Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.
Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.
tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.
Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.
"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.
Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.
"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.
"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.
"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.
"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."
Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Felix duduk bersandar di kursinya, satu tangan menopang dagu, sementara matanya berkeliling menatap interior restoran.
"Mengapa kita makan disini lagi?" Gumam Felix jelas-jelas sudah kehilangan minat.
Ivan yang sibuk membuka menu menoleh santai.
"Makanan disini murah, mempunyai porsi yang banyak dan juga pelayanannya cepat." Katanya bangga.
Gio yang duduk disamping Ivan, terkekeh kecil.
"Dan yang paling penting, dekat dengan kampus."
Felix mendesah pelan. Ia melirik piring di meja sebelah, menu yang sama seperti minggu lalu. Dan minggu sebelumnya.
"Aku benar-benar sudah mulai bosan makan disini." Keluhnya.
"Kita sudah makan disini delapan kali bulan ini. Aku tidak mau makan lagi."
"Baiklah." Kata Ivan sambil meletakkan buku menu ditangannya.
"Tapi, kau tidak boleh memilih makanan untuk kami."
Ivan mendengus.
"Aku benci dengan makanan mahalmu itu. Porsinya sangat kecil dan tidak membuatku kenyang."
"Kalau begitu kau tidak perlu ikut makan." Kata Felix dingin.
"Kau bisa makan di kantin sendiri."
Ivan terkekeh.
"Tidak mungkin. Gio pasti tidak mau ikut denganmu. Dia tidak mau jadi obat nyamukmu."
Gio langsung menyenggol Ivan.
"Van, berhenti berbicara!" Bisiknya.
"Kau bisa membuat Felix marah lagi."
Ivan justru tersenyum makin lebar.
"Memangnya kenapa? Apa kau tidak penasaran?" Tanya Ivan.
"Aku sangat penasaran sampai mati."
Tanpa menahan diri lagi Ivan bertanya kepada Felix.
"Fel, apa kau dan Syerly berkencan? Lalu bagaimana hubunganmu dengan Thea, apa kau putus dengannya karena ini?"
Gio menahan napas. Ia melirik Felix dengan gugup, lalu kembali berbisik keras.
"Van, berhenti!"
Ivan akhirnya terdiam.
Namun reaksi Felix jauh dari yang mereka bayangkan.
Felix justru tertawa pelan, hampir terdengar malas.
"Sebenarnya aku ingin memberitahumu."
Ivan mendongak penuh harap.
"Tapi karena kamu sangat penasaran." lanjut Felix dengan senyum tipis,
"Sekarang aku tidak ingin memberitahumu."
Felix menikmati setiap ekpresi kecewa di wajah teman-temannya.
"Aku pikir... kau harus memberitahu kami!" Gio yang sejak awal diam, akhirnya berbicara pelan.
"Aku juga sangat penasaran."
Felix terdiam sesaat, lalu mendesah pelan.
"Baiklah." Suaranya berubah menjadi lebih tenang.
"Aku memang meminta putus dengan Thea."
Ivan membeku.
"Aku melihatnya berkencan dengan orang lain." Lanjut Felix lirih.
"Tapi aku berpura-pura tidak tahu selama ini."
Ivan menatapnya tajam.
"Jadi kau punya alasan untuk putus dengan Thea untuk bisa bebas berpacaran dengan Syerly."
Tatapan Felix langsung mengeras.
"Syerly tidak ada hubungannya dengan semua ini." Kata Felix tajam.
"Ketika aku melihat Thea bersama orang lain, aku tidak ingin bersikap kejam." Lanjut Felix, lebih tenang.
"Aku ingin Thea juga bahagia."
Gio menghela napas pelan.
"Fel..."
Ia menatap Felix lama, seolah menimbang kata-katanya sendiri.
"Aku tahu, sejak dulu kamu tidak pernah meminta putus lebih dulu, karena kamu tidak ingin mereka berpikir bahwa kamu berkencan hanya untuk menjadikan mereka teman seks."
Ia berhenti sejenak.
"Tapi kali ini..."
Gio menatap Felix lebih dalam.
"Syerly, gadis yang kau temui tidak lama ini. Sepertinya... dia berbeda."
"Berbeda bagaimana?" Potong Felix tajam.
"Karena kau memperlakukannya berbeda." Jawab Ivan pelan.
Gio mengangguk.
"Fel... kau menyukai Syerly."
Kata-kata itu jatuh berat di antara mereka.
Felix terdiam lama, lalu menghela napas kasar.
"Kau benar... aku memang menyukainya. Dia memang gadis menarik." Katanya pelan.
"Tapi... bukankah itu hanya teman seks? Aku berpikir dia berbeda dengan gadis lain." Felix bebicara dengan tenang.
"Aku dan Syerly juga setuju, kita hanya sebatas teman tapi mesra."
Gio menggelengkan kepalanya pelan. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana untuk menyadarkan temannya itu.
"Apa kau yakin, itu yang kau inginkan?" Tanyanya tajam.
"Atau.. kau hanya ingin membuat alasan hanya agar dia bisa berada didekatmu."
Felix tidak menyangkal.
"Mungkin..."
"Tapi aku hanya ingin bersenang-senang. Dan kami sepakat soal itu."
"Sepakat?" Dengus Gio.
"Kau tidur dengan dia seperti pasangan?"
Nada Felix mendadak dingin.
"Memangnya kenapa?"
Ia menatap Gio lurus.
"Kita teman tapi mesra. Apakah itu salah?"
Udara di antara mereka menegang, seakan satu kata lagi bisa memicu ledakan.
Ivan akhirnya angkat bicara, suaranya lebih pelan namun mantap.
"Aku tahu, Fel." Katanya pelan.
"Kau menganggap Syerly bukan hanya itu, tapi lebih daripada itu." Katanya tenang.
"Kau tidak perlu menderita karena menyembunyikan perasaanmu, karena orang lain pasti juga menginginkan perasaanmu juga." Lanjut Ivan.
"Percayalah padaku! Syerly pasti juga seperti itu."
Felix mengernyit.
"Bagaimana kau tahu?"
Ivan tersenyum tipis.
"Karena semua orang membicarakannya."
Ivan mencondongkan tubuhnya kedepan.
"Syerly dikenal hanya dekat dengan Peter, dan itu pun cuma teman. Tapi sekarang dia tidur di pangkuanmu."
Ivan menatap Felix lurus.
"Bukankah itu sudah cukup membuktikannya?"
Felix diam.
Kata-kata Gio dan Ivan masih berputar di kepalanya, menekan dadanya dengan perasaan yang tak ingin ia akui.
Felix menunduk, berusaha menenangkan diri, sampai bunyi ponsel memecah lamunannya.
Felix melirik layar itu sekilas.
Lalu tubuhnya menegang.
"Sialan..." gumamnya.
Ia baru ingat, jika mempunyai jadwal latihan bersama klub drama.
Felix segera berdiri, mengambil barang-barangnya dengan cepat.
"Aku harus pergi." Katanya tergesa-gesa.
Ivan menoleh kaget.
"Kemana?"
"Aku lupa ada latihan drama hari ini." Felix melirik jam tangannya.
"Aku akan membayar makanannya, kalian makan saja!"
Tanpa menunggu jawaban, Felix berbalik dan pergi dengan langkah cepat.
Felix melangkah cepat menyusuri koridor kampus.
Baru beberapa langkah sebelum ia mencapai gedung klub drama, seseorang memanggilnya.
"Felix."
Felix berhenti. Melihat Hanna yang menghampirinya dengan senyum cerah dan percaya diri.
"Apa kau masih ingat aku?" Tanya Hanna dengan lembut.
"Aku teman Thea."
"Ohh..." gumam Felix singkat.
Ia melirik jam tangannya.
"Ada apa? Aku sedang terburu-buru." Katanya dingin.
Hanna tidak tampak tersinggung. Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, lalu berkedip manis.
"Aku melihatmu tampak kelelahan, jadi..."
Ia menyerahkan sebotol air.
"Aku membelikanmu minum."
Felix langsung mengambil botol itu tanpa banyak pikir.
"Terimakasih."
Tanpa menunggu reaksi Hanna, Felix kembali berjalan dengan cepat. Meninggalkan Hanna yang senyumannya semakin lebar.
Felix membuka pintu dengan nafas yang masih terengah-engah.
Ia langsung meminta maaf kepada semua orang yang telah berkumpul disana.
"Tidak apa-apa, Fel." Kata Poppy tersenyum lembut.
"Kau datang tepat waktu."
Lalu Poppy menepuk kursi kosong sebelahnya.
"Ayo duduk disini!"
Poppy memperhatikan wajah Felix yang tampak lelah.
"Kau minum dulu!"
Felix melirik botol air di tangannya. Tanpa banyak pikir, ia membukanya dan meneguk isinya beberapa kali.
Poppy adalah gadis yang akan menjadi lawan mainnya. Karena itu, begitu Felix mulai tenang, mereka segera menunduk bersama, membicarakan naskah yang akan mereka mainkan didalam drama.
Beberapa hari ini, Felix sangat sibuk. Ia harus pergi untuk latihan drama.
Tapi bukan hal itu yang membuat ia gelisah, ada hal lain yang membuatnya frustasi akhir-akhir ini.
Syerly sepertinya menghindarinya.
Semua pesan yang ia kirimkan tidak satupun ada balasannya. Bahkan ketika ia mencoba menelpon nomor gadis itu, Syerly tidak pernah menjawabnya.
Meski Felix tersenyum pada semua orang, ada sesuatu yang terus mengusiknya, rasa cemas dan takut yang bahkan sulit ia jelaskan.