NovelToon NovelToon
The Secret Girl

The Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Isekai
Popularitas:829
Nilai: 5
Nama Author: Kanken

Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.

Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.

Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.

(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 15: Diskusi Rahasia

"Kenapa ini bisa terjadi?"

Dihadapan Alice, seorang wanita berambut long layer berwarna ungu gelap, sepasang mata berwarna keemasan, memiliki paras cantik dengan postur tubuh yang ideal mulai dari; tinggi sekitar 172 cm, bertubuh sedang namun pinggang ramping, berdada besar berukuran F Cup dibalik gaun berwarna ungu sedang duduk di kursi, menatap mata crimson Alice dengan wajah serius.

Ia tidak lain adalah Lisa, ibu dari Eri, teman Alice yang bermain dengannya sebelumnya menggunakan boneka kayu pria dan wanita yang memiliki perbedaan di rambut mereka meskipun mereka tidak memiliki wajah dan jenis kelamin, bahkan tidak mengenakan pakaian untuk boneka kayu tersebut.

"Maaf jikalau aku ingin tahu, tapi siapa dirimu sebenarnya, Alice?"

Keheranan terlihat diwajah Alice. Ia tidak pernah terpikirkan kalau Lisa penasaran tentang ini.

"Aku...."

Ada keraguan diwajahnya, ia tidak ingin mengungkapkan apapun tentang dirinya di masa lalu karena takut itu mengganggu keseimbangan dunia yang ditempatinya sekarang. Karena seingat Alice, para reincarnator yang memiliki ingatan masa lalu hidupnya di dunia mereka, mereka tidak ingin memberitahu pada siapapun agar tidak menentang aturan di dunia yang mereka tempati sekarang.

Memang, Alice tahu betul kalau ia tidak tahu apakah sistem di dunia ini sama seperti yang dibaca di beberapa cerita di novel yang ia baca sewaktu menjadi Nia sebelumnya atau tidak.

Sebelum berlanjut ke percakapan mereka, mari kilas balik ke sehari sebelumnya terjadi diantara mereka berdua di kamar Lisa, tanpa diketahui oleh siapapun.

Di malam hari sebelum hari pertemuan diadakan, Gerald memasuki kamar Lisa dengan wajah serius dibalik senyuman tetap di bibirnya, matanya sedikit terbuka dari mata sipitnya memperlihatkan mata azure yang menatap langsung ke mata keemasan Lisa.

"Ada apa kamu kemari, Gerald?"

"Ini masalah penting."

"Masalah penting."

"Ya," angguk Gerald yang yakin kalau ini bukanlah masalah sepele melainkan penting karena menyangkut masa depan.

Mengetahui kalau pembicaraan ini akan menjadi serius, Lisa mempersilahkan Gerald untuk duduk. Gerald yang duduk di kursi dengan menghadap ke kasur menatap pada Lisa dibalik mata sipitnya yang terbuka usai Lisa mengintip dari dalam pintu ke lorong untuk memastikan tidak ada siapapun yang mendengar pembicaraan mereka.

"Ada apa?"

"Ini tentang pembicaraan yang sempat saya dengar dari mereka, fraksi di Keluarga Yamada."

Mendengar kata Yamada membuat Lisa tahu kalau sesuatu sedang dalam rencana yang tidak lain dipimpin oleh Edi, ayah dari Ken berharap masalah ini tidak seserius yang dipikirkannya.

Tapi, bukannya merasa lega dengan penjelasan dari Gerald, Lisa justru malah terkejut saat ia mendengar penjelasannya.

"Mereka mulai bergerak untuk membunuh Nona Alice."

"Hah?!"

Keterkejutannya terlihat jelas diwajah Lisa.

Saking terkejutnya, benaknya berpikir beberapa pertanyaan yang tidak masuk akal, seperti; "apa yang dipikirkan oleh pria sialan itu?!" "Yang benar saja?" "Bukankah ia tahu kalau putranya adalah temannya?!" Sesuatu seperti itu memenuhi kepala Lisa tanpa ia bisa menjawabnya.

Memahami ada ketidaktahuan dari Lisa, Gerald menjelaskan agar wanita yang duduk di sisi kasur menatapnya dengan wajah penasaran tidak kebingungan lagi.

"Dari apa yang saya dengar, niat awal Tuan Edi adalah menikahi putranya dengan Nona Alice. Tapi karena putranya menolaknya melainkan ingin menjadi ksatria di sisinya, Tuan Edi tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan cara ini."

Sekilas, ekspresi rumit antara bingung dan jengkel menjadi satu diwajah Lisa membuatnya menggaruk rambut ungunya berkali-kali dengan frustasi.

"Dia sudah gila. Bagaimana bisa dia memaksakan hal ini untuk menikahi putranya yang tidak ingin menikahi putri dari Luna?"

Karena Lisa tidak mengatakan apapun, ia menenangkan diri dari perasaan tersebut lalu menatap ke Gerald dengan wajah serius dan tenang, menyilang lengannya selagi tetap duduk di sisi kasur.

"Darimana kamu bisa mendengar ini, Gerald?"

"Saya tahu karena saya menggunakan familiar saya."

Diperlihatkan di salah satu jari-jemari pada Lisa seekor reptil yang berukuran kecil yang mirip seperti bunglon di kelima jari di tangan kanan Gerald, Lisa memperhatikannya dengan seksama dan mengangguk puas.

Karena reptil berupa bunglon di kelima jari di tangan kanan Gerald menggunakan kamuflase dalam wujud transparan, memungkinkan mereka bisa menyelinap ke setiap tempat tanpa diketahui oleh siapapun.

Tapi, membayangkan hal tersebut membuat keringat dingin mengalir di punggung Lisa. Dengan ragu-ragu, ia bertanya padanya.

"Kamu tidak melakukan itu untuk hal mesum, bukan?"

"Mana ada. Usia saya tidak mungkin semuda dulu, Nona Lisa. Jikalau saya melakukannya maka saya tidak terlihat berwibawa melainkan orang mesum yang berkeliaran."

Dari ekspresi curiga dan jijik di wajah Lisa berubah menjadi wajah lega setelah mendengar penjelasan darinya, membuatnya sedikit tenang meskipun ia masih meragukan perkataan dari Gerald.

"Jadi, apa yang kamu inginkan dengan bahasan ini?"

Tahu kalau pembicaraan mulai serius, Gerald tidak menyia-nyiakan waktu jadi ia menatap serius pada Lisa dengan mata azure-nya dibalik mata sipitnya yang terbuka yang tajam.

"Saya ingin anda melatih Nona Alice untuk belajar sihir agar ia bisa melindungi diri sendiri. Kalaupun tidak sempat, saya ingin anda meluangkan waktu untuk membantunya."

"....."

Meskipun kedengarannya cukup mudah, tapi bagi Lisa itu terasa sulit karena ia tidak ingin terlibat dalam masalah yang terjadi antara kedua fraksi dari Keluarga Nishimura dan Keluarga Yamada.

Jikalau ia terlibat, ada kemungkinan ia akan melibatkan putrinya kedalam bahaya memungkinkan ia akan kehilangan putrinya setelah kehilangan suaminya sewaktu dulu. Membayangkan hal tersebut membuatnya ragu untuk mengulurkan tangan untuk membantunya.

Tapi, kata-kata Gerald tidak ingin berhenti sampai di sana untuk membujuk Lisa untuk tidak mengulurkan tangan untuk Alice.

"Saya paham jikalau anda tidak ingin terlibat dalam urusan yang bukan urusan anda, tapi mohon pahami ini. Putri anda dekat dengan Nona Alice, jikalau ia mengetahui hal buruk terjadi pada temannya maka ia akan menyalahkan diri anda sebagai ibunya yang tidak membantunya."

Kata-kata tersebut mampu menyadarkan Lisa dari keraguannya.

Memang, putrinya, Eri sudah dekat dengan Alice. Jikalau ia kehilangan teman dekatnya maka Lisa, ibunya akan dimarahi oleh Eri karena tidak bisa menjaga sahabatnya dari bahaya sebagai orang terkuat.

"Kenapa kamu tidak melakukannya sendiri?" Tidak ada nada kebencian maupun kekesalan melainkan nada tenang selagi menatap ke Gerald dengan wajah bertanya-tanya di ekspresi Lisa.

"Jikalau saya melakukannya maka saya akan mendapatkan konsekuensi tidak hanya dibenci oleh mereka, tapi juga saya akan dikeluarkan dari kerajaan ini sebagai penasihat Yang Mulia Arga."

Dapat dipahami kalau posisi Gerald sangat sulit untuk membantu Lisa, Lisa juga merasa kalau ia bantu urusan ini pada Alice maka ia dan putrinya akan terlibat dalam masalah mereka juga.

Dikarenakan ia diambang bingung, ia tidak tahu harus bagaimana.

Di satu sisi, ia ingin menghindari rasa sakit yang dirasakan oleh Luna, ibu Alice sekaligus teman Lisa dari kehilangan putrinya saat mati nanti. Tapi disisi lain, jikalau ia membantunya maka kehidupan tenang dari dirinya dan putrinya akan terganggu.

"Yah, jikalau anda tidak ingin membantu maka saya akan melakukannya."

Tidak ingin melibatkan Lisa yang tidak mau masuk kedalam permasalahan antara fraksi dari Keluarga Yamada dan Keluarga Nishimura, Gerald yang memutuskan untuk melakukannya meskipun resikonya banyak, membuat Lisa terkejut mendengarnya.

"Apakah kamu yakin?"

"Ya, saya yakin. Tapi, saya tidak tahu apakah ini baik untuk anda atau tidak terlepas anda berteman dengan ibunya, dan putri anda berteman dengan putrinya."

Mendengar kata-kata itu dari Gerald membuat Lisa tersadar kalau ia tidak bisa mundur, ia harus maju sebagai sahabat dekat Luna sekaligus mencegah kesedihan yang terjadi pada putrinya, Eri agar mereka berdua tidak menangis dalam kesedihan.

"Baiklah, aku akan melakukannya," tegas Lisa dengan wajah penuh tekad, matanya berkobar api semangat yang membuat Gerald tersenyum lega padanya.

Tentu saja, Gerald tidak bermaksud untuk mendesak Lisa untuk membantunya. Ia hanya mengatakan semuanya berdasarkan alasan logis pada Lisa jikalau itu benar-benar kejadian. Tak hanya Eri kehilangan temannya Alice, Luna juga akan kehilangan putrinya yang membuat Lisa dipenuhi dengan rasa bersalah dan penyesalan.

Dikarenakan Gerald tidak ingin itu terjadi padanya, ia yang lega mengetahui kalau Lisa mau membantu Alice membuatnya tidak lagi harus turun tangan sama sekali.

"Jikalau saya mendapatkan informasi lagi, saya akan beritahu dirimu, Nona Lisa."

"Baik," helaan nafas panjang terdengar dari Lisa setelah mendengar diskusi berat darinya. "Terimakasih banyak telah memberitahu ini."

"Tidak masalah," Gerald kembali ke sikap biasa dengan bibir penuh senyuman, matanya kembali tertutup rapat karena sipit selagi ia terkekeh.

Itulah apa yang diingat oleh Lisa, ia juga ingin tahu mengenai sesuatu dari Alice.

Dengan kata lain, ia bisa menghilangkan rasa penasaran yang menumpuk dibenaknya untuk mendapatkan jawaban langsung dari Alice sekaligus membantunya untuk memperbesar kapasitas mana-nya agar ia tidak terbunuh dengan mudah.

"Aku adalah seorang gadis kecil."

"Gadis kecil? Jika aku bodoh, aku sudah meyakinkan diriku kalau kamu gadis kecil. Tapi, putriku melaporkan tindakan-mu benar-benar aneh."

"Tindakan aneh?"

Tidak memahami apa yang dikatakan oleh Lisa, benak Alice mulai memikirkan ada sesuatu yang salah disini sejak awal.

Tempat ini, ini lebih mirip seperti interogasi ketimbang pembicaraan serius membuat Alice tidak memahami kenapa Lisa, ibu dari Eri ingin melakukan pembicaraan di kamarnya tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk ibunya, Luna, dan Eri, putrinya.

"Apa maksudmu, Tante?"

Helaan nafas panjang terdengar dari Lisa, ia tahu kalau ia harus menjelaskannya pada Alice agar menyudutkannya supaya ia berkata jujur.

"Saat kamu pingsan, aku melihatmu dalam kondisi sekarat yang hampir kehabisan mana. Saat kamu berbicara dengan ayahmu, Ren, di aula makan di makan siang, putriku mendengar pembicaraan kalian dari luar tentang melatih fisikmu."

Keringat dingin mengalir di punggung Alice. Ia tidak menyangka kalau Lisa akan mengetahui hal tersebut untuk menyelidikinya, tanpa tahu apa yang maksud dan tujuan ia melakukan ini padanya.

"Tolong jawab jujur, Alice. Apakah kamu seorang reincarnator?"

Tiba-tiba ekspresinya menegang, seluruh tubuhnya seperti dibasahi oleh keringat dingin saat ditanya langsung oleh Lisa.

Di satu sisi, Alice ingin memberitahu yang sebenarnya pada Lisa, tapi ia masih meragukan apakah ini akan membawa kebaikan atau tidak. Tapi disisi lain, jikalau ia tidak memberitahu maka Lisa adalah wanita berbahaya yang mendapatkan jawaban melalui rasa penasarannya, membuatnya akan melakukannya lagi untuk memojokkannya seperti sekarang.

"Aku... aku bukanlah reincarnator," jawab Alice yang dipenuhi keraguan.

Bukannya mendapat kepercayaan dari Lisa, ia malah mendapatkan tatapan curiga padanya membuatnya semakin tegang.

Sesaat, tubuhnya ingin sekali berteriak padanya untuk keluar dari kamar ini yang merupakan tempat interogasi. Tapi instingnya berkata lain, ia tidak bisa meninggalkan medan pertempuran. Jikalau ia melakukannya maka kecurigaan Lisa semakin benar, ada kemungkinan di lain waktu ia akan menyudutkan Alice lagi.

Meskipun begitu, Alice tidak ingin langsung mengakuinya melainkan menenangkan dirinya lalu melanjutkan perkataannya untuk menghilangkan kecurigaan Lisa.

"Jikalau aku seorang reincarnator, kenapa aku lemah? Bukankah seharusnya reincarnator terlahir dari seseorang yang diberikan semuanya oleh Dewa dan Dewi?"

Seketika Lisa terdiam, ia tahu apa yang dikatakan oleh Alice ada benarnya namun ia tetap tidak ingin menerimanya sebagai bentuk yang masuk akal. Sebaliknya, Lisa menganggap itu sebagai pernyataan defensif dari Alice.

"Semoga saja ia tidak menanyakan apapun lagi padaku," harapan Alice adalah ia bisa bebas dari ruangan ini dengan berharap Lisa tidak bertanya apapun lagi padanya.

"Biar aku terus terang, aku tidak peduli jika kau reincarnator atau tidak karena aku ingin tahu jawaban jujur darimu, bukan untuk memanfaatkan mu melainkan untuk menghilangkan rasa penasaran-ku."

Kata-kata Lisa terdengar tulus, tidak ada yang disembunyikan darinya saat melihat langsung ke Alice, membuat Alice yang menyadarinya tahu kalau ia tidak bisa tidak berbohong melainkan melakukan ini untuk melindungi dirinya dari bahaya.

"Rasa penasaran-mu?"

"Ya," angguk Lisa yang terlihat yakin. "Aku ingin tahu dunia asal dari reincarnator, aku harap aku bisa mempelajari beberapa hal dari sana."

Ada keingintahuan mendalam terlihat dari sorot mata antusias dibalik mata berwarna keemasan Lisa, dengan ekspresi senang dengan senyum melebar membuat Alice menyadari kalau ia menyembunyikan ini lebih lama maka akan ketahuan.

Jadi, ia memutuskan untuk memberitahu pada Lisa meskipun tidak tahu apa yang menantinya ke depan.

"Ya, aku seorang reincarnator."

"Eh?"

Tidak diduga oleh Lisa kalau Alice berkata jujur, ada rasa lega, senang, dan semangat memenuhi hati Lisa membuatnya tanpa sengaja memeluk Alice dengan erat, membuat Alice tidak nyaman dan berteriak "lepaskan", membuat Lisa melepaskannya lalu meminta maaf kepadanya.

1
Enjel
seru novelnya
Kanken0: Terimakasih telah berkunjung dan ikuti cerita ini.

Semoga betah sampai akhir closure nanti :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!