Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Presentasi Berdarah (1)
Ruang Rapat Utama di Lantai 30 memiliki julukan yang mengerikan di kalangan karyawan lama: "Kamar Gas". Bukan karena ada racun kimia yang bocor dari saluran ventilasi, melainkan karena di ruangan inilah karir seseorang bisa mati lemas hanya dalam hitungan menit akibat tekanan tinggi dari para petinggi perusahaan.
Ruangan itu didominasi oleh sebuah meja oval raksasa yang terbuat dari kayu oak hitam yang mengkilap, dikelilingi oleh dua puluh kursi kulit ergonomis berwarna hitam yang dingin.
Dinding kaca di satu sisi menampilkan panorama cakrawala Jakarta yang angkuh, sementara suhu ruangan disetel di angka 18 derajat Celcius secara konstan—cukup dingin untuk membekukan nyali mereka yang tidak siap, atau mungkin untuk menjaga agar kepala para direktur tetap dingin saat membedah kesalahan bawahannya.
Waktu menunjukkan pukul 09.50 WIB. Sepuluh menit sebelum eksekusi dimulai.
Di dalam ruangan yang hening dan beraroma pengharum ruangan lavender yang samar, Rudi Hartono sedang mengalami kegugupan tingkat tinggi. Dia berjalan mondar-mandir di depan podium, meremas-remas pointer presentasi di tangannya yang berkeringat.
Kemejanya yang sedikit kekecilan di bagian perut sudah mulai basah di bagian ketiak, menciptakan noda gelap yang memalukan.
"Arga," panggil Rudi dengan suara berbisik namun tajam, matanya melirik pintu ganda yang masih tertutup.
"Kamu siap, kan? Kalau nanti Pak Mahendra tanya detail teknis yang njelimet, kamu langsung ambil alih. Jangan biarkan saya bengong di depan."
Arga, yang duduk di kursi barisan depan sebelah kanan, mengangguk cepat. Wajahnya terlihat sedikit pucat, sisa dari malam panjang tanpa tidur memikirkan hutang, namun dia berusaha memasang topeng kepercayaan diri.
"Siap, Pak. Aman," jawab Arga, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Materinya kan sudah sesuai arahan Bapak yang agresif. Pasti Pak Mahendra suka."
Di dalam hatinya, ada sedikit keraguan yang menggelitik. Arga ingat dia tidak membaca detail proposal itu kemarin.
Dia hanya melihat cover-nya, melihat grafik yang naik, lalu menandatanganinya. Tapi dia menepis rasa takut itu. Nadinta yang buat, pikirnya. Nadinta lulusan terbaik. Dia nggak mungkin bikin kesalahan konyol.
"Bagus," Rudi menghela napas, mencoba melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. Dia menoleh ke belakang, ke arah deretan kursi tambahan di pojok ruangan.
Di sana, Nadinta duduk tenang dengan laptop terbuka di pangkuannya. Dia mengenakan blazer abu-abu gelap yang rapi, rambutnya diikat ekor kuda rendah, dan kacamata bacanya bertengger di hidung mancungnya. Dia terlihat seperti sekretaris yang patuh, siap mencatat setiap kata tuannya.
"Nadinta, kamu fokus notulensi," perintah Rudi ketus.
"Catat semua revisi atau omongan Direksi. Jangan sampai ada yang kelewat. Dan jangan ngomong kalau nggak ditanya. Ngerti?"
"Mengerti, Pak," jawab Nadinta singkat, matanya tetap terpaku pada layar laptop. Sudut bibirnya terangkat sepersekian milimeter, membentuk senyum yang tak terlihat. Dia tidak perlu bicara. Karyanya yang akan berbicara dengan lantang hari ini.
Tepat pukul 10.00 WIB.
Pintu ganda dari kayu jati itu terbuka lebar dengan suara klik yang solid.
Mahendra Abimanyu melangkah masuk.
Langkah kakinya tegap dan berirama, menghentak lantai karpet dengan otoritas yang tidak perlu dibuat-buat. Di belakangnya, mengekor dua direktur lain—Direktur Keuangan dan Direktur HRD—serta Siska, sekretaris pribadinya yang membawa tablet.
Kehadiran Mahendra seketika mengubah gravitasi ruangan. Dia mengenakan setelan jas navy tiga potong (three-piece suit) yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna.
Wajahnya datar, tanpa senyum, seperti pualam yang dipahat. Matanya yang tajam menyapu seisi ruangan dalam satu kali pandang, sebelum mendarat di kursi paling ujung—kursi pemimpin presentasi.
Rudi langsung berdiri tegak, gerakan refleks seperti prajurit yang melihat jenderal. Keringat sebesar biji jagung sudah terlihat mengilap di dahinya yang lebar.
"S-selamat pagi, Pak Mahendra. Selamat pagi, Bapak Ibu Direksi," sapa Rudi dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha memaksakan senyum ramah yang terlihat menyedihkan.
Mahendra tidak menjawab sapaan itu secara verbal. Dia hanya mengangguk singkat, sangat irit gerakan. Dia berjalan menuju kursi tengah, meletakkan tabletnya di meja dengan gerakan hati-hati, lalu duduk dan melipat tangan di dada.
Dia menatap jam tangannya sekilas, lalu menatap Rudi.
"Mulai," perintah Mahendra. Satu kata. Tanpa basa-basi. Tanpa ramah tamah pembuka. Waktu adalah uang, dan Mahendra tidak suka membuang keduanya.
Rudi berdeham keras, mencoba membersihkan tenggorokannya yang kering kerontang. Dia berjalan menuju podium, tangan gemuknya menggenggam clicker presentasi seolah itu adalah jimat keselamatan terakhirnya.
Layar proyektor di belakangnya menyala, menampilkan slide pembuka yang desainnya sangat futuristik dan penuh warna.
STRATEGI EKSPANSI AGRESIF 2024: MENUJU ERA BARU LUMINA GREEN
"Terima kasih, Pak Mahendra dan Dewan Direksi yang terhormat," Rudi memulai, suaranya perlahan mulai menemukan ritme arogansinya kembali karena merasa tampilan visual materinya sangat bagus.
"Siang ini, saya selaku Manajer Pemasaran akan memaparkan strategi peluncuran proyek baru. Sebuah strategi yang saya rancang dengan visi agresif dan futuristik, untuk membuktikan bahwa Lumina Group adalah pemimpin pasar yang tak tergoyahkan."
Rudi menekan tombol clicker dengan mantap.
Slide pertama muncul. Sebuah grafik batang berwarna merah menyala yang menanjak tajam hampir vertikal ke atas.
"Seperti yang Bapak lihat di layar," Rudi menunjuk grafik itu dengan percaya diri, seolah dia sedang menunjuk masa depan cerah.
"Kami tidak ingin bermain aman di zona nyaman. Tahun ini, saya menargetkan kenaikan penjualan sebesar 200% di kuartal pertama. Angka yang fantastis, tapi sangat mungkin dicapai dengan integrasi teknologi yang akan saya jelaskan."
Hening.
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada anggukan setuju dari para direksi.
Mahendra menatap layar itu dengan mata menyipit tajam. Dia tidak melihat ke arah Rudi, melainkan menatap angka "200%" yang tercetak tebal berwarna merah menyala itu. Jari telunjuk Mahendra mulai mengetuk meja secara ritmis.
Tap. Tap. Tap.
Suara ketukan itu menggema di kesunyian ruangan yang dingin, membuat jantung Rudi berdegup kencang tak beraturan. Dia menunggu reaksi, tapi Mahendra hanya diam.
"Lanjut," ucap Mahendra datar, nadanya sulit ditebak. Apakah dia terkesan? Atau dia sedang menahan tawa?
Rudi menghela napas lega, mengira diamnya Mahendra adalah tanda persetujuan. Dia menekan clicker lagi untuk pindah ke slide berikutnya dengan semangat yang kembali membara.
Slide kedua muncul. Judulnya besar dan mentereng: INTEGRASI TEKNOLOGI & EKOSISTEM MASA DEPAN.
Di bawah judul itu, terdapat diagram alur yang rumit dengan istilah-istilah asing yang bertebaran.
"Untuk mencapai target 200% tersebut, kami akan melakukan penetrasi pasar ke segmen Gen-Z dengan pendekatan teknologi tinggi," celoteh Rudi, membacakan poin-poin yang tertulis di layar tanpa benar-benar memahaminya.
Dia hanya menghafal naskah.
"Kami akan menggunakan strategi Omnichannel Marketing yang masif dan... ehm... kami akan menerapkan Blockchain Integration untuk sistem loyalitas pelanggan di dalam Metaverse properti kita."
Nadinta menahan senyum di kursi belakang, menundukkan kepalanya sedikit agar ekspresinya tidak terlihat. Dia sengaja memasukkan istilah buzzword seperti "Blockchain" dan "Metaverse" secara acak tanpa konteks yang jelas.
Istilah-istilah keren yang terdengar canggih di telinga orang awam seperti Rudi dan Arga, tapi akan terdengar konyol dan memalukan di telinga ahli strategi bisnis seperti Mahendra.
"Tunggu."
Suara bariton Mahendra memotong tiba-tiba, tajam seperti silet yang mengiris udara.
Rudi berhenti di tengah kalimat, mulutnya masih terbuka. "Y-ya, Pak?"
Mahendra memutar kursi putarnya perlahan, menghadap lurus ke arah Rudi. Tatapannya dingin, menusuk hingga ke tulang sumsum, membuat Rudi merasa kerdil seketika.
"Pak Rudi," panggil Mahendra pelan namun penuh tekanan.
"Anda baru saja mengatakan target kenaikan 200% di kuartal pertama dengan menggunakan Blockchain dan Metaverse."
"Betul, Pak," jawab Rudi, mencoba terlihat yakin meski kakinya mulai gemetar. "Teknologi adalah masa depan. Kita harus jadi pionir."
"Bisa Anda jelaskan kepada saya," Mahendra mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Rudi lekat-lekat,
"bagaimana mekanisme Blockchain bisa meningkatkan penjualan properti fisik sebesar 200% dalam tiga bulan di pasar yang sedang lesu? Dan Metaverse mana yang Anda maksud? Apakah kita sedang jualan tanah virtual atau apartemen nyata di Cikarang?"
Keringat dingin mulai mengucur deras di punggung Rudi, membasahi kemejanya. Dia menatap layar, mencari jawaban di teks yang dia baca. Tapi tidak ada jawaban. Nadinta tidak menuliskan penjelasannya di slide. Nadinta hanya menuliskan klaim bombastis kosong.
"Ehm... i-itu..." Rudi tergagap parah. Matanya bergerak liar mencari pertolongan.
"Itu karena... daya tarik teknologi, Pak. Anak muda suka yang canggih. Crypto sedang naik daun."
"Anak muda butuh rumah, Pak Rudi, bukan token digital," sergah Mahendra, nada suaranya penuh ketidakpercayaan yang menghina.
"Ini bukan visi. Ini halusinasi. Anda menyajikan kumpulan istilah kosong tanpa dasar strategi yang jelas. Anda mau menipu Dewan Direksi dengan grafik warna-warni ini?"
Beberapa direktur lain mulai berbisik-bisik sambil menggelengkan kepala, menatap Rudi dengan pandangan meremehkan. Suara bisikan itu terdengar seperti tawon yang berdengung di telinga Rudi.
Rudi panik luar biasa. Wajahnya pucat pasi, pertahanannya runtuh. Dia tidak bisa menjawab. Dia tidak mengerti apa yang dia presentasikan.
"Bukan begitu, Pak! Sumpah! Ini... ini data yang disiapkan tim saya! Saya hanya memaparkan garis besarnya!" elak Rudi, mencari kambing hitam.
Matanya tertuju pada Arga.
"Arga! Arga yang menyusun detail teknisnya! Dia Supervisor Senior yang bertanggung jawab atas riset ini! Arga, jelaskan pada Pak Mahendra! Jangan diam saja kamu!" teriak Rudi, melemparkan tanggung jawab seperti bola panas yang membakar tangannya.
Semua mata di ruangan itu serentak menoleh ke arah Arga di kursi belakang.
Arga tersentak kaget. Dia sedang melamun memikirkan cara membayar bunga pinjol, dan tiba-tiba namanya dipanggil. Dia menatap Rudi dengan tatapan horor. Dia tidak siap. Dia tidak tahu apa-apa.
"S-saya, Pak?" Arga berdiri dengan lutut goyah, nyaris menjatuhkan pulpennya.
Mahendra mengalihkan tatapan tajamnya kepada Arga. Sorot matanya berpindah dari Rudi yang menyedihkan ke Arga yang ketakutan.
"Silakan, Saudara Arga," ucap Mahendra dingin. "Atasan Anda bilang Anda yang menyusun ini. Jelaskan logika di balik angka 200% dan Blockchain ini. Saya beri waktu satu menit."
Arga membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia menatap layar proyektor. Dia melihat kata-kata itu. Blockchain. Metaverse. Growth 200%.
Dia tidak tahu apa artinya. Dia tidak pernah membaca detail materi itu karena sibuk mencari pinjaman kemarin sore. Dia hanya menandatanganinya buta.
"Ehm... jadi begini, Pak..." Arga mencoba mengarang bebas, keringat menetes dari pelipisnya.
"Pasar itu kan dinamis... dan teknologi itu... ehm, bisa memotong biaya promosi... dan... dan membuat hype..."
Jawaban itu berputar-putar, tidak logis, dan kosong.
"Cukup," potong Mahendra kasar. Dia mengangkat tangan, menghentikan ocehan Arga yang memalukan.
Mahendra mengambil sebuah dokumen fisik yang ada di mejanya—dokumen yang kemarin ditandatangani Arga di depan Nadinta.
"Di dokumen ini," ucap Mahendra sambil mengangkat kertas itu tinggi-tinggi agar semua orang bisa melihatnya, "tertera tanda tangan Anda sebagai reviewer dan approver materi. Tanda tangan basah di atas nama Arga."
Mahendra menatap Arga dengan tatapan yang menghancurkan.
"Artinya, Anda sudah membaca, memeriksa, dan menyetujui sampah ini sebelum sampai ke meja saya. Benar?"
Wajah Arga berubah menjadi abu-abu. Dia tertangkap basah atas kelalaiannya sendiri. Dia tidak bisa menyangkal tanda tangannya sendiri.
"Sa-saya... saya kemarin..."
"Anda tidak membacanya, kan?" tebak Mahendra tepat sasaran. Suaranya tidak keras, tapi bergema menakutkan. "Anda menandatangani buta karena malas atau tidak kompeten? Atau karena Anda tidak peduli pada nasib perusahaan ini?"
Arga menunduk dalam-dalam. Rasa malu membakar wajahnya hingga ke telinga. Dia dipermalukan di depan direksi, di depan bosnya, dan yang paling parah, di depan Nadinta yang duduk diam di sebelahnya.
Mahendra membanting dokumen itu ke meja.
BRAK!
Suara bantingan itu membuat semua orang terlonjak.
"Ceroboh. Malas. Dan tidak bertanggung jawab," simpul Mahendra kejam. Napasnya terdengar berat menahan amarah. "Kalian berdua membuang waktu saya yang berharga dengan presentasi lelucon ini. Kalian pikir direksi ini kumpulan orang bodoh yang bisa disilaukan dengan istilah canggih?"
Mahendra berdiri, menatap Rudi dan Arga bergantian dengan jijik.
"Apa tidak ada satu pun orang yang kompeten di divisi ini? Apa saya harus merekrut anak SD untuk mengajari kalian dasar-dasar logika bisnis?"
Rudi sudah lemas di podium, tampak seperti orang yang mau pingsan. Arga gemetar di kursinya, ingin bumi menelannya saat itu juga.
Suasana ruangan menjadi canggung dan mencekam. Tidak ada yang berani bersuara. Karir dua orang itu tamat hari ini.
Tiba-tiba, di tengah keheningan yang menyesakkan itu, sebuah gerakan kecil menarik perhatian Mahendra.
Sebuah tangan teracung dengan tenang di barisan belakang.
"Mohon maaf, Pak Mahendra."
Suara itu lembut, namun tegas dan jernih.
Nadinta berdiri dari kursinya. Dia tidak terlihat takut atau panik seperti dua pria di depannya. Dia terlihat tenang, rapi, dan sangat siap. Dia memegang laptopnya dengan satu tangan.
Mahendra menoleh dengan alis berkerut marah, siap membentak siapa pun yang berani memotong amarahnya. Namun, saat matanya mendarat pada wajah Nadinta, ekspresinya terhenti.
Dia menatap wanita itu.
"Ya?" tanya Mahendra, nadanya tajam. "Kamu punya alasan untuk bicara?"
"Saya Nadinta, Pak. Notulen rapat hari ini," jawab Nadinta, menatap lurus ke mata Mahendra tanpa gentar. "Saya menyadari adanya... ketidakakuratan dalam data yang disampaikan Pak Rudi dan Mas Arga. Sepertinya ada kesalahan versi file yang mereka ambil."
Nadinta berbohong dengan elegan untuk menyelamatkan muka divisi (di permukaan), namun sebenarnya dia sedang bersiap menancapkan pisaunya.
"Sebagai langkah antisipasi risiko, saya telah menyiapkan materi strategi alternatif yang didasarkan pada riset pasar real-time dan efisiensi biaya yang terukur. Saya mengerjakannya sendiri sebagai backup."
Nadinta melangkah maju satu langkah.
"Apakah Bapak mengizinkan saya untuk mempresentasikannya? Hanya butuh sepuluh menit untuk menyelamatkan target kuartal ini."
Seluruh ruangan menatap Nadinta. Arga menatapnya dengan mulut ternganga. Rudi menatapnya dengan harapan putus asa.
Dan Mahendra? Mahendra menatapnya dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Silakan," kata Mahendra perlahan.