Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 16
"Anda mencari siapa Pak Bima?" tanya Bi Asih saat subuh melihat Bima keluar dari dalam kamar Dewi kemudian terlihat panik. Ya mereka sudah tidur satu kamar tanpa ikatan apapun. Dan memang selama ini Dewi selalu pintar menggoda pria yang juga sama saja gilanya. Mereka sama saja sebenarnya, jadi memang pantas bersama.
"Arkha kemana? Saya cari di kamarnya tidak ada!" tanya Bima yang terlihat panik.
"Oh Den Arkha, tengah malam menangis di depan kamar Bu Dewi saat tahu anda di sana. Dan ketika melihat Aruna pulang, dia berlari dan masuk ke kamar Aruna. Padahal semalam Den Arkha menangis cukup kencang di depan kamar Bu Dewi, tapi mungkin anda sudah terlelap," jawaban Bi Asih membaut wajah Bima memerah entah antara malu atau marah karena kebodohannya.
Dia bilang sangat menyayangi Arkha, tapi dia sendiri mengabaikan anak laki-laki dan lebih memilih bersenang-senang dengan wanita selingkuhannya. Bahkan dia sudah jarang menghabiskan waktu bersama Arkha sebelum sebelumnya. Mungkinkah dia marah karena sikapnya?
Dengan langkah lebar, Bima berjalan ke ruang belakang, ke ruangan yang dulunya bekas gudang dan di gunakan oleh Aruna sebagai kamarnya. Saat dia akan menarik gagang pintu, malah sudah lebih dahulu di buka oleh Aruna.
"Kebetulan anda ada di sini. Silahkan bawa anaknya, semalaman dia menangis di depan pintu kamar ja-lang anda. Sepertinya dia mendengar pembicaraan kalian. Rupanya rasa sayang anda hanya di mulut saja, nyatanya anda juga perlahan melukai mental Arkha. Jika anda tak benar-benar ingin mengurus dia. Biarkan kami pergi saja, dan silahkan anda bersenang-senang dengan keluarga baru anda itu!" ucap Aruna membuat Bima membulatkan kedua bola matanya.
"Apa yang di dengar Arkha?" tanya Bima kaget.
",Tanyakan saja sendiri. Atau kalau tidak, anda sudah tahu jawabannya bukan? Permisi saya mau pergi! Nanti malam saya tidak pulang dan tinggal di markas!" jawab Aruna sedikit mendorong tubuh Bima yang menghalangi pintu.
Bima mencoba untuk membawa Arkha yang meringkuk di kasur lantai tipis yang biasa di gunakan Aruna. Kini anak kesayangannya harus merasakan tidur di tempat seperti ini. Hatinya terasa sakit.
"Lepaskan aku Tuan Bima!" Arkha berontak membuat lnya menatap tajam ke arah Arkha.
"Kamu panggil ayah apa?", tanya Bima.
"Saya tak punya ayah seperti Kak Aruna. Ayah saya sudah mati karena pergi di gondol Tante Dewi! Lepaskan saya Tuan Bima!" kembali Arjah berontak kepada ayahnya. Tapi semakin Arkah berontak membuat Bima semakin mengeratkan pelukan kapada anaknya.
"Siapa yang mengajarimu mengatakan hal seperti itu Arkha? Apa Aruna?", tanya Bima.
"Tidak! Tapi anda sendiri Pak Bima. Semenjak ada wanita itu dan anak-anaknya anda membuang saya. Bahkan semalaman saya takut tak bisa tidur mencari anda. Tapi ternyata anda Sedang tertawa di dalam kamar wanita itu sambil menghina ibu saya. Ternyata anda sengaja membunuh ibu dan adik saya karena ingin bersama wanita itu. Saya benci anda! Saya tak punya ayah, biarkan saya ikut dengan Kak Aruna!" teriak Arkha.
"Ternyata Arkha mendengar semua pembicaraan aku dan Dewi. Sial! Semalaman aku di tahan wanita itu sehingga aku sampai mengabaikan Arkha! Bahkan dia tak bisa mengambil hati anakku samali sekarang! Aku tak mau kalau sampai Arkha membenciku! Arkha hanya boleh membenci Mutiara dan Aruna!" Batin Bima.
"Maafkan ayah Nak, ayah janji tak akan pergi ke kamar Tante Dewi lagi," jawab Bima
"Saya tidak peduli apapun Tuan. Saya hanya anak yatim piatu tak punya ayah dan ibu. Saya hanya punya kakak, yang selalu anda sik-sa!" teriak Arkha dan kembali berontak. Dial terus memukuli ayahnya dan mencoba untuk pergi dari Bima.
"Diam! Apa kau bisa diam Arkha! Aku adalah ayahmu! kau tak punya Kakak! Kau satu-satunya anakku!" teriakan Bima mampu membuat Arkha ketakutan dan bahkan semakin mundur menjauh.
Bima tersadar dan kembali mendekat meminta maaf kepada anak laki-lakinya.
"Ada apa sayang? kenapa kamu berada di dalam kamar anak sial-an itu?" Dewi masuk ke dalam sana dan kelihatan Arkha sedang menatapnya tajam.
"Pacar anda datang. Pergilah, saya akan di sini menunggu kakak saya pulang! Wanita jahat yang sudah membuat ibuku menangis dan meninggal," suara Arkha membaut Bima semakin frustasi.
Anaknya benar-benar sudah membenci dia karena kedatangan Dewi. Dia kira wanita itu mampu membuat Arkha luluh saat berada di rumah ini. Tapi ternyata Dewi hanya pandai urusan ran-jang dan juga berbelanja.
"Heh! Apa-apaan kau mengatakan seperti itu! Siapa yang sudah mengajarimu bicara kasar! Dasar anak kecil yang tak pernah di didik dengan benar!" emosi Dewi tanpa sadar.
"Pergi! Pergi aku dari sini dan bawa anak-anakmu!" teriak Bima yang tak terima dengan ucapan Dewi kepada Arkha.
"Sayang, itu ... Maafkan aku! Aku benar-benar tak sengaja. Aku hanya ... Aku hanya ingin membuat Arkha," ucap Dewi tergugup.
"Pengawal! seret wanita ini dan kedua anaknya keluar dari rumahku. Jangan biarkan mereka membawa semua barang milikku kecuali pakaian saja!" teriak Bima.
"Sayang, kamu salah paham. Aku bisa jelaskan semuanya. Aku mohon sayang. Aku minta maaf, kamu salah paham maksudku," ucap Dewi panik.
Dia tak mengira jika Bima akan semarah itu kepadanya. Dia lupa kalau Arkha adalah anak kesayangan Bima di banding dengan Aruna. Dan sekarang akibatnya dia malah di usir dari rumah ini. Mereka akan tinggal dimana kalau di usir tanpa membawa apapun dari rumah ini. Padahal sudah susah payah merayu Bima beberapa tahun ini hingga akhirnya membuat dia meninggalkan Mutiara.
"Bawa dan seret mereka! Jangan biarkan mereka masuk ke dalam rumahku lagi!" teriak Bima kepada para pengawal yang sudah berada di belakang Dewi.
"Ma, kenapa kami harus pergi dari rumah Om Bima? Apa yang sebenernya terjadi? Aku tidak mau ma! Aku ingin tinggal di sini," rengek Kanaya.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/