Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
merasa senang
Raviel melangkah pelan menuju cermin besar di hadapannya. Jas hitam yang sejak pagi menempel di tubuhnya ia lepaskan dan ia lemparkan ke sofa. Hari ini sangat panjang Dimana dia harus mengerjakan dokumen penting, rapat beruntun, serta peninjauan langsung pembangunan toko yang selama ini ia rancang khusus untuk satu orang.
Ia menatap bayangan dirinya sendiri. Wajah dingin itu tampak lelah, namun matanya tetap tajam.
“Aku terlalu sibuk,” gumamnya lirih. “Sampai lupa pada gadis kecilku.”
Tangannya meraih tablet di atas meja. Layar itu menyala, menampilkan rekaman dari kamera tersembunyi di dalam boneka. Raviel membeku.
Nara.
Gadis itu duduk di lantai kamarnya, memeluk bantal erat-erat. Bahunya bergetar, air mata jatuh tanpa suara. Di tangannya, selembar kertas tampak diremas hingga kusut.
Rahang Raviel mengeras.
“Kenapa gadisku menangis?” dengan suara
rendahnya “Apa ada yang berani menyakitimu?”
Tatapannya beralih ke kertas di tangan Nara. Nalurinya menjerit tidak nyaman.
“Dan kertas...apa itu?”
Amarah yang tertahan membuat dadanya sesak.
“ETHAN!”
Suaranya menggema di ruangan.
Pintu terbuka cepat. Ethan muncul dengan penampilan sedikit berantakan, jelas baru saja menyelesaikan urusan lain sebelum dipanggil ke sini.
“iya Tuan,” ucapnya, menunduk hormat.
“Apa kau menyelidiki apa yang dilakukan gadisku hari ini?” tanya Raviel tanpa basa-basi.
“Iya, Tuan,” jawab Ethan ragu. “Tapi… saya lupa melaporkannya. Maafkan saya.”
Raviel menoleh perlahan. Tatapannya tajam, menekan.
“Tidak apa-apa,” ucapnya datar. “Sekarang katakan. apa yang terjadi dengan gadisku?”
Ethan menelan ludah. “Siang tadi, di kampus… Nona Nara pingsan, Tuan. Ia langsung dibawa ke rumah sakit, oleh sahabatnya."
Brakk!
Tablet di tangan Raviel terhempas ke meja.
“INFORMASI SEPENTING INI BISA KAU LUPAKAN?!” bentaknya.
“Saya minta maaf, Tuan,” ujar Ethan cepat. “Saya tidak ingin mengganggu Anda yang sedang meeting. Tadinya akan saya sampaikan setelah meeting, tapi—”
Raviel mengacak rambutnya kasar. Emosinya tidak lagi terkendali.
Dalam satu langkah cepat, ia mendekat dan tanpa peringatan menghantam pipi kanan Ethan.
Buk!
“Itu peringatan,” ucap Raviel dingin. “Apa pun yang menyangkut Ara, sekecil apa pun, harus sampai ke telingaku. Dalam keadaan apa pun.”
Ethan meringis menahan sakit, namun tetap menunduk. “Baik, Tuan. Sekali lagi saya minta maaf.”
Raviel membalikkan badan. Ia meraih jaketnya dengan gerakan tegas.
Tatapannya kembali jatuh ke layar yang masih menyala, menampilkan wajah Nara yang pucat dan rapuh.
“Kali ini,” gumamnya pelan, “aku tidak akan diam.”
Tanpa menunggu lebih lama, Raviel melangkah pergi.
★★★
Bunda Amara membuka pintu rumah dengan langkah ringan. Wajahnya tampak puas, senyum kecil masih bertahan di bibirnya. Seharian ini ia menghabiskan waktu bersama lingkaran sahabat-sahabatnya, makan siang mewah, dan berbincang tanpa beban. Uang hasil penjualan kue buatan Nara terasa cukup untuk memanjakan dirinya, seperti para ibu sosialita lainnya.
Bruk!
Suara benda jatuh terdengar dari luar rumah.
“Siapa itu?” teriak Bunda Amara dengan kesal.
Ia menoleh sekilas, lalu mendengus. “Paling juga kucing.”
Tanpa peduli, ia melangkah menuju kamarnya. Pikirannya hanya tertuju pada pakaian-pakaian baru yang ingin segera ia coba. Ia sama sekali tidak menyadari keberadaan sosok lain di rumah itu—sosok yang sejak tadi menahan amarahnya dalam diam.
“Sial,” umpatan pelan keluar dari bibir Raviel.
Matanya menatap punggung perempuan itu dengan dingin. “Ibu tidak tahu diri,” gumamnya. “Gadisku bekerja mati-matian, sementara kau berfoya-foya.”
Namun Raviel tidak berniat membuang waktu. Dengan gerakan cepat dan nyaris tanpa suara, ia menuju kamar Nara. Jendela kaca yang selama ini menjadi celah masuknya kembali terbuka di tangannya. Dalam hitungan detik, ia sudah berada di dalam.
Pemandangan di hadapannya membuat dadanya sesak.
Nara tertidur di lantai, meringkuk lemah. Wajahnya pucat, mata sembab, bekas tangis masih jelas terlihat. Raviel berlutut, menatapnya lama. Untuk sesaat, seluruh kemarahan di tubuhnya mereda, berganti rasa iba yang dalam.
Dengan sangat hati-hati, Raviel mengangkat tubuh Nara. Gerakannya lembut, seolah gadis itu terbuat dari kaca. Ia membaringkannya di atas ranjang, merapikan posisinya, lalu menarik selimut tipis hingga menutupi tubuhnya.
“Sebentar lagi,” ucapnya lirih. “Sebentar lagi hidupmu akan berubah.”
Tangannya terangkat, mengusap pelan area bawah mata Nara yang membengkak. “Kenapa kamu menangis, hm?” suaranya nyaris tak terdengar. “Apa ibumu menyakitimu lagi?”
Tatapannya kemudian tertuju pada lantai. Sebuah kertas kusut tergeletak di sana.
Raviel meraihnya.
Saat kertas itu terbuka, napasnya tertahan.
Surat hasil pemeriksaan dokter.
Tangannya sedikit bergetar.
“apakah ini… benar?” gumamnya tak percaya.
Matanya menelusuri setiap baris tulisan, berulang kali, memastikan ia tidak salah membaca. Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat. Bukan senyum biasa—melainkan senyum penuh emosi yang tertahan lama.
“akhirnya setelah sekian lama."ucapnya dengan suara bergetar,
Raviel duduk di sisi ranjang. Matanya berkaca-kaca, sesuatu yang hampir tak pernah terjadi padanya. Ia tidak menangis, tetapi dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit ia jelaskan.
“Jadi… kamu mengandung anakku,” bisiknya.
Tangannya terulur, menyentuh perut Nara dengan sangat pelan, seolah takut mengganggu. Sentuhan itu penuh kepemilikan, juga perlindungan.
“Apa kamu menangis karena ini?” tanyanya lembut. “Kamu takut aku tidak bertanggung jawab? Atau kamu takut ibumu akan mengusirmu?”
Ia menggeleng perlahan. “Tenang, baby. Kalau ibumu menolak bayi ini, aku punya banyak cara.”
Jarinya bergerak perlahan, mengusap perut Nara dengan hati-hati. “Kamu tumbuh cepat sekali,” gumamnya. “Raviel junior.”
Senyum Raviel melebar. Ada kilau berbahaya di matanya.
“Aku tidak sabar,” bisiknya, “saat kamu datang padaku… memohon untuk bertanggung jawab. Saat itu, aku akan memastikan kau tidak pernah pergi lagi.”
Tawa kecil keluar dari bibirnya—pelan, namun dingin.
“Untuk sekarang,” lanjutnya, “aku akan terus mengawasimu.”
Ia menunduk, mengecup perut Nara dengan lembut. “Jaga dirimu dan bayi kita.”
Raviel bangkit. Sekali lagi ia menatap wajah Nara yang tertidur, lalu melangkah pergi tanpa suara.