Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Langkah kaki Damian yang berat menggema di atas lantai marmer saat ia menyusul Valerie masuk ke dalam kamar utama.
Valerie kini terduduk kaku di tepi kasur king size yang terasa terlalu luas baginya. Tatapan intimidasi Damian seolah menguliti setiap inci pertahanannya, membuat suasana kamar yang dingin itu terasa semakin mencekam.
"Istirahatlah. Aku mau mandi dulu," ucap Damian datar, suaranya terdengar seperti perintah yang tak terbantahkan.
Valerie mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan di tenggorokan. Ia merasa lega luar biasa; setidaknya untuk beberapa saat ke depan, ia tidak perlu menghadapi tatapan intens pria itu.
Ia membayangkan bisa meringkuk di bawah selimut tebal dan melupakan kejadian mengerikan di taman kota tadi.
Namun, kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik. Saat Damian melangkah melewati Valerie menuju pintu kamar mandi, ia mendadak menghentikan langkahnya. Ia menoleh sedikit, memberikan profil wajahnya yang tajam di bawah temaram lampu kamar.
"Buka bajumu," ucapnya singkat.
Valerie tersentak seolah tersengat listrik. Matanya terbelalak sempurna.
"Hah?! Apa? Kenapa aku harus buka baju?" refleks Valerie sambil menyilangkan tangan di depan dadanya, menatap Damian dengan tatapan horor.
Damian menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan dominasi.
"Karena itu perintah. Aku ingin melihatmu tidur tanpa baju kepanjangan yang menyedihkan itu," sahutnya dingin, lalu tanpa dosa ia melanjutkan langkahnya masuk ke kamar mandi dan menutup pintu dengan dentuman pelan.
Valerie mematung di tempatnya, wajahnya memanas antara malu dan murka. Ia menunduk menatap penampilannya sendiri; ia memang saat ini sedang memakai kaos oversize berlengan panjang.
"Apa urusannya aku tidur pakai kaos ini?!" gumam Valerie dengan suara tertahan.
Ia merasa kembali terjebak dalam permainan mental Damian. Pria itu menyelamatkannya dari bahaya di luar sana, hanya untuk menerkamnya sendiri dengan cara yang lebih licik dan... mesum.
Valerie menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat, mendengar suara gemericik air shower yang mulai menyala.
Pikirannya berputar cepat; apakah ia harus menuruti perintah gila itu atau tetap pada pendiriannya dan menghadapi kemarahan Damian nanti?
Valerie menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak amarah dan rasa malunya. Setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan untuk menuruti keinginan gila Damian.
Ia sadar betul posisinya saat ini; ia adalah buronan yang nyawanya sedang diincar oleh kelompok misterius. Menyinggung perasaan Damian sekarang adalah tindakan gegabah yang bisa membuatnya terdepak kembali ke jalanan yang dingin dan berbahaya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar dan berat hati, Valerie melepas kaos oversize-nya. Pakaian itu jatuh ke lantai, menyisakan bagian atas tubuhnya yang kini hanya terbungkus bra hitam berenda yang kontras dengan kulit putihnya yang mulus.
Tanpa membuang waktu, Valerie segera merebahkan tubuhnya di sisi kasur yang jauh dari jangkauan Damian.
Ia menarik selimut tebal hingga ke batas dadanya, menyembunyikan dirinya dalam kehangatan kain satin itu, berharap Damian tidak akan menuntut lebih dari sekadar "pemandangan" yang ia inginkan.
Tak lama kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka. Damian melangkah keluar hanya dengan mengenakan celana pendek hitam.
Seperti biasa, ia seolah sengaja memamerkan tubuh atletisnya yang masih lembap; tetesan air sisa mandi masih mengalir di sela-sela otot perutnya yang keras karena belum kering sempurna.
Aroma sabun maskulin yang segar langsung memenuhi ruangan, bercampur dengan uap hangat dari kamar mandi.
Valerie mencoba memejamkan mata, namun rasa penasaran membuatnya sedikit mengintip dari balik selimut.
Meskipun ini bukan pertama kalinya ia melihat Damian bertelanjang dada, entah kenapa melihat itu membuat dada Valerie bergemuruh hebat, ada tarikan magnetis dari pesona pria itu yang sulit ia sangkal.
"Sial, sadarlah Valerie! Dia itu pria gila yang menyanderamu!" maki Valerie dalam hati berulang kali.
Ia membenamkan wajahnya lebih dalam ke bantal, berusaha keras mengusir pikiran-pikiran nakal yang mulai menyelinap ke benaknya saat melihat siluet Damian yang tampak begitu sempurna di bawah temaram lampu kamar.
Damian merangkak naik ke atas ranjang besar itu, gerakan tubuhnya yang berat membuat pegas kasur sedikit amblas. Ia melirik Valerie yang memunggunginya, terbungkus rapat dalam selimut.
Sebuah senyum tipis—hampir menyerupai seringai predator yang puas—muncul di wajahnya.
"Kau sudah tidur,?" suara bariton Damian memecah keheningan kamar, terdengar begitu dekat di tengkuk Valerie.
Valerie mendengar pertanyaan itu dengan jelas, namun lidahnya terasa kelu untuk menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala pelan, masih berusaha mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan.
Mengetahui gadis itu masih terjaga, Damian bergerak mendekat. Tanpa peringatan, tangan besarnya menarik pinggiran selimut yang menutupi tubuh Valerie hingga melorot jatuh ke pinggang, memamerkan punggung mulus gadis itu yang hanya dihiasi tali bra hitam.
Valerie menahan napas sekuat tenaga. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan saat ia merasakan hawa panas dari tubuh Damian yang belum kering sempurna mulai menyentuh kulit punggungnya.
Detik berikutnya, Valerie meremang hebat. Damian mendaratkan sebuah ciuman hangat di tengkuknya, sebuah sentuhan yang terasa seperti klaim kepemilikan.
Tidak berhenti di situ, bibir dan lidah Damian mulai menjelajah setiap inci punggung Valerie dengan gerakan lambat yang mematikan.
Sensasi geli yang membakar sekaligus menggelitik membuat tubuh Valerie menegang. Merasa kewarasannya kini berada di ambang batas, Valerie segera membalikkan tubuhnya.
Kini mereka berhadapan. Jarak di antara mereka nyaris tidak ada. Valerie menatap mata gelap Damian yang kini menatapnya seolah ia adalah mangsa buruan yang paling berharga.
"Damian..." Valerie menarik napas dalam, mencoba mencari sisa-sisa keberaniannya. " Terima kasih kau sudah menolongku di taman tadi."
Damian tidak langsung menyahut. Ia mengulurkan tangannya, jemarinya yang panjang membelai anak-anak rambut yang menutupi wajah cantik Valerie dengan gerakan yang sangat lembut namun posesif.
"Kau tahu, Sayang... tidak ada yang gratis di dunia ini," bisik Damian dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Valerie berdiri.
Bibir Valerie sedikit bergetar. Ia paham betul maksud pria di depannya ini. Berani masuk ke dalam kandang singa berarti harus siap menghadapi konsekuensinya.
"Aku... aku akan berusaha membalas kebaikanmu, Damian," jawab Valerie lirih, meski ia sendiri tidak yakin apa yang sanggup ia berikan.
Seringai Damian semakin melebar, terlihat berbahaya di bawah temaram lampu tidur. Jarinya turun dari rambut ke pipi Valerie, mengusap kulit lembut itu dengan ibu jarinya secara perlahan, seolah sedang menikmati setiap detik ketegangan yang dialami gadis itu.
"Bagaimana caramu membalas kebaikanku itu, hmm? Apa yang bisa ditawarkan oleh seorang pelarian sepertimu kepadaku?" tanya Damian dengan nada menggoda yang sangat provokatif.
Valerie benar-benar terdesak dalam permainan rayuan Damian yang berbahaya.