Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.
Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.
Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONTROVERSI DALAM KELUARGA
Malam itu, suasana di rumah Evan terasa lebih sunyi dari biasanya. Setelah mengumumkan keputusannya untuk memilih program studi kedokteran komplementer, wajah ayahnya tampak terpikir-pikir, berbeda dengan ibunya yang langsung memberikan dukungan penuh.
Setelah makan malam, ayah Evan memanggilnya ke ruang tamu. Mereka duduk bersebelahan di sofa kayu tua, sementara ibunya duduk di kursi berlawanan, mengamati kedua orangnya dengan perhatian.
"Evan, aku sudah berpikir panjang tentang keputusanmu," ujar ayahnya dengan suara yang serius. "Kita semua tahu bahwa impianmu adalah menggabungkan ilmu tradisional dan modern. Tapi aku khawatir pilihan program studi yang kamu pilih tidak akan memberikan kesempatan yang cukup luas untuk masa depanmu."
Ia melanjutkan dengan nada yang semakin tegas. "Fakultas kedokteran biasa jauh lebih dihargai di masyarakat. Lulusannya bisa bekerja di rumah sakit besar, memiliki karir yang stabil, dan penghasilan yang cukup untuk membantu keluarga dan masyarakat. Sedangkan program pengobatan komplementer... belum banyak yang mengerti atau menerima nya secara luas di Indonesia."
Evan mengangguk dengan pemahaman, namun tetap mempertegas pendiriannya. "Aku mengerti kekhawatiranmu, Pa. Tapi kamu tahu bahwa ini bukan hanya tentang karir atau penghasilan. Ini tentang warisan Kakek Darmo yang telah diberikan padaku, dan tentang impian kita berdua untuk membantu orang dengan cara yang lebih komprehensif."
"Aku tahu tentang warisan itu, anak," balas ayahnya dengan sedikit menaikkan suara. "Tapi Kakek Darmo sendiri juga selalu berharap kamu bisa mendapatkan pendidikan yang baik dan memiliki masa depan yang lebih baik. Dia tidak ingin kamu hanya menjadi penyembuh kampung seperti dia – dia ingin kamu bisa berkembang lebih jauh!"
Perdebatan mulai memanas. Ayah Evan merasa bahwa pilihan Evan akan membatasi masa depannya, sementara Evan merasa bahwa ayahnya tidak memahami makna sebenarnya dari warisan yang diterimanya.
"Kamu tidak mengerti, Pa!" ujar Evan dengan sedikit tergesa-gesa. "Ilmu yang Kakek ajarkan bukan hanya ilmu penyembuh kampung. Banyak negara di dunia sudah mulai mengakui manfaat pengobatan tradisional dan menggabungkannya dengan ilmu modern. Aku ingin menjadi orang yang membawa perubahan itu ke Indonesia!"
"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu!" balik ayahnya dengan suara yang semakin keras. "Kamu bekerja keras selama tiga tahun SMA dengan nilai yang luar biasa. Mengapa kamu tidak menggunakan kesempatan itu untuk masuk ke fakultas kedokteran terbaik dengan program studi yang lebih umum? Kamu masih bisa belajar ilmu tradisional secara mandiri setelah lulus!"
Pada saat ini, ibu Evan yang sebelumnya hanya diam mulai berbicara. "Tolong berhenti berteriak, kamu berdua," ujarnya dengan suara yang tenang namun tegas. "Kita semua punya tujuan yang sama – ingin yang terbaik untuk Evan dan untuk masa depannya."
Ia mendekati ayah Evan dan menepuk bahunya dengan lembut. "Sayang, aku tahu kamu khawatir tentang masa depan Evan. Tapi kamu juga harus mengerti bahwa warisan dari Kakek Darmo sangat berarti baginya. Kamu sendiri pernah melihat bagaimana Kakek membantu banyak orang dengan ilmu nya, bukan?"
Ayah Evan menghela napas dalam-dalam, wajahnya tampak melembut. "Ya, aku tahu. Dan aku sangat menghargai apa yang Kakek lakukan untuk kampung dan keluarga kita. Tapi aku tidak ingin Evan menghadapi kesulitan yang tidak perlu hanya karena dia memilih jalan yang berbeda."
Ibu Evan kemudian melihat ke arah Evan dengan mata yang penuh kasih sayang. "Dan kamu juga harus mengerti kekhawatiran ayahmu, dek. Dia hanya ingin memastikan bahwa kamu memiliki masa depan yang stabil dan bahagia. Tidak ada salahnya jika kita mencari jalan yang bisa menyatukan kedua harapan itu."
Mereka terdiam sejenak, masing-masing berpikir tentang kata-kata yang telah diucapkan. Kemudian ibu Evan mengambil sebuah kotak kecil dari lemari dan membukanya di depan mereka berdua. Di dalamnya terdapat foto-foto lama Kakek Darmo bersama dengan beberapa dokter dari rumah sakit daerah yang pernah bekerja sama dengannya.
"Kakek Darmo sendiri tidak pernah menutup diri dari ilmu modern," ujar ibu dengan lembut. "Ketika ada kasus yang tidak bisa dia tangani sendiri, dia selalu mengirim pasiennya ke rumah sakit. Dan dia juga sering berdiskusi dengan dokter untuk belajar tentang cara pengobatan modern yang bisa digabungkan dengan ilmu tradisionalnya."
Ia menunjukkan salah satu foto di mana Kakek Darmo sedang berbincang dengan seorang dokter muda. "Dokter ini sekarang menjadi spesialis penyakit dalam di rumah sakit besar di Jakarta. Dia pernah bilang bahwa ilmu yang dia pelajari dari Kakek Darmo telah membantu banyak pasiennya yang tidak merespon pengobatan modern dengan baik."
Ayah Evan melihat foto tersebut dengan tatapan yang mulai berubah. Ia tidak pernah menyadari bahwa Kakek Darmo sebenarnya juga memiliki hubungan dengan dunia kedokteran modern.
"Kakek pernah bilang padaku," lanjut ibu Evan, "bahwa ilmu tidak boleh ada batasan. Baik tradisional maupun modern, yang penting adalah bisa membantu orang yang sakit. Dia selalu berharap ada seseorang yang bisa menggabungkan kedua ilmu tersebut dengan benar – seseorang yang paham tentang dasar-dasar ilmu kedokteran modern sekaligus menghargai nilai ilmu tradisional."
Evan mendekati ayahnya dan menjabat tangannya dengan erat. "Pa, aku tidak akan meninggalkan ilmu kedokteran modern. Program studi yang aku pilih akan mengajarkan aku semua dasar ilmu kedokteran yang sama dengan program studi biasa. Hanya saja aku akan mendapatkan tambahan mata kuliah tentang pengobatan tradisional dan komplementer."
Ia melanjutkan, "Setelah lulus, aku berencana untuk bekerja di rumah sakit terlebih dahulu untuk mendapatkan pengalaman yang cukup. Kemudian, ketika aku sudah siap, aku ingin membuka klinik kecil di dekat kampung kita – di mana pasien bisa mendapatkan perawatan modern sekaligus bisa mengakses pengobatan tradisional yang telah terbukti aman dan efektif."
Ayah Evan terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk dengan lembut. Ia memeluk Evan dengan erat, mata nya sedikit berkaca-kaca. "Maafkan aku, anak. Aku hanya terlalu khawatir tentang masa depanmu. Tapi sekarang aku mengerti bahwa pilihanmu bukanlah jalan yang membelenggu, melainkan jalan yang membuka peluang baru untuk membantu orang lain."
"Aku tahu kamu akan menjadi dokter yang luar biasa, Evan," ujar ayahnya dengan suara penuh kebanggaan. "Aku akan mendukungmu sepenuhnya. Dan jika ada orang yang meragukan pilihanmu, aku akan menjadi orang pertama yang membela kamu."
Evan merasa hati nya penuh dengan rasa lega dan syukur. Ia memeluk ayahnya kembali, sementara ibunya menyeka air mata bahagia dan bergabung dalam pelukan mereka berdua.
Malam itu, mereka duduk bersama hingga larut malam, membicarakan rencana masa depan Evan dan bagaimana mereka bisa bekerja sama untuk mewujudkannya. Ayah Evan bahkan mengusulkan untuk membantu mengumpulkan data tentang tanaman obat lokal dari kampung untuk digunakan dalam penelitian Evan nanti.
"Saya juga akan berbicara dengan beberapa teman saya yang bekerja di dunia kesehatan," ujar ayahnya dengan semangat baru. "Mungkin mereka bisa memberikan informasi atau dukungan untuk program studi kamu dan rencana klinikmu kelak."
Evan merasa sangat bersyukur memiliki keluarga yang bisa memahami dan mendukungnya. Ia tahu bahwa masih akan ada banyak tantangan di depan, baik dari dalam maupun luar keluarga. Namun dengan dukungan orang tua nya dan dengan tekad yang kuat untuk melakukan yang benar, ia yakin bahwa ia akan mampu menghadapi segala sesuatu.
Sebelum pergi tidur, Evan mengambil buku harian Kakek Darmo dan membaca salah satu halaman yang pernah ia baca berkali-kali. Di sana tertulis: "Perjalanan untuk menyebarkan ilmu baik tidak pernah mudah. Ada orang yang akan mendukungmu, dan ada juga yang akan meragukannya. Namun yang paling penting adalah kamu tetap teguh pada prinsipmu dan terus berjalan dengan hati yang benar."
Evan tersenyum sambil menutup buku tersebut. Ia tahu bahwa Kakek Darmo sedang membimbingnya dari tempat yang lebih baik, dan bahwa pilihan yang telah ia buat adalah pilihan yang benar – pilihan yang tidak hanya akan membawa kebaikan bagi dirinya sendiri namun juga bagi banyak orang yang akan datang setelahnya.