Mati karena peluru lalu jiwa bertransmigrasi ke dalam raga seorang yang ternyata adalah seorang figuran tanpa nama yang miskin. Anin pun bertekad untuk merubah takdir nya memanfaatkan wajah polos raga barunya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak rapuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chp 15
Silviana duduk menunggu kedatangan Bianca. Mereka berdua sudah berjanji akan bertemu, membahas suatu rencana besar.
"Lo yakin?" tanya Silviana. Dirinya agak ragu menerima rencana Bianca. Dia tidak tahu kalau ternyata Bianca adalah sosok yang kejam.
"Kenapa lo takut ya?" ejek Bianca tersenyum remeh. Silviana mengepalkan tangannya, "Oke gue bakalan lakuin rencana ini. Jadi kapan mulainya?" ucap Silviana.
Bianca tersenyum miring. "Malam ini," ujarnya.
"Oke." Silviana berdiri. Lalu pergi meninggalkan Bianca ini hanya rencana biasa, dia pasti bisa melakukannya lagipula bukan dia yang akan membunuh Ara. Dia hanya kaki tangan saja.
"Kak Silviana dari mana?"tanya Elara
Silviana menatap malas Ara yang ada di hadapannya. Gadis itu sedang memegang dot yang isinya sisa setengah. Apakah gadis itu tidak tahu malu? Sudah besar masih ngedot.
Sebenarnya Silviana ingin berbicara ketus tapi mengingat rencananya dan Bianca dia tersenyum dengan paksa. "Dari luar. Btw malam ini pasar raya buka. Lo mau ikut gak?"
Ara memiringkan kepalanya menatap bingung Silviana. "Emm.. kak Silviana ajakin Ara?" ujarnya berkedip polos. Silviana ingin sekali mencolok mata itu.
"Ya, mau atau gak?" jengah Silviana.
"Oke, Ara ikut!"jawab Elara
Sesuai janji, akhirnya Silviana membawa Ara ke pasar malam yang baru buka. Rencana Silviana dan Bianca adalah kejahatan yang cukup klasik yaitu penculikan.
Namun rupanya ada sesuatu yang terjadi sehingga rencana batal.
"Kak Silviana gak papa?"Tanya Elara lirih
Silviana mengepalkan tangannya menahan emosi. Menatap nyalang dua orang yang sedang berpelukan di depan sana. Sedangkan Ara tentu saja tersenyum kesenangan diam-diam.
Flashback on
Ara yang berdiam diri di dalam toilet mendengar semua pembicaraan Silviana dan Bianca. Ara mendengar kalau mereka membuat berjanji akan bertemu di sebuah cafe. Tentu saja Ara tahu, mereka akan merundingkan rencana untuk menyingkirkan nya.
"Bodoh," hina Ara saat mereka sudah selesai.
Karena Ara sudah tahu letak dan password ruangan rahasia itu jadi dia langsung ke sana dia harus menjalankan rencana melalui pion nya. Namun sayang sekali mereka tidak ada kecuali Arsen.
"Ara tunggu, bisa kita bicara?" Arsen menahan lengan Ara. Tidak memberikan kesempatan gadis itu untuk pergi.
Grep!
"Maafkan kakak... Seharusnya kakak mengatakan nama kamu sayang, maafkan kakak..." bisik Arsen sambil memeluk dari belakang.
"Maksud kakak apa?" tanya Ara pura-pura tidak mengerti arah pembicaraan Arsen.
"Perjodohan itu. Sebenarnya kakak pengen di jodohin sama kamu tapi kakak lupa, kakak terlalu excited sampai-sampai sangat ceroboh. Kakak harus nya mengatakan nama kamu, bukan cuma bilang mau di jodohkan
dengan putri keluarga Maheswari." jawab Arsen
"Jadi kakak gak suka sama Kak Silviana?"Tanya Elara
"Tidak, kakak suka-cinta sama kamu sayang. Sangat cinta!"jawab Arsen sedih
Ara merapatkan tubuhnya ke tubuh Arsen. "Aku juga cinta sama kak Arsen.." lirihnya. "Ta-tapi Ara takut sama kak Silviana apalagi sama kak Bianca... Kak Bianca..."
Arsen panik melihat Ara yang menangis. "Katakan, Bianca apain kamu?" Arsen mengusap kedua pipi Ara.
Ara kemudian menunjukkan rekaman suara yang sudah ia modifikasi sewaktu di toilet tadi. Arsen yang mendengar kalau Bianca akan merencanakan penculikan kepada Ara mendadak marah.
"Ara tidak perlu takut, kakak akan melindungi mu." bisik Arsen. Ia memeluk Ara dengan erat. "Terimakasih kak Arsen," gumam Ara.
Flashback end
Keberadaan Arsen bersama Bianca pasti rencana lelaki itu sendiri. Tentu saja untuk membuat Bianca lengah dan melupakan rencananya untuk menculik Ara.
"Kak Silviana." panggil Ara sekali lagi.
"Diem lo!" ketus Silviana. Gadis itu pergi meninggalkan Ara sendirian.
"Kak Silviana tunggu! Jangan tinggalin Ara sendirian!"teriak Elara sedih
Teriakkan Ara mencuri atensi beberapa orang. Termasuk Arsen dan Bianca. Gadis itu melotot kaget, dia baru ingat dengan rencananya. Sial, gara-gara dia terlalu senang di ajak jalan oleh Arsen dia melupakan perihal penculikan yang dia rencanakan.
"Ara!" Arsen berlari menuju Ara yang di tenangkan seorang wanita. "Ara kamu tidak apa-apa?" Arsen memutar tubuh Ara memeriksa apakah gadisnya terluka.
"Ara gak papa ta-tapi kak Silviana ninggalin Ara.."gumam lirih Elara
"Syuttt... Ada kakak di sini, kakak antar pulang ya." Ara mengangguk menanggapi ucapan Arsen. Ekor matanya melirik Bianca yang tak jauh dari nya. Terlihat sekali kalau gadis itu gelisah dan panik.
"Tapi kak Bianca bagaimana?" bisik Ara dengan suara bergetar. Oh, sepertinya Ara harus di nobatkan sebagai aktris papan atas untuk aktingnya ini.
Arsen mengabaikan pertanyaan Ara. Setelah mengucapkan terimakasih kepada wanita yang memeluk Ara tadi. Arsen langsung membawa Ara pergi dari sana.
"Titip sebentar, gue harus melakukan sesuatu." titah Arsen kepada Darius. Arsen terpaksa harus membawa Ara ke rumah salah satu dari sahabatnya. Dan yang paling aman adalah rumah Darius. Keluarga Darius adalah orang terpandang sekaligus pengawasan dan keamanan lebih mumpuni.
"Gue ikut sama lo." ujar Darian.
"Kak.."Panggil Elara khawatir
Darius tersenyum manis saat Ara menahan kaosnya. "Kami akan baik-baik saja. Jangan nakal di sini ya"
"ingat ya awas kalo Ara lecet mati lo"ancam Darius ke Darian
"Awan siapa dia?"panggil seseorang tiba-tiba
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambunggggggggggg
semangat buat auto ya 💪💪💪