NovelToon NovelToon
Marwah Yang Ternoda

Marwah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--

"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--

Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.

Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.

Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.

Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2 Manis Seperti Gula Jawa

Sukma duduk meringkuk di bawah pancuran shower. Kedua lutut didekapnya erat sambil terisak, mengabaikan perih di inti tubuhnya yang masih menyisakan jejak kekerasan Xavier. Baginya, rasa sakit itu tak sebanding dengan marwahnya yang kini telah luruh dan hancur tanpa sisa.

"Ayah... Bunda... Maafin Sukma. Sukma nggak bisa menjaga kesucian. Sukma kotor. Sukma nggak pantas hidup di dunia..." bisik Sukma lirih.

Ratapannya terdengar pilu, menyatu dengan gemericik air shower yang membasahi tubuhnya yang mulai membiru karena kedinginan.

"Sayang..." Suara lembut itu berdengung di telinga, menuntun Sukma mengangkat wajahnya perlahan.

Ia menatap pantulan di cermin yang mendadak menampilkan wujud almarhumah bundanya. "Jangan menghukum dirimu sendiri. Ayo bangkit, lewati ujian ini dengan senyum ketegaran. Seperti Sukma Kinanti Putri yang Bunda kenal dulu."

Sukma terpaku. Air matanya masih mengalir, namun isakannya perlahan mulai mereda.

"Bunda..."

Seroja tersenyum dan mengejapkan mata. Ia melambaikan tangan sebelum bayangannya memudar, berganti kembali dengan wajah Sukma--putri bungsunya.

Sukma menghela napas panjang. Ia menyeka wajahnya yang basah dengan ujung jemari, lalu memaksa tubuhnya yang lemas untuk bangkit.

"Bunda..." panggilnya lagi, menatap lekat pantulan dirinya yang memang sangat mirip dengan garis wajah sang bunda.

"Bun, dia jahat. Dia tega menodai kesucianku. Dia... bukan Xavier yang dulu. Yang selalu membela dan melindungiku."

Sejenak, Sukma memejamkan mata rapat-rapat, mengempas kilasan buruk yang kembali melintas--kejadian beberapa jam lalu saat Xavier menghancurkan seluruh hidupnya.

Perlahan, ia melangkah keluar dari kamar mandi. Langkahnya tertatih, menahan sensasi perih yang masih tersisa di tubuhnya.

.

.

Malam kian larut, namun Sukma masih enggan merebahkan tubuh di atas ranjang. Ia memilih duduk di sofa, menatap sendu boneka beruang yang baru saja diambilnya dari kolong meja.

"Vier..." ucapnya lirih. Setetes air mata jatuh mengiringi.

Ia memanggil satu nama yang dulu teramat indah dan bertahta di relung rasa, namun kini telah berubah menjadi nama yang paling dibenci sekaligus ingin dihempas jauh dari sudut hati.

Delapan tahun silam...

"Anak yatim! Anak yatim!" segerombolan bocah merundung Sukma. Bukan hanya mencaci, mereka juga mendorong tubuh kecil gadis itu hingga tersungkur di tanah becek sisa hujan semalam.

Sukma tidak menangis, tidak pula merintih. Ia hanya diam. Namun, justru bungkamnya Sukma yang membuat Xavier geram dan terdorong untuk maju membela.

"Woi! Beraninya sama anak perempuan! Sini, maju kalian! Hadapi aku, Xavier!" serunya lantang.

Suara Xavier langsung mengalihkan atensi Raka dan keempat temannya--Mamed, Ijong, Yumi, dan Vela. Mereka memutar badan, lalu menatap sengit ke arah Xavier yang di mata mereka sok berlagak menjadi pahlawan.

"Nggak usah ngebela anak yatim itu, Vier. Sok jadi pahlawan banget. Kamu nggak bakal bisa ngadepin kami berlima," ujar Raka sombong.

Xavier berdecih pelan. "Banci!" umpatnya santai, namun berhasil menyulut emosi lawan.

"Kamu ngatain aku banci?" Raka mendelik tidak terima.

"Iya. Beraninya keroyokan. Coba satu lawan satu, berani nggak?"

Raka mengembuskan napas kasar, lalu melangkah maju. "Ayo gelut! Kalau kamu menang, kami nggak bakal gangguin anak yatim itu lagi. Tapi kalau kamu kalah... kamu harus nraktir kami setiap jam istirahat sampai lulus SMP!"

"Oke, siapa takut." Xavier tersenyum remeh, menyambut uluran tangan Raka. "Deal! Aku pastiin aku yang bakal menang," lanjutnya sambil mencengkeram kuat tangan rivalnya.

Sukma masih terdiam di tempatnya. Matanya berkaca-kaca menatap Xavier yang kini tengah menggulung lengan seragam dan memasang kuda-kuda, bersiap menghadapi serangan.

"Kak, jangan..." ucapnya lirih. Nyaris seperti desau angin, hingga tak terdengar oleh Xavier.

Tanpa aba-aba, Raka bergerak cepat melayangkan pukulan pertamanya.

Tenang. Itulah yang ditunjukkan oleh Xavier. Ia hanya menghindar dan sesekali menangkis, sengaja membiarkan lawannya kehabisan tenaga.

"Vier, kenapa cuma menghindar, hah? Ayo, hadapi aku!" tantang Raka yang mulai emosional.

Xavier tersenyum miring, menjawab tantangan Raka. Hanya dengan sekali pukulan telak, hidung bocah sombong itu langsung mengucurkan darah segar. Tubuh Raka gemetar hebat, nyalinya menciut seketika.

"U-udah, Vier! Aku mengaku kalah! Sakit banget, aku nggak mau hidungku jadi pesek!" ratap Raka sambil memegangi hidung mancungnya.

Xavier mendengus. Ia melipat bibir, sekuat tenaga menahan tawa yang rasanya ingin meledak melihat kepanikan rivalnya. Membiarkan Raka berlalu pergi dengan langkah teratur yang terburu-buru, diiringi keempat temannya yang tampak sangat ketakutan.

"Woi! Jangan lupa perjanjian kita tadi! Mulai detik ini, jangan pernah ada yang berani mengganggu dia lagi!" seru Xavier lantang.

Tanpa sudi berbalik badan, Raka hanya mengacungkan ibu jarinya tinggi-tinggi di udara sebagai tanda sepakat.

"Sampai kapan kamu mau duduk di situ? Ayo, berdiri!" ujar Xavier sambil mengulurkan tangan.

Sukma menyambut uluran tangan itu, membiarkan tubuhnya ditarik bangkit.

"Makasih, ya. Maaf, aku membuat Kak Vier berkelahi gara-gara aku," ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar.

"Nggak masalah. Lagian, tugasku sebagai ketua OSIS kan melindungi temen-temen korban bulian kayak kamu," sahut Xavier. Bibirnya melengkung tipis, memperlihatkan senyuman samar yang hampir tak terlihat.

"Oh ya, Kak ..." Sukma menggantung kalimatnya begitu melihat luka gores di lengan Xavier. "... lenganmu."

"Oh, ini? Tadi aku manjat pohon, terus ada ranting nakal yang ngegores," kelit Xavier santai.

"Aku obatin, ya? Kita mampir ke rumah tanteku dulu. Nggak ada siapa-siapa, kok. Om dan Tante lagi kerja, terus kakakku belum pulang dari Jakarta."

"Nanti biar aku obatin sendiri aja di rumah."

"Aku mohon, Kak. Anggap ini sebagai tanda terima kasih dan permintaan maafku."

Xavier sempat bergeming untuk menimbang. Namun, sedetik kemudian ia mengangguk kecil. "Baiklah."

Mereka berjalan beriringan menuju rumah Ida--adik kandung ibunda Sukma yang berada tidak jauh dari gedung SMP Rajawali.

"Oh ya, siapa namamu?" Xavier memecah keheningan yang sejenak singgah di antara mereka.

"Aku... Kinan. Anak kelas dua A," jawab Sukma sedikit ragu. Ia menghela napas panjang untuk menormalkan degup jantungnya yang bertalu cepat.

Xavier manggut-manggut. "Dari mana kamu tahu namaku?" tanya Xavier lagi. Sekadar berbasa-basi, sekaligus menggali seberapa jauh pengaruh pamornya sebagai ketua OSIS.

Sukma tertawa kecil, melirik sekilas wajah tampan Xavier dengan ekor matanya. "Kak Vier sedang bercanda, kan? Dari mana aku tahu, nggak perlu dijelasin lagi. Karena, Kak Vier pasti udah tahu jawabannya."

Xavier menarik sudut bibir, menoleh sekilas ke arah gadis di sisinya. "Manis, seperti gula Jawa," batinnya memuji.

Sepuluh menit berlalu, kedua anak SMP itu tiba di halaman rumah Ida. Tangan Sukma perlahan membuka pagar kayu, mempersilakan Xavier untuk masuk.

"Woah, bunga mawar putihnya cantik-cantik, ya," seru Xavier saat indra penglihatannya menangkap pemandangan indah yang tersuguh di halaman rumah itu.

"Iya, Kak. Tante Ida dan aku yang menanam, sekaligus merawat bunga-bunga itu. Kalau Kak Vier mau, nanti aku petikkan," tawar Sukma tulus.

"Nggak usah. Adik bungsuku, Aluna, lebih suka mawar merah ketimbang mawar putih. Kalau Karina, adikku yang satu lagi, blas nggak suka bunga. Dia sedikit tomboy," timpal Xavier seraya menolak dengan halus, menceritakan kedua adiknya.

Sukma tersenyum simpul, jemarinya menyentuh salah satu kelopak bunga yang masih segar. "Kata Bunda, mawar putih itu memiliki makna filosofis. Warna putihnya melambangkan kesucian, ketulusan hati, dan sebuah awal yang murni. Bunda selalu bilang, kehormatan seorang perempuan harus dijaga seperti mawar putih. Tetap bersih tanpa noda."

Xavier tertegun sejenak mendengar ucapan gadis di sampingnya. Sisi dewasa anak kelas dua A yang dikenalnya dengan nama 'Kinan' itu membuat rasa kagum di hatinya tumbuh perlahan.

"Keren juga filosofi Bundamu," puji Xavier tulus.

Angin bertiup lembut, menyapa dua remaja yang tengah menikmati interaksi manis itu.

Baik Xavier maupun Sukma tidak pernah menyangka, bahwa di kemudian hari, mereka akan terperosok bersama ke dalam kubangan dendam, benci, dan cinta.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
mom riz
suka ceritanya
Ayuwidia: Terima kasih banyak, Kak 😇🙏🏻
total 1 replies
partini
aamiin bismillah jadi juara
Ayuwidia: Terima kasih banyak, Kak 😍🙏🏻
total 1 replies
Nofi Kahza
Yups! betul. sekrng bukan waktunya mencari siapa yg salah, tapi intropeksi diri.

btw dr awal kamu kan yg salah?
Nofi Kahza
udahlah, Pir. Meski Gea nggak tau juga ujung2nya meninggal. justru Geaitu harus diberi tahu, biar dosamu segera ditebus.😒
Najwa Aini
Gak semuanya salah kamu, Nara. ajal seseorang itu sudah ditetapkan dari zaman azali
partini
ga lah lebih baik Gea tau secara itu perbuatan dosa besar si kafir Gea juga kondisi kesehatan nya udah ga memungkin hidup lama
memperkosa loh ga main" itu
Najwa Aini
Nah ini..kalimat Tara yg aku suka dari sejak bab Ryuga...
Najwa Aini: Iya paham..
total 2 replies
Najwa Aini
Si kakak Partini itu kah..yg selalu nagih dibuatin kisah Xavier ya
Ayuwidia: Bukan, Kak. Kak Erida yg dulu katanya nungguin, tapi belum aku colek. Kak Partini, pembacanya Nyai
total 3 replies
Najwa Aini
Kalau di kisah Rama ada Bi Ijah. Di sini ada Bi jayanti.
The Power of bibi bibi🌹🌹
Ayuwidia: Sungkem buat mereka 😍
total 1 replies
Najwa Aini
Aku yg baca juga pingin ngakak..
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
Ayuwidia: Ada2 gajah 😆
total 1 replies
Najwa Aini
frontal amat
partini
dasar kamu kafir punya pacar pengertian kamu biadab ,,waktu merangkak minta maaf ke Sukma
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier
Ayuwidia: Semoga ya, Kak 😁
total 1 replies
Nofi Kahza
gea soalnya hapal dg karakter Sapir yang batu😒
Ayuwidia: bener banget
total 1 replies
Nofi Kahza
kebiasaan tuman! emosi didahuluin dr pada otak😒
Ayuwidia: Namanya juga Sapir 😃😆
total 1 replies
Nofi Kahza
biasanya ada yng mau terkena musibah, atau ada yang meninggal...tapi tetep takdir itu kembali dg Yang di atas🥹
Nofi Kahza
biasalah.. bawa'an orang ngidam mang gitu. Senggol bacok🤣
Ayuwidia: Gampang Esmoni 😆
total 1 replies
Nofi Kahza
tapi janinmu nggak hina Sukma🥹
Nofi Kahza
baguuusss😏
Nofi Kahza
masih ingusan aja, sok2an mau jadi pembunuh😒
partini
wasiat Gea suruh nikahi Sukma bearti dia tau apa yg di lakukan vier ke Sukma ,,bikin jungkir balik dulu dunia vier Thor baru Sukma lovely doply ❤️ sama sukma
Ayuwidia: Iyes, Kak. Biar dia terpacu berjuang buat ngeluluhin hati Sukma ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!