Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Di Batam, usai sarapan di sebuah kopitiam, Andi langsung melajukan motornya menuju rumah Arif dan Nuri. Di sanalah ibunya tinggal sementara. Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi percakapan semalam dengan Dian—kata-kata yang kembali terulang, nada suara Dian yang terdengar menahan perih.
Sesampainya di rumah itu, Andi memarkir motor lalu masuk. Ia menemukan ibunya duduk di ruang tengah bersama Arif dan Nuri. Setelah menyapa singkat, Andi duduk dan mulai membuka cerita. Ia menumpahkan semuanya—permintaan Dian soal uang belanja, kekesalannya, juga kemarahannya yang meledak di telepon.
Ia berharap ibunya mengerti posisinya, membenarkan sikapnya. Namun di lubuk hatinya, ada kegelisahan yang tak ia akui. Sebab meski mulutnya bercerita dengan nada kesal, bayangan Dian dan Naya tetap muncul, diam-diam mengetuk nuraninya.
Bu Minah langsung mengomel panjang lebar, suaranya meninggi tanpa bisa ditahan.
“Awas saja kalau ibu pulang ke Pinang nanti. Akan ibu kasih pelajaran itu menantu. Jadi istri kok isinya menuntut ini itu. Kalau dia kerja seperti Nuri atau Tasya, ibu masih bisa terima. Ini cuma berdagang itupun kecil, penghasilannya juga tidak seberapa. Sudah syukur ibu mau terima dia jadi menantu,” ucapnya dengan nada merendahkan, jelas menyimpan amarah dan gengsi.
Nuri yang duduk di samping hanya tersenyum tipis sambil mencoba menenangkan.
“Sudah, Bu… sabar ya,” katanya lembut di luar, namun dalam hatinya justru muncul rasa puas.
Untung aku perempuan bekerja, orang tuaku juga pengusaha, batin Nuri sambil tanpa sadar ikut meremehkan Dian, iparnya yang tak hadir dan tak pernah diberi ruang untuk membela diri.
Arif yang sejak tadi menahan kesal akhirnya angkat bicara.
“Sudahlah, Bang. Aku ini baru juga menikah, sudah dibebani urusan begini. Harusnya ibu kasih saja uang itu untuk kebutuhan rumah. Biar sekalian Dian yang mengurus rumah kita,” ujarnya dengan nada jengkel.
Bu Minah langsung menoleh tajam ke arah anak bungsunya. Tatapannya dingin dan penuh ketidaksetujuan.
“Mana bisa begitu, Rif. Ibu saja di sani yang pegang uangnya. Kalau dikasih ke dia, habis semuanya untuk dirinya sendiri. Sudah, kamu tenang saja. Lima ratus ribu itu sudah lebih dari cukup,” jawabnya tegas, seolah tak membuka ruang untuk dibantah.
“Rif, kamu ini kenapa sih. Ibu saja yang paling tahu urusan rumah, lebih dari kamu,” cetus Andi dengan nada kesal, seolah ingin segera menutup pembicaraan itu.
********
Di rumah, Dian telah menyelesaikan seluruh pekerjaan dapur. Ia sibuk mengolah isian epok-epok, membuat adonan hingga tiga kilogram. Tadi pagi, ia sempat mengunggah status bahwa epok-epok akan segera ready, dan tak disangka, sudah masuk delapan pesanan. Hatinya terasa ringan, semangatnya kembali tumbuh.
Baru saja epok-epok matang dan baru Dian taruh di wadah, Naya terbangun dari tidurnya. Gadis kecil itu berjalan menghampiri ibunya dengan mata masih sembab.
“Ibu… haus susu,” ucap Naya pelan.
Dian tersenyum lembut.
“Iya, sayang. Ibu buatin dulu ya. Naya tunggu di ruang tengah,” katanya sambil mengusap kepala putrinya.
Naya pun menurut, melangkah kecil ke ruang tengah sementara Dian menyiapkan susu dengan perasaan hangat—lelahnya seolah terbayar oleh senyum anaknya dan rezeki yang mulai berdatangan.
Sebelum melanjutkan pekerjaannya, Dian memutuskan makan siang terlebih dahulu. Ia mengambil nasi agak banyak dalam satu piring, sekalian untuk dirinya dan Naya. Lebih praktis, pikirnya—agar nanti tak perlu bolak-balik lagi ke dapur.
Ia duduk di ruang tengah, menyuapkan suapan pertama sambil menunggu Naya tenang. Sesekali ia ikut makan, lalu kembali menyuapi putrinya dengan sabar. Melihat Naya makan lahap membuat hatinya sedikit lega.
Setelah perut terisi dan tenaga kembali terkumpul, Dian bersiap melanjutkan pekerjaannya—masih banyak pesanan yang menunggu untuk diselesaikan.
Dian meminta Naya bermain di dapur karena ruangannya cukup luas. Ia membentangkan karpet di sudut dapur, lalu meletakkan bantal kecil dan sebuah keranjang berisi mainan kesukaan Naya. Tak lupa, kipas angin dinyalakan agar udara tetap sejuk.
“Naya main di sini ya, ibu mau lanjut kerja,” ucap Dian lembut.
Naya mengangguk riang, segera sibuk dengan mainannya. Sesekali ia melirik ke arah ibunya yang mulai kembali mengolah adonan. Dian sesekali menoleh, memastikan putrinya aman dan nyaman. Bekerja sambil ditemani Naya seperti ini membuat lelahnya terasa sedikit berkurang.
Dian kemudian menuang tepung ke dalam baskom besar. Ia menambahkan air sedikit demi sedikit, mengaduknya dengan tangan hingga adonan mulai kalis. Sesekali ia berhenti, meremas adonan untuk memastikan teksturnya pas—tidak terlalu lembek dan tidak pula keras.
“Pelan-pelan aja, yang penting jadi,” gumamnya lirih.
Setelah adonan siap, Dian menutupnya dengan kain bersih agar tidak kering. Nanti, satu per satu adonan itu akan ia cetak menjadi kulit epok-epok, diisi, lalu dirapikan sebelum digoreng. Ia menarik napas dalam, kembali fokus pada pekerjaannya, sementara Naya masih asyik bermain di dekatnya.
Setelah adonan kulit epok-epok disisihkan, Dian beralih menyiapkan isian cilok. Ia menyalakan kompor, merebus ayam hingga empuk. Uap panas memenuhi dapur, namun Dian tetap sabar menunggu. Sesekali ia mengaduk, memastikan ayam matang merata. Setelah itu ayam diangkat, disuwir halus, lalu dibumbui sesuai takaran yang sudah ia hafal di luar kepala.
Tak berhenti di situ, Dian melanjutkan menyiapkan kuah. Ia mengulek kacang untuk kuah rujak, mencampurnya dengan gula merah, cabai, dan sedikit asam hingga rasanya pas—pedas, manis, dan segar. Di panci lain, ia menyiapkan kuah cireng, mengaduk bumbu hingga mengental dan harum.
Dapur kembali sibuk, namun teratur. Di sela-sela pekerjaannya, Dian melirik ke arah Naya yang masih bermain di atas karpet. Melihat putrinya tenang, hati Dian ikut menghangat. Lelah memang, tapi ada rasa syukur yang tak bisa ia jelaskan setiap kali melihat Naya baik-baik saja.
Menjelang pukul lima sore, semua pesanan akhirnya rampung. Satu per satu kemasan sudah tertata rapi, terikat rapat, siap dikirim kapan saja. Dian menghela napas panjang, rasa lelahnya sedikit terbayar. Ia menoleh ke arah Naya yang sejak tadi tertidur pulas di dekat mainan, wajah kecil itu tampak begitu damai.
Dengan gerakan pelan agar tak menimbulkan suara, Dian mengangkat kemasan yang sudah selesai lalu menatanya ke dalam box freezer. Ia memastikan semuanya tersusun rapi, tak saling menekan. Setelah pintu freezer ditutup, Dian duduk sejenak di lantai dapur, menyandarkan punggung ke lemari.
“Alhamdulillah,” lirihnya.
Hari ini memang melelahkan, tapi ia berhasil melewatinya. Selama Naya tenang dan kebutuhan mereka tercukupi, Dian merasa masih sanggup bertahan.
Setelah memastikan semua pesanan tersimpan aman, Dian menghampiri Naya. Ia membereskan satu per satu mainan yang berserakan, memasukkannya kembali ke keranjang kecil. Lalu, dengan hati-hati agar tak membangunkan putrinya, Dian mengangkat tubuh Naya yang masih terlelap.
Ia membawanya ke kamar, membaringkan Naya perlahan di atas kasur, dan membetulkan selimut tipis agar menutup tubuh kecil itu dengan nyaman. Dian menatap wajah Naya sejenak, memastikan napasnya teratur, lalu mengecup keningnya pelan.
Setelah itu, Dian kembali keluar kamar. Masih banyak yang harus ia bereskan malam ini—dapur, lantai, dan sisa-sisa aktivitas seharian. Meski lelah, ia memilih bergerak lagi. Baginya, rumah yang rapi akan membuat hatinya sedikit lebih tenang.