Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.
Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.
Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Pengakuan Di Balik Pintu Kamar
Bel pulang sekolah berbunyi. Bagi Cinta, bunyi bel itu adalah tanda berakhirnya sebuah hari yang penuh dengan tekanan batin. Ia membereskan bukunya dengan gerakan super cepat, bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah kursi di sebelahnya. Ia bisa merasakan keberadaan Rian di sana, namun ia memilih untuk menjadi sepotong kayu yang mati rasa.
"Cin! Aku jadi menginap ya." Sarah muncul di depan meja Cinta, sudah menggendong tasnya dengan semangat.
Cinta mengangguk cepat. "Yasudah ayok, kita berangkat sekarang sebelum angkotnya penuh."
Cinta sengaja tidak berpamitan pada Rian. Ia langsung menarik tangan Sarah keluar kelas, mengabaikan tatapan Rian yang seolah ingin menahan langkahnya. Di dalam angkot yang berguncang menyusuri jalanan pesisir, Cinta lebih banyak diam. Ia menatap ke luar jendela, melihat deburan ombak yang tampak tenang, sangat kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam dadanya.
Sesampainya di rumah, Mamah menyambut mereka dengan hangat. Aroma masakan rumahan langsung menusuk hidung, memberikan sedikit rasa nyaman yang sudah lama tidak Cinta rasakan sejak pagi tadi.
"Eh, ada Sarah. Mau menginap ya?" tanya Mamah sambil tersenyum.
"Iya, Tante. Mau numpang makan enak juga," jawab Sarah jahil, membuat Mamah tertawa.
Setelah makan malam dan membantu Mamah mencuci piring, kedua gadis itu segera naik ke kamar Cinta. Sarah langsung merebahkan diri di atas kasur Cinta yang empuk, sementara Cinta duduk di meja belajar, menatap layar laptopnya yang masih mati.
"Oke, Cinta. Sekarang jujur padaku," Sarah tiba-tiba duduk tegak, menatap Cinta dengan mata yang menyelidik. "Seharian ini kamu aneh sekali. Kabur-kaburan dari Rian, mukamu merah terus, dan sekarang kamu diam seribu bahasa. Ada apa?"
Cinta menghela napas panjang. Ia memutar kursinya menghadap Sarah. "Sar... aku bingung."
"Bingung kenapa? Soal tugas sekolah?"
"Bukan," Cinta menggeleng. Ia terdiam sejenak, merangkai kata-kata yang selama ini hanya ia simpan dalam draf novel pribadinya.
"Sar... sepertinya aku benar-benar mulai suka sama Rian."
Hening sejenak. Sarah melotot, lalu sebuah pekikan kecil keluar dari mulutnya. "Tuh kan! Aku sudah duga! Tidak mungkin sekretaris kelas yang sedingin es ini bisa berubah jadi tomat kalau tidak ada apa-apa. Akhirnya kamu mengaku juga, Cin!"
"Tapi ini tidak mudah, Sar," potong Cinta cepat, wajahnya kembali muram.
"Kemarin sore... saat kami mau pulang, ada cewek yang datang menemui Rian di depan gerbang."
Sarah mengerutkan kening. "Cewek? Siapa? Anak sekolah sebelah?"
"Namanya Clarissa. Dia mantannya Rian dari Jakarta," Cinta menunduk, memainkan jemarinya yang mendadak terasa dingin.
"Dia datang jauh-jauh dari Jakarta cuma untuk mencari Rian. Dia menangis, Sar. Dia bilang dia tidak bisa terima kalau Rian pergi begitu saja."
Sarah tertegun. "Wah, nekat juga ya mantannya. Terus Rian bagaimana?"
"Rian bilang semuanya sudah selesai. Dia bahkan mengantarkan cewek itu ke hotel semalam karena sudah kemalaman," jawab Cinta.
"Tapi tetap saja, Sar. Melihat Clarissa... dia sangat cantik, modis, dan punya sejarah panjang sama Rian. Sementara aku? Aku cuma teman yang kebetulan ada di sini saat dia pindah."
Sarah bangkit dari kasur dan duduk di lantai di samping kursi Cinta. Ia memegang tangan sahabatnya itu.
"Cin, dengar ya. Kalau Rian memang mau kembali ke mantannya, dia tidak akan menggoda kamu seharian ini di kelas. Dia tidak akan mengusap kepalamu atau mengejarmu sampai ke perpustakaan."
"Tapi bagaimana kalau itu cuma pelarian, Sar? Bagaimana kalau dia hanya merasa kesepian di sini dan menganggapku sebagai penghibur sementara?" suara Cinta mulai parau.
"Rian bukan tipe cowok seperti itu, Cin. Kita semua tahu dia dingin dan tertutup. Cowok kayak gitu tidak akan membuang energi untuk mendekati cewek kalau dia tidak serius," Sarah mencoba memberikan sudut pandang objektif.
"Dan soal Clarissa datang jauh-jauh... itu masalah dia, bukan masalah Rian. Rian sudah memilih untuk pindah ke sini, untuk awal yang baru seperti yang kamu bilang tadi, kan?"
Cinta menyandarkan kepalanya di meja. "Aku takut, Sar. Aku takut kalau aku makin jatuh, tapi ternyata pintunya masih terkunci oleh masa lalu."
Sarah menghela napas, ia mengerti ketakutan Cinta. Sebagai penulis, Cinta selalu ingin akhir cerita yang bahagia dan teratur, tapi kenyataan seringkali berantakan.
"Cin, kamu itu pintar di pelajaran, tapi payah di perasaan," goda Sarah lembut.
"Kamu tidak perlu membandingkan dirimu dengan Clarissa. Kamu punya warna sendiri yang bikin Rian betah duduk di sebelahmu berjam-jam."
Cinta menoleh sedikit. "Benarkah?"
"Iyalah! Kamu pikir Rian mau meminjamkan sabuknya dan rela dijemur kalau dia tidak peduli padamu? Itu pengorbanan, Cin. Bukan sekadar iseng," Sarah meyakinkan.
"Besok, hadapi dia dengan tenang. Tanya hatimu sendiri, mau diperjuangkan atau mau dibiarkan lewat begitu saja?"
Cinta terdiam lama, meresapi kata-kata Sarah. Kamar itu kembali hening, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak. Perlahan, Cinta menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir sesak yang menggelayut di dadanya sejak kemarin.
"Terima kasih ya, Sar. Aku merasa sedikit lebih lega sekarang," ucap Cinta tulus.
"Sama-sama. Tapi ingat ya, kalau nanti jadian, aku orang pertama yang harus tahu!" Sarah tertawa lebar sambil kembali merebahkan diri di kasur.
Setelah pengakuan itu, suasana kamar terasa jauh lebih hangat. Sarah yang sudah kembali memejamkan mata sesekali masih bergumam kecil tentang rencana-rencana yang mulai tersusun di kepalanya, sementara Cinta justru masih terjaga. Ia menatap langit-langit kamar, membiarkan pikirannya berkelana ke sebuah titik di mana logika dan perasaan akhirnya sepakat untuk berdamai.
Cinta bangkit perlahan agar tidak membangunkan Sarah. Ia berjalan menuju jendela, menatap jalanan di depan rumahnya yang mulai sepi. Lampu jalan memberikan cahaya kekuningan pada aspal yang masih lembap oleh embun malam.
Ia teringat kembali pada setiap detail kecil tentang Rian. Bagaimana cowok itu pertama kali duduk di kelas dengan wajah angkuh, bagaimana cara dia memberikan sabuknya tanpa banyak bicara, dan bagaimana senyum menggoda itu kini menjadi hal yang paling ingin ia lihat setiap pagi. Cinta menyadari bahwa ketakutannya terhadap Clarissa sebenarnya bukan karena ia meragukan Rian, melainkan karena ia meragukan keberhargaan dirinya sendiri di mata cowok sehebat Rian.
"Aku bukan pelarian," bisik Cinta pada kegelapan malam, mencoba menanamkan mantra itu ke dalam alam bawah sadarnya.
Ia kembali ke meja belajar dan mengambil sebuah buku catatan kecil bercover cokelat yang selalu ia simpan di laci paling bawah. Itu bukan buku OSIS, melainkan jurnal pribadinya. Ia menuliskan sebuah paragraf singkat di sana.
Setelah selesai menulis jurnal singkat, kini Cinta menutup jurnal itu dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ketakutan yang tadi terasa seperti gunung es yang membeku, kini perlahan mencair. Ia kembali ke kasur, menyusup di balik selimut di samping Sarah yang mulai mendengkur halus.
Sebelum benar-benar memejamkan mata, Cinta sempat melirik ke arah ponselnya. Tidak ada pesan baru, namun kali ini ia tidak merasa sesak. Ia tahu, jawaban yang ia cari tidak akan datang lewat layar, melainkan lewat tatapan mata Rian di bangku kelas esok hari.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kehadiran Clarissa, Cinta tertidur dengan senyuman tipis yang tulus. Ia siap menghadapi hari esok, siap berhenti berlari, dan siap untuk membiarkan hatinya memilih jalannya sendiri.