NovelToon NovelToon
Aku Milikmu, Tuan Mafia

Aku Milikmu, Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percakapan di Meja Makan

Sore itu, rumah Rafael kembali memiliki denyut yang berbeda. Bukan karena kehadiran suara yang keras, melainkan karena keberadaan manusia di dalamnya. Langkah kaki terdengar dari arah koridor, pintu depan dibuka, lalu tertutup kembali dengan bunyi pelan yang terkontrol. Udara hangat Sevilla masuk sesaat, membawa aroma jalanan dan debu sore.

Sore itu, Maria baru saja pulang dari kampus. Tas berwarna coklat disampirkannya ke bahu, lalu jaket tipis yang dikenakannya dilepas dan diletakkan di sandaran kursi dekat pintu. Ia melangkah masuk dengan gerakan yang sudah sangat dikenalnya, dengan ritme yang sama dan jalur yang sama, hingga pandangannya terangkat ke arah ruang tengah.

Langkahnya sontak terhenti, begitu mendapati Liam berdiri di dekat jendela besar, dengan punggungnya setengah membelakangi pintu, jasnya dilepas, dan kemeja digulung rapi hingga siku. Ia sedang memandang ke arah luar, ke taman kecil yang kini mulai diselimuti bayangan sore. Bagi Maria, sosok itu jelas tidak asing, dan terlalu familiar untuk disalahartikan.

“Liam?” suara Maria keluar refleks.

Liam pun menoleh. Ekspresinya berubah begitu melihatnya. Bukan ekspresi terkejut, melainkan pengakuan yang tenang—seolah kehadiran Maria adalah sesuatu yang memang sudah ia perhitungkan, hanya belum terjadi sampai detik itu.

Maria berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Lalu senyuman lebar muncul, spontan, tanpa ia rencanakan. Bahunya tampak turun sedikit, seperti beban yang selama ini ia tahan akhirnya dilepaskan.

“Kau sudah di sini? Sejak kapan?” tanyanya, mendekat.

Liam mengangguk kecil. “Tadi pagi.”

Nada suaranya tenang, tapi kelelahan samar tetap terdengar, tidak mencolok. Hanya cukup untuk ditangkap oleh seseorang yang mengenalnya sejak lama.

Maria memperhatikannya lebih saksama sekarang. Wajah itu terlihat lebih keras dari terakhir kali mereka bertemu, garis di sekitar matanya bahkan lebih dalam. Lalu, ia mendadak merasa menyesal, karena tidak ada di rumah saat Liam datang.

“Aku minta maaf,” katanya pelan. “Aku tidak tahu kau datang hari ini.”

“Tidak apa-apa,” jawab Liam singkat. “Aku memang sengaja tidak memberitahumu agar kau tetap pergi berkuliah.”, imbuhnya, tersenyum kecil.

Maria menelan kalimat selanjutnya yang hampir keluar. Ia tidak menanyakan alasan kedatangan Liam hari ini, sebab itu tidak perlu. Nama Rafael sudah berdiri di balik pertanyaan itu sejak awal, meski Liam belum menyebutnya.

“Sepertinya papa sedang tidur,” kata Maria akhirnya. “Sudah bertemu dengannya?”

Liam mengangguk.

Lalu, mereka pun berjalan berdampingan menuju koridor dalam, dengan langkah keduanya yang melambat. Suara di rumah itu meredup seiring mereka mendekati kamar Rafael, seperti ada batas tak terlihat yang memaksa setiap orang untuk lebih berhati-hati.

Pintu kamar itu terbuka sedikit. Cahaya lembut menyinari ranjang besar di tengah ruangan, dengan sosok Rafael yang terbaring di atasnya, sedang tertidur pulas. Dan terdengar suara dari mesin medis yang berdengung pelan, stabil dan ritmis.

Maria berdiri di ambang pintu, menatap ayahnya cukup lama. Tangannya terkatup di depan dada, napasnya ditahan, lalu dilepaskan perlahan.

“Dokter bilang kondisinya lebih baik sekarang,” bisiknya, seolah takut mengganggu tidur Rafael. “Masih lemah, tapi tidak separah beberapa hari yang lalu.”

Liam berdiri sedikit di belakangnya. Pandangannya menyapu wajah Rafael dengan ketelitian yang berbeda—bukan seperti seorang anak, melainkan seperti seseorang yang tahu bagaimana membaca tanda-tanda yang tidak perlu diucapkan. Ia melihat ketenangan itu, dan di saat yang sama, keterbatasan waktu yang tidak bisa ditawar.

Ia tidak segera bicara. Hingga keheningan pun mengisi ruang, cukup lama untuk membuat Maria menoleh sedikit, mencari sesuatu dari wajah Liam. Dan saat itulah ia berbicara.

“Dia akan baik-baik saja,” kata Liam akhirnya. Suaranya rendah, mantap, seolah pernyataan itu adalah keputusan, bukan sekadar harapan. “Dia kuat. Selalu begitu.”

Maria mengangguk, meski matanya masih tertuju pada Rafael. “Aku tahu,” katanya, meski keyakinan itu rapuh.

Liam melangkah sedikit lebih dekat. Tidak menyentuhnya, tapi cukup dekat untuk dirasakan kehadirannya. “Aku di sini,” tambahnya. “Untukmu. Kita akan melewati semua ini.”

Maria menghela napas panjang, lalu mengangguk lagi. Tidak ada tangisan yang meledak, juga tidak ada pelukan hangat. Hanya ada penerimaan diam-diam terhadap kehadiran seseorang yang selalu berdiri di sisinya, bahkan ketika kata-kata terasa tidak cukup.

Mereka hanya berdiri seperti itu beberapa saat, membiarkan keheningan bekerja dengan caranya sendiri. Di kamar itu, waktu terasa melambat—bukan karena berhenti, tetapi karena setiap detiknya kini menjadi berarti.

Maria melangkahkan kaki menuju keluar kamar, menoleh pada Liam. “Ayo,” katanya pelan. “Kita ke ruang tengah.”

Liam pun mengangguk. Ia mengikuti langkah Maria melewati koridor yang kini terasa lebih terang. Perpindahan itu terasa seperti kesepakatan diam-diam—meninggalkan ruang yang terlalu jujur menuju tempat yang memungkinkan mereka untuk berpura-pura sebentar bahwa keadaan sedang baik-baik saja.

Di ruang tengah, Maria berhenti sejenak sebelum akhirnya memanggil pelayan. Nadanya sengaja terdengar ringan saat memberi instruksi, menyebutkan menu sederhana untuk makan bersama Liam. Ia berbicara seperti hari itu adalah hari yang normal, seolah ayahnya tidak sedang terbaring lemah beberapa meter dari sana

“Makan bersama akan membantu,” katanya, setengah pada Liam, setengah pada dirinya sendiri.

Liam memahami maksudnya. Makan bukan hanya tentang lapar, melainkan tentang menciptakan rutinitas, sekecil apa pun, untuk melawan kenyataan yang tak bisa mereka kendalikan.

Mereka duduk berhadapan di meja makan yang berukuran cukup besar. Sinar matahari sore masuk dari jendela samping, memantul di permukaan kayu yang mengkilap. Untuk beberapa saat, hanya ada bunyi kursi yang sengaja digerakkan dan napas yang terdengar teratur.

“Kuliahmu bagaimana?” tanya Liam lebih dulu.

Maria mengangkat bahu. "Sedang sibuk dengan thesisku. Kau tahu, aku tidak terlalu beruntung karena mendapat dosen pembimbing yang rumit. Hanya berharap semoga akhir tahun aku bisa lulus sesuai rencana."

Ia akhirnya mulai bercerita tentang dosen pembimbing yang terlalu perfeksionis, tentang proyek yang melelahkan, juga tentang rencana setelah lulus kuliah nantinya. Nada suaranya terdengar hidup, bahkan sesekali disertai tawa kecil.

Liam tampak mendengarkan dengan seksama. Ia mengangguk, menyelipkan pertanyaan singkat di antara cerita Maria, dan memastikan ia tetap berbicara. Sikap protektifnya tidak hilang, hanya berubah bentuk menjadi kehadiran yang lebih tenang dan stabil.

Namun di sela-sela cerita itu, Maria beberapa kali berhenti. Sejenak ia menatap meja di depannya, lalu melanjutkan dengan topik lainnya. Kelelahan emosional itu tidak ia sebutkan, tapi Liam jelas bisa menangkapnya. Ia tahu bahwa saat ini Maria sedang berusaha keras menjaga semuanya agar tetap normal.

“Dan kau?” Maria akhirnya balik bertanya. “Pekerjaanmu membuatmu… tetap sibuk?”

“Selalu,” jawab Liam. “Tidak ada yang benar-benar berubah.”

Itu setengah benar. Banyak yang berubah, tapi bukan sesuatu yang bisa ia ucapkan di meja makan itu.

Percakapan pun perlahan melambat—tidak canggung, tapi lebih dalam. Sore hari pun mulai condong ke malam. Maria menyandarkan punggung ke kursi, lalu menatap Liam dengan cara yang berbeda—lebih lama dan lekat.

“Kau berubah, Liam,” katanya tiba-tiba.

Liam tidak langsung menjawab. Alisnya terangkat sedikit. “Berubah bagaimana?”

“Entahlah,” Maria menghela napas kecil. “Kau terlihat… lebih diam. Seperti ada sesuatu yang menahanmu.” Ia tersenyum tipis, lalu menambahkan dengan nada setengah bercanda, “Atau ada seseorang yang membuat pikiranmu tidak teralihkan darinya?”

Pertanyaan itu jatuh tanpa peringatan. Liam menahan napasnya sepersekian detik terlalu lama. Di kepalanya, satu nama muncul begitu saja dengan jelas dan tidak terbantahkan. Rachel. Namun, ia berusaha menyingkirkannya secepat mungkin.

“Aku hanya lelah,” katanya akhirnya. “Banyak hal yang harus diurus.”

Nada suaranya terkendali, tapi Maria tidak sepenuhnya yakin. Ia mengenal Liam terlalu lama untuk tidak merasakan ada sesuatu yang sedang ia simpan.

“Kuliahmu sendiri bagaimana rencananya ke depan?” Liam cepat mengalihkan pembicaraan. “Kau masih ingin lanjut ke luar negeri setelah lulus?”

Maria menghela napas, lalu mengangguk. “Masih. Aku ingin melanjutkan kuliah di New York. Kalau semuanya memungkinkan.” Ia tidak memaksa kembali ke pertanyaan sebelumnya, tapi tatapannya jelas menyimpan catatan kecil tentang hal yang mungkin sedang disembunyikan oleh Liam darinya.

Pelayan pun akhirnya datang tepat waktu, membawa hidangan dan meletakkannya di meja dengan gerakan rapi. Aroma makanan mengisi ruangan, memecah ketegangan yang mulai terbentuk.

“Makan dulu,” kata Liam segera. Nadanya ringan, tapi tegas. “Kau pasti belum makan siang tadi, kan?”

Maria tersenyum, menerima tawaran itu. “Kau selalu tahu, Liam.”

Saat itu, makanan menjadi penyelamat sekaligus pemutus apa yang sebelumnya dibicarakan di antara mereka. Percakapan berubah menjadi potongan-potongan kecil—tentang rasa masakan, tentang jadwal besok pagi, dan tentang hal-hal remeh lainnya. Bunyi peralatan makan pun turut mengisi jeda yang tidak lagi tampak berbahaya.

Namun pikiran Liam melayang jauh dari meja itu, yaitu ke New York, ke rumahnya yang terlalu sunyi, dan ke seorang perempuan yang kini mungkin sedang menata pikirannya sendiri, tanpa tahu betapa sering namanya hampir terucap hari ini.

Di seberang meja, Maria juga menyadari jarak baru itu. Ia merasakannya, meski belum tahu harus menamainya apa. Hingga akhirnya, aktivitas makan bersama pun selesai. Malam perlahan turun di luar jendela, lampu-lampu di dalam dan di luar runah mulai dinyalakan, menggantikan cahaya sore yang sudah memudar.

Malam itu, Liam menyadari satu hal, bahwa ia telah berhasil menghindari satu pertanyaan hari ini. Tapi, ia jelas tahu bahwa ia tidak bisa menghindari perasaan yang menyertainya. Selama satu nama itu tetap tidak terucap, ia masih bisa memegang kendali. Dan malam ini, kendali itu hampir saja lepas di atas meja makan, di tengah obrolan yang tiba-tiba saja berlangsung di antara dirinya dan Maria.

1
Yellow Sunshine
Hai, Readers! Selamat menikmati karya baru dari author ya? Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. bcos ur support means a lot. Salam hangat, dari author 🤗
Mia Camelia
miris banget😔
Yellow Sunshine: Happy reading, Reader! Selamat menikmati episode-episode selanjutnya yg semakin menarik 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!