"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"
Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.
Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan pergi, Kia.
Di rumah sakit, Arshaf menghentikan langkah tepat di depan pintu ruangan Aryan. Suara keluarganya yang terdengar hingga ke luar membuat laki-laki itu enggan masuk.
Begitu berada di dalam nanti, mereka pasti akan langsung mencecarnya dengan pertanyaan. Arshaf belum siap mengatakan apa yang dokter jelaskan tadi. Terlebih, ia juga belum tau apakah Aryan sudah benar-benar sadar atau belum. Dan kalaupun sadar, apa mungkin ia tega mengatakan bahwa Aryan mengalami gangguan pendengaran sementara?
Meski masih bisa diobati, kabar itu tetap saja akan membuat Aryan dan kedua orang tuanya syok. Bisa jadi malah memperburuk keadaan.
Arshaf dilema.
Saat sedang bergulat dengan pikirannya sendiri, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Arshaf tersentak, begitu pula dengan orang yang baru saja keluar.
"Ngagetin aja lo!" sungut Kafa sambil mengusap dada.
"Aryan gimana? Udah sadar?" tanya Arshaf tanpa menggubris keterkejutan sahabatnya.
"Alhamdulillah udah. Lo dicariin tuh. Masuk gih."
"Ntar dulu. Lo mau ke mana?"
"Cari musala. Mau salat gue."
"Ya udah, bareng ayo."
Arshaf memutar langkah perlahan meninggalkan sisi pintu.
"Eh, tunggu, Shaf. Lo gak mau masuk dulu? Abi sama Uma lo udah nungguin."
"Ntar aja. Gue mau salat dulu biar tenang."
Kafa menghela napas, lalu menyusul hingga berjalan di samping Arshaf. Tangannya langsung merangkul pundak laki-laki itu.
"Tadi dokter bilang apa?"
"Nanti gue ceritain habis salat."
"Kenapa gak sekarang aja sih?"
"Ntar aja lah. Pikiran gue lagi runyam banget tau nggak lo?"
"Iya iya, oke."
Di pertengahan jalan, Arshaf dan Kafa bertemu dengan Ayesha dan Zaskia. Langkah keempatnya sontak terhenti bersamaan.
Melihat kedua laki-laki itu, Ayesha langsung panik. Ia segera menghampiri dan memeriksa keadaan mereka. Bagaimanapun, Arshaf adalah anak dari sepupunya sendiri.
"Kalian gapapa kan?"
"Kita berdua gapapa, Tante. Aman."
"Tapi kenapa baju kalian ada merah-merah gitu? Kalian beneran gak ada yang luka kan?"
Kafa dan Arshaf langsung tersadar. Mereka lupa pakaian mereka terkena darah. Jika begini, tentu saja mereka tidak bisa salat sebelum membersihkannya. Sedangkan mereka juga tidak membawa baju ganti.
Di tengah kekhawatiran Ayesha terhadap dua pemuda di depannya, Zaskia berdiri di belakang dengan jantung berdetak tak karuan. Otaknya langsung menyimpulkan bahwa noda merah gelap di pakaian Arshaf dan Kafa adalah darah suaminya.
"Kak Aryan mana, Kak?" Suara Zaskia mengalihkan perhatian ketiganya.
Arshaf terdiam menatap wajah Zaskia yang tampak begitu cemas. Begitu pula Kafa yang mendadak salah tingkah.
"Aryan baik-baik aja kok. Jangan terlalu panik ya. Kata dokter, dalam beberapa waktu ke depan Aryan pasti sembuh."
Tanpa mengatakan apa-apa, Zaskia langsung bergegas menuju ruang ICU.
"Kia, jalan pelan aja!" seru Ayesha lalu menyusul.
"Kayaknya kita harus balik deh, Shaf."
Usai berkata demikian, Kafa langsung berbalik mengikuti dua perempuan tadi. Arshaf kembali menghela napas panjang sebelum akhirnya ikut menyusul.
Tiba di depan ruang ICU, Zaskia langsung menerobos masuk tanpa mengucapkan salam. Namun begitu melihat ke dalam, langkahnya yang semula terburu-buru perlahan melambat.
Penglihatannya mulai kabur tertutup air mata yang memenuhi pelupuk mata.
Uma Azzura langsung menghampiri dan memeluknya erat. Gus Abidzar dan Azzam menatap dengan iba. Mereka memang sudah tau bahwa Ayesha akan membawa Zaskia menyusul ke rumah sakit. Hanya saja, mereka tidak menyangka perempuan itu akan masuk begitu tiba-tiba.
"Nggak apa-apa, Sayang. Gapapa. Alhamdulillah Aryan masih dikasih kesempatan buat kumpul sama kita. Semuanya udah aman, Sayang."
Zaskia tersedu di pelukan Uma Azzura.
Tanpa ia sadari, sejak pertama kali perempuan itu masuk ke ruangan, Aryan terus memperhatikannya.
Sungguh, laki-laki itu sangat merindukan istrinya.
Jika bisa, ia ingin bangkit dari brankar, memeluk Zaskia, lalu menenangkan tangis perempuan itu sendiri. Namun apa daya, bahkan untuk berbicara saja ia kesulitan.
Ayesha kemudian berjalan menghampiri Zhafran yang berdiri di sisi brankar. Melihat kondisi menantunya, hati perempuan itu ikut terasa nyeri.
"Aryan..." panggil Ayesha pelan, hendak menanyakan keadaannya.
"Sayang, jangan diajak ngobrol dulu ya," cegah Zhafran sambil menyentuh pinggang istrinya lembut.
Ayesha mengangguk sambil mengusap mata. Ia kembali menegakkan tubuh, lalu mengusap lengan Aryan penuh kasih.
"Cepat sembuh ya, Nak."
Tak lama kemudian dokter datang. "Saya izin periksa sebentar ya."
Semua orang langsung menepi memberi jalan. Pelukan Uma Azzura pada Zaskia pun perlahan terlepas. Perempuan itu masih sesenggukan memperhatikan suaminya.
Dokter mulai melakukan pemeriksaan. "Alhamdulillah, kondisi pasien pelan-pelan mulai stabil. Bagian tubuhnya hanya mengalami luka lecet dan memar, tidak sampai patah tulang. Untuk saraf di kepala juga aman, tidak ada yang putus ataupun rusak. Tapi pasien tetap harus banyak istirahat. Maksimal hanya satu orang yang boleh menjaga di sini."
"Baik, Dok. Terima kasih banyak."
"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya izin dulu."
"Ya, Dok."
Dokter itu kemudian berjalan keluar melewati Arshaf. Saat berpapasan, dokter memberi kode agar Arshaf ikut keluar. Kafa yang menyadarinya langsung semakin penasaran.
"Biar saya sama Zura yang jaga. Zura nanti di dalam. Kalian pulang aja dan balik lagi besok," ujar Gus Abidzar.
"Jangan, Gus. Kamu sama Zura kan baru sampai dari perjalanan jauh. Saya aja," sahut Zhafran.
"Nggak apa-apa, Zhaf," potong Azzura cepat. "Saya gak bakal tenang kalau gak di dekat Aryan."
"Tapi kondisi kamu juga capek, Zura," ujar Ayesha lirih.
Zaskia bergeming memperhatikan Aryan yang juga sedang menatapnya. Sorot mata laki-laki itu seperti sedang memanggilnya untuk mendekat. Karenanya, Zaskia beranjak dari sisi Uma Azzura dan mendekati brankar.
"Kak," Panggilnya dengan suara gemetar.
Aryan tersenyum lembut seraya meraih jemari Zaskia yang tepat bersebelahan dengan jemarinya. Tangan yang terasa lemah dan hangat itu mulai menggenggam lembut tangan lentik Zaskia.
"Oke, kayanya kita udah nemuin orang yang diinginkan pasien buat menjaganya." Ucap Abidzar.
Hal yang membuat semua mata tertuju ke brankar.
"Iya dan kayanya dari tadi Aryan nungguin momen ini." Sambung Aira seraya tersenyum.
"Tapi mas, Kia kan lagi hamil, apa malah gak bahaya buat kandungannya kalau dia jagain Aryan semalaman disini?" Azzura kurang setuju.
"Ada saya, Zura. Saya yang bakal jagain mereka berdua." Ucap Zhafran.
"Tolong biarin Kia disini, sayang." Abidzar memberi pengertian.
Azzura mengurai napas pelan dan mengangguk. "Ya udah kalau gitu."
"Gapapa ya sayang. Besok kita ke sini lagi," hibur Abidzar.
Azzura kembali mengangguk. Sebenarnya wanita itu masih khawatir pada keadaan Zaskia, terlebih menantunya sedang mengandung. Namun ia hanya bisa berharap semoga tidak terjadi apa-apa pada calon cucunya itu.
"Ya udah, kita pulang dulu. Yuk. Aryan sama Kia mungkin butuh waktu berdua," ucap Ayesha.
Semua orang di sana langsung memahami maksud perempuan itu.
Kafa sendiri sudah tidak berada di ruangan. Laki-laki itu keluar menyusul Arshaf beberapa menit lalu. Ayesha dan Zhafran saling melempar senyum kecil saat melihat Aryan dan Zaskia.
Begitu pula dengan Gus Abidzar dan Azzura. Pria itu merangkul lembut pinggang istrinya sambil berjalan keluar dari ruangan. Disusul Azzam dan Aira yang tersenyum gemas melihat keponakan mereka.
Sepertinya memang ada dua orang yang sedang sangat ingin diberi waktu berdua.
Kini hanya Aryan dan Zaskia yang tertinggal di sana.
"Ma...af..." Suara Aryan terdengar lirih dan terbata.
Zaskia langsung mengusap matanya menggunakan punggung tangan. Namun, semakin ia mencoba menghentikannya, air mata itu justru semakin deras berjatuhan.
"Ke-kenapa sih gak dengerin Kia?" gerutunya di tengah isak tangis.
Sorot mata Aryan berubah pilu.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, laki-laki itu perlahan menarik tangan Zaskia. Dengan gerakan lemah, ia membawa perempuan itu lebih dekat lalu memeluknya erat.
Kepala Zaskia kini berada tepat di atas dada Aryan, telinganya menempel di sana. Ia bisa mendengar dengan jelas detak jantung suaminya yang berdetak stabil.
Perlahan, Aryan mengusap kepala istrinya dan menepuk bahunya lembut.
Namun sentuhan itu justru membuat tangis Zaskia semakin pecah.
"Kia takut..." lirih perempuan itu dengan suara gemetar. "Kia takut banget kehilangan Kak Aryan."
Aryan memejamkan mata perlahan. Dadanya terasa sesak melihat tangisan istrinya.
Tangannya bergerak pelan menyusuri rambut Zaskia, berusaha menenangkan meski dirinya sendiri masih lemah.
Arshaf menatap resep dokter di tangannya. Tatapannya memang tertuju pada lembaran kertas itu, tetapi pikirannya berkelana ke mana-mana. Ia masih bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Abi dan Umanya. Ia tidak tega membuat kedua orang tuanya semakin sedih setelah mengetahui apa yang menimpa Aryan.
“Ya udah, yuk balik. Habis itu tebus obatnya,” ucap Kafa yang duduk di samping Arshaf.
Laki-laki itu tampak sama bingungnya setelah mendengar penjelasan Arshaf tentang kondisi Aryan.
“Terus kita harus ngomong apa kalau orang tua gue nanya, Kaf? Kalau gue jujur, mereka pasti makin sedih, kan?”
Kafa menepuk bahu Arshaf pelan. “Jujur aja, Shaf. Mereka juga harus tau. Awalnya mungkin bakal sedih, tapi lama-lama pasti bisa nerima. Lagian dokter bilang Aryan cuma tuli sementara, kan? Itu artinya masih ada harapan buat sembuh.”
Arshaf mengembuskan napas panjang lalu mengangguk pelan. Setelah itu, keduanya bangkit dan memutuskan pergi dari sana untuk menebus obat Aryan.
Sementara itu, Gus Abidzar dan Azzura ikut pulang bersama Ayesha menuju rumah mereka untuk menginap. Hari sudah terlalu malam untuk mencari hotel. Begitu juga dengan Azzam dan Aira yang sudah lebih dulu pulang lima menit yang lalu. Kini hanya Zhafran yang masih berada di rumah sakit, duduk di kursi tunggu ruang ICU.
Di dalam ruangan, Zaskia perlahan melepaskan diri dari pelukan Aryan lalu duduk di kursi yang berada di samping brankar. Hal itu membuat Aryan mengernyit kecil. Ia heran kenapa istrinya tiba-tiba menjauh, padahal dirinya masih ingin terus dekat seperti tadi.
“Kia berat, nanti kakak susah napas kalau kelamaan,” ucap Zaskia lirih sambil mengusap matanya menggunakan lengan baju.
Aryan tidak mendengar jelas ucapan istrinya. Karena itu, laki-laki tersebut menurunkan ventilator perlahan dari mulutnya.
“Kia…”
Zaskia tersenyum tipis di tengah kedua matanya yang sembab. Ia mengangguk lalu menggenggam tangan Aryan hangat.
“Gimana keadaan kakak sekarang?” tanyanya pelan.
Aryan menyipitkan mata. Suara Zaskia terdengar samar dan tidak jelas di telinganya.
“Apa, Sayang?” tanyanya perlahan. Suaranya masih terdengar lemah.
“Keadaan kakak sekarang gimana?”
Aryan tetap tidak bisa mendengar dengan jelas.
Hal itu membuat jantungnya mulai berdetak lebih keras. Ada apa dengan dirinya?
“Kia… kakak gak dengar kamu ngomong apa.”
Zaskia tertegun. Apa suaranya terlalu kecil?
Perempuan itu segera bangkit lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Aryan.
“Keadaan kakak gimana?”
Namun tetap saja suara itu terdengar samar.
“Udah enakan belum?”
Tatapan Aryan langsung terpaku pada wajah istrinya dengan sorot mata tegang.
Ia tidak tau harus menjawab apa karena yang terdengar olehnya hanyalah suara samar tanpa kalimat yang jelas.
“Kia… kakak gak bisa dengar suara kamu dengan jelas.”
“Kakak serius?”
Aryan hanya diam.
“Kakak serius gak dengar suara Kia?”
Aryan tampak bingung. Tatapannya terus tertuju pada wajah Zaskia.
“Ya Allah… kenapa bisa gini?”
Zaskia mulai panik. Apa dokter menyembunyikan sesuatu yang tidak ia ketahui?
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Zaskia tiba-tiba bangkit meninggalkan sisi brankar.
“Kia… jangan pergi…” Aryan meluruskan tangannya, mencoba menahan istrinya agar tetap di sana.
Namun sayang, suaranya terlalu lirih hingga tidak terdengar oleh Zaskia yang sudah membuka pintu dan keluar dari ruangan.
Begitu tiba di luar, Zaskia langsung bertemu Zhafran.
“Ada apa, Kia? Kenapa muka kamu panik begitu? Aryan gapapa kan?” tanya Zhafran cemas sambil berdiri mendekati putrinya.
“Ruangan dokter di mana, Yah?” Pertanyaan itu membuat Zhafran semakin khawatir.
“Aryan kenapa?”
Wajah Zaskia kembali dipenuhi air mata. Ia membuang napas panjang sambil sibuk mengusap pipinya.
“Kia?”
“Kak Aryan gak bisa denger suara Kia, Yah…”
“Astaghfirullah…”
Zhafran langsung menahan kedua pundak putrinya yang bergetar.
“Tunggu di sini. Kamu temenin Aryan dulu, ya. Biar Ayah yang cari dokternya. Dia butuh kamu sekarang. Untuk sementara jangan ajak dia banyak ngobrol dulu. Jangan sampai dia mikir yang aneh-aneh. Kamu harus tenang, oke?”
Zaskia mengangguk pelan.
“Seka air mata kamu dulu. Sambut Aryan dengan senyum terbaik kamu.”
Zhafran kemudian membantu menghapus sisa air mata di wajah putrinya.
Setelah itu, Zaskia kembali masuk ke dalam ruangan, sementara Zhafran segera berjalan menuju ruangan dokter.
Namun sesampainya di dalam, mata Zaskia langsung membelalak kaget.
Aryan sudah duduk di atas brankar dan sedang berusaha melepaskan jarum infus di tangannya.
“Astaghfirullah! Kak Aryan, jangan!” Zaskia langsung berlari menghampiri.
“Kakak ngapain?!” Dengan panik, ia segera menahan tangan Aryan sebelum jarum infus itu benar-benar tercabut.
Setelah memastikan semuanya masih aman, Zaskia mengembuskan napas lega.
Beruntung Aryan belum sempat melepasnya.
Perempuan itu kemudian menatap laki-laki di hadapannya yang terlihat lemah dengan napas tersengal.
“Jangan tinggalin kakak, Kia…” ucap Aryan lirih penuh permohonan.
Mendengar itu, pertahanan Zaskia runtuh lagi.
Tangisnya pecah semakin keras. Ia langsung memeluk Aryan erat hingga kepala laki-laki itu bersandar di dadanya.
“Kia gak akan ninggalin kakak…”
Aryan membalas pelukan itu. Kedua tangannya melingkar lemah di pinggang Zaskia.
“Jangan pergi, Kia… jangan pergi…”
Zaskia mengangguk berkali-kali sambil mengusap rambut Aryan lembut. Ia memejamkan mata lalu menyandarkan pipinya di atas kepala suaminya, mencoba menenangkan laki-laki itu meski hatinya sendiri sedang hancur perlahan.
pusing gak tuh abi nya 😅