam briefing misi manapun. Namun, nada suara Kai saat mengucapkannya penuh dengan rasa sakit yang begitu dalam, begitu pribadi, hingga Raka bisa merasakan beratnya beban itu di udara sekitarnya.

Tiba-tiba, Kai menekan tombol Enter dengan kekuatan penuh, telapak tangannya membanting meja konsol. Layar berkedip merah darah, lalu menampilkan peta jaringan saraf kota Neo-Solara. Sebuah titik merah pekat berdenyut di pusat server utama, menyebar dengan cepat seperti noda tinta hitam yang dijatuhkan ke dalam air jernih, mencemari setiap sektor.

"Itu virus," bisik Kai, suaranya bergetar hebat, hampir seperti rengekan anak kecil. "Tapi bukan virus komputer biasa yang merusak data. Ini... ini virus memori. Seseorang, atau sesuatu, sedang menyuntikkan kenangan traumatis mentah ke dalam sistem kesadaran kolektif kota. Orang-orang di luar sana... mereka mulai melihat hal-hal yang tidak ada. Mereka mulai mengingat trauma masa lalu mereka dengan intensitas yang menyiksa. Kota ini sedang bermimpi buruk massal, Rak."

Raka meletakkan tangannya di bahu Kai. Tubuh anak itu kaku seperti batu granit, dingin menusuk tulang meski suhu ruangan dijaga tetap hangat oleh sistem HVAC.

"Kai, dengarkan aku. Kamu harus tenang. Tarik napas. Kita butuh kamu untuk melacak sumber sinyal ini sebelum seluruh kota lumpuh total."

Kai perlahan menoleh. Wajahnya pucat pasi, bibirnya biru karena sirkulasi darah yang terganggu akibat stres ekstrem. Ada air mata yang mengalir diam-diam di pipinya, membasahi kerah seragamnya, tapi ekspresinya kosong, hampa, seolah jiwanya sudah separuh pergi ke tempat lain.

"Aku tidak bisa melacaknya, Rak," katanya pelan, suaranya datar namun penuh keputusasaan. "Karena aku tahu siapa pemilik sinyal ini. Aku tahu frekuensi rasa sakitnya."

"Siapa?" tanya Raka, hatinya mulai terasa berat.

Kai menelan ludah, tenggorokannya bergerak susah payah seolah menelan kaca pecah. "Mereka... teman-temanku. Dari dulu. Dari masa lalu yang kubuang. Sebelum Aurora. Sebelum kalian menyelamatkanku."

Sebelum Raka bisa bertanya lebih lanjut tentang masa lalu misterius Kai itu, lampu-lampu di langit-langit Ruang Kontrol berkedip lagi. Kali ini, kedipannya lebih lama dan lebih agresif. Gelap total. Lima detik. Sepuluh detik. Lima belas detik. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan, hanya terdengar suara napas Kai yang semakin cepat dan panik.

Dalam kegelapan pekat itu, Raka mendengar suara Kai menangis. Tangisan kecil, tertahan, tercekik, yang terdengar jauh lebih menyedihkan dan memilukan daripada teriakan perang mana pun yang pernah mereka dengar di medan tempur.

Lampu menyala kembali dengan kilatan putih yang menyilaukan. Kai masih duduk di sana, tapi sekarang dia memegang kepalanya erat-erat dengan kedua tangan, jari-jarinya mencengkeram rambutnya sendiri hingga akar-akarnya sakit.

"Mereka memanggilku," desis Kai, matanya liar menatap sudut ruangan yang kosong. "Mereka bilang... sepi di sana. Dingin. Tidak ada rasa sakit jika kita bergabung. Mereka bilang... ayo pulang, Kai. Ayo tidur selamanya bersama kami."

Raka merasa bulu kuduknya berdiri. Rasa dingin yang bukan berasal dari suhu ruangan merayap naik dari kakinya. Dia menatap sahabatnya, melihat keretakan besar di topeng ketenangan dan sinisme yang selama ini dipakai Kai sebagai perisai. Selama ini, Kai selalu menjadi yang paling logis, paling rasional, paling jauh dari emosi yang meledak-ledak. Tapi sekarang, dia terlihat seperti anak kecil yang tersesat di hutan gelap tanpa ujung, dikelilingi oleh bayangan-bayangan masa lalu yang hanya bisa dia lihat dan rasakan.

Raka berjongkok di samping kursi Kai, memaksa teman kecilnya itu untuk menatap matanya. Dia menggenggam pergelangan tangan Kai yang gemetar hebat, mencoba mengalihkan fokusnya dari layar horor digital itu, mencoba menariknya kembali ke dunia nyata.

"Hei," kata Raka lembut, namun dengan ketegasan baja. "Kai, lihat aku. Fokus padaku. Kamu oke? Kamu kelihatan seperti melihat hantu."

Kai terdiam sebentar, dadanya naik turun dengan cepat. Matanya yang kosong dan liar perlahan聚焦 (fokus) pada wajah Raka. Untuk sesaat yang singkat, ada kilatan pengenalan, lalu diikuti oleh kesedihan yang begitu tua, begitu dalam, dan begitu lelah hingga membuat dada Raka sesak napas.

Kai tersenyum tipis, sebuah senyum yang pahit, getir, dan penuh kepahitan hidup.

"Hantu..." gumamnya, suaranya hampir tak terdengar di antara dengungan server yang semakin keras dan alarm yang mulai meraung di kejauhan. "Ya... mungkin benar, Rak. Mungkin hantu-hantu itu akhirnya menemukan jalannya pulang. Dan mereka marah karena aku meninggalkan mereka sendirian di kegelapan."

Tiba-tiba, alarm darurat tingkat tertinggi berbunyi nyaring, memekakkan telinga, menggema di seluruh koridor markas.

PERINGATAN KRITIS! GANGGUAN NEURAL TERDETEKSI PADA PERSONEL MARKAS!

SEKTOR 4 MELAPORKAN HALUSINASI MASSAL DAN KEJANG SARAF!

SISTEM KEAMANAN INTERNAL MENGALAMI KORUPSI DATA TOTAL!

Kai menjerit pendek, tubuhnya kejang hebat di kursinya. Matanya membelalak, menatap ke sudut ruangan yang kosong, seolah melihat sosok-sosok tak kasat mata berdiri di sana, mengepungnya.

"Mereka di sini!" teriak Kai, panik luar biasa, berusaha melepaskan diri dari genggaman Raka. "Mereka datang untuk mengambilku! Mereka ingin aku kembali ke server!"

Raka segera memeluk Kai dari belakang, menahan tubuh kecil itu yang berjuang dengan kekuatan putus asa. "Tidak ada siapa-siapa di sini, Kai! Hanya aku! Lihat aku! Hanya aku, Raka! Kamu aman!"

Tapi Kai tidak mendengarnya. Dia terus berjuang, matanya liar, napasnya memburu hingga hiperventilasi. Di layar monitor di depannya, kode-kode hijau berubah menjadi merah darah pekat, membentuk wajah-wajah yang menjerit—wajah-wajah anak-anak yang Raka tidak kenal, tapi yang jelas-jelas dikenal oleh Kai dengan intimasi yang menyakitkan.

Badai sesungguhnya telah dimulai. Dan kali ini, musuh tidak menyerang dari luar tembok kota dengan senjata laser atau monster mutan. Musuh sudah ada di dalam kepala salah satu dari mereka, menggerogoti kewarasan dari dalam.

Raka menggenggam Kai lebih erat, menyadari dengan ngeri bahwa pertempuran terbesar mereka baru saja dimulai. Pertempuran untuk menyelamatkan jiwa sahabatnya dari kuburan digital masa lalunya yang kelam.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!