Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Lucien melangkah semakin dekat ke arah Alyssa.
Kini jarak mereka hanya tinggal beberapa senti.
Aroma parfum pria itu terasa samar memenuhi udara, membuat Alyssa tanpa sadar menahan napas.
“Aku justru lebih puas melihatmu membalasnya,” ucap Lucien rendah sambil menatap mata wanita itu lekat. “Dengan begitu… terbukti kalau di hatimu sudah tidak ada bayangan pria itu lagi.”
Tatapan Alyssa sedikit berubah.
“Kau terlihat sangat membencinya,” gumam Alyssa pelan. “Bahkan mendukung orang luar untuk melukainya.”
Lucien tersenyum tipis.
“Kau bukan orang luar,” jawabnya tenang.
Pria itu mengangkat tangannya perlahan lalu menyentuh rambut Alyssa yang jatuh di sisi wajahnya.
“Kau adalah calon Nyonya Fan.” Nada suaranya rendah dan penuh tekanan. “Istri Lucien Fan.”
Jantung Alyssa langsung berdetak lebih cepat.
“Semua anak buahku akan mengenalmu dan melindungimu,” lanjut Lucien. “Setelah kita menikah… aku akan memperkenalkanmu pada mereka.”
Alyssa menatap pria di depannya dengan bingung.
“Lucien…” gumamnya pelan. “Apakah kau selalu menggoda wanita seperti ini?”
Lucien tertawa kecil.
“Sayangnya tidak pernah.”
Tatapannya semakin dalam.
“Karena kau adalah wanita pertama yang ingin aku goda.” Sudut bibirnya perlahan terangkat. “Dan juga wanita pertama yang benar-benar ingin aku miliki.”
Lucien kemudian mencubit dagu Alyssa pelan, membuat wanita itu sedikit membeku.
“Tapi aku sudah menikah dan memiliki seorang anak,” ujar Alyssa lirih. “Kenapa harus aku?” Tatapannya penuh tanda tanya. “Apakah kita pernah saling mengenal sebelumnya?”
Lucien terdiam beberapa detik.
“Suatu hari nanti… kau akan tahu sendiri,” jawabnya pelan. “Apakah kita pernah bertemu atau tidak.”
Alyssa masih menatapnya tanpa berkedip.
“Lalu…” suara wanita itu melemah sedikit, “kapan cincin giokku akan kau kembalikan?”
Lucien tidak langsung menjawab.
Pria itu justru menarik pinggang Alyssa perlahan hingga tubuh mereka semakin dekat.
Napas Alyssa langsung tercekat.
Lucien menundukkan wajahnya sedikit lalu berbisik tepat di dekat telinga wanita itu.
“Malam pernikahan kita…”
Suaranya rendah dan dalam.
“Aku akan memberikan semuanya padamu.” Tatapannya perlahan turun ke bibir Alyssa. “Termasuk diriku.”
Wajah Alyssa langsung memanas.
Tubuhnya membeku sesaat karena ucapan pria itu.
Sementara Lucien hanya tersenyum tipis melihat reaksi wanita di pelukannya.
Beberapa jam kemudian.
Jean dan Darius masih berdiri di depan rumah Alyssa.
Wajah keduanya sudah dipenuhi emosi karena menunggu sejak pagi tetapi tetap tidak diizinkan masuk.
“Biarkan kami masuk!” bentak Darius marah. “Aku ingin melihat anakku!” Tatapannya tajam ke arah para penjaga. “Suruh wanita itu keluar! Berani sekali dia melarangku bertemu dengan anakku sendiri!”
Salah satu anak buah Lucien tetap berdiri santai di depan gerbang.
“Tidak bisa.” Nada suaranya datar. “Tanpa perintah Bos, siapa pun tidak diizinkan masuk.”
Darius langsung mengepalkan tangannya.
Karena kesal, ia segera menghubungi Lucien.
Tak lama kemudian panggilannya tersambung.
“Hallo,” suara Lucien terdengar tenang dari seberang sana. “Ada apa?”
“Paman!” ujar Darius penuh emosi. “Anak buah Paman tidak membiarkanku masuk!” “Aku ingin melihat anakku! Aku dan Mama sudah menunggu sejak pagi. Wanita sialan itu sengaja mempermainkan kami!”
Di sisi lain sambungan, Lucien justru terdengar sangat tenang.
“Seharusnya kau bertanya pada dirimu sendiri,” jawab pria itu dingin, “apakah kau sudah menjadi suami yang baik?”
Wajah Darius langsung berubah.
“Istrimu dan anakmu sedang beristirahat.” Nada suara Lucien penuh tekanan. “Untuk apa kau mengganggu mereka?”
“Tapi Paman!” bentak Darius. “Alyssa sengaja menjauhkan Kael dari kami!” “Dia hanya merajuk padaku!”
Lucien tertawa kecil.
“Kalau Alyssa tidak ingin bertemu denganmu…” suaranya semakin dingin, “lebih baik kau pergi saja.”
Tut.
Sambungan langsung terputus.
“Hallo? Paman?” seru Darius kesal.
Jean langsung mendekat.
“Apa kata pamanmu?”
Darius menurunkan ponselnya dengan wajah buruk.
“Paman menyuruh kita pergi.”
Jean langsung mendecak marah.
“Lucien benar-benar sudah buta. Bukannya membela keluarga sendiri malah membela orang luar.”
“Ternyata kalian masih di sini?”
Suara Alyssa tiba-tiba terdengar dari arah pintu rumah.
Jean dan Darius langsung menoleh.
Alyssa berjalan keluar perlahan dengan pakaian rumah sederhana. Wajahnya terlihat segar, tatapannya sangat dingin.
“Hei, jalang!” bentak Jean marah. “Kau sengaja melakukan ini agar kami tidak bisa bertemu Kael, bukan?” Tatapannya penuh kebencian. “Jangan lupa Kael adalah darah daging Darius!” “Apa kau tidak takut diceraikan dan hak asuhnya jatuh ke tangan kami?!”
Alyssa justru tersenyum tipis penuh ironi.
“Akhirnya…” gumamnya pelan, “kau mengatakan yang sebenarnya.”
Jean langsung membeku sesaat.
“Alyssa,” ujar Darius kesal, “tidak ada salahnya Mama bicara seperti itu.” Tatapannya dingin. “Aku ingin bertemu anakku!”
Darius mencoba melangkah masuk.
Namun...
Anak buah Lucien langsung menahan tubuhnya.
“Alyssa!” bentak Jean. “Kau tidak berhak menghalangi kami!”
Alyssa perlahan mengangkat wajahnya.
“Aku berhak atas anakku.” Nada suaranya sangat tenang. “Justru kalian yang tidak berhak.”
Tatapannya jatuh pada Jean.
“Bukankah selama ini aku hanya orang luar bagi kalian?” Sudut bibirnya terangkat tipis. “Kalau begitu Kael adalah anakku.” “Dan aku berhak tidak membiarkan orang luar mendekatinya.”
“Orang luar?!” Darius langsung marah. “Aku ayahnya!”
Alyssa menatap pria itu tanpa rasa takut sedikit pun.
“Ayah?” tanyanya dingin. “Sejak kapan kau menjalankan tanggung jawabmu sebagai seorang ayah?”
Tatapan Alyssa semakin tajam.
“Hidupmu hanya tahu bersenang-senang. Kau bahkan tidak layak menjadi ayah Kael.”
“Alyssa,” ujar Darius dengan tatapan dingin, “aku akan menceraikanmu dan mendapatkan hak asuh Kael.”
Jean yang berdiri di samping langsung tersenyum puas mendengar ucapan putranya.
“Dengan kekuasaan keluarga Fan,” lanjut Darius penuh percaya diri, “kau tidak akan bisa melakukan apa pun.”
Tatapannya penuh penghinaan.
“Pada saat itu…” sudut bibirnya terangkat dingin, “kau akan berlutut di hadapanku dan memohon padaku.”
Alyssa hanya menatapnya tanpa ekspresi.
“Kael akan menjadi anakku dan istri baruku,” lanjut Darius tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Beberapa anak buah Lucien sampai saling melirik karena muak mendengar ucapan pria itu.
Namun Alyssa justru tersenyum tipis.
“Benarkah?” tanyanya pelan."Kalau begitu… kita tunggu saja dan lihat.”
Darius langsung mengernyit.
Alyssa melangkah mendekat beberapa langkah hingga jarak mereka tidak terlalu jauh.
“Siapa tahu nanti justru kejadiannya akan terbalik,” ucapnya tenang.
Jean langsung mendecak kesal.
“Alyssa, jangan terlalu percaya diri!”
Namun Alyssa mengabaikannya.
“Setelah aku sembuh,” lanjut Alyssa dingin, “aku sendiri yang akan menemuimu.”
Tatapannya lurus pada Darius.
“Karena ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”
Darius menyipitkan mata.
“Selama masa pemulihan ini…” suara Alyssa semakin dingin, “jangan datang membuat keributan lagi di rumahku.”
Tatapannya perlahan beralih ke beberapa anak buah Lucien yang berjaga.
“Kalau tidak…” sudut bibirnya terangkat tipis, “aku tidak akan segan menyuruh mereka mengusir kalian dengan kasar.”
ayooooo