NovelToon NovelToon
Jerat Nurani

Jerat Nurani

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: Si tupai yang merokok

Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Kunci di Rumah Besar

Napas Bu Hina tercekat di tenggorokan, matanya yang kecil melebar menatap lurus pada sepasang manik mata Hino yang sedalam jurang kegelapan. Gertakan pria berusia dua puluh trenytuh tahun itu tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi Hina untuk mencari pembelaan. Rasa panas menjalar dari pinggangnya yang dicengkeram kuat oleh Hino, meruntuhkan seluruh sisa kesombongan kasta hedon lokal yang selama ini ia banggakan di depan ibu-ibu kompleks.

"Hino... jangan gila kamu," bisik Hina, suaranya goyah, bergetar hebat di balik bayangan pohon mangga yang menyembunyikan mereka dari pandangan warga kampung. "Kalau suamiku pulang dan tahu..."

"Baskoro tidak akan tahu kalau mulut embermu bisa dikunci sejak pagi ini, Hina," potong Hino, suaranya sangat rendah, dingin, namun sarat akan penekanan yang membuat bulu kuduk wanita berusia tiga puluh enam tahun itu berdiri.

Hino tidak memberikan kesempatan bagi Hina untuk berubah pikiran. Ia menyentak pergelangan tangan wanita itu, setengah menyeret langkah kaki Hina yang sudah lemas menyeberang jalan kampung menuju gerbang besi rumah besarnya yang sepi. Begitu mereka masuk melewati pintu utama yang megah, Hino langsung memutar anak kunci dari dalam dengan bunyi klik yang menggandakan kesunyian di dalam ruangan.

Di dalam kamar tidur utama yang luas dengan ranjang berlapis sprei mahal milik sang kontraktor daerah, Hina tidak lagi memiliki kekuatan untuk meronta. Ketakutannya pada watak keras Baskoro berbaur dengan debaran intim yang tak terduga dari kedekatan fisik Hino yang begitu menguasai. Ego tinggi sang istri kontraktor runtuh sepenuhnya pagi itu. Hino menumpahkan seluruh sisa rasa frustrasinya atas tekanan dua rahim di bawah kontrakan dan ancaman ponsel Linda semalam, mengubah musuh paling berisik di kampung ini menjadi sekutu dosa yang terikat rapat dalam jerat perlindungannya tanpa berani mengadu pada siapa pun.

***

Jarum jam bergeser menunjukkan pukul setengah empat sore ketika Hino kembali melangkah masuk ke koridor bawah kontrakan dua lantai peninggalan mendiang suami pilot Irmi. Kemeja kerjanya sudah rapi, bersiap untuk mengambil shift sore yang asli di gerai minimarket depan. Ia melangkah terburu-buru menuju meja makan kayu di tengah ruangan, berniat menyambar dompet kerjanya yang sempat tertinggal sebelum urusannya dengan Hina dimulai tadi pagi.

Tepat saat jemarinya menyentuh dompet kulit tersebut, pintu kamar depan mendadak berderit terbuka. Erni keluar dengan daster katun mahal barunya, langkah kakinya tampak kuyu dan matanya yang sembap menatap Hino dengan pandangan yang linglung. Sisa pengaruh gerusan obat tidur yang dicampur Hino ke dalam susu hangat semalam membuat pelipis wanita yang sedang mengandung dua bulan itu berdonut nyeri.

"Mas... kok semalam aku lelap banget tidurnya?" tanya Erni dengan suara serak, memegangi pelipisnya sambil menyipitkan mata menahan pening. Tatapannya tertuju pada Hino, menyembunyikan sebersit rasa ganjil yang merayap di dalam benaknya. "Kepalaku pening, tumben sampai sekesiang ini baru bisa bangun."

Hino memasukkan dompetnya ke saku celana, menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar dan dingin di hadapan istri sahnya yang kini telah menjelma menjadi benalu finansial tersebut. "Kau kelelahan karena pertengkaran hebat denganku semalam, Erni. Sudahlah, aku harus segera kembali ke toko karena manajer pusat akan datang melakukan sidak stok sore ini."

Tanpa menunggu balasan dari Erni, Hino berbalik cepat dan melangkah keluar menuju motornya, membiarkan deru mesin kendaraannya memecah keheningan sore komplek. Ia harus segera pergi sebelum Irmi yang berada di kamarnya sendiri ikut terbangun dan mulai menginterogasinya tentang sisa malam tadi.

Beberapa menit setelah kepergian Hino, pintu kamar lain di lantai bawah terbuka. Irmi melangkah keluar dengan piyama sutranya. Kondisi tubuhnya yang sedang berbadan dua membuat efek kantuk yang tidak wajar itu terasa lebih menyiksa perutnya yang mual. Namun, hidung janda kaya itu mendadak mengendus aroma yang ganjil saat berjalan melewati pangkal tangga menuju lantai dua. Ada sisa kehangatan parfum mistis Hino yang tertinggal di anak tangga terbawah, berbaur dengan sisa langkah kaki Linda yang baru saja mengantarkan mahasiswi polosnya pulang sore tadi.

Rasa cemburu dan kecurigaan seorang penguasa modal yang tidak mau aset ranjangnya disentuh wanita lain mendadak membakar dada Irmi. Ia mengabaikan Erni yang masih berdiri linglung di koridor tengah. Dengan napas yang memburu, Irmi melangkah lebar menaiki anak tangga, mengabaikan rasa pening di kepalanya, lalu menghantam pintu kamar Linda di lantai dua dengan ketukan yang bertubi-tubi dan kasar.

"Linda! Buka pintunya!" jerit Irmi, suaranya melengking tinggi memenuhi koridor atas yang sepi. "Jangan pura-pura mati di dalam! Aku tahu Hino naik ke kamarmu sebelum berangkat kerja tadi! Apa yang kau lakukan dengan pria itu di atas sini, hah?!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!