Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.
Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.
Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.
Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembur, Hujan, dan Pintu yang Terkunci
Suasana kantor divisi pemasaran yang biasanya bising kini mendadak sunyi senyap. Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Seharusnya, lantai ini sudah kosong, namun lampu di kubikel tengah dan ruangan Arini masih menyala terang.
Sebuah proyek peluncuran produk baru mengalami kendala besar—ada kesalahan input data target pasar dan anggaran dari tim lapangan yang berpotensi merugikan perusahaan jika tidak direvisi malam ini juga. Sialnya, staf lain yang memegang proyek ini mendadak izin pulang sore tadi karena urusan keluarga yang darurat. Sebagai kepala staf, Arini tidak punya pilihan selain turun tangan langsung. Dan Rian, sebagai bawahan yang paling paham alur dokumen tersebut, dengan sukarela mengajukan diri untuk menemani.
"Rian, tolong cek lagi tabel proyeksi keuntungan untuk kuartal pertama. Angkanya masih belum sinkron dengan data vendor," instruksi Arini dari balik mejanya. Format bicaranya sudah kembali formal, mencoba melupakan insiden salah tingkah kemarin lusa.
"Baik, Bu. Ini sedang saya hitung ulang lewat spreadsheet," sahut Rian, jemarinya menari lincah di atas papan ketik. Badannya sudah jauh lebih segar berkat vitamin—dan mungkin juga karena hatinya yang sedang ringan.
Dua jam berlalu dalam keheningan yang intens. Hanya terdengar suara ketukan kibor dan hela napas lelah. Di luar sana, langit Jakarta malam ini kembali tidak bersahabat. Hujan deras turun dengan saking lebatnya hingga suara hantaman air di kaca jendela lantai lima itu terdengar samar-samar.
Sekitar pukul sepuluh malam, Rian akhirnya meregangkan otot-otot lehernya yang kaku. "Bu Arini, revisi final sudah selesai saya upload ke folder bersama. Sudah saya sesuaikan semua."
Arini memeriksa layar komputernya, lalu menghela napas lega yang panjang. Beban di pundaknya luruh seketika. "Kerja bagus, Rian. Terima kasih banyak. Kamu boleh bersiap pulang, saya tahu kamu belum pulih total."
"Sama-sama, Bu. Kita pulang bareng aja ke bawah, sekalian saya mau kunci pintu depan divisi," tawar Rian sambil merapikan tasnya.
Setelah mematikan seluruh komputer dan lampu ruangan, mereka berjalan beriringan menuju pintu kaca utama divisi pemasaran. Pintu tersebut menggunakan sistem kunci digital otomatis (smart lock) yang biasanya diatur untuk mengunci mandiri pada pukul sepuluh malam demi alasan keamanan.
Rian mendorong pintu kaca tersebut, namun pintu itu sama sekali tidak bergeming.
"Lho? Kok gak bisa dibuka?" gumam Rian. Ia mencoba menempelkan kartu akses stafnya ke mesin pemindai di samping pintu.
Bip. Bip. Bip. Lampu indikator menyala merah.
"Kenapa, Rian?" tanya Arini sambil melangkah mendekat.
"Kartu saya gak merespon, Bu. Merah terus."
"Coba pakai kartu saya," Arini merogoh tasnya dan menempelkan kartu akses tingkat manajer miliknya.
Bip. Bip. Bip. Hasilnya sama. Lampu tetap berkedip merah dan sistem mengunci rapat.
Rian memeriksa layar kecil di mesin pemindai. "Aduh, Bu... Ini sistemnya sepertinya sedang error atau terkunci otomatis dari pusat karena sudah lewat jam malam. Ditambah hujan badai di luar, mungkin jaringannya terganggu."
Arini mulai agak panik. Ia mencoba mendorong pintu dengan sekuat tenaga, namun pintu kaca tebal itu tetap kokoh mengunci mereka di dalam. "Nggak mungkin. Coba telepon bagian keamanan di lobi bawah, Rian!"
Rian segera mengeluarkan ponselnya, namun begitu melihat layarnya, ia meringis. "Sinyal saya darurat, Bu. Kosong sama sekali karena badai di luar. Ponsel Ibu gimana?"
Arini buru-buru mengecek ponselnya sendiri. "Sama... sinyalnya mati."
Mereka berdua terdiam, saling berpandangan dalam remang koridor yang hanya diterangi lampu darurat. Suara gemuruh guntur di luar jendela terdengar bersahut-sahutan, menegaskan situasi bahwa malam ini, mereka bener-bener terjebak berdua saja di dalam kantor pemasaran yang luas dan sepi.
Arini berjalan mundur perlahan, lalu duduk di salah satu sofa lobi divisi dengan lemas. Gengsi milenialnya mendadak berteriak histeris. Terjebak lembur itu biasa, tapi terjebak berdua semalaman di ruangan yang sama dengan cowok yang belakangan ini membuat jantungnya tidak sehat? Ini adalah bencana emosional tingkat tinggi bagi Arini.
Rian berjalan mendekat, mencoba mencairkan suasana yang mendadak terasa kaku luar biasa. Ia melepas jaket parasut tebalnya, lalu menyerahkannya kepada Arini.
"Ruangannya mulai dingin karena AC-nya gak bisa dimatikan dari dalam, Bu. Pakai aja dulu jaket saya, biar Ibu gak masuk angin kayak saya kemarin," ucap Rian dengan senyum tulus yang hangat.
Arini memandangi jaket di tangan Rian, lalu mendongak menatap wajah bawahannya itu. Di tengah suara badai di luar, jantung Arini kembali berdegup dengan ritme yang sama sekali tidak profesional.