Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Tok..tok..
"Hei, Akbar" Ucap Dita kepada Akbar yang sudah masuk didalam ruangannya.
Akbar yang mendengar ada yang memanggil lantas menengok kearah depannya ternyata sahabatnya Dita, perempuan yang sudah ada dalam hatinya sejak lama.
"Hei Dit, ada apa kemari?" tanya Akbar
"Ponselmu kenapa susah di hubungi, aku khawatir denganmu takut terjadi hal yang tidak diinginkan." Ucap Dita
Akbar pun langsung mengecek kembali ponselnya ternyata ada telepon dan pesan dari Dita yang belum diresponnya tadi.
"Ponselku mode diam tadi enggak tahu kalau dirimu hubungin aku" ucap Akbar.
mendengar jawaban dari Akbar, Dita pun mulai mendekat dan duduk diatas pangkuan Akbar sambil mengalungkan tangannya ke leher Akbar dengan posisi begitu intim.
"Aku rindu kamu, kapan hubungan kita akan berakhir happy." bisik Dita ke telingan Akbar begitu intim.
"Sabarlah, mungkin sebentar lagi. kamu tahu sendiri posisiku seperti apa saat ini." kata Akbar sambil memeluk perempuan yang ada dipangkuannya.
Hubungan mereka berdua bisa dikatakan begitu sangat dekat dan intim, Akbar menjalin hubungan tanpa sepengetahuan istrinya dan keluarganya jika diluar kantor mereka akan berlagak sebagai atasan dan bawahan tetapi jika sedang berdua mereka sepasang kekasih yang saling mencintai.
"Aku sudah enggak tahan dihubungan kita seperti ini lama-lama akbar, coba kamu pahami diposisiku" kata Dita mengeluh pada Akbar.
cup..
Akbar lalu hanya memeluk dan mengecup kening Dita
"Kembalilah ke ruanganmu, nanti sore pulang kerja kita jalan berdua" ucap Akbar
"Benarkah? di salah satu mall ada toko yang sedang mengeluarkan tas model terbaru nanti belikan itu ya." ucap manja Dita
"Iya nanti beli apapun yang kamu mau" jawab Akbar dengan santai.
Dita pun akhirnya kembali keruangannya dan meninggalkan Akbar seorang diri diruangan tersebut, Akbar hanya bisa menghela nafas pikirannya saat ini sungguh rumit disatu sisi sikap istrinya yang mulai berubah dan sisi lainnya hubungannya dengan DIta yang perlu kejelasan.
- -
"Apa hubungan ini sungguh dapat dipertahankan?" ucap Luna yang berada dibalkon kamarnya dengan melihat sekitar tamannya dari atas.
Luna sangat yakin hubungan suami istri yang mereka berdua jalanin selama ini sungguh amat sudah diambang kehancuran seolah tidak dapat dipertahankan kembali. Apalagi selama menjalani pernikahannya belum ada suara anak kecil menghiasi kehidupan rumah tangganya, Luna sendiri sudah memeriksa kesehatan dirinya dan hasilnya semuanya sehat tidak perlu ditakutkan akan tetapi tuntutan dari mertuanya yang ingin segera memilki cucu yang menambah beban pikirannya kembali.
"Aku perlu konsultasi dengan pengacaraku untuk mendapat solusi yang tepat atas semua masalah ini." ucap Luna
Luna pun bersiap diri sebelum malam tiba dan suaminya kembali pulang kerja, dirinya ingin ke kantor pengacaranya untuk konsultasi perihal masalah rumah tangganya.
"Saya keluar ada urusan, tolong beritahu ibu tidak usah mencari." Ucap Luna ke asisten rumah tangganya.
menaiki mobil mewah dan menyetir sendiri sudah hal biasa yang dilakukan Luna diposisi ini dirinya merasa bebas dan menjadi dirinya sendiri. berjalan melewati ramainya kota disiang hari sampailah disatu kantor pengacara yang cukup terkenal hanya dikalangan elit yang memakai jasanya.
"Pak Adam ada diruangannya?" tanya Luna di resepsionis
"Ada bu, langsung saja ke ruangannya." jawab resepsionis tersebut.
Luna melenggang masuk dengan anggun dan santai berjalan terus menuju ruangan sang pengacara yang dicarinya.
tok..tok..
"Masuk.." ucap Adam
"Kau ternyata didalam Dam, aku memggangu gak nih.." kata Luna
"Enggak Lun, ini juga baru selesai meering dengan salah satu klienku." jawab Adam yang sedang menaruh berkasnya kemejanya.
"Ada angin apa datang kesini, gak biasanya kamu datang ketempatku." tanya Adam kembali pada Luna
"Aku ingin konsultasi masalah rumah tanggaku, ada waktu?." kata Luna
"Ada , bentar Luna" ucap kembali Adam
Adam pun menghubungi sekretarisnya kalau dirinya jangan diganggu dan batalkan meeting untuk selanjutnya.
"Ceritalah , masalah apa yang sedang dirimu hadapin saat ini" kata Adam yang sudah duduk dihadapan Luna
"Baik, jangan kamu potong apa yang kuceritakan semuanya. Kamu tahu sendiri pernikahanku udah berjalan 4 tahun lamanya tidak ada anak, awalnya pernikahan ini aku anggap baik-baik saja mas Akbar sangat memenuhi kebutuhanku semuanya dari materi dll. Mas Akbar tidak menuntut adanya anak akan tetapi mertuaku selalu menyindir perihal anak itu yang menjadi beban pikiranku. Bukan hanya itu saja ada lagi yang bikin aku akhirnya bimbang dengan pernikahan ini, seminggu yang lalu aku enggak sengaja membaca pesan diponsel mas Akbar dengan sahabatnya yang begitu intim. Awalnya ku kira pesan antar sesama sahabat ternyata isinya begitu romantis jikapun kamu tau isinya begitu menyayat hatiku dari situ aku akhirnya mengerti kalau mas Akbar sebenarnya tidak pernah mencintai diriku. Mas Akbar dipernikahan ini hanya sebatas menghormati satu sama lain dan menerima karena tuntutan orang tuanya saja. Aku bingung langkah apa yang harus ku ambil selanjutnya Dam? hati kecilku masih mengatakan kalau diriku sangat mencintai suamiku." Ucap Luna dengan menitikkan air mata dan menutup wajah dengan kedua tangannya.
Tangan Adam sudah mengepal dengan kuat, mendengar keluh kesah sahabatnya ini sungguh ingin menghajar si brengsek Akbar, Laki-Laki yang bisa dikatakan beruntung bisa mendapatkan seorang Luna yang dari dulu sudah banyak incaran para pria dari kalangan elit manapun tetapi laki-laki yang dipilihnya jatuh ke Akbar.
"Sudah Luna, tenanglah dirimu seperti ini sungguh buatku ikut sedih melihatnya. Kamu itu cantik, pintar, laki-laki manapun bisa menjadi pilihanmu. Inilah yang dulu kukatakan dengan memilih Akbar menjadi suamimu akhirnya akan seperti ini kamu menjadi korbannya." ucap Adam sambil mengusap rambut Luna seolah memberi dukungan sahabatnya yang sedang bersedih.
"Aku harus bagaimana Dam, aku sungguh sangat mencintainya. aku meninggalkan hidupku yang dulu dengan keluar dari rumah keluargaku tapi hasil yang kudapat malah berakhir seperti ini" kata Luna
"Lebih baik kamu tenangkan dirimu dengan liburan keluar kota saja seperti biasa Luna, setelah pikiran tenang kamu akan tahu langkah terbaik apa yang bisa diambil dalam pernikahanmu." kata Adam kepada Luna
"Itu ide yang bagus juga, aku butuh refreshing saat ini. Baik aku akan meminta izin pada suamiku dulu kalau akan berpergian keluar kota 3 hari." jawab Luna
Luna pun mengambil ponselnya yang berada dalam tas dan mengirim pesan ke suaminya untuk meminta izin kalau dirinya akan keluar kota karena ada urusan dengan temannya.
{Mas, aku minta izin kalau nanti sore akan pergi keluar kota 3 hari dengan temanku ada urusan mendesak} pesan Luna
"Sudah ku kirim pesan ke mas Akbar, thank's ya dam sarannya. aku balik dulu kalau begitu mengurus kepergianku dan menyiapkan yang lain. tujuanku akan ke Bali nanti sore" ucap Luna pada Adam sambil berpamitan dirinya balik kerumahnya.
"Tenanglah Lun, nikmati waktu liburanmu. kabarin aku kalau sudah kembali." jawab Adam.
Luna pun kembali kerumah dan menyiapkan keperluan liburannya nanti sore, dirinya hanya perlu membawa beberapa pakaian saja.
- -
dddrrtt...ddrrtt..
"Apa ini? tiba-tiba Luna meminta izin keluar kota" Ucap Akbar
Ponsel Akbar yang bergetar dimeja dan muncul notifikasi pesan dari istrinya hanya mengerit dahi isi pesan ponselnya.
se BADAS apa kamu luna
apa mau berbagi lendir dengan mereka lun OMG
biar kamu ga sama Kaya yg lain cuma mewek doang 🤦