melanjutkan perjalanan Lucyfer setelah kekalahan nya dengan Toma.
kini Lucyfer bergabung dengan kelompok Toma dan akan masuk ke ujian high magnus tapi memerlukan 2 orang tambahan.
setelah 2 slot itu di isi mereka kini menghadapi satu masalah akademi odler adalah musuh yang sulit dan tidak mudah di lawan.
arc ini juga memperkuat beberapa character
dan pertarungan masa lalu sang penyihir kegelapan yang bebas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertarungan antara pemarah dan provokator
Pertarungan antara sang tempramen melawan provokasi.
Masih di tempat yang sama kini alven sedang melawan Raviel.
Tujuan kedua nya sama yaitu:
Kendalikan tangan raksasa.
Raviel masih memberontak ingin mengambil alih kesadaran tangan raksasa nya dari kendali alven
Ahhh orang ini benar benar menjengkelkan sekali
Aku harus pikirkan sesuatu
Pikir Raviel dengan wajah yang kesal.
Tangan raksasa itu gemetar karena tak tahu siapa yang harus ia patuhi perintah nya apakah alven atau Raviel.
"CEPATLAH MENYERAH SIALANN"teriak alven dengan amarah
Raviel mengangkat wajah nya dan dengan wajah sombong nya mulai terwujud.
"TAK AKAN KU BIARKANNN"teriak Raviel yang menggema
Namun—
Raviel langsung membelalak dan terjatuh karena tangan raksasa nya lepas dari sisi nya dan mata nya membelalak tak percaya.
Tangan yang selama ini ada di sisi nya lepas dari kendali Raviel itu sendiri
Ehhh apa ini kenapa mereka lepas dari kendali ku
Benar mereka sama,
Sama seperti dia lepas dari sisi ku juga
Lalu sosok julian bernhard high magnus bola suci mulai terlihat.
"AKHIRNYA SIALAN."teriak alven
Raviel hanya mengangkat wajah nya, tubuh nya masih tergeletak dan mata nya seperti menahan air mata.
Sial kalau terus seperti ini aku tak akan di anggap oleh dia.
Alven kini mengendalikan 2 tangan raksasa itu.
"HAHAHAHAHAHA,"tawaalven menggema
"BAGAIMANA RASA NYA, KINI AKU AKAN MENGAKHIRINYA."
Kedua tangan itu melesat ke arah Raviel dengan cepat.
Aku tak akan bisa kalau seperti ini
Aku harus berkembang dan tidak hanya memprovokasi orang
Tiba tiba—
Tangan raksasa mulai muncul dari sebuah portal sihir, itu adalah perkembangan dari Raviel itu sendiri dan kini Raviel mulai tumbuh pelan pelan.
Raviel langsung berdiri dan tersenyum sombong.
"HAAAA HAHAHAHAHA."tawa nya yang menggema
"SEKARANG AKU AKAN MENGAKHIRINYA SAMA SEPEETI MU,"
"MATI BERTARUNG DENGAN SERIUS PESTA INI."
Alven dan Raviel mulai tersenyum kecil dan mulai tertawa sangat sangat lebar dan penuh kegilaan.
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA"tawa kedua nya yang menggema di seluruh dimensi hutan malam.
"AYO BERTARUNG,"kata Raviel
Kedua nya berteriak secara bersamaan.
"RAVIELLL."teriak alven
"ALVENNN."teriak Raviel
Alven dan Raviel mulai bertarung 4 tangan raksasa itu mulai memukul dan menghancurkan pepohonan dan bebatuan.
DOOOM!
Tanah meledak,batu batu terpental dan gelombang kejut menyapu tanah.
Alven melompat ke salah satu pohon.
Begitu juga dengan Raviel yang melompat ke pohon.
Tiba–tiba
Kedua nya langsung melesat membuat pohon yang mereka pijak itu langsung tumbang.
Mereka melesat dan membenturkan 2 tangan raksasa itu sampai hancur berkeping keping.
"HAHAHAHAHA LAWAN SEPERTI INI YANG MEMBUAT KU HIDUP KEMBALI HAHAHAHAHAHA."Ucap Raviel yang mengangkat tangan nya ke langit.
Alven langsung tersenyum sinis.
"Keparat lawan seperti mu memang membuat orang seperti ku merasa hidup kembali."kata alven dengan tatapan sinis
Raviel langsung menarik nafas panjang"hah hah hah" dan keringat nya mengalir dari dagu nya karena sensasi pertarungan ini.
"sihir tangan raksasa: regenerasi."ucap Raviel merapal mantra sihir tangan raksasa nya
Seketika dua tangan raksasa Raviel langsung kembali utuh kembali seolah olah seperti baru.
"NAHHH ALVEN,"kata Raviel melanjutkan ucapannya
"AYO KITA BERSENANG–SENANG LAGI,SAMPAI DI TITIK PENGHABISAN."
Alven langsung tersenyum bersemangat.
"Sihir tangan raksasa: regenerasi."ucap alven merapal mantra sihir yang sama seperti Raviel
Tangan raksasa yang alven kendalikan kini perlahan kembali ke wujud tanpa ada nya kerusakan sedikit pun.
"NAHHH AYO LANJUT PERTARUNGAN KITA, ALVENNNN."teriak Raviel
Raviel dan alven langsung adu pukulan bertubi tubi.
DOOOM
DOOOM
DOOOM
Suara pukulan bertubi tubi itu sangat sangat cepat dan sangat sengit.
Pelan pelan pukulan bertubi tubi itu menghancurkan tangan raksasa kedua belah pihak.
Tiba-tiba
Tangan raksasa milik Raviel sudah retak duluan dan hancur duluan.
Alven langsung menangkap leher Raviel dengan tangan raksasa itu yang mulai retak.
"HAAAA KAU KALAH KEPARAT."teriak alven dengan nada tempramen
Raviel langsung menatap ke langit malam dan tersenyum kecil.
"ahh kau benar aku kalah, pertarungan yang luar biasa."kata Raviel dengan nada respect
Alven langsung tertegun sejenak.
"HAAA APA INI,"
"KENAPA KAU MALAH MENYERAH DAN TAK MAU BERTARUNG LAGI."teriak alven
Raviel langsung diam sejenak.
"untuk apa lagi aku melawan,aku sudah kalah bukan."kata Raviel dengan pasrah.
Alven langsung murka dengan urat di leher nya yang mengeras.
"HAAA APA MAKSUD MU, KENAPA KAU MENYERAH."teriak Alven
Raviel hanya diam dan menatap langit, dan membayangkan julian bernhard dengan tatapan tajam.
"karena aku tak akan bisa setara dengan nya."kata nya dengan nada pasrah
Alven langsung mencekik kerah baju Raviel.
"HAAAA JADI KAU MENYERAH?"Tanya Alven
Raviel mengangguk dan tersenyum kecil.
Alven melepas kerah baju Raviel.
"Oiii kau tahu,"
"aku tahu kelemahan mu ada di fisik mu yang lemah."kata alven dengan tatapan tajam
Alven langsung berdiri.
"Aku sebenarnya bisa saja mengalahkan mu,"kata alven yang berhenti bicara sejenak
"Tapi aku memilih tidak melakukan nya karena aku juga ingin berkembang."
Alven langsung meneguk air liur nya.
"Ada alasan lain juga,"
"kau tahu saat kita bertarung, sensasi ingin menang kita menjadi meningkat dan merasa tak ingin terkalahkan."
Tapi ada yang nampak Alven ingin sampaikan ke Raviel supaya Raviel mau berkembang dan tidak hanya berada di tempat yang sama.
"aku tanya kau sekarang."kata alven dengan tenang.
"kenapa kau sekolah di akademi odler,"
"JAWAB AKU."bentak Alven
Raviel hanya mulai berdiri dan duduk di salah satu batu.
"kalau kau tanya,"jawab Raviel dengan tenang
"sederhana saja, aku mau di akui oleh seseorang,"
"tapi orang itu malah tak mau mengakui ku karena aku tetap di jalan yang sama dan tak pernah maju."
Alven langsung tertegun dan tersenyum sinis.
"heh, kalau begitu biar aku beri kau sedikit pelajaran ku."kata alven
Raviel langsung menatap alven sementara alven berjalan dengan santai dengan tangan di saku nya.
Tiba–tiba
Alven mencekik leher Raviel tapi tidak kuat melainkan seperti menahan Raviel.
"sihir anak panah peledak:ledakan anak panah terkuat."kata alven merapal mantra sihir nya
Lalu sebuah anak panah sihir keluar.
Raviel langsung tersenyum kaku.
"ehh apa yang ingin kau lakukan?"tanya Raviel
Alven langsung tersenyum lebar tapi isi hati nya jelas beda dari senyuman nya
"akan ku beri sedikit pelajaran supaya kau mau berlari menuju tempat yang sama ke orang yang kau maksud itu."jawab alven
Alven langsung memakan anak panah nya dan tubuh nya mulai bersinar perlahan.
"kau tahu aku akan meledak,"
"jadi anggap saja ini pelajaran supaya kau mau berjalan,YAAAAA."kata alven
Raviel langsung menjadi pucat.
"ehhh maksud mu, kita meledak bersama?"tanya Raviel
Alven langsung tersenyum lebar.
"Benar"jawab alven dengan tenang tapi penuh ancaman
Raviel langsung tersenyum canggung keringat nya menetes pelan dari dahi nya.
Setelah Raviel selesai tertawa dengan alven kini Raviel pasrah.
"TIGA"
Tubuh alven mulai bersinar.
"DUA"
Tubuh alven makin bersinar terang.
Raviel langsung tersenyum pasrah.
"habis sudah,"
"maaf seim aku kalah lawan orang ini."kata Raviel dengan menatap ke langit
"SATU"
BOOOOOM!
Ledakan itu membuat sebuah ledakan yang sangat sangat besar sekali sampai membuat angin berhembus.
Ini adalah cara alven memberi pelajaran kepada orang lain, bukan memukul atau menceramahi orang lain tapi meledakkan diri dengan orang lain.