Ghani hidup dalam dunia bayangan, tempat rahasia bernilai jutaan dolar dan kepercayaan bisa membunuhmu kapan saja.
Saat memutuskan pulang ke tanah kelahirannya di Tora-Tora, ia hanya ingin beristirahat dari hidupnya yang gelap.
Namun semuanya berubah setelah ia bertemu Ghea, gadis bermata hazel yang keras kepala, penuh rahasia, dan perlahan membuatnya ingin berhenti berlari.
Di antara pantai, kebohongan, dan masa lalu yang belum selesai, keduanya terjebak dalam hubungan yang semakin dalam.
Tapi bagi Ghani, mencintai seseorang adalah cara tercepat untuk kehilangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Aiza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Kelemahan
Aku berjalan melewati lorong-lorong yang berbau melati dan minyak senjata. Dua pengawal pribadi Marko mengiringiku menuju balkon lantai dua, sebuah area terbuka yang menghadap ke arah barat.
Di sana, di balik meja kayu jati, duduklah seorang pria tua yang mengenakan kemeja linen putih dengan kancing terbuka di bagian kerah, memperlihatkan kalung emas dengan liontin salib yang kontras dengan kulitnya yang kecokelatan. Marko. Dia sedang memegang ujung cerutu yang mengepul di tangannya. Di depannya, sebuah botol tequila Clase Azul yang sudah terbuka mengeluarkan aroma agave yang manis.
"Sammy," suara Marko berat, yang membuat bulu kuduk orang biasa merinding. "Kau tidak pernah berubah. Selalu tepat waktu, selalu waspada, dan selalu membawa mobilmu sendiri. Kau tidak percaya pada jemputanku?"
Aku berdiri tegak tiga meter di depan meja. Alih-alih meletakkan koper di lantai, aku memegangnya dengan erat. "Aku hanya percaya pada apa yang bisa kukendalikan, Marko. Jemputanmu sering kali berakhir di lubang kuburan yang sudah digali sebelumnya."
Marko tertawa, sebuah tawa kering yang tidak mencapai matanya. "Duduklah. Minumlah. Kita punya urusan besar."
"Aku di sini untuk mendengar perintahmu, bukan untuk minum tequilamu," balasku dingin.
Akupun tetap berdiri, memposisikan diriku sehingga aku bisa melihat setiap pergerakan di lantai bawah melalui sudut mataku.
Marko mengembuskan asap cerutu yang tebal ke udara, membiarkan kabut putih itu menggantung di antara mereka. "Dimitri Volkov. Kau kenal?"
"Logistik Rusia. Mantan kolonel intelijen. Dia memegang jalur distribusi di Baltik," jawabku singkat.
"Dia bukan lagi sekadar logistik," desis Marko, matanya menyipit penuh amarah. "Dia mencuri dariku. Hampir dua puluh juta dolar hilang dari akunku di Panama, dan jejak digitalnya mengarah langsung ke server pribadinya di Moskow. Dia pikir jarak antara Jalisco dan Moskow cukup jauh untuk melindunginya. Dia pikir aku tidak bisa menyentuhnya."
Marko menaruh sebuah map cokelat tua di atas meja. Di dalamnya terdapat foto-foto Dimitri yang tampat tua dan lelah berada di kantornya yang megah di Moscow City, peta satelit sebuah kediaman di pinggiran kota, dan sebuah daftar yang disebut sebagai 'Buku Hitam'.
"Aku ingin kau pergi ke Moskow," lanjut Marko. "Bawa kembali Buku Hitam itu. Di dalamnya ada semua kode akses ke dana yang dia curi. Setelah kau mendapatkan aksesnya, lenyapkan Dimitri dari dunia. Pastikan dia mati dan kirimkan pesan kepada siapa pun yang berniat mengkhianatiku."
Aku membuka map itu sejenak. Aku melihat detail keamanan Dimitri. Itu adalah misi bunuh diri. Menginfiltrasi Moskow untuk membunuh mantan kolonel intelijen di rumahnya sendiri adalah hal yang mustahil bagi kebanyakan agen. Dimitri punya kekuasaan yang sangat solid, baik di permukaan maupun di bawah. Semua orang tahu itu.
"Moskow adalah sarang serigala, Marko. Masuk ke sana tanpa persiapan matang sama saja dengan menyerahkan leher ke algojo," kataku dengan tegas tapi pelan "Aku akan melakukannya. Tapi ada harga yang harus kau bayar. Dan aku tidak bicara soal uang."
Marko mengangkat alisnya, tampak tertarik. "Oh? Lalu apa yang diinginkan oleh agen terbaikku?"
"Kebebasan," ujarku tajam. "Setelah Dimitri selesai, hapus dari daftar asetmu. Selamanya. Tidak ada lagi panggilan tengah malam, tidak ada lagi kontrak 'hitam', dan yang paling penting... kau menjauh dari Indonesia. Silahkan cari agen dari negara lain yang menurutmu lebih bagus."
Marko terdiam. Suasana di balkon itu mendadak menjadi sangat dingin meskipun matahari masih bersinar. Marko merogoh laci mejanya perlahan. Akupun otomatis menggeser posisi kakiku memasang kuda-kuda, siap untuk melakukan gerakan bela diri jika Marko mengeluarkan senjata.
Namun ternyata Marko mengeluarkan sebuah foto. Dia meletakkannya di atas meja, tepat di samping botol tequila. Foto itu menunjukkan Ghea. Ghea tampak memakai blouse biru sedang berbicara dengan Wati di teras Kedai Raos sambil memegang buku dan pulpen, tampak tenang dan anggun, tanpa dia sadari bahwa ada lensa yang sedang membidiknya dari kejauhan.
"Kau punya sumber daya yang hebat, Sammy," bisik Marko, suaranya kini selembut sutra namun setajam belati. "Kau punya uang untuk menyewa tentara swasta, kau punya teknologi untuk menghilang dari radar. Tapi kau punya satu kelemahan yang tidak bisa kau beli solusinya, Cinta."
Marko mengetukkan jarinya ke foto Ghea. "Selama dia masih bernapas, kau masih milikku.”
Jantungku berdegup kencang, rasa panas menjalar di dada. Rasa muak menggores pikiranku. Bisa-bisanya dia tahu Ghea secepat ini. Aku bersumpah pada diriku, siapapun yang melanggar aturanku aku akan memastikan hidupnya berakhir.
“Pergilah ke Moskow. Bukan karena kau butuh uangku, tapi karena kau butuh izin dariku agar wanita ini bisa melihat matahari terbit besok pagi."
Darahku mendidih. Di dalam saku jaketku, tanganku menggenggam gelang batu hitam pemberian Ghea erat-erat. Kemarahan yang luar biasa bergejolak di dalam dadaku, namun aku tetap mempertahankan wajahku seperti topeng marmer yang beku yang tak bisa dia baca. Itulah yang membuat Samuel, itulah yang mebuat diriku, Ghani berbahaya, semakin aku ingin membunuh seseorang, semakin tenang penampilanku.
"Kau melakukan satu kesalahan besar, Marko," kataku dengan suara yang nyaris berupa bisikan. "Kau mengira ancaman ini akan membuatku bekerja lebih keras. Padahal, ancaman ini hanya membuatku kehilangan alasan untuk membiarkanmu tetap hidup setelah misi ini selesai." lanjutku dengan seringai tipis di bibirku.
Marko tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Buktikan padaku di Moskow, Sam. Buktikan bahwa kau lebih hebat dari Dimitri. Sekarang pergilah. Pesawat kargomu berangkat dalam tiga jam dari pangkalan udara swasta di utara. Semua kebutuhanmu sudah tersedia di sana, meskipun aku tahu kau lebih suka menggunakan mainanmu sendiri."
Aku mengambil foto Ghea dari meja, dan memasukkannya ke dalam saku dalam dekat dengan jantungku. Akupun berbalik tanpa sepatah kata pun. Langkahku berat menuruni tangga Hacienda. Di saku dalam jaket, tepat di atas jantungku, foto Ghea terasa seperti bara api yang membakar kulit. Marko pikir ia telah menemukanku di titik terlemah. Ia salah. Ia baru saja melakukan kesalahan fatal yang dilakukan setiap tiran, ia memberikan alasan bagi seorang pria yang tidak takut mati untuk menjadi iblis.
Saat aku masuk ke dalam SUVku dan mulai melaju keluar dari gerbang, aku melihat pantulan diriku sendiri di spion. Yang aku lihat adalah seorang pria yang baru saja kehilangan segalanya kecuali satu hal, tujuannya.
Aku memacu SUV menembus debu Jalisco yang mulai memerah ditelan senja. Pikiranku terbelah antara kehangatan Kedai Raos di Tora-Tora dan dinginnya salju Moskow yang menantiku.
'Marko pikir dia telah mengikatku dengan rantai ketakutan. Dia salah. Dia justru telah membebaskanku dari rasa ragu. Di Moskow nanti, aku tidak akan hanya mencari Dimitri. Aku akan mencari kunci untuk menghancurkan seluruh kerajaan Marko. Jika aku harus menjadi iblis untuk melindungi malaikatku di rumah, maka biarlah Moskow menjadi tempat di mana aku menanggalkan sisa kemanusiaanku.' kataku dalam hati.
Aku memacu kendaraanku menembus debu Jalisco yang mulai menggelap, menuju cakrawala yang menjanjikan salju, darah, dan pembalasan dendam. Perang sesungguhnya baru saja dimulai. Perang dimana aku tak bisa berlari untuk kembali, perang dimana aku harus menang, untukku dan juga.. Cintaku.
Terus berkarya ya Thor, sy trus ngikutin/Pray/
Btw, banyakin promo dong Thor, spy banyak yg baca....
Selamat dan semangat berkarya /Angry/