NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:877
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Panggung Sandiwara Pertama (Makan Malam Keluarga)

Restoran bergaya fine dining di kawasan SCBD itu memancarkan kemewahan dari setiap sudutnya. Lampu-lampu gantung kristal memantulkan cahaya temaram yang hangat di atas meja-meja bundar berbalut kain linen putih bersih. Di sinilah tempat para pebisnis kelas atas dan sosialita Jakarta berkumpul, tempat di mana status sosial diukur dari apa yang melekat di tubuh dan seberapa tebal dompet mereka.

Riko turun dari sebuah taksi konvensional tepat di depan lobi restoran. Dia merapikan jas hitamnya yang sudah dua kali dia pakai dalam waktu dua hari ini. Sesuai dengan ucapannya tadi pagi, dia benar-benar menolak menyentuh kartu kredit Rani, bahkan untuk ongkos taksi pun dia terpaksa menggunakan sisa uang tunai terakhir di dompetnya. Gengsinya terluka, tapi itu jauh lebih baik daripada dia harus menjadi pria yang menengadahkan tangan pada istrinya sendiri.

Dengan langkah tegap dan dagu yang terangkat, Riko melangkah masuk ke dalam restoran. Seorang pelayan dengan setelan jas rapi langsung menyambutnya dan mengantarnya menuju ruangan VIP privat yang telah dipesan oleh keluarga besar Rani.

Begitu pintu ruangan digeser, atmosfer di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi pekat bagi Riko. Di sekeliling meja bundar besar, telah duduk Bu Siska, Pak Baskoro, serta dua orang kerabat dekat keluarga mereka—Tante Mira dan anaknya, Dion, yang merupakan sepupu laki-laki Rani. Dion selama ini dikenal sebagai direktur operasional di salah satu anak perusahaan Rani Group yang selalu bersikap kompetitif dan sombong.

Rani sendiri sudah duduk di sana, tampil memukau dengan dress satin berwarna hitam yang elegan. Begitu melihat Riko masuk, Rani langsung berdiri, mengembangkan senyum manis yang tampak sangat natural di wajah cantiknya—sebuah seniwara yang luar biasa rapi.

"Kamu akhirnya datang, Sayang. Aku mengira kamu masih terjebak macet di jalan," ucap Rani lembut, berjalan mendekat lalu dengan luwes menggandeng lengan Riko. Aroma parfum cendana khas wanita itu langsung menusuk indra penciuman Riko, mengirimkan desiran aneh di dadanya.

Riko menahan keterkejutannya atas perubahan sikap Rani yang mendadak manis. Dia segera menyesuaikan diri dengan panggung sandiwara ini. "Maaf membuatmu menunggu, Sayang. Ada beberapa urusan kantor yang harus kuselesaikan dulu tadi," balas Riko, suaranya dibuat sehangat mungkin sembari menepuk punggung tangan Rani yang melingkar di lengannya.

"Cih, sok sibuk sekali. Perusahaan kecil yang hampir kolaps saja gayanya seperti mengurus perusahaan multinasional," sebuah dehaman sinis memotong kemesraan palsu mereka. Itu adalah suara Dion. Pria muda dengan setelan jas desainer ternama dan jam tangan Rolex emas itu menatap Riko dengan pandangan meremehkan.

"Dion, jaga sopan santunmu. Riko ini sekarang adalah kakak sepupumu," tegur Pak Baskoro dengan nada tegas namun tenang. Beliau memberi isyarat agar Riko dan Rani segera duduk di kursi yang kosong.

Riko duduk di samping Rani. Di hadapannya kini tersaji berbagai hidangan pembuka yang mewah, namun nafsu makannya menguap begitu saja saat Bu Siska membuka suara.

"Sudahlah, Baskoro. Apa yang dikatakan Dion itu ada benarnya," ujar Bu Siska sembari menyesap teh klasiknya dengan anggun. "Ibu masih tidak mengerti, Rani. Kenapa kamu terburu-buru menikah dengan Riko tanpa mengadakan pesta resepsi besar? Teman-teman Ibu di yayasan sosialita terus bertanya-tanya, apakah kamu sengaja menikah diam-diam karena malu punya suami yang... yah, kamu tahu sendiri bagaimana kondisi finansial Pratama Corp sekarang."

Tante Mira, ibu dari Dion, ikut menimpali dengan senyum palsu yang memuakkan. "Iya, Rani. Tante dengar dari orang-orang bank, kemarin Pratama Corp hampir saja dipasang papan sita kalau tidak ada dana segar yang masuk secara misterius. Jangan-jangan, uang perusahaanmu yang kamu pakai untuk menyelamatkan muka suamimu ini?"

Atmosfer di dalam ruangan kian menegang. Rani hendak membuka suara untuk membalas ucapan tantenya, namun di bawah meja makan, Riko dengan lembut menggenggam jemari tangan Rani, memberi kode agar wanita itu membiarkan dirinya yang menangani situasi ini. Riko tidak mau terus-menerus bersembunyi di balik punggung istrinya. Ini saatnya dia membela harga dirinya sendiri sebagai seorang pria.

Riko meletakkan garpu dan pisaunya dengan ketukan pelan di atas piring porselen, lalu menatap lurus ke arah Dion dan Tante Mira. Wajahnya tidak menunjukkan amarah sama sekali, melainkan ketenangan yang mutlak dan berwibawa—karakter asli seorang CEO yang matang.

"Terima kasih atas perhatian Tante Mira dan Dion terhadap kondisi Pratama Corp," Riko membuka suara, nadanya tenang namun suaranya menggema penuh penekanan di ruangan yang sunyi itu. "Dunia bisnis memang selalu penuh dengan dinamika. Naik dan turun adalah hal yang biasa bagi seorang pengusaha yang membangun usahanya dari nol dengan keringat sendiri, bukan dari hasil warisan atau fasilitas orang tua."

Sindiran halus Riko langsung telak menghantam Dion yang posisinya di perusahaan adalah pemberian dari ibunya. Wajah Dion seketika memerah menahan kesal.

"Kau tidak perlu berfilsafat di sini, Riko," dengus Dion, memajukan tubuhnya ke arah meja. "Faktanya, perusahanmu kalah tender proyek Central District dari Rani Group karena kalkulasi bisnismu yang buruk. Dalam industri modern, idealisme tanpa likuiditas yang kuat itu tidak ada gunanya. Kamu hanya akan menjadi beban bagi Rani dan nama besar keluarga kami."

Riko tersenyum tipis—sebuah senyuman yang memancarkan kecerdasan superior yang membuat Dion mendadak merasa terintimidasi.

"Kalkulasi bisnis yang buruk, Dion?" Riko terkekeh pelan. "Apakah kamu sudah membaca secara detail struktur proposal tender Central District yang dimenangkan oleh Rani?"

Dion tertegun, melirik Rani sesaat sebelum menjawab dengan gugup. "T-tentu saja. Perusahaan kami menang karena penawaran harga kami lebih efisien."

"Menang dalam penawaran harga, tapi kalian mengambil risiko margin keuntungan yang hanya berkisar di angka 4,2 persen dengan tenor pengembalian modal selama delapan tahun," skakmat. Riko membeberkan data rahasia proyek tersebut dengan sangat lancar dari kepalanya tanpa melihat catatan sedikit pun.

Semua orang di meja makan, termasuk Bu Siska dan Tante Mira yang tidak terlalu paham bisnis, bisa merasakan perubahan dominasi di dalam ruangan. Rani bahkan menatap Riko dari samping dengan mata yang sedikit melebar. Dia tidak menyangka Riko bisa menebak strategi margin tipis yang dia gunakan untuk mengalahkannya kemarin.

"Dengan inflasi material bangunan yang diprediksi naik tiga persen di kuartal ketiga tahun ini akibat ketegangan dagang global, margin 4,2 persen milik Rani Group sangat rawan mengalami defisit jika manajemen operasionalnya tidak dipimpin oleh orang yang benar-benar jenius," lanjut Riko, matanya menatap Dion dengan pandangan menguliti. "Jika aku menjadi Direktur Operasional di sana, aku tidak akan duduk santai menyombongkan piala kemenangan di meja makan ini. Aku akan begadang di kantor untuk menyusun ulang rantai pasok material agar perusahaan tidak merugi di akhir tahun. Jadi, Dion... siapa sebenarnya yang berpotensi menjadi beban di sini?"

Dion bungkam seribu bahasa. Wajahnya memerah padam seperti kepiting rebus. Dia ingin membantah, namun argumen Riko didasarkan pada data makroekonomi yang sangat valid yang bahkan tidak terpikirkan oleh otak dion.

Pak Baskoro yang mendengar penjelasan taktis dari menantunya itu tersenyum lebar, lalu bertepuk tangan pelan. "Luar biasa. Analisis yang sangat tajam, Riko. Papa tidak salah menilaimu. Kamu memang memiliki otak bisnis yang langka di generasi sekarang."

Rani yang duduk di samping Riko merasakan dadanya bergemuruh aneh. Untuk pertama kalinya, dia melihat Riko menundukkan kesombongan keluarganya dengan cara yang sangat elegan, bukan dengan otot atau makian, melainkan dengan kecerdasan mutlak. Genggaman tangan Riko yang masih bertautan dengan jemarinya di bawah meja terasa begitu hangat dan... kokoh. Ada rasa aman yang mendadak menyusup ke dalam hati Rani yang selama ini selalu berdiri sendirian menghadapi tekanan ibunya.

Bu Siska dan Tante Mira hanya bisa terdiam sembari pura-pura sibuk memotong daging steak mereka, sementara Dion memilih menunduk menatap piringnya dengan sisa gengsi yang hancur berantakan.

Malam itu, di panggung sandiwara pertamanya, Riko berhasil membuktikan satu hal pada keluarga besar Rani: bahwa seorang elang yang sedang terluka dan patah sayapnya, tetaplah seekor elang yang jauh lebih tinggi derajatnya daripada seekor ayam yang berkokok di dalam kandang emasnya.

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!