Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wejangan Mr. Lawyer
“Dan setelah gagal seperti itu ... kau akan pulang ke Indonesia untuk mengulang kembali tekanan dari keluargamu?!”
Kata-kata Jeong membuat Anjani teredam.
Tidak salah, satu keputusan sudah pasti akan menghasilkan satu hal lain, entah lebih baik, atau sebaliknya.
Tapi Anjani tidak memikirkan itu, pulang ke Indonesia bukan berarti pulang ke keluarganya. Dia bisa hidup sendiri dan memulai dari titik awal lagi. Namun bayangan Woojun terlalu menyesakkan dada, dan Korea adalah tempat pria itu berada.
Bibir yang bergetar menghasikan suara yang sama sumbang, “Aku tidak peduli. Tapi di sini ... aku merasa jauh lebih terluka.”
Ya, memang akan tak mudah, apalagi setelah berlalu banyak waktu untuk sesuatu yang dianggap harapan, namun tipuan pada kenyataannya.
Tentang rumah tangga yang gagal itu tentu saja.
“Aku menumpahkan semuanya untuk dia. Aku tidak suka melihatnya susah. Aku ingin bisa menjadi penopang dan kekuatannya di saat dia melemah. Aku ... aku rela mengorbankan apa pun ... asalkan kami bisa tetapー” Napasnya tersengak di paru-paru.
“Kau bisa berhenti!” Jeong menegur. “Cukup bicara dan mengingatnya, jika itu hanya akan menyakitimu lebih banyak.”
Anjani menggeleng, tidak berniat berhenti sampai dadanya merasa lega. Sudah terlanjur Jeong tahu banyak tentang dirinya.
Dia berpikir Jeong mengetahui perceraiannya dari Nyonya Ju saat lelaki itu menjadi pelayan dadakan di kedai hari itu, namun faktanya bukan. Anjani tidak tahu apa pun, Jeong bahkan tahu semua detail tentang dirinya lebih banyak dari yang dia duga.
Sekarang Jeong hanya bisa mendesah napas. Ketidaktegaan di hati sekaligus kesal karena nama Ahn Woojun mendominasi, terpaksa dia biarkan, Anjani mungkin sedang bersandar padanya dengan cara seperti itu.
“Baiklah, jika dengan bercerita begini setelahnya kau akan merasa lega ... maka lakukan. Aku tidak akan pergi, akan aku dengarkan."
Sayangnya Anjani bahkan tidak tersentuh dengan ucapan itu, perasaannya kebas oleh hal lain, hal yang belakangan membuatnya selalu bersikap palsu di depan semua orang. Sikap baik-baik saja yang padahal dia lebih hancur dari apa pun.
Walau suaranya semakin bergelombang, dia tetap ingin meluapkan semua isi hatinya, tidak peduli itu Jeong ... atau siapa pun.
“Sekarang aku tahu ... bahwa cinta yang tampaknya akan bertahan selamanya ... juga bisa berakhir dengan perselingkuhan yang klise. Dan di akhir cinta itu ... hanya tersisa serpihan kotor yang menyedihkan. Semuanya ... sia-sia." Air mata yang turun susul menyusul berubah jadi isakan pilu. Dia tidak bisa menahannya lagi.
Pemandangan itu terasa mencekik Jeong yang hanya bisa menatap dengan jarak. Memeluk wanita itu meskipun ingin, dia merasa belum berhak melakukannya. Kedekatan malam ini belum bisa diartikan sebagai hubungan yang mendalam hingga satu sama lain memiliki hak untuk melakukan kontak fisik secara leluasa. Bahkan pelukan pada seorang teman pun belum.
Lalu bagaimana dengan kemarin yang tiba-tiba bersandar di pundak Anjani setelah berakting dipukuli rampok?
Ya, kalimat yang diucapkan tadi adalah naif yang konyol, Jeong adalah sang penabrak semua aturan, sebentar lagi pasti otak gilanya akan keluar.
Tapi tidakーtidak untuk sekarang.
"Setelah mendengar semua ceritamu barusan, aku langsung paham mengapa kau tiba-tiba memutuskan ingin pulang kembali ke negaramu,” ujar pria itu, mulai mengambil peran lebih mendalam.
Anjani melengak padanya, tapi tidak berkata.
"Karena menurutmu, kau akan kembali berhasil melupakan semua seperti yang kau lakukan saat melarikan diri kemari. Bagimu tahun-tahun yang kau lewatkan di sana sudah cukup untuk membuatmu menjadi orang lain lagi setelah pulang. Kau berpikir akan kembali bertemu orang baru, terbiasa lagi, sakit lagi, kemudian berlari lagi. Tapi, Anjani... sampai kapan kau akan terus melarikan diri?"
Psss!
Kali ini Anjani tertegun, menatap Jeong dengan sedikit bingungーlebih pada dirinya sendiri, lalu merunduk kembali, malu dengan wajahnya yang serapuh sekarang.
“Suatu hari, hidup memang akan sangat berat hingga kau merasa tak tahan dan ingin mati. Tapi kau tak boleh berbaring saja dan pasrah,” lanjut Jeong. Sesi wejangan mode pengacara mulai keluar.
"Di dunia ini ... ada hal yang harus kau lakukan, meski kau tak ingin melakukannya. Jika itu untuk kebaikanmu, maka bangkit dan berjuanglah.”
Dengan sedikit ragu, dua tangan Anjani atas meja diraih lalu digenggam Jeong, membuat wanita itu terkejut hingga dua pasang mata lurus saling bertatap.
“Anjani ... jangan melarutkan dirimu pada sebuah vonis bahwa kau telah gagal dalam hidupmu."
"Kebahagiaan memang tidak berujung selalu ada dalam hidup yang dijalani, tapi siapa pun bisa menemukan dan berhak menikmatinya, termasuk dirimu."
"Bahkan jika kau melewatkan kebahagiaan itu, selama masih ada satu orang saja yang ingin mencari kebahagiaan bersamamu, maka hidupmu akan layak untuk dijalani." Lalu Jeong menyambung di dalam hati, “Dan satu orang itu adalah aku.”
Tapi belum waktunya bermain gombal, ini bukan ajang menggoda, Jeong menekan diri dan perasaannya sekuat hati.
Anjani terpapar kebisuan. Kalimat-kalimat Jeong sedang menyesap perlahan menembus setiap kepingan hati, lalu merayap pada kepala dan memikirkannya.
"Entah aku harus menyebut itu kelemahan, atau justru kelebihan yang pantas diapresiasi, yang jelas, Anjani ... kau terlalu sibuk untuk menyenangkan orang lain, tetapi kau lupa untuk baik pada dirimu sendiri."
Ada desiran aneh yang mengalir ke hati Anjani, melalui kalimat itu. Mata beningnya sampai setengah lebar. “Be-benarkah aku begitu?” Akhirnya ada suara, meski terdengar terbata dan sangat kaku.
“Dia bahkan tidak bisa menilai dirinya sendiri," cicit hati Jeong, lalu seulas senyum dia hadiahkan pada wanita itu, mengangguk-angguk dan berkata, “Ya. Tidak butuh waktu lama untuk aku menilai ... kau memang orang yang seperti itu."
Anjani tak lepas menatap. Tangisnya sudah reda, sisa basahan di wajah yang menunjukkan betapa sesaat lalu dia masih tergelincir dalam kenangan menyakitkan tentang Ahn Woojin.
Jeong melanjutkan bagian akhir, “Setelah kau paham, bahwa semua jenis kesakitan yang menderamu adalah karena kau kurang peduli pada dirimu sendiri, maka mulai sekarang, Anjani ... berjuanglah untuk dirimu sendiri ... dan tersenyumlah.”
DZIIIING... 🤜🥴💨
Selamat jingkat buat Author!