NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Janji Semu

Luka Di Balik Janji Semu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Persahabatan / Cinta Murni / Romansa / Cinta Karena Taruhan / Idola sekolah
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.​Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Di dalam kamar rawat yang tenang, hanya terdengar suara lembaran buku yang dibalik. Sheila tampak sangat serius, kacamata bertengger di hidungnya, sementara Arkan duduk di kursi samping tempat tidur, siap membantu setiap kali Sheila menemukan kesulitan.

​Sheila menunjuk sebuah diagram sistem saraf yang cukup rumit di buku teksnya. "Arkan, kalau yang ini seperti apa? Aku masih agak bingung membedakan jalur saraf pusat dan perifer dalam situasi trauma," tanya Sheila sambil menatap Arkan dengan rasa ingin tahu yang besar.

​Arkan sedikit memajukan duduknya, jari telunjuknya menelusuri gambar di buku tersebut. "Sebenarnya, dalam kedokteran kita tidak selalu bicara soal rumus pasti seperti matematika. Untuk organ dan sistem saraf manusia, kita cukup memahami letak dan fungsinya secara anatomis," jelas Arkan.

​Ia berhenti sejenak, lalu menatap Sheila dengan tatapan yang sangat lembut—tatapan yang memadukan rasa bangga sekaligus kasih sayang.

​"Yang harus kamu perhatikan adalah titik-titik kritisnya. Misalnya, saat melakukan pembedahan, kamu harus tahu di mana arteri besar berada agar tidak terjadi pendarahan hebat. Kamu tidak perlu menghafal semuanya sekaligus, Sheil. Cukup pahami logikanya, maka tanganmu akan bergerak sendiri saat di meja operasi nanti," lanjut Arkan dengan suara rendah yang menenangkan.

​Sheila terpaku. Bukan karena penjelasan medisnya, melainkan karena cara Arkan menatapnya. Ada keyakinan besar di mata pria itu bahwa Sheila mampu menjadi dokter yang hebat.

​"Terima kasih, Arkan. Penjelasanmu jauh lebih mudah dimengerti daripada dosen di kelas," ucap Sheila sambil tersenyum tipis.

​Arkan tertawa kecil, ia secara tidak sadar mengacak rambut Sheila dengan pelan. "Itu karena aku ingin kamu segera mengejarku. Aku butuh rekan dokter yang cerdas dan gigih sepertimu di rumah sakit ini."

"Kamu yakin ingin aku kejar?" Sheila tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa sangat dekat. "Bagaimana kalau nanti aku malah merepotkanmu setiap saat? Bertanya ini-itu dan mengikutimu ke mana pun seperti bayangan?" canda Sheila sambil mengerlingkan matanya jenaka.

​Arkan tidak ikut tertawa. Ia justru terdiam, menatap dalam tepat ke manik mata Sheila. Tatapannya begitu intens, seolah ingin menunjukkan bahwa ia tidak sedang bercanda sedikit pun.

​"Apa pun untuk kamu, aku akan selalu siap, Sheila," ucap Arkan jujur. Suaranya rendah dan mantap, tanpa ada keraguan di dalamnya.

​Deg!

​Seketika jantung Sheila berdegup kencang. Ia segera memalingkan wajahnya, berpura-pura kembali fokus pada buku kedokteran di depannya, meski kini huruf-huruf di sana tampak kabur di matanya. Perasaan hangat, geli, sekaligus takut tiba-tiba membuncah di dadanya—sebuah perasaan yang dulu pernah ia kubur dalam-dalam setelah luka pahit yang ia lalui.

​Sheila meremas pinggiran buku itu. Ia takut. Takut jika rasa percaya yang mulai tumbuh ini kembali dihancurkan oleh harapan. Namun, kehadiran Arkan di sisinya terasa sangat nyata dan tulus, berbeda dengan masa lalunya yang penuh kepalsuan.

​Arkan yang menyadari perubahan sikap Sheila segera menyentuh punggung tangan wanita itu dengan lembut. "Maaf kalau ucapanku membuatmu kaget. Aku hanya ingin kamu tahu, kamu tidak perlu menghadapi beban apa pun sendirian lagi."

​Sheila menarik napas panjang, mencoba menenangkan debarannya. Ia memberanikan diri kembali menatap Arkan, meski dengan wajah yang sudah merona merah.

​"Terima kasih, Arkan. Aku... aku akan berusaha untuk tidak terlalu merepotkanmu," jawab Sheila malu-malu, yang justru membuat Arkan tersenyum lebar.

​Malam itu, di kamar rumah sakit yang berbau antiseptik, benih cinta yang baru mulai tumbuh perlahan, mencoba merambat di atas puing-puing hati Sheila yang mulai ia tata kembali.

Suasana hangat dan penuh debaran itu hancur seketika saat seorang perawat masuk membawa sebuah paket bunga lili putih besar dengan kartu ucapan yang terselip di antaranya.

​"Permisi, ada kiriman bunga untuk Nona Sheila," ucap perawat itu sambil meletakkan buket tersebut di meja samping ranjang.

​Arkan mengerutkan kening, ia meraih kartu ucapan itu dan membacanya perlahan. "Dari... Bayu Saputra?"

​Mendengar nama itu, tubuh Sheila mendadak kaku. Matanya terbelalak menatap bunga-bunga itu seolah-olah itu adalah tumpukan duri yang mematikan. Seketika, dinding pertahanan yang ia bangun dengan susah payah runtuh. Kilatan memori hitam kembali menyerbu benaknya seperti ombak besar yang menghancurkan segalanya.

Suara tawa di apartemen malam itu... bau alkohol yang menyengat... dan rasa sakit yang luar biasa. Sheila seolah kembali berada di kamar terkutuk itu, saat ia memohon ampun namun diabaikan. Ia mengingat dengan jelas wajah Devano yang kehilangan kendali, namun yang lebih menyakitkan adalah ingatan tentang tawa mengejek dari Indra dan Bayu di luar kamar. Tawa yang merayakan kehancuran hidupnya seolah itu adalah sebuah lelucon besar.

​"Tidak... tidak..." bisik Sheila lirih. Napasnya mulai memburu, pendek dan tersengal.

​Tangannya mulai gemetar hebat hingga buku kedokteran yang ia pegang jatuh ke lantai. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Trauma yang selama ini ia coba tekan kuat-kuat kini meledak kembali hanya karena satu nama: Bayu.

​"Sheila? Ada apa?" Arkan langsung bangkit dan memegang kedua bahu Sheila, mencoba menyadarkannya dari serangan panik. "Sheila, lihat aku! Kamu aman di sini!"

​Namun Sheila tidak mendengar. Ia menutup kedua telinganya dengan tangan, mencoba menghalau suara tawa Bayu dan Indra yang terngiang-ngiang di kepalanya. Di matanya, bunga lili putih itu kini tampak seperti noda darah yang mengingatkan pada malam di mana mahkotanya direnggut dengan cara yang paling kasar dan paksa.

​Arkan dengan sigap meraih buket bunga itu dan melemparkannya ke tempat sampah di sudut ruangan. Ia kembali memeluk Sheila dengan erat, mencoba menyalurkan ketenangan.

​"Sstt, tenanglah. Aku di sini. Mereka tidak akan menyentuhmu lagi, aku bersumpah," bisik Arkan penuh kemarahan yang tertuju pada pengirim bunga itu, sekaligus rasa perih melihat wanita yang ia cintai hancur kembali karena masa lalunya.

Dalam keheningan kamar yang kini hanya menyisakan aroma antiseptik yang hambar, Arkan mengeratkan pelukannya. Sheila, yang masih gemetar karena trauma yang tiba-tiba menyerang, perlahan mulai menemukan ritme napas yang teratur. Rasa aman dan kehangatan yang terpancar dari tubuh Arkan seolah menjadi benteng yang melindunginya dari bayang-bayang kelam masa lalu.

​Lama-kelamaan, ketegangan di tubuh Sheila mengendur. Kelelahan emosional yang luar biasa membuatnya tak mampu lagi terjaga. Akhirnya, Sheila tertidur pulas dalam dekapan Arkan—pelukan yang untuk pertama kalinya terasa seperti rumah baginya.

​Arkan merasakan beban tubuh Sheila yang sepenuhnya bersandar padanya. Ia terdiam sejenak, menatap wajah pucat Sheila lekat-lekat. Dengan gerakan yang sangat halus dan penuh perasaan, ia membelai rambut indah wanita itu, seolah takut akan membangunkannya dari mimpi yang mungkin sedang memberikan ketenangan.

​"Aku berjanji, Sheila," bisik Arkan dengan suara rendah yang sarat akan tekad. "Aku akan terus menjaga kamu. Aku tidak akan membiarkan masa lalu kembali mengusik atau merusak kehidupan yang sedang kamu tata kembali."

​Rahang Arkan mengeras saat ia teringat nama yang tertera di kartu ucapan bunga tadi. Matanya yang biasanya teduh, kini berkilat tajam oleh amarah yang tertahan.

​"Aku bersumpah... aku akan membuat perhitungan dengan mereka yang pernah menyakitimu, dan siapa pun yang berani mencoba melakukannya lagi," lanjutnya dalam hati.

Cup!

Arkan tidak hanya ingin menjadi dokter yang menyembuhkan luka fisik Sheila, tetapi ia juga bersumpah menjadi pelindung yang akan memastikan bahwa tawa mengejek dari orang-orang seperti Bayu dan Indra tidak akan pernah terdengar lagi di telinga wanita ini. Ia mengecup puncak kepala Sheila dengan lembut sebelum akhirnya ikut menyandarkan kepalanya, berjaga di sisi Sheila sepanjang malam.

1
Chimpanzini Banananini
nyesek banget anjirr jadi sheila /Sob//Sob/
putri bungsu
mulut kamu bisa berkata baik-baik saja shei, tapi sahabat kamu tau kalau kamu sedang tidak baik-baik saja
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Infokan duel di ring sekarang /Curse//Curse/

Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sumpah Devano, kamu bakal menyesal main wanita kayak gini/Curse/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Aku pingin jerit Ya Allah 😭😭
☕︎⃝❥Haikal Mengare
cukup aku gak kuat 😭😭, ini bertolak belakang sama prinsip ku🤣
Peri Cecilia
risma baik banget
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sejauh mana obsesimu 😭
Peri Cecilia
nah kan, aku sangat puas awoakwoka
Ani Suryani
Sheila trauma
Stanalise (Deep)🖌️
Pergaulan gila macam apa ini. Masih sekolah padahal Udh kayak gini. nanti dikasih bayi beneran, nangesss/Hey/
Jing_Jing22: pergaulan anak muda masih mengutamakan ego...
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
thor kalimat yang huruf kapital ini dirubah mungkin lebih baik dech🙏🙏🙏 saran ya thor
Jing_Jing22: ok siap kacan! thanks sarannya😊
total 1 replies
Mingyu gf😘
Andai bundanya tahu, anaknya sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal
Mingyu gf😘: iya kak
total 2 replies
Herman Lim
aduh sapa lagi yg mau jahat sama Sheila
Jing_Jing22: masa lalunya yang sakit hati sama sheila
total 1 replies
Ikiy
kenapa baru nyesel sekarang/Scream/
Nadinta
DEVANO ASTAGAAA KATA GUE LU MINTA MAAF, SHEILAAA UHUUUU
CACASTAR
kecintaan sih Sheila..makanya
CACASTAR
emang kadang perempuan itu dibutakan oleh cinta,, udah bagus punya teman kayak Risma
CACASTAR
jangan Sheila..jangan...
CACASTAR
di mana-mana memang yang namanya Devano dalam karakter cerita sering banget jadi ketua gank, anak nakal, gitu ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!