Dihari ulang tahun pernikahannya yang ke 3 tahun, Cahaya harus terkejut melihat perselingkuhan Fery dengan wanita lain yang masih satu rekan kerja dengan suaminya.
Karena patah hatinya ia mengajak sahabatnya untuk minum dan menginap dihotel, namun sahabatnya tak bisa menemaninya karena adiknya tak ada yang menemani dirumah.
Kejadian tak terduga dihotel ia tak sengaja bertemu pria asing yang dalam keadaan sakit, karena berpikir itu adalah suaminya yang mengejarnya akhirnya ia mengajaknya bermalam dalam keadaan mabuk.
Namun saat pagi menjelang, Cahaya baru sadar bahwa yang tidur bersamanya itu bukanlah suaminya tapi pria yang terkenal berkuasa dan galak dikantornya.
apa yang harus cahaya lakukan?
kabur kah?? atau ...???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bos rasa suami.
Keesokan paginya ...
Saat Cahaya tengah menggosok gigi, ia tak sengaja melihat ruam merah dilehernya dari pantulan kaca cermin. Sejenak ia menghentikan aktivitasnya, lalu melebarkan piamanya agar ruam itu terlihat jelas. Ternyata ruam itu tak hanya satu tapi ada tiga dengan berbeda tempat, namun masih dileher.
"Apa ini ulah serangga?" pikirnya karena ia merasa tak melakukan hubungan intim sama sekali.
Semalam kondisi lehernya baik saja, pagi ini sudah begitu. Ia pun mengabaikannya lalu melanjutkan aktivitasnya sebelum akhirnya pergi ke kantor.
Diruang makan, Rayyan sudah menunggunya. Ia berjalan menghampirinya dan duduk ditempatnya seperti biasa. Bukannya dia yang melayani bosnya, namun hampir setiap hari justru Rayyan yang melayaninya bak ratu.
Pria itu mengambilkan roti yang sudah ia lapisi dengan selai nanas, lalu menaruhnya dipiring Cahaya. Ia juga menaruh susu tepat didepan wanita itu, mungkin niatnya biar gampang.
Wanita itu juga mulai terbiasa dengan sikap Rayyan dirumah, yang kadang-kadang dingin, hangat dan juga aneh.
"Pak Amir, boleh aku minta bantuan?" tanya Cahaya pada kepala asisten rumah tersebut.
"Bantuan apa? Aku juga bisa melakukan apapun," Rayyan yang menyahutnya dengan nada ketus, ia kesal karena Cahaya lebih meminta bantuan pada orang lain ketimbang dirinya.
"Anu, diranjangku sepertinya ada serangga." Cahaya memamerkan lehernya yang ada ruam aneh.
"Lihatlah! Leherku banyak ruam seperti gigitan," ujar Cahaya dengan polosnya menunjukkan satu persatu gigitan aneh itu.
Pak Amir hanya tersenyum melihatnya.
Sedangkan Rayyan yang melihatnya langsung tersedak, ia terbatuk-batuk mendengar keluhan wanita itu. Padahal itu adalah ulahnya semalam, karena Cahaya mengigau dan menyebut namanya. Pria itu tak bisa menahan diri, hingga mengecap leher wanita itu sebanyak tiga kali.
Sebenarnya lebih dari itu, sebelumnya ia sudah meraup bibir wanita itu dengan liar.
Cahaya bangun, oh tentu tidak!
Wanita itu tak sadar sama sekali saking lelapnya, membuat Rayyan menang banyak semalam. Tapi saat keluar dari kamar Cahaya, ia ketahuan oleh pak Amir. Tentu salah tingkah pun ia rasakan.
Dan karena kepala asisten itu sangat pengertian jadi ia bungkam.
Rayyan melirik kepala asisten rumah itu, "Pak Amir, ganti alas tidurnya. Mungkin serangganya sangat besar," ujarnya yang kemudian menelan ludahnya sendiri.
"Baik, tuan. Akan saya ganti segera," sahut pak Amir.
"Oh, iya. Besok hari minggu, jangan lupa kita ada pameran lukisan," ungkap Rayya mengingatkan.
Cahaya lupa tentang itu, sialnya Yumi tak bisa membantunya. Satu-satunya cara agar tak ikut, mungkin harus pura-pura sakit. Cahaya menyentuh perutnya lalu mengaduh meringis kesakitan.
"Aku baru datang bulan, rasanya sakit. Apa boleh aku tak ikut? Masih ada asisten Chandra kan," ucap Cahaya, tapi ia tak bohong. Tadi pagi memang baru datang tamu bulanannya itu, bohongnya tidak sakit sama sekali.
Ia menghembuskan nafas, berharap bisa membuatnya lega. Jujur ia tak mau ke Galeri tama.
Namun ia salah.
Rayyan mulai panik, ia menatap Cahaya dengan muka cemas. "Apa sangat sakit?" tanyanya.
"Mulas banget dan kadang pusing, tapi itu wajar kok," jawab Cahaya dengan pelan, karena ini memang pura-pura sakit.
"Kalau begitu kamu gak usah ke kantor. Ayo! Aku antar kamu istirahat," ucap Rayyan berdiri dan mendekati Cahaya.
"Pak Amir, hubungi Dokter Ariana sekalian Chandra secepatnya," titah Rayyan pada pria paruh tersebut.
Pak Amir pergi usai dapat perintah.
Sementara Cahaya mulai bingung, bukan seperti ini yang ia inginkan. Namun semua serasa percuma, suasananya sudah seperti ia sedang sakit parah saja.
Rasanya benar-benar lebay.
Tubuh Cahaya melayang dalam gendongan Rayyan, membuat wanita itu kikuk dan hanya bisa menatap wajah tampan bosnya. Jangan tanya, jantungnya sudah bermaraton dengan mudah padahal cuma digendong.
Rayyan melangkah membawanya ke lift untuk menuju kamar, tegang dan cemas memenuhi pikirannya. Baginya sekecil apapun rasa sakit Cahaya itu tetap akan melukai hatinya.
Kini wanita itulah yang tak nyaman sama sekali karena ia yang mengeluh sakit, yang panik satu rumah.
^
"Bagaimana keadaannya?" tanya Rayyan dengan wajah serius, pada dokter wanita yang sudah memeriksa keadaan Cahaya.
Wanita itu cukup telaten, setiap detail ia periksa. Sambil sesekali melihat wajah dan gerak-gerik pasangan itu. Meski ada rasa penasaran tentang siapa dia, namun dokter Ariana menahan diri untuk diam.
Dari sikap Rayyan, seharusnya ia sudah paham siapa Cahaya.
"Ini menstruasi hari pertama, gejalanya memang begitu. Tapi ia baik-baik saja, nanti tinggal minum obatnya agar gejalanya lebih ringan," jawab Dokter Ariana sambil menuliskan sesuatu disebuah buku kecil yang selalu dibawanya.
Rayyan mengangguk seolah paham saja. Ia menyelimuti Cahaya yang tengah terbaring diatas ranjang, dengan penuh perhatian dan senyum yang selalu menghiasinya.
Ia juga mengompres perut bawah wanita itu tanpa ragu, tapi yang ragu malah Cahaya sendiri.
"Tuan, saya baik-baik saja. Anda bisa pergi ke kantor sekarang," ujar Cahaya mengusirnya dengan lembut.
"Kau mengusirku?" tanya Rayyan penuh prasangka.
"Tidak, aku cuma ...." Cahaya kehilangan kata dalam sekejap saat mata tajam Rayyan mengunci pandangannya.
Mata Cahaya melirik pada asisten Chandra, ia sudah tahu kalau hari ini bosnya akan sibuk karena ada rapat penting.
"Tuan Rayyan, hari ini ada rapat penting dengan group Bei. Mari kita pergi!" ajak Chandra yang mulai bersuara.
Rayyan menatap Chandra dengan tajam, ia tak suka disaat seperti ini diganggu dengan masalah pekerjaan. Ia hanya ingin menjadi satu-satunya orang yang berada disamping Cahaya disaat ia rapuh. Sebagai penjaga, pelindung dan juga penyemangat.
Tentu ia tak ingin membuang setiap kesempatan untuk menunjukan kepeduliannya pada wanita itu.
Rayyan kembali menatap Cahaya, tapi dengan wajah biasa. "Baiklah, aku akan pergi!" ujarnya.
Akan pergi, tapi tangannya sibuk membulak-balikkan kompresan diperut Cahaya yang tertutup kain tebal, membuat wanita itu tak nyaman. Didepan mereka ada tiga orang yang berdiri menatap ke arah mereka, tentu saja ia merasa canggung.
"Tuan, aku bisa melakukannya sendiri," ucap Cahaya tersenyum paksa, merebut dan mendiamkan kompresan diperutnya.
"Kenapa? Apa kau malu? Bukankah kita sudah tidur bareng, hal seperti ini aku juga bisa melakukannya," ungkap Rayyan tanpa tahu malu, ia seakan sengaja mengatakan itu.
Mata Cahaya mengarah pada tiga orang yang terlihat seperti nyamuk. Chandra, Ariana dan pak Amir hanya menatap mereka dengan mata yang membulat. Entah apa yang mereka pikirkan, tapi mampu membuat Cahaya makin gak karuan gak nyamannya.
Attitude bosnya emang nol besar, ini mah.
"Rayyan!" pekik Cahaya tak bisa menahan sikap bosnya lagi.
Rayyan terdiam mendengar panggilan Cahaya, tangannya kaku seakan dibungkam oleh mulut wanita itu. Untuk pertama kalinya ia dipanggil nama saja tanpa panggilan tuan atau bapak, tapi ia suka dipanggil seakrab ini.
"Mereka melihatnya, apa kau tak malu?" ujar Cahaya menggigit bibir bawahnya.
Rayyan melihat tiga manusia itu, mereka mematung, membeku dan tak bersuara. Tapi mata mereka seperti cctv berjalan, mungkin akan jadi gosip.
"Apa yang kalian lihat? Cepat pergi!" usir Rayyan dengan tegas.
Pak Amir pergi lebih dulu setelah membungkuk. Sedangkan Ariana masih mematung, rasanya ia tak percaya melihat dan mendengar sikap Rayyan hanya demi wanita itu.
Tapi asistennya segera menarik tangan ibu dokter, mengajaknya keluar dari kamar tersebut.
Diluar kamar, Ariana melepaskan pegangan tangan Chandra dengan kasar. Ia masih bingung dan dipenuhi tanda tanya soal Cahaya.
"Asisten Chan, siapa Cahaya itu? Pacarnya atau siapanya?" tanya Dokter Ariana bertubi-tubi, matanya tajam dengan alis bertaut.
"Mereka itu ... seperti bos tapi terasa seperti suami. Benar itu pepatahnya," jawab Chandra berbasa-basi.
Ia tahu Ariana cemburu.
"Apa maksudmu? Perempuan itu sudah menikah dan dia menggoda Rayyan, iya?" tanya dokter Ariana dengan geramnya dan menuduh Cahaya sebagai pelakor.
"Dengar! Bos kita hanya mencintai wanita itu, dari dulu sampai sekarang. Aku saran kan, dokter Ariana untuk mundur!" ujar Chandra membungkamnya.
Kepalanya mendekat ke arah dokter wanita itu, ingin membisikkan sesuatu.
"Dia cinta mati, sangat cinta mati!" tegas Chandra tepat ditelinga Ariana.
Ariana diam, ia menatap pintu yang tertutup rapat itu. Sudah melihatnya, sudah tahu sikapnya, tapi hatinya masih berusaha menyangkalnya.
Tangannya mengepal, merasakan gemuruh api yang membakar cintanya. Mereka adalah teman masa kuliah diluar negri dan ia sudah menunggunya sejak lama.
"Tak bisa dibiarkan!" gumam Ariana dalam hati.