Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Bawaan Bayi
Sudah seperti yang diduga. Mereka melewati waktu dengan diam. Tanpa kata. Apalagi cerita. Bahkan tanpa tanya. Apa, dan bagaimana. Karena sunyi bagi Sagara lebih bercerita dari pada sekedar kata.
Shafiya yang tetap duduk menemani. Menolak memejamkan mata, meski kantuk itu ada. Cukup, itu menjadi tanda bahwa ia peduli.
Dan Sagara tak butuh nama atau pun validasi, kepedulian itu atas dasar apa. Cukup ia membaca.
Ketika akhirnya nyeri itu benar-benar pergi, Sagara beringsut.
"Saya keluar."
"Sudah tidak nyeri?"" Shafiya juga hanya bertanya singkat.
"Iya." Dan Sagara bangkit.
"Mas." Shafiya menyusul. "Tunggu." Menahan langkah itu dengan ucapannya.
Shafiya mengambil selimut yang cukup tebal. "Mas istirahat di sini."
Shafiya lalu membentangkan selimut tebal itu di atas karpet lantai. "Saya di sini."
Sagara mendekat. Mencegah gerakan Shafiya. Menyentuh pundaknya dengan ujung jari. "Tidur di atas."
"Tapi--" Shafiya belum setuju. Terlihat dari tatapannya.
"Kamu lagi hamil." Sagara menggeser pandangan ke ranjang. "Tidur di atas."
Dan ia beringsut ke atas selimut yang dibentangkan Shafiya di lantai.
"Saya di sini."
Shafiya diam beberapa saat. Terlihat Sagara tidak ingin mengubah niatnya. Bahkan kini lelaki itu duduk di atas hamparan selimut itu.
Shafiya akhirnya mengambil bantal. Dua. Diletakkannya di dekat Sagara.
"Lantainya keras, Mas."
"Lalu?" Bertanya singkat tanpa menoleh.
"Kamu pasti tidak terbiasa."
Shafiya sedikit menunduk.
"Dan kamu?" Sagara membalik pertanyaan.
"Saya sudah biasa. Sejak di pesantren."
Sagara diam. Tangannya menata bantal itu sesuai posisi yang ia anggap paling nyaman. Lalu merebahkan kepalanya di sana.
Shafiya masih berdiri. Menatapnya.
"Saya terbiasa tidur duduk." Suara Sagara terdengar. Sementara matanya sudah memejam.
"Bahkan tidur berdiri."
"Kapan itu, Mas?" Shafiya antusias bertanya.
"Jika ujian saya gagal."
"Ujian?" Shafiya mengulang kata itu penuh tanya. Mungkin ia berpikir, itu ujian sekolah. Padahal, bukan.
Dan Sagara tidak menjelaskan lebih panjang.
Karena memang itu bukan ujian yang biasa.
Kursi Adinata yang kini ia duduki--tidak pernah benar-benar diwariskan. Sagara mendapatkannya sekarang bukan karena ia kesayangan Anjani.
Kursi itu diperebutkan. Dicapai dengan ujian. Ia sudah ditugaskan mencapai kursi itu dengan melewati semua ujian yang disiapkan.
Sejak ia bahkan belum cukup umur untuk memahami arti kalah. Dan sejak ia belum paham apa sebenarnya yang diperebutkan.
Selama ujian itu, tidak ada ruang untuk kesalahan. Tidak ada toleransi untuk kelemahan.
Setiap nilai harus sempurna.
Setiap keputusan harus tepat.
Dan setiap kegagalan harus dibayar.
Dengan cara yang paling keras. Cara yang membuatnya terus mengingat dan bersumpah tak akan gagal lagi.
Suatu ketika Sagara pernah gagal.
Usianya belum genap dua belas waktu itu.
Angkanya di kertas itu turun. Nilainya tidak sesuai. Tidak jauh bedanya. Namun cukup… untuk dianggap tidak layak.
Hari itu tidak ada amarah yang ia dapatkan.
Tidak ada bentakan.
Hanya ada satu kalimat.
“Ulangi. Sampai kamu tahu rasanya gagal.”
Dan malam itu--ia tidak diizinkan tidur.
Buku-buku dibuka kembali. Soal-soal diulang dari awal. Terus menerus.
Jam berganti. Matanya perih.
Tubuhnya lelah. Namun tidak ada yang menyuruhnya berhenti.
Tidak ada yang bertanya… apakah ia sanggup.
Hingga pagi datang.
Dan ia masih duduk di kursi ujian itu. Dengan segala lelah yang tak pernah bisa ia ceritakan.
Dan dengan satu hal yang akhirnya ia pahami--bahwa gagal… bukan pilihan.
Sejak itu, Sagara tidak lagi memberi ruang untuk lelah. Untuk ragu. Apalagi… untuk jatuh.
Hari-hari panjang tanpa jeda terus ia lalui.
Latihan yang melampaui batas wajar.
Dibandingkan. Ditekan.
Ditinggalkan sendirian dengan target-target yang tidak pernah turun.
Semua ia lewati hingga usianya kian bertambah dan bertambah.
Pada akhirnya ia tahu dengan pasti. Apa yang harus diraih. Apa yang tidak boleh lepas dari genggaman.
Dan dari pendidikan keras itu pula telah membentuk satu kesadaran yang pelan, tapi terus ia genggam..
bahwa rasa adalah gangguan.
Bahwa peduli tanpa tujuan--adalah kelemahan.
Bahwa kedekatan atau ikatan
bisa mengaburkan keputusan.
Dan sejak itu, ia mulai menanggalkan semua itu satu per satu. Perasaan. Kepedulian. Kedekatan, atau ikatan. Sampai yang tersisa dalam dirinya, hanyalah satu. Fungsi.
Sebagai seorang pewaris.
Seorang pemimpin.
Yang tidak lagi bergerak karena ingin.
Tapi karena harus.
Sagara menarik napas perlahan.
Seolah baru saja kembali dari suatu tempat yang jauh.
Namun yang ia lihat sekarang, bukan lagi meja belajar. Bukan lagi ruangan yang dikunci dari luar. Bukan angka-angka.
Melainkan lantai kamar sederhana.
Dan lampu temaram yang tidak menyilaukan.
Di sini, tidak ada suara tuntutan. Tidak ada target.
Hanya putaran kipas angin yang pelan.
Dan seseorang--yang masih berdiri tidak jauh darinya.
Sagara mengedip sekali.
Menarik dirinya sepenuhnya kembali.
Ke saat ini.
Ke ruangan yang… tidak menuntut apa-apa. Namun justru terasa lebih sulit dihadapi.
"Tidurlah." Sagara mengucapkan itu dengan kembali memejamkan mata. Menurutnya, malam seperti ini lebih aman bila dihadapi tanpa banyak kata. Tanpa membuka hal-hal yang belum siap untuk mereka hadapi bersama.
Shafiya mengangguk tipis. Lalu duduk di tepi pembaringan. Namun keputusan untuk lanjut tidur belum ia ambil. Karena masih ada keinginan yang belum selesai di dalam dirinya.
Tatapannya tertuju pada dua ruas jeruk yang belum ia makan di atas meja. Rasa ingin menyeruak dengan cepat. Ia bangkit mengambil jeruk itu dan mengunyahnya dengan lahap.
"Malam-malam begini." Terdengar suara Sagara.
"Ingin." Shafiya menjawab sedikit tak nyaman. Padahal ia menyangka Sagara sudah tidur.
"Ini hampir jam dua." Sagara melirik penunjuk waktu di pergelangan tangannya. Ia pikir, orang mana yang ingin makan jeruk di jam segini.
"Bawaan bayi." Ucapan Shafiya membuat Sagara diam. Dan ia hanya melihat saja saat perempuan itu menghabiskan irisan jeruk yang terakhir.
Shafiya kemudian beranjak. Namun baru dua langkah.
"Kemana?" tanya Sagara.
"Ambil jeruk lagi di kulkas." Ia menjawab itu sambil terus melangkah.
"Duduk." Suara Sagara terdengar lebih dekat.
Shafiya menoleh. Ternyata laki-laki itu sudah berdiri di belakangnya.
"Saya saja." Dan tanpa menunggu jawaban, Sagara keluar dari kamar itu.
Reflek. Shafiya tersenyum. Ia kembali ke tepi ranjang. Duduk. Menunggu.
Tak seberapa lama, Sagara datang. Membawa dua buah jeruk berukuran cukup besar. Dan ia tak memberikan jeruk itu begitu saja, sebelum mengupasnya.
Shafiya menerima buah itu dengan mata berbinar. Memakannya dengan wajah penuh minat. Seakan dahaga yang mencekik kini terobati.
Sagara menatap itu dengan diam. Namun tatapannya sedikit berubah. Sesaat. Sebelum ia kembali merebahkan tubuhnya di posisi semula.
"Terima kasih, Mas." Shafiya berucap lirih.
Sagara diam. Sepasang matanya masih belum terpejam.
"Selamat tidur." Suara Shafiya kembali terdengar. Pelan.
"Ada lagi yang kau ingin?" pertanyaan itu akhirnya terdengar dari Sagara.
Shafiya tersenyum.
"Tidak. Saya mau tidur."
Sagara mengangguk. "Tidurlah."