"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"
Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.
Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: HARGA SEBUAH PENGHINAAN
Mobil SUV hitam itu melaju membelah kemacetan Jakarta yang kacau karena hujan badai. Di dalam kabin yang kedap suara, Arka duduk bersandar, menatap butiran air yang meluncur di kaca jendela. Pikirannya tidak berada di jalanan protokol yang padat, melainkan pada kilasan ingatan tentang seorang anak kecil yang dulu sering tertawa saat ia gendong di bahunya.
"Gusti Arka," suara Jenderal Wironegoro memecah keheningan. "Tim kami telah mengunci koordinat Maya di Singapura. Dia hidup mewah dengan uang hasil 'kesepakatan' busuk itu. Namun... anak Anda..."
Wironegoro ragu sejenak. "Dafa sering ditinggalkan bersama pengasuh di apartemen pinggiran. Dia sering bertanya kapan Ayahnya datang menjemput."
Rahang Arka mengeras. Arus energi ungu di pergelangan tangannya berdenyut, membuat suhu di dalam mobil mendadak turun beberapa derajat. Namun di balik kekuatan itu, tangannya yang terkepal gemetar hebat. Ada rasa perih yang lebih tajam dari sekadar pengkhianatan, rasa bersalah.
BRAKK!
Konsol tengah mobil itu retak seketika saat tinju Arka menghantamnya. Aura ungu pekat menyelimuti kabin, membuat suhu turun hingga ke titik beku.
"Pastikan dia tidak kurang satu apa pun," desis Arka. Suaranya dingin, namun ada getaran perih di sana. "Aku ingin Maya melihatku menjemput Dafa dengan tangan yang sudah bersih dari kutukan kemiskinan yang dia benci."
"Sendika dawuh, Gusti," jawab Wironegoro sambil membungkuk kecil.
***
Sementara itu, di aula Hotel Grand Atma...
Suasana pesta telah berubah menjadi pemakaman mental. Siska mematung di lobi, menatap kosong ke jalanan tempat iring-iringan SUV Arka menghilang.
Musik klasik masih mengalun, namun tak ada yang mendengarkan. Semua mata tertuju pada Siska, Ratna, dan Nenek Lastri yang masih mematung di lobi hotel.
"Siska! Apa-apaan ini?! Siapa Arka sebenarnya?" teriak Ratna dengan suara gemetar.
Siska tidak menjawab. Kakinya lemas, lantai marmer hotel yang mewah itu terasa seperti menyedot seluruh tenaganya.
Ia baru tersadar, selama setahun ini, Arka menerima semua makian mereka bukan karena dia lemah, tapi karena mereka memang tidak cukup penting untuk dibalas.
DENG!
Ponsel Siska bergetar hebat. Kabar buruk meledak satu per satu.
"Siska! Saham kita anjlok! Kredit bank dibekukan!" teriak Ratna panik. "Siapa Nirwana Nusantara Foundation ini?! Kenapa mereka menghancurkan kita dalam satu detik?!"
Siska menjatuhkan ponselnya hingga layarnya retak seribu. Ia teringat pesan terakhir Arka. Arka tidak menyerang mereka dengan senjata; dia hanya berhenti menjadi 'debu' yang selama ini diam-diam menopang kejayaan keluarga Adiningrat.
"Aku... aku telah membuang seekor naga hanya untuk membela harga diri yang semu," bisik Siska lemas.
***
SUV hitam itu berhenti di depan sebuah gedung tua terbengkalai di pinggiran Jakarta, bekas bioskop tempat Arka dulu mencari recehan sebagai kru YouTube horor.
Arka melangkah masuk. Bau apek dan debu menyambutnya. Di depan layar yang sudah robek, sosok kakek berambut putih muncul. Tidak ada kabut dramatis kali ini, sosok itu hadir seperti bagian dari bayangan yang sudah lama menunggu.
"Kau sudah bangun dari tidurmu, Cah Bagus," ucap sang Kakek.
"Aku muak dengan semua ini, Eyang. Menjadi kuat ternyata lebih melelahkan daripada menjadi miskin," aku Arka jujur.
Sang Kakek terkekeh pelan, meletakkan tangannya di pundak Arka. "Itu karena kau masih membawa api dendammu. Ingat pesan nenek penari: Dadi o ibu sing iso ngayomi. Seorang Satria Piningit bukan hanya penghancur, tapi pelindung. Matahari tidak perlu membuktikan apa pun pada lampu jalanan."
Kakek itu memberikan sebuah cahaya keemasan yang memadat menjadi gulungan ghaib di otak Arka. "Carilah Reyna Viyanita di Kota Batu. Dia adalah rahim dari masa depan Nusantara. Tanpanya, kekuatanmu hanya akan menjadi senjata pemusnah."
***
Arka keluar dari gedung bioskop dengan tatapan yang lebih fokus. "Wironegoro, batalkan semua pertemuan bisnis. Kita berangkat ke Jawa Timur. Kota Batu."
"Baik, Gusti. Bagaimana dengan Siska? Dia terus mengirim pesan, memohon untuk bertemu."
Arka mengeluarkan ponselnya, melihat puluhan panggilan tak terjawab. Ia mengetik satu pesan terakhir:
"Siska, dulu aku mencuci sepatumu dengan tulus. Sekarang, cucilah dosamu sendiri. Perusahaanmu hancur bukan karena aku, tapi karena kesombonganmu. Jangan cari aku lagi. Kita selesai."
BLOCK.
Arka mem-block nomor Siska dan tidak menoleh lagi.
Di lereng Gunung Panderman, seorang wanita cantik bernama Reyna Viyanita menatap langit malam yang mendadak cerah. Hatinya bergetar tanpa alasan.
Di lereng Gunung Panderman, seorang wanita bernama Reyna Viyanita menatap langit malam yang mulai cerah. Ia tidak tahu siapa Arka, tapi hatinya bergetar pelan.
"Anginnya berubah," bisik Reyna. "Seseorang yang besar... sedang pulang."