Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Riani melangkah dengan ragu, tangannya mencengkeram erat ujung baju Alneo seolah takut jika ia melepaskannya.
Sepatu usang mereka berdecit pelan di atas lantai marmer putih bersih yang mengilat, memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal yang sangat terang di langit-langit ruang utama.
"Kak... ini beneran rumah kita?" bisik Riani, suaranya bergetar hebat. "Ini... ini luasnya bahkan lebih besar dari seluruh kompleks rumah kita yang lama."
Alneo sendiri tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya.
Tapi, ia berusaha tetap terlihat tenang di depan adiknya. "Kan sudah Kakak bilang, mulai hari ini kita tidak perlu hidup berdesakan lagi."
Ketika mereka melangkah masuk ke dalam, ketakjuban mereka berubah menjadi kebingungan yang luar biasa.
Karena Isi di dalam mansion ini sama sekali tidak seperti rumah mewah pada umumnya.
"Kak... ini-ini beneran bukan mimpi kan?" Riani menghentikan langkahnya, matanya mengerjap-ngerjap tidak percaya.
Ada deretan sofa kulit mahal atau televisi berlayar raksasa di ruang tengah.
Di sudut ruangan ada meja. Di belakang meja itu, sebuah layar monitor transparan berukuran besar terpasang di dinding, menampilkan grafik-grafik biologis, detak jantung, dan teks yang terus berjalan dengan kecepatan tinggi.
"Ini rumah tapi ada komputer raksasa?" tanya Riani, menunjuk ke arah meja tersebut.
"Kak! Lihat itu!" Riani tiba-tiba menarik-narik lengan baju Alneo, menunjuk ke sudut ruangan.
Sebuah robot asisten setinggi satu meter dengan roda tersembunyi perlahan bergerak mendekati mereka.
Robot itu mengeluarkan suara mekanis yang sangat halus dan ramah.
[Selamat datang, Tuan Alneo dan Nona Riani. Saya adalah Unit Asisten rumah Anda. Semua fasilitas telah siap digunakan. Apakah Anda ingin melakukan pemindaian kesehatan tubuh malam ini?]
Riani langsung melompat mundur, bersembunyi di balik punggung Alneo. "Kak! Robotnya bisa bicara! Ini... Kakak sebenarnya main saham di perusahaan robot atau bagaimana, sih? Tolong jelaskan, aku bisa gila kalau begini terus!"
Alneo mengusap tengkuknya, menyadari bahwa ia harus segera menyusun skenario yang masuk akal agar adiknya tidak mencurigai keberadaan sistem aneh di kepalanya.
"Riani, tenang dulu," kata Alneo sambil menepuk pundak adiknya yang gemetaran.
Ia lalu menatap robot itu. "Batalkan pemindaian untuk malam ini. Tunjukkan saja di mana kamar tidur kami!" perintah Alneo.
[Perintah diterima. Silakan ikuti saya ke lantai dua]
Robot itu, lalu berbalik dan bergerak memandu mereka menuju tangga melingkar yang megah.
"Kak Alneo..." Riani menatap kakaknya dengan pandangan menyelidik meskipun matanya masih berbinar kagum melihat kemewahan di sekelilingnya. "Kakak utang penjelasan yang sangat panjang malam ini. Sangat panjang!"
Alneo hanya bisa tersenyum kecut sambil berjalan mengikuti robot itu. "Iya, iya. Yang penting sekarang kita aman, dan kamu bisa tidur di kasur yang empuk. Ayo."
Mereka menaiki tangga melingkar yang dilapisi karpet bulu tebal dan lembut.
Setiap langkah kaki seolah tenggelam dalam kenyamanan yang belum pernah mereka rasakan seumur hidup.
Riani terus mengedarkan pandangan, mengagumi lampu-lampu dinding yang menyala otomatis setiap kali mereka lewat.
"Ini gila... benar-benar gila. Kak, kalau ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku dulu. Tapi kalau ini nyata, aku takut besok pagi kita ditangkap polisi," gumam Riani, tangannya mengusap pegangan tangga yang terbuat dari kayu berukir halus.
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...