NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Kejatuhan sang Manipulator

Ketukan jemari Richard Sterling pada permukaan meja kayu ek terdengar kian tidak beraturan. Pengacara senior asal Inggris itu berulang kali menyeka keringat dingin di dahinya, padahal mesin pendingin di dalam ruang sidang utama Singapore International Arbitration Centre (SIAC) berfungsi dengan sangat baik. Kesaksian Reno yang lugas, diperkuat dengan draf kontrak asli bertanda tangan basah serta rekaman suara forensik dari Karina, telah meluluhlantakkan seluruh skema pembelaan yang ia susun selama berpekan-pekan.

Di sudut meja lawan, Tante Sofia duduk mematung. Wajah paruh bayanya yang terpoles kosmetik mahal kini tampak pucat pasi, kehilangan sisa-sia keangkuhan yang biasanya ia pamerkan. Bibirnya bergetar halus saat mendapati tatapan tiga Majelis Arbiter yang kini menyorotnya dengan pandangan dingin dan penuh ketajaman hukum.

"Apakah dari pihak responden ada yang ingin disampaikan atau disanggah kembali terkait kesaksian dari saksi Reno?" tanya Arbiter Utama, suaranya menggema datar melalui pengeras suara ruangan.

Richard Sterling menoleh ke arah Tante Sofia, lalu menggelengkan kepala perlahan dengan mikrofon yang sengaja dimatikan. "We have no further arguments, Your Honor," bisik Richard dengan nada pasrah yang mendalam. Menghadapi perpaduan bukti siber dan kesaksian hidup yang begitu selaras adalah tindakan bunuh diri secara hukum.

Arbiter Utama mengangguk, lalu berdiskusi sejenak dengan dua anggotanya di sisi kiri dan kanan. Keheningan di dalam ruang sidang itu terasa begitu mencekam, seolah sedang menghitung detik-detik runtuhnya sebuah dinasti kelicikan yang dibangun di atas penderitaan orang lain.

Tok! Tok! Tok!

Palu sidang diketuk tiga kali dengan ketegasan yang mutlak.

"Berdasarkan seluruh bukti siber, aliran dana forensik, serta kesaksian komprehensif dari saksi kunci yang telah dihadirkan, Majelis Arbiter SIAC menyatakan secara bulat bahwa entitas Apex Horizon Ltd terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindakan manipulasi pasar korporasi, spionase bisnis, dan pelanggaran hukum transaksi internasional," ujar Arbiter Utama membacakan putusan resmi dalam bahasa Inggris yang lugas.

"Oleh karena itu, Majelis Arbitrase memutuskan: Pertama, menolak seluruh tuntutan keberatan dari pihak responden. Kedua, mengesahkan pembekuan total atas seluruh aset finansial dan rekening operasional Apex Horizon Ltd secara permanen. Ketiga, menghukum Nyonya Sofia Al-Fatih untuk membayar ganti rugi imateriil dan kerugian korporasi kepada Al-Fatih Group dan Nadir Label sebesar dua puluh lima juta dolar Amerika Serikat."

Mendengar nominal fantastis itu disebutkan, Tante Sofia refleks mencengkeram pinggiran meja. Angka itu bukan sekadar nilai ganti rugi; itu adalah total sisa seluruh kekayaan pribadinya yang ia simpan di Eropa. Putusan ini bermakna satu hal: ia telah bangkrut sepenuhnya, miskin, dan kehilangan seluruh kehormatan status sosialnya dalam hitungan detik.

"Keempat," lanjut Arbiter Utama tanpa memedulikan keterkejutan Tante Sofia. "Merekomendasikan kepada otoritas imigrasi dan kepolisian Singapura untuk segera mengeksekusi surat perintah penangkapan internasional dan mendeportasi saudari Karina kembali ke yurisdiksi hukum Indonesia guna menjalani proses peradilan pidana atas dugaan penipuan korporasi."

Tok!

Palu terakhir diketuk, menandakan berakhirnya persidangan sekaligus titik akhir dari pelarian kotor yang melelahkan itu.

Satu jam setelah sidang ditutup, suasana di koridor luar gedung SIAC tampak riuh oleh beberapa perwakilan media bisnis internasional. Farhan dan Andini melangkah keluar dengan pengawalan ketat dari tim sekuriti mereka. Langkah kaki Andini terasa begitu ringan; beban berat yang sempat menghimpit pundaknya kini telah menguap sepenuhnya bersama kebenaran yang terungkap.

Namun, langkah mereka sempat terhenti saat sesosok wanita paruh baya dengan rambut yang sedikit berantakan menghadang jalan di dekat area lift. Itu Tante Sofia. Wanita tua itu tidak lagi menyisakan keanggunan seorang sosialita. Matanya merah, menatap Andini dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam.

"Andini! Farhan!" teriak Tante Sofia dengan suara melengking, mengabaikan tatapan heran dari orang-orang di sekitar koridor. "Kalian puas sekarang?! Kalian menghancurkan hidupku! Kalian merebut semua hartaku demi membela wanita mandul ini?!"

Farhan langsung melangkah satu jengkal di depan Andini, menyembunyikan istrinya di balik tubuh tegapnya. Matanya menatap Tante Sofia dengan pandangan yang begitu menusuk. "Jaga bicaramu, Sofia. Kamu hancur bukan karena kami, melainkan karena keserakahan dan kebencianmu sendiri yang telah menggerogoti nuranimu dari dalam."

Tante Sofia tertawa histeris, air matanya menetes merusak riasan matanya. "Jangan sok suci, Farhan! Tanpa uang Al-Fatih, wanita ini tidak ada apa-apanya! Dia hanya janda pembawa sial yang—"

"Tante Sofia," sebuah suara lembut namun sarat akan wibawa memotong makian tersebut. Andini melangkah maju, berdiri sejajar di samping Farhan. Ia menatap mantan bibi suaminya itu dengan pandangan mata yang jernih, tanpa ada kemarahan atau niat untuk membalas makian.

"Harta, takhta, dan kehormatan di dunia ini hanyalah titipan yang bisa diambil kembali oleh pemilik-Nya dalam sekejap mata," ujar Andini dengan intonasi yang sangat tenang namun bertenaga. "Dulu, keluarga Reno mengusir saya karena mengira saya adalah pembawa sial yang membuat mereka miskin. Lalu Tante menggunakan mereka untuk menjatuhkan saya karena mengira saya adalah kelemahan Mas Farhan. Hari ini takdir telah menunjukkan kepada kita semua: siapa yang menanam angin, dialah yang akan memanen badai."

Andini menarik napas pendek, lalu menggenggam jemari Farhan dengan erat. "Saya sudah memaafkan semua makian Tante sejak lama. Namun, hukum dunia dan hukum akhirat memiliki cara sendiri untuk bekerja. Permisi."

Tanpa menunggu balasan lagi, Andini dan Farhan berjalan melewati Tante Sofia yang terpaku di tempatnya, lemas hingga harus bersandar pada dinding marmer koridor. Wanita tua itu menyadari bahwa di hadapan Andini yang sekarang, segala makian dan racunnya tidak lebih dari sekadar angin lalu yang tidak berharga.

Di saat yang sama, di area terminal keberangkatan khusus Bandara Changi Singapura, suasana tampak begitu tegang bagi Karina. Dengan kedua pergelangan tangan yang telah diborgol di balik mantel bulunya, ia digiring oleh dua petugas kepolisian siber Indonesia dan petugas imigrasi Singapura menuju pintu pesawat komersial yang akan membawanya kembali ke Jakarta.

Karina mencoba memberontak kecil, matanya melirik ke kanan dan ke kiri dengan kepanikan yang luar biasa. "Lepaskan aku! Aku punya hak untuk menghubungi pengacaraku! Kalian tidak bisa membawaku seperti ini!"

"Diam, Nona Karina. Surat perintah deportasi dan penangkapan Anda sudah sah secara hukum internasional," sahut petugas kepolisian dengan tegas, terus mendorong langkah Karina masuk ke dalam garbarata pesawat.

Saat tubuhnya dipaksa duduk di kursi barisan belakang pesawat dengan pengawalan ketat, Karina menatap pantulan dirinya di jendela kaca pesawat. Air mata ketakutan akhirnya tumpah membasahi pipinya. Ia membayangkan jeruji besi penjara wanita di Jakarta yang dingin, pengap, dan jauh dari kata mewah yang menantinya di ujung penerbangan ini.

Semua taktik licik, manipulasi media, dan uang jutaan dolar yang ia gunakan untuk menghancurkan kebahagiaan Andini, kini justru resmi mengantarkannya ke dalam ruang tahanan yang gelap—sebuah awal dari masa depan yang suram bagi sang manipulator yang telah kehilangan seluruh kartunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!